Kamis, 19 April 2018

DARI MEREKA YANG ENGGAK TERLIHAT

(pexels.com)
Apa yang kita pikirkan, itulah yang akan terlihat di mata kita. Bisa saja kejadian kayak gini. Paling mendekati sih keyakinan keberadaan makhluk gaib, makhluk enggak kasat mata. Tuhan juga menciptakan makhluk-makhluk gaib yang "hidup" di dunia yang berbeda dengan dunia kita. Saling berdampingan walau berbeda dimensi. Terus kalau ada makhluk gaib a.k.a hantu yang menampakkan diri, gimana dong? Mereka iseng. Manusia adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan Tuhan. Kita enggak perlu takut dengan penampakan-penampakan makhluk gaib karena ketakutan terbesar kita hanyalah kepada Tuhan yang Maha Satu, Maha Kuasa, Maha Segalanya.
Rasa takut melihat hantu, semisal pocong, kuntilanak dan kawan-kawannya, wajar, karena selama ini banyak media yang mengesankan sosok-sosok seperti ini adalah menyeramkan yang memunculkan rasa takut. Mereka memang ada, tapi jangan sampai membuat kita takut. Yakinlah kita dan mereka sama-sama hidup berdampingan, sama-sama ciptaan Tuhan dan enggak perlu saling ganggu.
Ketakutan-ketakutan semacam ini bisa bikin seseorang jadi paranoid. Kata Wikipedia, paranoid itu gangguan mental yang meyakini ada seseorang (atau sesuatu) yang akan membahayakan dirinya. Misal, pohon besar di seberang jalan itu ada "penunggu"nya. Gegara kabar-kabar kayak gini banyak beredar, kita jadi takut sendiri. Bisa paranoid juga loh. Bukan berarti pohon besar itu enggak ada "penunggu"nya. Bisa saja memang ada, tapi dimensinya beda, bukan kayak kita.
Pikiran-pikiran semacam ini, takut berlebihan sama ciptaan Tuhan, memang harus dihempaskan. Takut sama hantu? Ingatlah kita dan mereka sama-sama diciptakan Tuhan, hanya dimensinya yang berbeda. Kita lebih sempurna, lebih dimuliakan dibanding makhluk lain yang diciptakan Tuhan. Kita hidup berdampingan, enggak usah saling ganggu. Kita memang harus percaya dengan keberadaan sesuatu yang ghaib, salah satunya perwujudan yang kita sebut hantu itu, karena jadi salah satu bagian dari keimanan. Sesuatu yang ghaib bukan cuma makhluk enggak kasat mata, tapi juga kehidupan setelah mati, Surga, Neraka.
Jangan takut apalagi paranoid. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Terus mendekat sama Tuhan dan perkuat keimanan. Inilah koentji!
Jogja, 19.04.2018

Rabu, 18 April 2018

PECAH KEPRIBADIAN

Pernah mendengar istilah kepribadian ganda atau Multiple Personality Disorder atau yang sekarang dibilang Gangguan Identitas Disosiatif? Kita punya kepribadian yang berbeda. Sewajarnya, kepribadian satu dengan yang lain dalam satu tubuh pasti punya "benang merah" yang sama. Seseorang yang cenderung punya kepribadian pemalu, pasti akan diikuti pendiam, lebih suka menyendiri, enggak berani berpendapat dan kawan-kawannya. Sangat jarang seorang pemalu tapi juga percaya diri sekaligus. Bukan berarti seorang pemalu sama sekali enggak punya kepercayaan diri, tapi seseorang dengan satu kepribadian pasti enggak ada yang saling berlawanan atau bahkan di lain kesempatan benar-benar berubah seperti enggak kita kenal.
Penyebab seseorang punya kepribadian ganda biasanya karena masa lalu yang enggak menyenangkan. Ingin melawan, tapi enggak bisa. Akhirnya cuma terpendam... terpendam... dan booom! Pecahlah kepribadian. Lahirlah alter ego. Kepribadian kedua yang dipercaya berbeda dengan kepribadian yang sebenarnya, begitu kata Wiki. Seseorang yang mengalami pecah kepribadian justru lebih "mengerikan" dibanding mereka yang punya alter ego. Sepertinya semua orang memang punya alter ego. Warganet yang suka berkomentar kasar itu pasti salah satu dari pemilik alter ego. Seseorang yang benar-benar pecah kepribadiannya dan berubah menjadi "aku" yang baru, akan ada beberapa ingatan yang hilang.
Ini benar-benar cerita dari seseorang yang punya kepribadian ganda. Satu hari, dia enggak ingat sama sekali apa yang sebelumnya dilakukan karena saat itu "aku" yang lain mengambil alih kendali. Pasti sangat melelahkan. Satu kepribadian dengan segala macam masalah yang kompleks udah bikin pusing. Apalagi lebih dari satu kepribadian yang pastinya punya masalahnya sendiri. Bisa enggak kepribadian yang terpecah ini "diobati"? Bisa. Secara medis, khususnya yang menangani kejiwaan, ada obat khusus yang bisa menekan pemecah kepribadian sampai akhirnya hanya menyisakan satu kepribadian yang jadi "aku" sebenarnya.
Rasanya pasti sangat aneh kalo satu saat bertemu seseorang yang ceria dan penuh semangat, di lain hari berubah jadi diam dan enggak bergairah. Bahkan penampilannya sangat berbeda. Gaya rambut juga. Kita sampai enggak mengenali seseorang di hari yang lain. Benar-benar seperti orang yang baru.
Ini yang harus segera dapat penanganan dokter, khususnya kejiwaan. Kalau sampai berlarut-larut dan enggak ada penanganan, kepribadian yang terpecah menjadi semakin pecah dan kepribadian paling kuat, kepribadian yang berpotensi jadi "aku", bisa jadi semakin tenggelam... tenggelam... dan hilang.
Jogja, 18.04.2018

Senin, 16 April 2018

DENGARKAN DIA, TUBUHMU SENDIRI

(pexels.com)
Sadar atau enggak, banyak dari kita yang enggak sayang sama diri-sendiri. Genjot terus sampai subuh demi mengejar deadline. Benarkah waktu yang ada sebegini mepet? Kalo benar-benar diatur, bisa jadi enggak bakalan diforsir sampai mengabaikan jam tidur. Nah, ini susahnya. Rasanya sih udah ngatur waktu banget, tapi tetap saja begadang juga, mengabaikan alarm tubuh juga. Kalo sakit, baru sadar. Harus sakit dulu biar bisa dengerin jeritan tubuh?
Kalo emang harus banget dikerjain malam dan paginya deadline, bisa curi-curi waktu tidur dulu. Dua-tiga jam, mungkin? Pasti ada celah waktu buat mengistirahatkan tubuh, benar-benar istirahat ya bukan geser-geser timeline media sosial. Saya ingat banget kata-kata Sore buat Jo di Youtube Series "Sore, Istri dari Masa Depan" punya Tropicana Slim. Kalo emang harus ngerjain tugas malam, pernah coba ngerjainnya pagi-pagi banget? Sepertiga malam, mungkin? Kalo pola kerjanya begini, hak-hak tubuh juga bakal kita dengerin. Bukan lagi nunggu sakit baru didengerin.
Ini baru tentang tugas yang dikerjakan malam hari. Belum yang lain, semisal jam makan yang berantakan, olahraga yang enggak jadi prioritas, penumpukan lemak jahat dan bla bla bla berapa banyak lagi? Apa yang kita lakukan sama tubuh, jahat! Kesehatan itu penting dan ini terdengar klise, tapi enggak sedikit kita yang mengabaikannya 'kan? Sesuatu yang klise jangan selalu dipandang sebelah mata karena bisa jadi justru yang klise inilah yang kita butuhkan.
Jogja, 16.04.2018

Minggu, 15 April 2018

MIMPIKU MIMPIMU

(pexels.com)
Setiap orang pasti punya mimpi, tapi enggak semua orang dengan sadar menyadari mimpinya dan cuma menganggap mimpi sekedar mimpi. Enggak ada yang enggak mungkin mengubah mimpi jadi kenyataan. Usaha keras itu tak akan mengkhianati, begitu kata JKT48. Jangan pernah pesimis dalam meraih mimpi walau kegagalan pasti ada di depan mata. Kata-kata memang gampang diucapkan, tapi tindakannya enggak segampang itu. Buat orang yang sudah benar-benar percaya mimpinya akan menjadi nyata suatu saat nanti artinya selangkah lebih maju. Bagaimana dengan orang yang sebaliknya? Orang yang dipenuhi pikiran-pikiran pesimis. Orang yang selalu menganggap mimpi hanyalah sekedar mimpi.
Rasanya pengen kayak karakter anime yang punya kekuatan berbicara. Tanpa harus berbusa-busa, cukup dengan kata-kata yang merasuk ke jiwa, bukan menusuk ya. Pasti akan ada masanya mengalami kejadian seperti ini, berbicara berbusa-busa menghadapi orang yang selalu pesimis. Sudah berbusa-busa tapi tetap saja enggak ada pengaruh? Gimana dong? PR banget sih.
Saya mengalami sendiri kejadian nyata tentang orang yang sangat pesimis dalam menyikapi mimpinya. Saya sudah berbicara ini dan itu tapi tetap saja orang itu selalu pesimis dan enggak "mendengarkan" yang saya katakan. Apa akhirnya saya menyerah? Entahlah. Rasanya saya ingin meminjam kekuatan berbicara merasuk ke jiwa kayak di anime. Padahal saya sedikit tahu tentang mimpinya. Ingin membantunya meraih mimpi, hanya saja sekarang rasanya susah. Dia seakan enggak percaya dengan kekuatan mimpi bisa menjadi nyata.
Apa saya harus menghadirkan Mario Teguh? Tentu saja enggak. Saya hanya harus lebih "keras" memotivasinya, mendukungnya, memberikan dorongan padanya, walau saya harus menghadapi "penolakan" berkali-kali. Nantinya saya pasti akan merasa bangga bisa melihat dia mengubah mimpinya menjadi kenyataan. Tentu usaha ini bukan hanya satu arah. Percuma dong saya memotivasi ini dan itu berbusa-busa tapi dia justru enggak "mendengarkan" kata-kata saya dan justru semakin menganggap mimpi hanya sekedar mimpi. Saya dan dia sama-sama berusaha dengan jalan yang berbeda walau sampai di muara yang sama.
Setiap orang pasti punya peluang mewujudkan mimpinya menjadi nyata. Kita saja yang menganggap peluang itu cuma dimiliki orang tertentu.
Kebumen, 16.04.2018

Sabtu, 14 April 2018

CERITA SETIAP MASA

(pexels.com)
Katanya masa yang paling menyenangkan adalah masa remaja. Banyak rasa yang muncul saat menjalani masa yang satu ini. Setiap orang punya satu kesempatan memiliki masa remaja. Menyenangkan atau menyedihkan, tetap saja hanya ada satu kali kesempatan. Sebenarnya setiap masa yang kita miliki hanya ada satu kali kesempatan.
Masa anak-anak, remaja dan dewasa. Semuanya punya jatah yang sama, satu kali. Masa anak-anak, masa yang menyenangkan tanpa berpikir apa itu dunia, apa itu cinta, apa itu kehilangan. Masa-masa kita merdeka seutuhnya. Tanpa beban ini dan itu. Hidup terasa indah dan sangat menyenangkan.
Masa remaja, masa usia las-las-an, kata orang Jawa. Masa yang bebas memilih untuk mencoba berbagai hal, bisa positif atau negatif, tergantung kita menyikapinya. Tanggung jawab, resiko dan segala macamnya belum sepenuhnya ada di pundak sendiri. Inilah masa yang kata orang adalah masa yang paling menyenangkan. Resmi meninggalkan masa anak-anak tapi belum sepenuhnya siap memasuki masa dewasa. Bisa dibilang masa remaja adalah training sebelum menjadi dewasa. Sikap kita nantinya salah satunya bisa dipengaruhi oleh "training" ini.
Masa dewasa, bukan lagi masa usia las-las-an. Ini adalah masa yang harus siap memikul beban sendiri. Setiap pilihan harus siap dihadapkan dengan berbagai resiko. Setiap pilihan adalah tanggung jawab. Masa bukan lagi coba-coba tapi harus dipikir baik-baik dan penuh pertimbangan.
Setiap masa yang sedang kita jalani memang harus benar-benar dinikmati tanpa khawatir berlebihan tentang masa yang akan datang.
Kebumen, 14.04.2018

Jumat, 13 April 2018

MEDIA SOSIAL SI KECIL

(pexels.com)
Sekarang jadi sangat biasa, bayi-bayi lucu punya akun media sosial sendiri. Bukan keinginan si bayi tentu, tapi hasrat mamak-bapaknya yang ingin berbagi ke seluruh jagad kelucuan-kelucuan buah hati mereka. Enggak sedikit juga bayi yang jadi selebgram. Endorse kenceng. Banyak orang yang memberikan pujian dan kekaguman.
Enggak selalu negatif, bayi atau balita atau anak punya akun media sosial sendiri. Enggak sedikit juga yang postingannya justru tentang parenting. Cara-cara luar biasa yang dilakukan seorang ibu, khususnya, mendidik buah hatinya. Walau ada juga yang menjadikan media sosial khusus si kecil ini jadi semacam daily journal dengan bumbu-bumbu endorse efek selebgram.
Zaman milenial begini memang kenceng banget yang namanya berbagi lewat media sosial. Enggak cuma orang dewasa, tapi bayi juga ikut eksis. Hasrat orang tuanya sih. Enggak ada salahnya juga share everything khususnya tumbuh-kembang anak di media sosial, tapi harus siap juga sama efek negatif yang mungkin bisa terjadi.
Pertama, foto-foto yang diunggah ke media sosial bisa disalahgunakan oknum enggak bertanggungjawab. Jadi korban penculikan? Ini salah satu efek negatifnya.
Kedua, keasyikan mamak-bapaknya menciptakan kelucu-lucuan si kecil sampai lupa menciptakan komunikasi yang dekat demi pertumbuhannya. Lagi begini, share di media sosial. Lagi begitu, unggah di media sosial. Kapan ngajak anak ngobrol? Penting juga loh biar kemampuan berkomunikasinya baik dan terasah.
Ketiga, tanpa disadari bisa mengeksploitasi anak, khususnya buat yang jadi selebgram. Tuntutan endorse ini dan itu, mau enggak mau bikin si anak juga harus begini dan begitu. Orang tuanya bisa saja bilang, endorse-endorse itu enggak memaksakan si kecil. Kalo pake produk tertentu, si kecil memang mau memakainya. Bandingkan sama anak yang enggak ada tuntutan pake ini-itu demi endorse. Lebih "bebas" yang mana?
Menjadikan si kecil selebgram sebenarnya bukan pilihan yang bijak. Kalau pengen mengabadikan setiap momen tumbuh-kembang, haruskah di media sosial? Bukannya kebahagiaan ini cuma milik kita?
Jogja, 13.04.2018

Rabu, 11 April 2018

TENTANG TERBANG MENEMBUS LANGIT


Mimpi itu harus dikejar. Walau banyak halangan dan rintangan, jangan dijadikan alasan untuk menyerah. Bertemu kegagalan, wajar, tapi tetap berusaha yang terbaik biar enggak sampai ketemu sama si "kegagalan" ini. Begitulah salah satu pesan dari film "Terbang Menembus Langit" karya Fajar Nugros. Film yang ringan tanpa ada drama berlebihan. Tanpa kita sadari, pesan-pesan dalam film ini bisa tersampaikan karena jalan ceritanya enggak bikin kita berpikir rumit. Bisa dibilang film ini ringan dengan pesan positif yang bisa memotivasi kita.
Film genre drama ini dibintangi Dion Wiyoko, Laura Basuki yang tetap kelihatan flawless walau dalam kehidupan nyata sudah menjadi seorang ibu, Baim Wong, Delon, Marcell Darwin, Dinda Hauw dan lain-lain. Setting film ini di Tarakan, Surabaya dan Jakarta tahun 1990-an. Satu lagi pesan positif yang keren dari film ini adalah Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi tetap satu. Dialog paling keren dari film ini bagi saya, "Kami bukan orang China. Kami orang Indonesia keturunan China." Tenang, film ini enggak ada sensitif sama rasis kok. Sekali lagi, film ini punya jalan cerita yang ringan. Enggak sampai urat menegang karena adegan yang bikin greget sekaligus keki, apalagi adegan yang rasis. Enggak ada kok adegan macam ini. Walau ada sepotong adegan kerusuhan 98, tapi fokus film ini bukan mengarah sama kejadian ini.
Film ini juga ngasih pesan agar kita "berani" menjadi boss dalam bisnis sendiri. Bukan menjadi pekerja yang berada di bawah kuasa orang lain. Tantangan, kegagalan, resiko, sampai hasil yang manis disajikan dalam film ini lewat karakter bernama Achun.
Film ini memang enggak sempurana. Menurut saya juga bukan film terbaik. Kekurangan dan minus dari film berdurasi sekitar dua jam ini pasti ada. Sebelum nonton, sebaiknya cari tahu dulu tentang Onggy Hianata biar enggak mengalami kebingungan di tengah jalan cerita.
Jogja, 11.04.2018

Selasa, 10 April 2018

MISTER INDONESIA (BAGIAN 2 - SELESAI)

(pexels.com)
Cewek yang ikut Miss Indonesia dan sejenisnya pasti terlihat anggun. Bukan aura cewek nakal walau sama-sama cantik. Ada aura cantik yang beda dari finalis Miss Indonesia. Cowok yang ikut Mister Indonesia gimana? Terlihat manly? Hmmm... manly sih iya, tapi kok enggak se-wow cewek yang ikutan Miss Indonesia ya? Auranya beda. Ya jelas beda sih, tapi cowok yang ikut kontes begini memang dekat sama aura cowok "cantik". Metroseksual. Rajin nge-gym iya, tapi juga rajin selfie dan memamerkannya di Instagram.
Jangan samakan semua cowok yang ikut kontes semacam ini. Ada juga kok yang enggak sekedar pamer atletis di media sosial. Posting foto atletis cuma sesekali. Itu juga dengan konsep photoshoot, bukan foto selfie sehari-hari.
Konsep penilaian Miss Indonesia dan Mister Indonesia sama. Ada pertanyaan dari juri yang harus dijawab secara singkat sama finalis. Fisik memang jadi poin penilaian tapi bukan yang paling utama. Mereka adalah "wajah" yang akan bertemu dengan banyak orang. Pemenang nantinya akan menjadi ambassador. Wajar juga penampilan menarik menjadi syarat wajib yang harus dimiliki finalis.
Mungkin rasanya enggak adil. Kenapa ada syarat penampilan menarik sesuai standar tertentu (baca: atletis)? Sudahlah. Masing-masing punya tempatnya. Bikin passion dan tempat masing-masing. Mereka yang jadi finalis tentu melakukan dengan passion. Ada sih label buat cowok yang ikutan beginian, katanya begini... katanya begitu... Enggak perlu disebutin di sini 'kan?
Jogja, 10.04.2018

Minggu, 08 April 2018

MISTER INDONESIA (BAGIAN 1)

Banyak dari kita yang lebih kenal Miss Indonesia, Putri Indonesia, Miss Universe dan kontes kecantikan sejenis yang katanya bukan sekedar cantik secara fisik tapi juga cerdas dan santun. Brain-Beauty-Behaviour. Kalo Mister Indonesia gimana? Baru kali ini dengar? Yap! Betul! Mister Indonesia adalah kontes "kegantengan" (yang jelas buat cowok). Pertama kali ada tahun 2014 dengan nama Mister Photogenic Indonesia, begitu kata Wikipedia, kontes ini punya tujuan enggak beda jauh sama Miss Indonesia dan sejenisnya: mencari talenta dari sosok yang menarik secara fisik. Harus punya integritas tinggi, etika yang santun, punya wawasan kebangsaan, dan pastinya komunikatif. Nantinya pemenang Mister Indonesia akan mewakili Indonesia di ajang male pageant internasional, sama kayak Miss Indonesia yang berjuang di Miss World, atau Putri Indonesia yang berkompetisi di Miss Universe.
Mister Indonesia memang punya tujuan mengembangkan bidang modeling dan fotografi anak muda. Enggak heran syarat penampilan proporsional a.k.a atletis jadi salah satu syarat menjadi finalis Mister Indonesia. TV kita memang jarang menayangkan kontes ini. Wajar masih banyak yang belum tahu. Sama kayak Miss World atau Miss Universe, kontes khusus cowok ini juga ada sesi pakaian renang. Mata cewek-cewek akan disegarkan dengan cowok-cowok bercelana renang (bahkan ada yang ketat sampai terlihat menonjol... IYKWIM...) dengan body atletis dan mulus. Sungguh kelihatan flawless. Sesi pakaian renang di kontes Mister Indonesia enggak seviral sesi bikini Miss Universe. TV kita berani menayangkan Miss Indonesia bahkan secara live karena sesi bikini sengaja enggak diadain demi menjaga adat ketimuran. Sesi ini memang punya pro dan kontra, tapi enggak dengan sesi pakaian renang (lebih pas dibilang celana renang kali ya, karena semua finalis bertelanjang dada).
Bersambung...
Jogja, 08.04.2018

Sabtu, 07 April 2018

TENTANG BAHAGIA

(pexels.com)
Bahagia itu sederhana. Mungkin banyak yang pernah mendengar kata-kata ini. Yap! Bahagia itu kita sendiri yang bikin. Enggak ada standar bahagia seseorang. Masing-masing punya definisi bahagianya sendiri. Lihat pengamen di lampu merah, bukan berarti mereka enggak bahagia dengan hidupnya. Lihat idola yang punya berjuta fans, bukan berarti mereka bahagia dengan popularitasnya. Sifat iri kita, manusiawi sih, yang bikin bahagia jadi rumit. Sadar atau enggak, justru kita sendiri yang bikin standar bahagia berdasarkan apa yang kita lihat dari kehidupan orang lain. Belum tentu juga yang terlihat bahagia, benar-benar bahagia. 
Buat saya, satu bentuk bahagia adalah makan enak. Kita memang butuh makan dan harus makan biar tetap hidup. Makan enak, enggak harus mahal ya, bisa bikin "lampu" bahagia saya menyala. Yah.. bukan berarti standar bahagia adalah makan (enak) loh ya.
Bisa berbagi dengan orang lain juga salah satu bentuk bahagia. Sharing is caring. Ada kebahagiaan yang kita rasakan waktu berbagi. Melihat senyum orang lain karena kita yang bikin, benar-benar bisa bikin bahagia. Simpel. Sesederhana ini. Bahagia itu enggak melulu tentang materi. 
Sebenarnya sih bahagia itu enggak punya ukuran matematis. Enggak bisa dinilai pakai angka karena bahagia itu tentang rasa. Kita bahagia, kita sendiri yang bikin dengan cara sesimpel mungkin. Ada banyak kok di sekeliling kita, kalau menyadarinya.
Jogja, 07.04.2018
© BAGUS'S JOURNAL 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis