Senin, 21 April 2014

EMAS DI TIGA MENIT

Ini kali kedua aku ikut lomba penyiar. Sebelumnya aku udah pernah ikut lomba penyiar di MMTC. Kali ini yang ngadain Putra-Putri Bantul (duta wisata Bantul, kalo gak salah). Mungkin mereka punya radio namanya Paseban FM atau mungkin radionya AKRB. Lomba kali ini diadain di AKRB. Masih ada waktu seminggu buatku mempersiapkan semuanya. Teknis lomba gak jauh beda dengan lomba penyiar di MMTC.

Lomba diadain tertutup di studio. Udah ada juri yang siap menilai performa peserta sebagai penyiar. Juri kali ini ada dua. Satu cowok, Tulus Angga dari Kotaperak FM (dan juga TV, JogjaTV kalo gak salah) dan satu cewek yang aku lupa namanya. Materi siaran buat lomba, seputar Bantul. Secara yang ngadain 'kan Putra-Putri Bantul. Setiap peserta dikasih waktu maksimal tiga menit untuk opening, content, dan closing. Jika lewat tiga menit, maka akan ada, mungkin semacam peluit (wasit kali) yang akan menghentikan (paksa) peserta. Aku udah ada strategi biar waktu tiga menit itu bisa aku manfaatin dengan baik buat opening, content, closing. Sedikit-banyak belajar juga dari pengalaman lomba penyiar sebelumnya. Teknisnya gak beda jauhlah.

Aku berharap jadi juaranya. Aku tau, banyak yang bagus, kompeten, apalagi Dinda, General Manager Rasida FM juga ikut. Tapi aku gak boleh pesimis. Aku harus optimis bisa jadi juara. Namanya juga ikutan lomba, wajar 'kan punya harapan jadi juara? ;) Syukur-syukur Tulus Angga ngajakin aku gabung di Kotaperak FM. Hi hi hi... Aamiin. Kata panitia, ada kemungkinan lho bagi peserta yang bagus, bakal direkrut oleh radio tempat juri bekerja.

Lomba kali ini, aku kembali ketemu dengan teman yang juga ikutan lomba penyiar di MMTC. Aku lupa namanya, tapi wajahnya aku ingat. Pertama lihat dia kemarin (setelah pertemuan terakhir lomba penyiar di MMTC beberapa bulan lalu), aku pangling. Rambutnya sekarang pendek, yang jujur, bikin dia kelihatan lebih tua. Padahal dulu saat ikut lomba penyiar di MMTC, potongan rambutnya model bob berponi gitu yang bikin dia terlihat imut (walau dia sebenarnya gak imut). Oh ya, dia mahasiswa Sanata Dharma 2010.

Panitia lomba penyiar kali ini sama-sama mahasiswa, tapi mahasiswa kali ini beda. Panitia lomba penyiar di MMTC ya.. gak beda jauh dengan mahasiswa kebanyakan. Tapi panitia lomba penyiar kali ini, mereka layaknya seorang model (walau ada satu-dua yang sama sekali gak kayak model). Cantik dan ganteng. Pastinya mereka bertalenta. Bahkan saat TM a.k.a technical meeting lomba penyiar kemarin, mereka juga ngasih info pemilihan Putra-Putri Bantul 2014. Katanya, gak harus punya fisik layaknya model (tinggi semampai dan ganteng/ cantik) yang penting adalah ada kemauan dan yang pasti smart.

Mereka lebih mementingkan public speaking. 'Kan gak lucu kalo terpilih jadi duta, penampilannya oke (mendekati sempurna), tapi ngomongnya belepotan. Maunya pasti penampilan oke, public speaking yahud. Paseban FM yang kayaknya jadi radionya Putra-Putri Bantul, mungkin sengaja dibikin buat latihan mereka yang terpilih agar public speaking-nya top. Aku gak tertarik dengan pemilihan begitu. Bukan duniaku. Tentu kalo aku mau (dengan memperbaiki selera berpenampilanku dan lebih "memperhatikan" fisik), aku pasti bisa. Seperti kata mereka, di mana ada kemauan, pasti ada jalan. Tapi dunia seperti itu (yang dekat banget dengan dunia model) sama sekali bukan duniaku. Ada ketertarikan buat gabung. Nguji kompetensi diri dan mengukir prestasi. Tapi.. banyak tapinya. Sejak awal aku emang gak tertarik dengan pemilihan-pemilihan (pageant) seperti itu.

Persiapan seminggu buat lomba penyiar Putra-Putri Bantul terlalu lama buatku. Beda dengan persiapan lomba penyiar di MMTC. Hari ini TM, satu atau dua hari setelahnya perform. Kali ini persiapan tujuh hari, tampil menunjukkan yang terbaik cuma tiga menit maksimal. Terlalu panjang.

Jogja, 21 April 2014 (bertepatan dengan Hari Kartini)

Selamat Hari Kartini, Perempuan Indonesia. Kalian mulia, kalian istimewa, kalian hebat. :)

Rabu, 16 April 2014

KAMERA

#BroadcastParty yang seru dan berkesan banget buatku, ternyata meninggalkan luka. Acara yang begitu menarik ini, jadi nggak sepenuhnya asyik dan heboh karena ada insiden yang nggak ngenakin banget. Kamera Ojan hilang! Raib entah ke mana. Pagi itu, hari H #BroadcastParty, para panitia sibuk bukan main. Riweuh dengan jobdesk masing-masing. Setelah menjemput teman band-nya, Ojan tentu langsung check sound (dan istilah sejenisnya) buat accoustic nanti. Saat itu, Ojan masih bawa kameranya. Namanya juga diburu waktu, terlebih sebagai orang yang terjun dalam dunia broadcast (crew Rasida FM tentunya memiliki jiwa seorang broadcaster yang mengharuskan bergerak cepat), Ojan yang waktu itu sudah diburu sama Mas Vedy buat check sound, naruh kameranya begitu saja di sofa depan teatrikal perpus UIN SuKa Jogja (secara #BroadcastParty diadain di situ). Aku yakin, Mas Vedy nggak bermaksud buat bikin Ojan panik dan terburu-buru, tapi yang namanya dunia broadcast, seperti yang dikatakan Farah, crew Rasida 2012, tentu harus serba cepat dan tak-tik-tuk tepat! Cepat tapi nggak boleh ceroboh.

Setelah ganti kostum (kaos Rasida FM warna ungu kalo nggak salah, atau kemeja kotak-kotak warna kuning), Ojan langsung masuk ke teatrikal perpus dan sibuk check sound di samping stage, tempat dia dan band-nya juga Pita bakal perform. Kameranya seolah terlupakan. Bahkan Ojan nggak bilang ke siapa pun, dia naruh kamera di sofa. Seenggaknya kalo dia bilang, nitipin, pasti crew Rasida FM juga bakal ngamanin benda itu. Acara berjalan lancar. Siapa pun nggak ada yang tau perihal kamera Ojan yang ia taruh di sofa merah. Semua fokus dengan #BroadcastParty. Waktu itu, saat semua orang nggak ingat bahkan nggak tau dengan kameranya, pasti ada tangan manusia yang mengambilnya. Entah tangan siapa, wallahu'alam.

Barulah di akhir acara, Ojan ingat dengan kameranya di sofa merah. Kamera itu raib! Hilang! Nggak berbekas, nggak meninggalkan jejak. Ojan nyari-nyari, siapa tau ada salah satu crew Rasida FM yang ngamanin, hasilnya nihil. Ojan pun menanyakannya ke pihak perpustakaan. Urusannya nggak sesimpel itu. Pihak perpustakaan nggak mengamankan kamera Ojan. Tau begitu, Ojan pun segera mendatangi TU perpustakaan (atau apa namanya aku lupa) atas rekomendasi dari pihak perpustakaan. Nggak sampai di situ aja, Ojan harus mendatangi pihak keamanan yang ngurusin CCTV. Nah, melalui CCTV ini semuanya akan tampak jelas. Lihat bukti rekaman itu nggak mudah. Ribet. Bahkan pihak keamanan nggak ngebolehin Ojan buat ngelihat rekaman CCTV dengan berbagai alasan. Akhirnya Ojan menyerah dengan usahanya itu (seenggaknya dia udah berusaha) terlebih saat pihak keamanan bilang, perpustakaan terutama yang di lantai dasar, pintu masuk, nggak ada CCTV yang ngerekam. Adanya CCTV yang cuma mengintai tanpa merekam.

Bagiku ini aneh. Bukan tentang lantai dasar perpustakaan yang nggak dikasih CCTV rekaman, padahal di lantai inilah orang-orang keluar dan masuk, tapi CCTV pengintai itu yang bagiku terdengar absurd. Bayangin aja, ada CCTV tapi nggak ngerekam, cuma ngintai aja. Emang ada ya orang yang mantengin terus kamera pengintai (secara cuma ngintai doang) takut terjadi sesuatu yang nggak diinginkan? Mantengin terus lho. Lalu buat apa gunanya CCTV kalo nggak merekam tapi cuma mengintai? Entah ini hanya alasan pihak keamanan yang nggak ngizinin Ojan ngelihat rekaman CCTV atau emang CCTV itu cuma buat mengintai? Wallahu'alam.

Dugaan-dugaan pun sempat bermunculan. Terlebih ada kamera crew Rasida FM yang mengabadikan moment #BroadcastParty, bisa jadi satu petunjuk yang mengarah pada titik terang, para crew pun mendadak berubah menjadi seorang detektif yang menyelidiki kasus hilangnya kamera Ojan. Dokumentasi video yang dilakuin crew Rasida FM tentu lebih fokus pada #BroadcastParty. Hanya sesekali sofa merah itu terlihat di kamera. Bahkan beberapa kali, kamera merekam situasi di dekat sofa merah, juga memperlihatkan menit-menit kamera itu masih ada, hingga akhirnya hilang. Nggak ada satu pun yang tau kecuali Allah SWT dan pencuri itu.

Entah beruntung atau apa, saat kamera (secara nggak sengaja) merekam sofa merah itu, dengan kamera yang masih duduk tenang, salah satu crew Rasida FM ada yang nutup kamera sehingga nggak ngerekam, karena Faris dan Izky yang tengah mendapat fokus kamera, ternyata belum siap. Saat itulah, saat kamera itu tertutup sehingga nggak merekam sofa merah itu, kamera punya Ojan beralih tangan entah milik siapa. Sekarang kamera Ojan itu belum ditemukan. Bahkan mengidentifkasi pelakunya juga belum. Semua serba membingungkan. Ojan bingung, kami juga sama bingungnya. Siapa yang mengambil kamera Ojan? Padahal itu kamera bukan punya Ojan, tapi punya temannya. Rasa percaya itu ibarat sebuah kertas. Ketika kita meremas-remas kertas itu, tentu kertas itu nggak akan balik seperti semula. Iya 'kan?

Aku sih khusnudzon hubungan Ojan dengan temannya yang punya kamera itu tetap berhubungan baik. Biasanya cowok nggak riweuh dalam menghadapi suatu masalah. Nggak perlu waktu lama untuk kembali tertawa bersama. Itulah persahabatan cowok (entah semuanya begini atau nggak). Nggak perlu nyalahin pihak tertentu sih. Ojan jelas teledor dengan barangnya sendiri. Kejadian ini jadi pelajaran buat kita, untuk nggak terburu-buru yang akhirnya jadi ceroboh. Ketika nasi sudah menjadi bubur, penyesalan pun nggak ada guna. Bubur itu nggak akan kembali jadi nasi. Ambil hikmahnya saja.

Jogja, 15 April 2014

KAGURASI NO ARRIETTY


Biasanya alasan kamu baca buku/ nonton film apa sih? Aku sih seringnya karena buku/ film itu recomended. Paling nggak, aku pernah baca review-nya. Nah, untuk buku/ film yang nggak recomended/ nggak aku baca review-nya, aku agak bingung milihnya. Secara aku nggak tahu keistimewaannya yang bikin aku mengharuskan untuk baca/ nonton. Jarang banget aku baca buku/ nonton film yang nggak recomended. Salah satu film yang aku tonton tanpa recomended adalah Kagurasi no Arietty.

Baca judulnya sudah ketahuan dong ini film apa? Yup! Film Jepang. Lebih tepatnya anime dari Studio Gibli. Kayaknya anime yang diproduksi studio ini banyak yang "wow", bukan anime biasa gitu. Buktinya Kagurasi no Arietty adalah anime versi film (bukan serial yang jelas) yang kayaknya kerjasama bareng Disney. Poster filmnya sih tertulis kolaborasi Disney dan Studio Gibli, tapi sepanjang film, nggak ada tuh logo Disney atau apapun yang menandakan film ini merupakan salah satu produk Disney. Bahkan judul film yang muncul di opening, pakai Bahasa Jepang -Kagurasi no Arietty/ Si Peminjam Arietty- sementara di poster film yang ada logo Disney-nya, judulnya The Secret World of Arietty. Bahasa Jepang yang dipakai pun bukan hanya di judul saat opening, tapi juga dialog keseluruhan film. Tulisan-tulisan yang ada di film ini pun pakai huruf Jepang. Kalau kolaborasi bareng Disney, seenggaknya pakai tulisan abjad (A, B, C, dst yang kita kenal) dan ada logo Disney.

Sebelum aku nonton film ini, aku langsung bilang wow karena baru kali ini aku lihat anime yang diproduksi Disney. Tentu saja studio yang ngegarap anime ini tetap dari Jepang -Studio Gibli-. Aku tertarik nonton film ini sih karena anime yang dapat sentuhan Disney. Walau saat nonton, aku nggak nemuin logo Disney dan semacamnya, selesai nonton film ini aku bilang: bagus! Iya, film berdurasi nggak sampai dua jam ini -mungkin sejam lebih beberapa menit- memang bagus. Menurutku, Jepang memang piawai banget bikin jalan cerita anime. Sederhana, tapi berusaha untuk menghanyutkan perasaan. Kebanyakan anime pasti gitu, -seperti yang sudah pernah aku bilang- anime perang yang berdarah-darah sekalipun tetap main perasaan. Begitu juga Kagurasi no Arietty yang sederhana dan ringan.

Film ini mengisahkan kehidupan manusia kecil -Arietty dan keluarganya- yang hidup berdampingan dengan manusia. Manusia kecil hanya sebesar Thumbellina (tahu 'kan dongeng yang satu ini?). Sebesar Barbie lebih tepatnya. Arietty dan keluarganya selalu "meminjam" apapun, baik itu makanan, perkakas rumah, dan semacamnya kepada manusia. Arietty dan kedua orangtuanya -Ayah dan Ibu- tinggal di sebuah rumah -mereka tinggal di bawah rumah manusia, semacam di bawah tanah gitu- milik Nenek Sho (kayaknya sih neneknya Sho). Nah, Sho ini adalah tokoh utama manusia di film ini. Sementara Arietty tokoh utama manusia kecil.

Kagurasi no Arietty diadaptasi dari novel berjudul "The Borrow" (aku lupa penulisnya), makanya Arietty dan keluarganya juga manusia-manusia kecil lainnya yang entah masih ada atau nggak, selalu "meminjam" kepada manusia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ibu Arietty pernah pesan kepada Ayah Arietty untuk "meminjam" gula karena persediaan di rumah sudah habis. Film ini pun ada tokoh yang bikin bete. Tokoh itulah yang membongkar rumah mungil Arietty dan keluarganya, sekaligus menculik Ibu Arietty.

Cerita Kagurasi no Arietty sederhana dan nggak banyak simsalabim walau tokoh Arietty dan manusia kecil cuma imajinasi. Opening film dan pengenalan ke jalan cerita, aku agak bosan. Kayaknya biasa banget ini anime. Tapi begitu Arietty dan kehidupannya muncul, aku langsung tertarik. Nggak lagi bosan dan tetap menikmati hingga akhir. Manusia kecil jelas khayalan, tapi siapa tahu mereka benar-benar ada? Jangan-jangan tiap malam, mereka "meminjam" di rumah kita. Bahkan bisa jadi di sudut terkecil di rumah kita, manusia kecil menetap dan hidup. Hi hi hi... =D

Kebumen, 14 April 2014 

Sabtu, 05 April 2014

#BROADCASTPARTY 2

Sesuai janji, aku mau ngelanjutin cerita #BroadcastParty yang sempat bersambung kemarin. Nah, sebagai pengingat, #BroadcastParty tuh yang ngadain Rasida FM, radionya Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SuKa Jogja. Acara yang awalnya khusus buat crew baru -angkatan 2013- akhirnya jadi acara bersama. Nggak cuma buat crew baru, tapi juga crew lama. Kalau aku nggak salah, awalnya #BroadcastParty mau diserahin ke crew baru mulai dari konsep hingga eksekusinya. Nyatanya, nggak kok. Crew baru ikutan berkontribusi sih, tapi yang lebih banyak mikirin konsep ya crew lama.

Walau kenyataannya lain, tapi #BroadcastParty yang diadain sekaligus ngerayain milad Rasida FM yang ke-12, tetap seru. Semua crew ngumpul. Rasida FM ramai. Crew yang tadinya datang ke studio cuma buat siaran, berkat #BroadcastParty, jadi sering datang ke Rasida FM walau nggak ada jadwal siaran. Acara #BroadcastParty hari H-nya sih cuma sebentar. Setengah hari gitu deh. Tapi mikirin konsepnya, persiapan untuk itu, nggak bisa dibilang cuma sebentar. Para crew rela lho bermalam di Rasida FM, tidur larut demi mempersembahkan yang terbaik.

Waktu #BroadcastParty kemarin tuh, Rasida FM selalu ramai. Nggak pernah sepi, bahkan waktu malam sekalipun. Aku juga sempat nginep di Rasida FM. Waktu itu hari Jumat. Padahal paginya aku ada kuliah. Tapi karena nggak pulang-pulang, sampai hampir tengah malam aku ada di Rasida FM, membersamai persiapan #BroadcastParty, aku pun memutuskan untuk nginep di Rasida FM. Bayangkan aja, kostku di Krapyak Kulon, Bantul. Menembus jalanan tengah malam dari UIN SuKa hingga Krapyak Kulon! Bisa aja sih, tapi aku ogah ngelakuinnya. Berhubung ada crew yang nginep di Rasida FM, ya udah, sekalian aja aku nginep.

Paginya, ini nih yang nggak banget, aku kesiangan! Kuliah jam 7 pagi dan aku baru bangun hampir jam 6.30! Gila banget & nggak baik banget. Jelas aku ketinggalan waktu subuh -aku tetap salat subuh daripada ditinggalin walau waktunya bukan subuh lagi- dan yang paling penting, posisiku itu lho yang ada di Rasida FM. Bukan di kost! Pulang saat itu juga, nggak mungkin. Kalau aku pulang, paling nggak buat mandi, jelas nggak akan terkejar waktunya. Perjalanan UIN SuKa hingga kost aja butuh waktu sekitar 30 menit. Akhirnya, aku memutuskan nggak mandi, nggak sikat gigi (don't try this!), cukup beli tisu basah -Mitu- dan Happydent White. Seenggaknya aku nggak lusuh-lusuh amat buat ngikutin kelas.

#BroadcastParty emang berkesan banget karena lewat acara inilah keluarga besar Rasida FM ngumpul dan bersatu. Senang banget lihatnya. Nggak cuma senang lihat, tapi juga senang banget ngerasainnya. Sampai cerita ini aku tulis, euforia #BroadcastParty masih aku rasakan. Bahkan acara #PIKMA2014 yang diadain Cendi (nanti aku ceritain ya) atmosfir #BroadcastParty masih terasa walau jelas-jelas acaranya beda banget.

Hari H, lagi-lagi aku kesiangan! Jam 7 pagi harus udah di Rasida FM buat persiapan final. Secara, acara mulai jam 8.30. Apalagi aku jadi salah satu MC. Oh ya, #BroadcastParty punya banyak MC. Kata Mas Vedy, salah satu crew Rasida FM yang udah jadi sarjana -bisa dibilang tetuanya Rasida FM- MC banyak ini biar #BroadcastParty tuh benar-benar beda dengan acara lain. Banyak MC tapi berkualitas. Nggak kayak acara-acara di TV swasta kita -yang banyak ketawa dan goyang nggak jelas- banyak MC tapi nggak bermutu (masih kata Mas Vedy).

Aku jadi MC Potong Tumpeng (kalau nggak salah istilahnya MC Seremonial) bareng Ida. Nggak vital banget sih posisinya. Beda dengan MC Outdoor (bisa dibilang MC Opening tapi juga Closing -seingatku-) MC Studio Mini dan MC Stage, MC Seremonial bahkan nggak terlalu diekspos. Malam sebelum hari H, para MC ini dilatih sama Mas Kamal (posisinya sama kayak Mas Vedy, walau Mas Kamal lebih senior). MC-MC lain diperhatiin banget sama Mas Kamal sampai dikasih tips jitu ngemsi yang baik. MC Seremonial nggak. Aku nggak iri sih, cuma aku nggak pede aja di depan Mas Kamal. Secara Mas Kamal jam terbang siarannya udah tinggi, sementara aku masih belum apa-apa. Aku pun berdalih Ida nggak datang -emang Ida nggak datang sih- dan aku pun bisa menghindari latihan. Aku tetap dapat tips jitu itu sih, walau Mas Kamal nggak nyampein secara langsung ke aku. Aku nimbrung aja pas Mas Kamal berbagi ilmu MC-isme kepada MC-MC yang lain.

Oh ya MC Seremonial jelas aku & Ida. MC Studio Mini: Bima & Naela, MC Stage: Arik & Dinda, MC Outdoor: Faris & Isky. Kumpul di Rasida FM jam 7 pagi saat hari H, selain buat persiapan yang acaranya jam 8.30 pagi, juga buat persiapan MC-nya. Dandan, penampilan beda, itu yang harus MC siapin. Cewek-cewek sih ribet ya. Harus make up, pakai jilbab yang (katanya) trendy (tapi justru kelihatan kayak orang abis mandi yang kepalanya masih dibungkus handuk), pokoknya harus beda dengan yang lain, beda dari biasanya. Cowok-cowok sih simpel. Cukup touch up rambut -pakai gel- beres. Tadinya aku nggak pakai gel rambut -nggak biasa- tapi biar oke, aku ya pakai (walau bagiku biasa aja sih, nggak ada perubahan yang signifikan banget).

#BroadcastParty nggak cuma workshop broadcast (khususnya sih dunia radio) tapi juga ada live accoustic dari Ojan dan Band-nya plus Pita. Mereka duet gitu. Suaranya Pita bagus. Lembut. Aku suka. Oh ya, mereka berdua ini crew (baru) Rasida FM juga. Ojan 'kan bawa personil band-nya tuh, tapi mereka beda. Aku bukan mau ngebeda-bedain fisik, tapi aku cuma mau menekankan, bahwa perbedaan atau ketidaksempurnaan fisik bukanlah menjadi penghalang untuk berkarya dan berprestasi sekaligus berkreasi. Teman-teman Ojan (aku lupa namanya) tunanetra, tapi sense of music mereka keren, luar biasa. Aku kalah deh. Pagi di hari H, aku sempat jemput teman-teman Ojan di SLB Jalan Parangtritis (kalau nggak salah). Di SLB ini, aku begitu mensyukuri apa yang telah Allah berikan padaku, kesempurnaan yang ada padaku. Aku baru kali itu masuk ke SLB. Lihat siswanya yang nggak sebanyak sekolah pada umumnya -dan mereka tunanetra- aku haru sekaligus sedih. Campur-campur rasanya. Haru lihat mereka yang tetap tersenyum, tertawa walau dalam kegelapan. Sedihnya karena mereka nggak bisa menikmati visualisasi yang Allah berikan. Allah memang Maha Adil. Pasti suatu saat mereka akan melihat visualisasi dari Allah. Ya, suatu saat di masa yang indah (mengutip pesan Mas Kamal buat Rasida FM sebelum pergi dari Jogja dan pulang ke kampung halaman untuk entah sampai kapan).

#BroadcastParty memang seru dan membekas di hati, tapi ada satu kejadian (lebih tepatnya kemalangan) yang mencoreng keseruan acara ini. Nah, untuk yang ini, aku ceritain di cerita selanjutnya ya. ;) Begitulah #BroadcastParty Rasida FM. Seru, asyik, membekas di hati, bikin kangen, walau persiapan untuk itu capek luar biasa.

Jogja, 5 April 2014

Jumat, 04 April 2014

KOBATO

Baru beberapa hari nyelesein nonton semua episode Kobato, anime karya Clamp. Anime yang diproduksi 2009 ini baru aku tonton sekarang, 2014. Aku emang suka anime, tapi kalo nonton anime update, aku jarang.

Biasanya anime yang aku tonton produksi lama. Mulai dari Sailor Moon, Wedding Peach, Card Captor Sakura, hingga Kobato. Anime-anime itu punya kenangan bareng masa kecilku, kecuali Kobato yang baru aku tahu sekitar 2011 atau 2012, agak lupa.

Pertama kali tahu anime ini dari majalah Animonster (sekarang Animonstar). Waktu itu Kobato yang jadi cover-nya. Itu pun bukan majalah baru, tapi bekas. Aku beli di lapak sebelah rel kereta di Timoho. Harganya kalau nggak salah Rp 8.500 (padahal harga aslinya Rp 30.000-an :P). Aku tertarik beli karena cover-nya. Waktu itu sih aku belum tahu Kobato. Suka anime, tertarik dengan Kobato yang jadi cover, aku beli deh majalah itu. Kalau nggak salah majalahnya edisi 2010. Nah, aku bisa punya seluruh episode Kobato dari Net City, warnet yang ada di Timoho. Di warnet itu memang koleksi filmnya baaanyak banget. Aku punya episode lengkap Sailor Moon juga dari Net City. Wedding Peach hingga tulisan ini diketik, aku belum punya lengkap. Waktu itu sih aku iseng nyari anime Kobato. Eh.. ternyata ada.

Anime Kobato sudah lama jadi koleksi netbook-ku, walaupun aku baru melengkapi episodenya belum lama ini. Cerita anime ini drama banget. Beda dengan Sailor Moon, Wedding Peach, atau Card Captor Sakura, walau sama-sama ada magic-nya, tapi Kobato nggak kebanyakan simsalabim berubah wujud. Bahkan Kobato nggak bisa berubah wujud (seperti halnya Sailor Moon). Episode pertama nyeritain kedatangan Kobato yang muncul dari langit secara misterius bareng Iorogi (yang dipanggil "Iryogi(?)" oleh Kobato). Sejak itulah kisah Hanato Kobato, gadis yang penuh semangat, ceria, dan selalu berpikiran positif dimulai.

Kobato harus ngumpulin konpeito (tercipta dari rasa sedih manusia) agar keinginannya untuk pergi ke tempat yang ia inginkan bisa terwujud. Tapi ada syarat yang nggak boleh Kobato abaikan. Selama 4 musim (panas, dingin, semi, gugur) Kobato harus sudah ngumpulin konpeito yang tersimpan di botol (aku lupa nama botolnya). Kalau nggak, maka keinginan Kobato nggak akan bisa terwujud. Selama aku ngikutin cerita anime ini, jujur ya, kadang aku ngantuk. Bagus sih, cuma karena kisahnya drama (khas anime banget) kadang aku bosan. Tapi aku terus ngikutin (karena penasaran) hingga episode terakhir.

Selama Kobato ngumpulin konpeito, ia kerja di TK Yomogi yang diasuh oleh Sayaka. Namanya juga anime ya, Kobato yang jelas-jelas orang asing, bisa dapat pekerjaan dengan mudah sebagai pengasuh di TK Yomogi. Sayaka juga baik banget orangnya. Selain gampang dapat kerjaan, Kobato juga gampang dapat tempat tinggal. Sebuah apartemen milik Chitose menjadi hunian Kobato selama setahun (dalam 4 musim itu).

Aku nggak nyangka banget ending Kobato. Tebakanku, Kobato berasal dari dunia entah apa, sama kayak Kohaku yang seorang "malaikat" (bidadari mungkin lebih tepatnya), tapi ternyata Kobato bukan manusia. Ia adalah jiwa dari orang yang kehilangan kehidupan (atau mati) dan ingin lahir kembali. Untuk itulah Kobato harus mengumpulkan konpeito agar keingannya bisa terwujud. Mungkin keinginannya, ya bisa terlahir kembali itu.

Di episode terakhir, Fujimoto, yang juga ngebantu Sayaka di TK Yomogi, tahu siapa Kobato sebenarnya. Kobato yang selalu pakai topi (kadang bando, yang jelas semacam penutup kepala gitu) ternyata begitu topi dilepas, tepat di atas kepala Kobato ada mahkota dari cahaya. Itu semacam cincin yang digambarin di anime Dragon Ball untuk karakter yang sudah mati, tapi di Kobato bukan pakai cincin, melainkan mahkota dari cahaya itu. Nah.. ini ending yang aku nggak nyangka banget. Sebelum-sebelumnya aku nonton Kobato kadang sampai ngantuk, menjelang episode akhir, ceritanya jadi bagus karena mengundang rasa penasaranku tentang kisah akhir Kobato.

Kobato memang nggak berhasil memenuhi botol dengan konpeito, tapi beberapa tahun kemudian, muncul cewek yang mirip dengan Kobato. Mungkin ia terlahir kembali. Perginya Kobato di episode akhir jadi terlupakan. Bahkan mereka yang sebelumnya mengenal Kobato, jadi nggak kenal lagi. Semacam ingatan mereka tentang Kobato dihapus. Kobato yang bertemu Fujimoto di akhir episode, tiba-tiba kayak diingatin lagi dengan kehidupan sebelumnya yang mencari konpeito. Kobato pun memeluk Fujimoto sambil menangis haru, sedih, kayaknya campur-campur perasaannya.

Nah, itulah kesanku tentang anime Kobato. Ceritanya emang flat dan terkadang membosankan, tapi endingnya keren. Intinya sih Kobato yang udah mati pengen hidup kembali dengan mengumpulkan kesedihan manusia (menyembuhkan kesedihan lebih tepatnya). Fujimoto, Sayaka, Chitose, Chiho-Chise (anak kembar Sayaka yang juga jadi Chii di Chobits), semuanya cuma "bumbu" biar ceritanya semakin "enak". Clamp emang lumayan sering bikin anime yang karakternya tuh berasal dari anime Clamp yang sudah ada. Bukan lumayan sering, tapi malah hampir setiap anime yang dibuat, ada karakter dari anime Clamp lain.

Jogja, 4 April 2014

Rabu, 02 April 2014

#BROADCASTPARTY 1

Sesuai janjiku, sekarang aku mau nyeritain #BroadcastParty yang diadain 15 Maret 2014 di teatrikal Perpustakaan UIN Jogja. Acara ini awalnya ditujukan buat crew baru. Yah.. semacam project pertama mereka, tapi akhirnya jadi project kita bersama. Waktu itu 'kan rencananya #BroadcastParty lebih difokusin ke crew baru. Baik yang jadi panitia, yang ngurus acaranya, konsepnya, semuanya dari crew baru.

Berkat #BroadcastParty-lah, crew Rasida FM ngumpul dan kompaaak banget. Oh ya acara ini yang ngadain Rasida FM, radionya Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Jogja. #BroadcastParty itu workshop radio yang diisi oleh Dias Alisa (penyiar Retjobuntung FM), Lukman Haswara & Desi Gutomo (penyiar Star Jogja FM), dan Ronny Yahya (TV Editor Indosiar). Pesertanya lumayan sih. Nggak banyak, nggak juga sedikit. Padahal waktu pendaftaran, banyak lho, tapi begitu hari H nggak sebanyak waktu pendaftaran.

Nanti aku cerita lanjutannya ya. Bersambung dulu...

Jogja, 2 April 2014

PIKMA feat RASIDA FM

Rasida FM ada gawe lagi. Setelah #BroadcastParty (nanti aku ceritain ya), sekarang gilirian PIKMA, Pekan Inovasi dan Kreasi Mahasiswa 2014 yang digagas Cendi, Center of Enterprenership Studies UIN Jogja. Acaranya 3-4 April 2014. H-1 dari sekarang. Acaranya emang dari Cendi, tapi yang memeriahkan, yang bikin "heboh", diserahin ke Rasida FM.

Tadinya sih Rasida FM mau nampilin banyak hiburan. Mulai dari flashmob, parodi, dance, drama, dan sekarang akhirnya... cuma ngemsi. Alasannya sih karena persiapan yang kurang panjang. Waktu yang ada buat nyiapin semuanya -+ 5 hari. Tadinya sih mau flashmob, tapi setelah dapat masukan dari Mba Emma, salah satu crew Rasida FM, yang katanya flashmob itu nggak asyik karena yang heboh ya cuma Rasida FM. Pengennya 'kan flashmob itu semuanya ikutan. Mulai dari crew Rasida FM, orang-orang yang datang ke PIKMA, pokoknya semuanya deh. Sempat mau ngebentuk grup dance, Geulis Girlies, tapi nggak jadi. Akhirnya kesepakatan cuma ngemsi. Pokoknya dimaksimalin MC.

Harapannya sih PIKMA 2014 ini bisa berjalan sukses dan lancar. Penampilan Rasida FM sukses, lancar, & bisa mempersembahkan yang terbaik. Semoga.

Jogja, 2 April 2014
© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis