Jumat, 29 Januari 2016

AMAZING!

Satu kata buat malam ini: amazing! Aku seperti tercerahkan. Inspirasi itu datangnya memang dari mana saja. Kadang di tempat yang nggak kita duga. Malam ini.. iseng aku scroll Instagram (kegiatan wong selo). Nah.. saat itulah ada satu foto yang bikin aku tertohok, sekaligus terkesima campur kagum. Nano-nano-lah rasanya.

Foto seorang cowok yang dulunya buncit, sekarang atletis. Tertulis di foto: berat badan Mei 2015, 70 kg & berat badan Januari 2016, 57 kg. Perubahannya jelas terlihat banget. Sebelumnya, buncit. Setelahnya, atletis. Buncitnya diganti kotak-kotak. Ini amazing banget! Menginspirasi! Selama ini aku pengen banget punya berat badan proporsional (syukur-syukur atletis). Lihat perubahan yang luar biasa itu, aku mendadak semangat (lagi) mengikuti jejaknya.

Masalahnya, aku nggak olahraga. Pengen banget nge-gym tapi belum kesampaian. Eh, btw, sebaiknya lurusin dulu pandangan tentang seseorang yang olahraga di gym. Banyak yang bilang, gym itu tempatnya kaum Nabi Luth (baca: homo) berkeliaran. Aku nggak membantah, tapi aku juga nggak setuju men-judge begitu.

Mungkin, gym adalah tempat menarik bagi kaum terkutuk itu, tapi.. gym sejatinya adalah tempat yang sangat bermanfaat, sama halnya dengan perpustakaan yang ngasih nutrisi buat otak. Nah.. gym itu "nutrisi" buat tubuh. Sarana olahraga.

Zaman sekarang 'kan serba dimudahkan, termasuk olahraga. Gym menyediakan semua alat yang mendukung kita buat gerakin badan. Mendukung kita buat sehat. Aku eneg banget sama pandangan orang: cowok gym = homo. Ini true story. Temannya temanku pernah dibegituin sama teman-temannya waktu dia memutuskan buat nge-gym.

Tolong.. jangan berpandangan sempit. Orang nge-gym tuh pengen sehat, tujuannya baik, kok ya dipandang nista begitu? Kamu nggak mau sehat? Kata seorang kakak di Lampung yang jadi inspirasiku, hidup sehat adalah investasi masa depan. Yes! Setuju banget.

Sehat, buat diri-sendiri. Olahraga, juga buat diri-sendiri. Nikmatnya sehat, jarang sakit, pola hidup baik, siapa yang merasakan itu semua? Mereka yang mencibir? Bukanlah! Semua manfaat itu yang merasakan ya yang olahraga, orang yang nge-gym itu.

Olahraga nggak harus di gym, tapi ada fasilitas yang menunjang buat hidup sehat, kenapa nggak dimanfaatin? Aku sejujurnya agak risih kalau harus push up, sit up, pokoknya olahraga gitu, di tempat terbuka (kecuali jogging ya). Gym ini sebenarnya sangat membantu. Banget!

Baiklah! Aku harus berubah! Aku sudah menurunkan berat badan (walau belum banyak perubahan). Satu lagi yang harus aku lakukan: olahraga! Manfaatkan kemudahan & please.. jangan jadi kayak orang susah.

Terimakasih untuk inspirasinya malam ini. Cukup bermimpinya! It's time to make it my dream will come true! Semangat, Gus!

Jogja, 29.01.2016

 

Sabtu, 23 Januari 2016

SABTU SIANG ITU

Homesick. Kangen Kebumen. Pengen pulang. Sebenarnya apa yang ngangenin dari Kebumen? Aku rasa karena setiap orang ada tempat untuk "pulang". Semacam magnet yang menarik kita untuk kembali. Begitu juga dengan Kebumen-ku.

Weekend adalah saat homesick bagiku. Suasananya terasa beda. Aku mendadak ingat memori saat SMA di Sabtu siang. Rasanya Sabtu/ Minggu siang di Jogja, 11:12 dengan Kebumen. Bukan memori special. Aku hanya ingat, weekend begini, Sabtu, aku excited karena akan pulang (waktu SMA aku kost). Suasana siangnya, jalannya, bahkan angkutan yang aku naiki mendadak aku ingat saat weekend begini.

Sebagai orang Kebumen (yang lahir di Bandung *terus kenapa?*), aku masih belum memahami Kebumen sepenuhnya. Banyak hal yang membuatku nol besar tentang Kebumen. Kalau ditanya apa makanan khas Kebumen, aku cuma bisa senyum dan ber-hehe. Apa ya? Aku nggak sedekat itu dengan Kebumen. Aku hanya berada di selembar daun kelor. Ya.. begitulah sebatas yang aku tahu.

Kadang aku merasa apa istimewanya Kebumen ya? Kayaknya kok cuma begitu-begitu? Padahal karena aku yang nggak kenal dengan Kebumen. Asal dari Kebumen, tapi aku nggak mengenalnya. Semacam miris, tapi aku berusaha memahami Kebumen walau usahanya kayak siput. Nggak benar-benar ingin tahu. Ya.. cuma sekedar biar nggak dibilang "durhaka" (duuh.. apa maksudnya?).

Kebumen hebat! Kebumen keren! Kebumen istimewa! Kebumen beriman! Cuma aku saja yang nggak kenal. Aku bakal kenal kok, tapi pelan-pelan, soalnya dijadiin sambilan.. sambil siaran, sambil makan Lotek, sambil-sambil yang lain. Satu yang paling jelas: aku hanya ingin pulang ke Kebumen walau hanya dua hari.

Jogja, 23 Januari 2016











Jumat, 22 Januari 2016

KELUARKAN!

Rasanya hari ini nano-nano banget. Capek, tapi begitulah hidup. Kalau nggak capek, berarti hidupmu nggak diperjuangin. Namanya juga hidup, pasti ada masalahnya. Ada bumbunya. Ya.. biar gurih, kadang keasinan, kepedesan, hambar juga iya. Nah.. nano-nano 'kan? Kalo bisa mengatasi nano-nano ini, wah.. selamat! Kamu berhasil naik satu tingkat!

Hidup yang banyak rasa ini bisa bikin kita kuat lho. Ibarat batu karang yang diterjang ombak terus-terusan, tapi yang namanya manusia pasti ada "masa" nggak kuatnya juga. Jangan sok-sok tegar kalau nggak kuat. Nangis, nangis saja. Keluarkan, tapi hanya hari itu. Besoknya, lupakan. (quotes dari si Kambing Jantan, you know-lah)

Manusia wajar kok mengalami titik "nggak kuat" waktu ada masalah. Namanya juga lagi diuji. Nggak kuat tapi jangan bego. Cukup lambaikan tangan ke kamera (apa ini?). Manusia dilahirkan dengan sifat "mengeluh". "Nggak kuat" juga termasuk "mengeluh". Se-strong apapun manusia, pasti bakalan mengeluh juga, walau mungkin dibilangnya bukan keluhan (alibi tuh).

Ngeluh.. ngeluh saja. Nggak usah sok dibahasakan dengan kata lain yang lebih elegan. Intinya sama. Nah.. ngeluhnya jangan kebanyakan. Kalau over, bisa bikin patah arang, patah semangat, patah hati. Secukupnya saja kayak masukin garam di masakan. Gitu juga kalau pengen nangis, marah, pengen lari ke hutan, belok ke air terjun, ya lakuin. Ngapain juga ditahan-tahan? Sakitnya tuh nggak cuma di sini, tapi di sana-sini kalau cuma ditahan. Luapkan, semuanya, sampai habis. Kalau sudah, lanjutkan semangatnya, lanjutkan hidupnya, jangan ngeluh lagi. Hidup tuh jangan kebanyakan ngeluh.

Merasa nano-nano hidup kamu kebanyakan? Hei, memangnya yang punya masalah cuma kamu? Orang lain juga punya, bahkan mungkin nano-nano-nya lebih nano-nano. Nikmatin nano-nano hidup kita karena ya itulah salah satu bagian hidupnya. Kalau sekarang kita merasakan pahit, kita 'kan jadi ingat ada yang manis (quotes dari Rectoverso ini).

Jogja, 22 Januari 2016
© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis