Sabtu, 19 Mei 2018

SALAH DAN MAAF

(kpanel.mramagazines.com)
Maaf-memaafkan, apalagi di bulan Ramadan, jadi sikap yang perlu dilakukan. Pengennya skor kesalahan 0-0 memasuki bulan suci, bulan yang sangat dinanti. Dimaafkan atau enggak, hanya kita dan Tuhan yang tahu. Lisan bisa bilang maaf-memaafkan, tapi hati? Belum tentu.
Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Pernah menyakiti perasaan. Pernah menghancurkan silaturahim. Yah... karena hidup sangat bervariasi. Enggak melulu yang senang-senang. Ada tingkat kesalahan kecil, bisa dimaafkan dan besoknya lupa. Hubungan kembali normal dan enggak ada efek awkward. Ada juga tingkat kesalahan besar, sekali pun sudah saling maaf-memaafkan tapi situasi awkward enggak bisa dihindari. Hubungan dalam beberapa hal bisa jadi normal, tapi enggak bisa kayak dulu lagi. Lisan memaafkan, tapi hati masih menyisakan luka. Tingkat kesalahan besar ini bisa bervariasi. Banyak penyebab kesalahan yang masing-masing punya pandangan berbeda tentang seberapa besar tingkat kesalahan itu.
Maaf-memaafkan sebenarnya enggak gampang. Hati yang tulus menerima maaf atau mengantarkan maaf, enggak ada dendam sama sekali, hubungan kembali normal, susah... susah banget. Enggak semua orang bisa melakukannya. Berdasarkan hadist (maaf kalau keliru :D), marah sama seseorang batas maksimalnya tiga hari. Siapa sih yang enggak sakit hati jadi korban kesalahan yang dibikin orang lain? Entah jadi korban atau ada penyebab lain yang memunculkan rasa "dia yang salah". Pasti berakhir jadi "perang dingin". Enggak ada lagi komunikasi, saling memandang negatif (apalagi kalau kedua pihak sama-sama punya anggapan "dia yang salah"), dan hubungan semakin renggang, menjauh, dan enggak kenal sama sekali. Ada "perang dingin" yang terjadi bertahun-tahun. Gunung es "permusuhan" semakin tebal. Masing-masing punya ego tinggi. Enggak ada yang mengaku salah, apalagi inisiatif minta maaf duluan. Iya, ada yang minta maaf, tapi kayak sekedarnya dan enggak merasa ada kesalahan pada diri-sendiri. Pada akhirnya... awkward lagi... silaturahim enggak sedekat dulu. Talinya masih bisa nyambung tapi antara putus dan enggak putus.
Masih lebih baik kalau saling memaafkan, berangkulan, dan seenggak-enggaknya tanpa ada permusuhan, walau bisa jadi tetap ada efek awkward. Kalau terus-terusan "perang dingin", siapa yang suka sama kondisi kayak gini? Cuma bikin enek dan muak.
Memang harus ada yang memulai duluan. Bukan tetap keukeuh sama prinsip "dia yang salah". Tergantung kesalahan yang dibikin juga sih.
Bagaimana dengan pelaku bom bunuh diri? Masih ada kata "maaf"?

Jogja, 19 Mei 2018

Jumat, 18 Mei 2018

CUMA INI YANG PENYIAR RADIO MAU

(http://yesofcorsa.com)
Kebahagiaan hakiki seorang penyiar radio adalah interaksi dari pendengar. Apalagi kalau enggak diminta gabung, tapi secara sukarela pendengar langsung memenuhi kontak SMS/ WA. Kalau enggak ada interaksi dari pendengar, sedih saya tuh. Sepi. Bikin bosan. Siaran bukan lagi sesuatu yang menyenangkan. Kayak onani, rasanya nikmat tapi lama-lama bosan juga 'kan enggak ada lawan main?
Sekarang radio memang enggak sebombastis dulu. Seorang teman pernah bilang, sebelum hape menjamur, pendengar radio yang ingin request lagu harus punya form khusus yang dibeli seharga sekian rupiah. Dulu jadi bonus banget buat stasiun radio. Bisa menjadikan request lagu sebagai bahan penambah pundi-pundi ekonomi. Masa semakin berubah, form khusus kayak gini ditinggalkan dan era hape bahkan smartphone jadi yang cara termudah dan terbanyak buat request lagu. Stasiun radio enggak bisa lagi menjadikan request lagu sebagai bisnis.
Radio sama kayak media massa lain, terus berkembang mengikuti zaman. Dulu ramai banget kirim surat ke radio, berharap bisa dibacain live sama penyiarnya. Rasanya? Bahagiaaa banget! Begitulah momen waktu kiriman pendengar direspon dan dibacain secara langsung sama penyiar radio. Sekarang masih ada 'kah perasaan seperti ini? Rasa excited waktu SMS dibacain, salam disampein dan lagu diputerin. Masih ada, tapi enggak seheboh dulu.
Saya ingat momen jadi pendengar setia radio, waktu itu tahun pertama jadi mahasiswa (dengerin radio karena ada maunya a.k.a pengen jadi penyiar radio). Waktu itu... enggak ramai banget. Sepi juga enggak. Saya dengerinnya radio populer sih. Coba dengerin radio enggak atau kurang populer. Interaksi pendengar pasti cuma itu-itu saja. Hei, jangan salah. Interaksi dari pendengar setia asal banyak, justru bagus. Kebahagiaan sederhana buat seorang penyiar radio bisa jadi nyata.
Kalau mau mendapatkan pendengar baru, interaksi baru, pasti harus mengikuti perkembangan dan perubahan. Identitas radio jelas harus dipertahankan tapi kalau perkembangan dan perubahan ini masih masuk di segmen radio X, kenapa enggak?
Radio sekarang banyak yang onani. Saya enggak ada data angka yang pasti. Hanya sekedar pendapat pribadi. Cuma radio tertentu yang masih tetap hidup dengan banyak interaksi. Bukan cuma dari orang yang itu-itu saja, tapi bisa menjangkau orang yang lebih luas lagi, lebih banyak lagi.
Kebahagiaan hakiki seorang penyiar radio bukan enggak mungkin dilakukan di masa sekarang, cuma... tantangannya lebih berat. Enggak cukup Dilan saja yang menanggungnya.

Jogja, 18 Mei 2018

Kamis, 17 Mei 2018

POLA TIDUR SAAT RAMADAN

(www.pexels.com)
Puasa hari pertama alhamdulillah lancar. Bangun sahur dengan semangat, lanjut siaran, dan enggak ngantuk berlebihan. Kuncinya adalah tidur sebelum jam 12 malam. Beruntung, saya sekarang enggak ada siaran malam. Paling mentok jam 22.30 dan saya bisa langsung tidur setelahnya. Masih di jam sebelum 00.00.
Mengatur pola tidur di bulan Ramadan memang penting. Hmm... berkaca sama Rasulullah yang sangat sedikit jam tidurnya, pentingkah kita mengatur pola tidur? Rasulullah walau enggak banyak tidur, tapi tetap ada waktu buat mengistirahatkan badan. Alasan Rasulullah tetap terjaga juga bukan karena nonton bola, nge-game, atau aktivitas yang sebenarnya enggak berfaedah, tapi karena terus bersyukur sama Allah dengan banyak beribadah, lebih banyak dari siapapun.
Islam bukan agama yang memberatkan, tapi jangan juga menggampangkan. Meneladani Rasulullah tentu tujuan dan harapan setiap umat Islam, tapi kalau belum bisa sesempurna Rasulullah dalam mensyukuri nikmat Allah, tentu enggak ada kewajiban harus segera kayak Rasulullah. Tetap berusaha, jelas. Step by step.
Memang, tidur di saat Ramadan adalah ibadah, tapi bukan berarti tidur terus seharian. Imbangi dengan kegiatan positif lain. Jangan karena tidur sedikit di malam hari gara-gara kegiatan yang enggak berfaedah, makan sahur jadi terlewat dan sepanjang puasa hanya "balas dendam" dengan tidur terus-terusan. Melakukan sesuatu yang berfaedah pasti akan memberikan efek positif, termasuk buat diri-sendiri. Begitu juga sebaliknya, sesuatu yang enggak berfaedah pasti akan memberikan efek yang sama-sama enggak ada faedahnya.
Buat yang bisa konsisten tidur jam 10 malam, bagus! Pola tidur yang baik. Kalau enggak bisa konsisten, seperti saya yang ada siaran malam sampai jam 22.30, seenggaknya sebelum jam 12 malam harus tidur. Dan harus konsisten tidur sebelum tengah malam. Intinya, jangan begadang kalau enggak ada artinya, enggak ada manfaatnya, enggak ada faedahnya.

Jogja, 17 Mei 2018

Rabu, 16 Mei 2018

BERTEMU RAMADAN

(beabettermuslim.com)
Ramadan ke sekian. Alhamdulillah... Selalu ada yang bikin kangen, syahdu, berkesan, bermakna sama Ramadan. Tahun ini adalah Ramadan terakhirku sebagai mahasiswa S1 karena aku akan lulus dan resmi menjadi sarjana komunikasi dan penyiaran Islam. Yeaaay! Mungkin juga ini Ramadan terakhirku sebagai bujang? Who knows? Tuhan selalu punya kejutan. Kayak kata seorang teman yang Ramadan tahun lalu masih lajang dan kali ini resmi jadi pasangan halal orang.
Ramadan, puasa, sahur, berbuka, taraweh, buka bersama, iklan sirup, suasana Ramadan di mall, pernak-pernik yang cuma bisa dirasakan 30 hari dalam setahun. Masjid kembali ramai. Shaf shalat berjama'ah kembali penuh. Lantunan ayat suci mengalun setiap malam. Sebuah kesyahduan yang hanya bisa dirasakan saat Ramadan.
Bahkan kebaikan bulan Ramadan bisa dirasakan oleh semua orang, semua umat. Takjil, penganan khas berbuka puasa, manisan-manisan, es-es menyegarkan, mulai semarak di pinggir jalan. Menuju sore adalah waktu yang tepat untuk membeli semuanya. Setiap tempat makan pasti akan lebih rame dari biasanya. Satu waktu yang menyatukan. Banyak tempat makan yang dipesan jauh-jauh hari untuk sebuah agenda bernama buka bersama.
Itu semua adalah pernak-pernik Ramadan duniawi. Bagaimana dengan amalan? Ibadah? Tilawah? Tadarus? Jadi semakin baik? Biasa saja? Atau enggak ada perubahan sama sekali? Ramadan memang momen yang tepat meningkatkan kualitas ibadah dan kedekatan sama Allah. Peningkatan yang seharusnya enggak cuma saat Ramadan, tapi bisa bertahan di bulan-bulan selanjutnya sampai nanti bertemu lagi dengan bulan Ramadan.
Semoga. Amiiin.

Jogja, 16 Mei 2018

Selasa, 15 Mei 2018

HIATUS

(www.pexels.com)
Terpaksa hiatus karena "rumah" baru. Awalnya sudah merasa mantap pindah "rumah", tapi jadi ragu lagi dan merasa sayang sama "rumah" lama. Kalau bisa menggabungkan "rumah" lama dengan "rumah" baru, kenapa enggak? Saya yang terlalu gaptek atau terlalu malas (gabungan keduanya sih), "rumah" lama yang berusaha digabungkan sama "rumah" baru sukses membuat saya pusing. Saya pikir memang bisa menggabungkan keduanya, ternyata setelah curhat dengan seorang teman, sebaiknya enggak digabungkan karena "rumah" baru saya enggak cuma punya "gedung" tapi juga punya "tanah". Menggabungkan keduanya tentu bisa-bisa saja, tapi sayang "tanah" yang saya punya kalau enggak dipakai. "Tanah" ini yang bisa membuat "rumah" baru saya bisa ada di pencarian Google paling atas, seenggaknya ada di halaman pertamalah.
Yah... saya memang harus pindah, walau pun rasanya berat karena "rumah" lama ini sudah begitu berarti. Banyak cerita yang saya bagikan di sini. Apa harus saya tinggalkan? Ya, demi "kelas" yang lebih baik. Sekarang saya harus fokus mengurus "rumah" baru. Membangunnya kembali, setelah saya hancurkan sebelumnya. Yah... dengan iming-iming harapan menggabungkan "rumah" lama dengan "rumah" baru.
Sekian hari (terpaksa) hiatus, rasanya kayak kangen sama pacar yang LDR-an. Kaaangen banget. Kebayang 'kan kebiasaan yang biasanya dilakukan mendadak harus berhenti karena keadaan? Pokoknya kangen banget sama "rumah" ini. Selama bulan Mei, saya masih tetap di sini kok. Berbagi cerita di sini. Nantinya saya akan pindah "rumah" dan semua cerita di "rumah" lama ini akan jadi cerita terindah buat saya. Memulai cerita lagi dari awal. Membuat kenangan baru. Sebenarnya saya hanya meneruskan di tempat yang berbeda.
Oh iya tentang alasan saya hiatus, agak membingungkan saya menceritakannya. Jadi, domain blogspot saya a.k.a "rumah" lama, saya gabungkan sama domain blogdotcom a.k.a "rumah" baru. Saya tambahkan url pihak ketiga di "rumah" lama dan berhasil. Iya, berhasil gabung, tapi harus mengatur HTTPS entah apa (yang sukses bikin saya pusing), agar penggabungan ini benar-benar berhasil. Saya harus mengatur cPanel, yah... something like that. Sekali, gagal. Kedua kali, gagal lagi. Ketiga kali, gagal juga. Kegagalan ini karena saya akhirnya dibikin pusing dan enggak ngerti lagi apa yang salah, apa yang keliru.
Kenapa enggak cari tahu di Google? Nah... karena saya terlanjur pusing, "patah arang", hopeless, saya terlalu malas mengaturnya. Nah... di sinilah curhat sama seorang teman dimulai yang bikin saya paham tentang "rumah" baru saya yang lengkap dengan "tanah", bukan sekedar "gedung". Jadilah saya hiatus sekian hari. Terpaksa hiatus. Rekor hiatus terlama! Enggak mau lagi kayak gini...
Kalau enggak sayang uang "sewa", enggak apa-apa menggabungkan "rumah" lama sama "rumah" baru. Yah... pindah "rumah" memang harus menjadi pilihan.

Jogja, 15 Mei 2018

Senin, 07 Mei 2018

DUNIA MISTIS DI MASA KINI

(pexels.com)
Entah sejak ada reality show "Karma" di ANTV yang katanya langsung populer itu atau bukan, sekarang sisi dunia mistis enggak sedikit yang menjadikannya komersil. Masyarakat kita memang banyak yang suka sama dunia kayak gini, tapi sejak kemunculan reality show mistis di ANTV dan banyak ditonton (sepertinya), beberapa media lain latah mengikuti.  Apa Youtube juga bernasib sama?
We know... Youtube itu sebuah media yang "lebih dari TV". Enggak sedikit yang lebih memilih Youtube daripada TV swasta (TV kabel beda lagi). Beberapa kreator juga ada yang konsisten dengan konten horor, mulai dari Ewing HD, Nessie Judge, Filo Sebastian, Billy Christian, dan teman-temannya. Mereka eksis dan konsisten dengan konten mengarah ke hal-hal mistis bukan karena latah sama reality show yang katanya lagi populer itu, tapi enthusiast para kreator ini pasti memang di dunia makhluk enggak kasat mata.
Bukan omong kosong, jin dan dunianya yang menjelma jadi rupa-rupa yang kita kenal dan menjadi ketakutan tersendiri memang ada. Seseorang yang lebih peka dan bisa gampang terkoneksi dengan "mereka" juga ada. Dunia gaib sesungguhnya memang berdekatan dengan kita. Apa perlu kita menakutinya? Ingat, dibalik dunia kita dan dunia "mereka", ada satu penguasa di atas segalanya. Hanya kepada-Nya kita harus merasa takut dan tunduk.
Gimana dengan seseorang yang lebih peka sama kehadiran makhluk enggak kasat mata? Seharusnya mereka di-ruqyah. Mana ada sih orang yang mau melihat dan selalu berdekatan sama sesuatu yang enggak dia inginkan setiap hari? Mungkin lama-lama akan terbiasa, tapi kalau kita bisa menjalani "kehidupan" di "dunia" masing-masing ini, tanpa mencampuri urusan, kenapa enggak?
Aku enggak tau prosedur ruqyah itu seperti apa. Enggak semua orang mempelajarinya karena ilmu ini memang enggak diajarkan sekolah secara umum. Buat seseorang yang lebih peka ini sepertinya menikmati kemampuannya. Jadi beda dengan kebanyakan orang dan memang sekarang trennya begitu 'kan?

Jogja, 7 Mei 2018

Minggu, 06 Mei 2018

AVENGERS: INFINITY WAR, BUKAN SEBUAH SPOILER

(http://www.cizgikafe.com)
Oke, kita mulai dari mana cerita kali ini? Sesuatu yang sangat-sangat populer dan banyak orang yang... yah... bisa gonjang-ganjing karenanya. Ah, lebay. Seriusan. Bukannya berlebihan atau apa, tapi film "Avengers: Infinity War" berhasil bikin tren sendiri. Banyak antisipasi buat sesuatu yang bisa merusak kenikmatan nonton serial Avengers.
Yay! "Avengers: Infinity War" memang film yang sangat-sangat... keren! Awesome! Efek yang keren, cerita yang penuh aksi dan visual efek yang wow, superhero yang bersatu melawan kejahatan, dan tentunya drama. Film se-war ini tetap menyajikan drama. Ya, drama. Bukan cuma aksi tembak-menembak, serang-menyerang, tapi ada juga drama antara Thanos dan Gamora. Bolehkah saya bercerita drama mereka di sini? Hei.. hei.. ingat judul cerita kali ini.
Satu musuh bersama dilawan banyak superhero. Oke, ini menarik. Rasanya sangat menyebalkan melihat wajah Thanos yang di akhir film ngasih pesan "tersembunyi" yang isinya: "Thanos will return". Oke, dunia Avengers enggak segampang itu selesai. Ini investasi. Bertahun-tahun menciptakan sekumpulan superhero di dunianya yang berhasil "menyihir" kita yang hidup di dunia yang serba realistis. Nonton film superhero, salah satunya, bisa membawa kita merasakan sensasi sebuah "dunia baru". Kekacauan karena satu makhluk, pelindung dengan kekuatan-kekuatan yang luar biasa, semua yang "hanya" ada di film.
Sebagian orang ada yang berandai punya superpower kayak Scarlet Witch, Thor, Spider-Man, Iron Man, Black Panther, Doctor Strange, tapi kalau dunia realistis kita benar-benar ada kekuatan semacam ini, yakin masih menginginkan kekuatan mereka? Yah... kita tahu superhero enggak pernah tenang menjalani hidupnya.
Durasi sekitar dua jam tigapuluh menit enggak cukup buat menceritakan dunia Avengers. Seperti film superhero keren lainnya, cerita enggak akan segampang itu selesai. Dua tahun lagi, empat tahun lagi, atau mungkin satu tahun lagi, kita akan memasuki dunia Avengers (lagi) dengan cerita yang sambung-menyambung. Setiap cerita pasti memiliki akhir, tapi benar-benar mengakhiri sebuah cerita yang bertahun-tahun menciptakan gempita dan tren, sepertinya enggak akan terjadi.
"Avengers: Infinity War", sebuah film yang keren. Enggak ada penyesalan menukar Rp40 ribu dengan film sekeren ini. Apa film lain juga bisa ngasih efek begini? Oke, "Avengers: Infinity War" keren. Terlalu keren. Keren banget. Saya enggak mau spoiler. Saya enggak mau bikin rangkuman, termasuk sisi dramatis Thanos yang seakan enggak punya hati dan sangat ambisius gila ini. Thanos, supervillain, musuh bersama, sekaligus seorang ayah. Iya, ayah dari seorang putri bernama... (sepertinya ini rahasia umum) Gamora.
Infinity Stone yang bikin Thanos ambisius seharusnya bisa menyatukan semuanya tanpa harus war-war bahkan kehilangan nyawa. Semacam satu dunia dipimpin satu makhluk, tentunya dunia Avengers. Bukan dunia kita. Cerita akan menjadi klise kalau akhirnya seperti itu. Entah seperti apa akhir dari cerita ini, tapi yang jelas gempita dan tren (baru) sudah siap diluncurkan.
"Avengers: Infinity War" sungguh keren! Keren! Keren! Sangat keren! Oke, cukup bilang "keren"nya. Film ini sungguh keren!

Jogja, 6 Mei 2018

Sabtu, 05 Mei 2018

(GOOGLE) PENGOBAT RINDU

(pexels.com)
Masih merasa takjub sama Google Street View. Norak ya? Beneran deh, teknologi satu ini kece banget. Gimana enggak? Seluruh dunia kayaknya sudah direkam sama Google Street View. Mau lihat pemandangan apa? Lihat jalan di mana? Bukannya "mendewakan" Google, terutama Google Street View, tapi memang sangat bisa kalau kita pengen lihat satu jalan di suatu tempat pakai teknologi dari Google ini.
Kangen sama rumah? Buat anak rantau nih. Bisa kok pakai Google Street View. Kita bisa lihat jalan menuju ke rumah, jalan yang bikin kangen, bikin baper, dan bikin pengen pulang. Cuma... buat yang rumahnya enggak dipinggir jalan utama alias masuk-masuk gitu, apalagi yang rumahnya di desa kecil jauh dari kota, siap-siap sedikit kecewa karena Google Street View enggak sedetail itu. Bayangin, kalau sampai detail ke sudut-sudut, masuk-masuk ke daerah kecil gitu. Amazing sekali.
Pemandangan-pemandangan indah dari berbagai negara sangat bisa kita lihat di Google Street View. Pas buat yang sangat kurang piknik. Seenggaknya dengan lihat-lihat pemandangan indah dari banyak negara, ada semacam refresh dalam diri walau enggak benar-benar ada di sana.
Project Google Street View di Indonesia sudah lama. Kata tekno.kompas.com, layanan Google Street View Indonesia pertama rilis tahun 2014. Katanya juga, Street View ini proyek jangka panjang Google ngambil foto pemandangan jalan yang sejajar sama mata manusia. Hasil akhir Street View adalah foto pemandangan 360 derajat. Berasa benar-benar ada di lokasi. Kita bisa putar ke segala arah, kecuali ke atas dan bawah. Kerennya lagi, sebenarnya foto-foto ini video full frame loh. Bisa nangkep gambar 30 frame per detik pakai resolusi tinggi. Kamera Google Street View di Indonesia dipasang di mobil berlogo Google Map Street View dan Wonderful Indonesia. Enggak harus di mobil juga sih. Tergantung mau ambil gambar di mana. Bisa jalan kaki, dipegang sama manusia, naik sepeda, dan lain-lain. Baiklah.
Oh ya, kalau kita lihat Google Street View, pasti wajah seseorang, plat mobil, dan apapun itu yang mengarah ke identitas, bakal diblur. Sengaja, buat menjaga privasi.
Gokil ya Google ini. Seluruh dunia pengen dijadiin satu dalam genggaman. Keren! Eh, tapi kagumnya biasa saja ya. Jangan terlalu "memuja". Nanti bisa-bisa... Ya... gitu deh.

Jogja, 5 Mei 2018

Jumat, 04 Mei 2018

PINDAH "RUMAH"

(pexels.com)
Yeaaay! Rumah baru sudah jadi. Bukan merenovasi tapi pindah. Masih nanti kok pindahnya. Sekarang masih di sini dulu. Masih tetap berbagi cerita sama kamu. Iya, kamu. :D
Kepikiran pindah "rumah" sudah lama. Yah... sekitar Agustus 2017 waktu mulai rajin nge-blog, mulai cinta nge-blog, ada kepikiran pengen pindah "rumah", tapi the problem is... saya bingung cara beli "rumah" baru. Saya tahu ada website yang jual "rumah" baru, tapi saya pengennya langsung ditangani sama orang, saya datang ke sana, langsung tatap muka. Kebingungan yang enggak gimana-gimana juga. Sebatas bingung, sudah. Akhirnya baru sekarang (berapa bulan tuh?) bisa kesampaian beli "rumah" baru.
Saya beli rumah di Qwords.com, setelah baca tutorialnya di Benablog.com. Saya baca... hmm... sepertinya enggak ribet, walau saya ada rasa-rasa pusing memahaminya. Fix! Saya memutuskan beli "rumah" baru di Qwords.com. Enggak pake ribet sih belinya. Daftar dulu, terus log in ke Qwords.com, pilih deh "rumah" sesuai keinginan. Enggak cuma ".com" tapi ada juga ".net", ".co.id", macam-macamlah. Pilih sesuai selera. Saya jelas pilih ".com" dong.
Harganya super murah! Cuma Rp145-an ribu per tahun. Bayangin! Per tahun loh. Bukan per bulan. Total harga jadi Rp302.500.000 (bener 'kan nulisnya? :D) karena beli... hmm... apa ya namanya? Ada dua yang dibeli, "rumah" sama apa gitu satu lagi. Ini nih yang bikin saya pusing memahaminya.
Saya langsung bayar hari itu. Transfer bank. Ada beberapa cara pembayaran, termasuk bayar lewat Alfamart pake Doku gitu (lupa namanya apa, tapi biasanya buat bayar Spotify), tapi saya lebih pilih transfer bank. Lebih simpel sih. Walau setelahnya harus ngirim bukti transfer ke email Qwords.com, enggak masalah. (Merasa) enggak ribet adalah koentji.
Setelah saya kirim bukti pembayaran, enggak lama saya dapat email dari Qwords.com, ngasih tahu "rumah" saya sudah aktif. Yeaaay! Asli, cepat banget. Enggak ada satu jam setelah saya kirim bukti pembayaran, langsung jadi "rumah" baru yang saya beli.
Saya dapat email yang isinya petunjuk buat "ngebuka" "rumah" baru saya. Saya memang malas memahami sih, makanya pusing. Petunjuk dari Benablog.com sebenarnya jelas. Saya tinggal ikutin step-stepnya. Cuma, serius deh. Saya justru pusing ngikutinnya. Setelah begini dan begitu, akhirnya jadilah "rumah" baru saya. Benar-benar ada, tapi masih kosong dan perlu dibikin macam-macam sih.
Sebenarnya ada dua pilihan waktu proses "ngebuka" "rumah" baru saya. Pertama, bikin baru. Benar-benar baru. Ini alasan yang bikin saya harus pindah "rumah". Kedua, bisa pakai "rumah" yang sudah ada, tapi harus dibikin format zip dulu... Arrrgghhh... saya pusing memahaminya.
Sekarang "rumah" saya sudah jadi. Nanti 1 Juni 2018 saya resmi pindah "rumah". Ada rasa berat ninggalin "rumah" ini, tapi kalau saya enggak pindah "rumah", blog saya enggak bisa naik kelas dong? Ini menurut saya ya. Jadi, blog dengan domain ".com", menurut saya lebih qualified dan berkelas dibanding blog domain ".blogspot.com". Tentang karya sih, sama saja. Percuma dong punya blog ".com" tapi dianggurin.
"Rumah" ini akan tetap saya pertahanin kok. Cerita-cerita di "rumah" ini akan saya baca-baca lagi, nanti. Sayang juga kalau "rumah" dan cerita-cerita di sini dihapus.

Jogja, 4 Mei 2018

Kamis, 03 Mei 2018

RUMAH BARU

Persiapan "rumah baru". Finally... setelah sekian lama. Enggak banyak yang bisa saya ceritakan di sini. Waktu saya enggak banyak sebelum berganti hari. Persiapan pindah ke bagusadisatya.com enggak ribet sebenarnya, cuma dalam beberapa hal saya merasa malas mengurusnya. Apa mungkin tanda-tanda saya gaptek? Besok saya ceritakan lebih lengkap tentang proses pembuatan rumah baru yang sudah lama saya inginkan tapi baru terealisasi sekarang.

Jogja, 3 Mei 2018
© BAGUS'S JOURNAL 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis