Kamis, 21 Juni 2018

MEDIA SOSIAL "LATAH"

(cdn.hellosehat.com)
Hidup yang selalu di-media sosial-kan ternyata melelahkan. Enggak bisa ya menikmatinya sendiri saja? Kenapa harus "berbagi" di dunia yang bisa jadi antah-berantah itu? Demi eksistensi, citra diri, atau memang adiktif? Saya bukan tipikal pengguna media sosial "latah" yang apa-apa (harus) posting. Bukan anti media sosial cuma kadar penggunaannya yang berbeda. Ada positifnya juga jadi pengguna media sosial non "latah". Apa-apa yang saya lakukan ya hanya saya yang menikmati.
Saya pernah mencoba merekam jejak di media sosial, Instagram tepatnya, dan baru beberapa kali rekaman ternyata melelahkan. Akhirnya saya cuma bertanya sama angin lewat, "Buat apa saya melakukan ini?" Pengguna media sosial memang berbeda. Enggak ada yang salah dan benar antara yang "latah" dan non "latah", asal ada filternya. Enggak semua hal harus di-media sosial-kan, bukan?
Buat mereka yang bekerja dengan media sosial, pasti penting berbagi segala aktivitas, tentunya yang dirasa "berkelas". Ada juga yang daily life tapi khusus buat pengguna media sosial yang populer. Kalau masih jelata, siap-siap dinyinyirin, ditubirin, dan di.. di.. yang lain. Populer dengan sesuatu yang positif, dengan karya, atau populer karena keisengan yang menjadi viral. Enggak sedikit yang jadi populer karena tipe yang kedua.
Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita petik. Setiap orang punya pilihan jadi pengguna media sosial yang seperti apa. Asal masih sebatas "wajar", just for fun, lanjutkan! Apa yang kita posting bisa jadi hiburan buat orang lain. Enggak selalu kosong faedah. Cuma jangan sampai adiktif. Beda loh antara frekuensi yang banyak dan adiktif. Banyak posting di media sosial belum tentu jadi adiktif, tapi karena momennya pas, momennya bagus, sayang dilewatkan, why not? Kalau adiktif, salah satu cirinya merasa cemas kalau enggak melakukan. Nah... adiktif apa enggak nih?[]

Jogja, 21 Juni 2018

Rabu, 20 Juni 2018

FANTASTIC INCREDIBLES

(i.ytimg.com)
Setelah sebelumnya gagal nonton film ini, akhirnya, sama kayak setelah nonton film-film sebelumnya, rasanya puas banget bisa nonton Incredibles 2. Enggak sia-sia mengeluarkan Rp40 ribu buat film animasi se-fantastic ini. Nonton lagi? Mauuu! Tahun depan ya. Sebagus-bagusnya sebuah film, saya paling anti nonton lagi dalam waktu berdekatan. Satu kali saja cukup dan terpuaskan.
Film sekuel The Incredibles yang rilis tahun 2004 ini pasti dapat rating bagus. Jadi film terlaris juga di pekan pertama penayangan di Amerika Serikat sama Kanada. Enggak berlebihan sih bilang film animasi garapan sutradara Brad Bird (familiar sama nama ini?) jadi film fantastis. Kualitas animasinya enggak perlu diragukan lagi. Walt Disney jadi jaminannya. Ceritanya juga greget sekaligus merinding waktu adegan heroik para pahlawan super.
Kenapa film keduanya rilis bertahun-tahun kemudian, tahun 2018? Pasti ada alasan tertentu. Penikmat The Incredibles yang dulu masih anak-anak, sekarang jadi dewasa. Walau rentang waktunya jauh, tapi konsistensi filmnya, menyambungkan adegan terakhir The Incredibles sama pembuka Incredibles 2, oke banget. Perfect! Tokoh-tokohnya juga masih tetap sama, enggak berubah wajahnya.
Incredibles 2 cocok banget dinikmatin semua usia. Enggak ada adegan ciuman, sebenarnya ada sih tapi konteksnya lain. Adegan berantem-berantem tapi tanpa berdarah-darah. Jack-Jack jadi daya tarik tersendiri dengan keimutannya. Dunia Incredibles 2 dan super hero di dalamnya sangat-sangat menarik. Mirip X-Men, salah satu super hero, Voyd, mirip salah satu mutan X-Men kekuatannya. Kedua universe ini sama-sama bagus dan keren. Enggak bisa mengunggulkan ini dan itu. Punya keunggulan masing-masing.
Tontonlah Incredibles 2 di bioskop. Jangan nonton yang versi bajakan. Rasanya nyesek banget sama banyaknya penikmat film bajakan. Bahkan ada juga yang kualitasnya beniiing banget. Sebening-beningnya film bajakan, tetap yang paling utama adalah film original. Enggak bakal nyesel menjadikan DVD, original pasti, The Incredibles dan Incredibles 2, sebagai koleksi.[]

Jogja, 20 Juni 2018

Selasa, 19 Juni 2018

RINDU RAMADAN


Waktu lagi bareng, enggak kangen. Begitu perpisah, eh... jadi kangen gini. Begitulah yang namanya rindu. Ada yang merasakan rasa yang sama? Rindu Ramadan. Baru beberapa hari ditinggal, rasanya sudah rindu dan kangen begini. Apa sih yang dirindukan dari Ramadan? Suasananya. Benar-benar beda dari bulan-bulan lain. Ramadan adalah istimewa. Satu kebaikan bernilai ganda. Berlipat-lipat. Ramadan memberikan kebahagiaan, kebaikan, rezeki buat semua.
Kangen warung makan waktu hampir tengah malam masih buka? Kangen warung makan yang meriah di jam tiga dinihari? Cuma ada di Ramadan. Ini adalah kangen yang sangat sederhana. Makna Ramadan lebih dari ini. Selayaknya anak kecil yang begitu sederhana memandang sesuatu, inilah sebentuk rindu sederhana buat bulan Ramadan.
Tahun depan masihkah kita dipertemukan dengan bulan yang suci ini? Insya Allah.[]

Jogja, 19 Juni 2018

Kamis, 07 Juni 2018

THR

Gimana? THR sudah cair? Dapat THR enggak? Bla... bla... bla... Mendekati Lebaran, kasak-kusuk kayak gini pasti terdengar dari lisan para pekerja. Buat pegawai negeri sipil, enggak perlu kasak-kusuk karena THR adalah sebuah kepastian. Buat pekerja swasta? Was-was iya, dikibulin juga iya. Loh? Kok bisa? Gimana enggak dikibulin kalau THR yang diberikan buat para pekerja swasta ini enggak sesuai dengan aturan pemerintah. Ada loh THR dalam bentuk parsel. Entah setara dengan THR yang semestinya atau enggak, hanya perusahaan yang ngeluarin THR ini yang tahu.
Berdasarkan aturan pemerintah, sesuai UU Nomor 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan, pegawai yang sudah bekerja lebih dari tiga bulan, berhak mendapatkan THR. Nominalnya berapa, disesuaikan sama masa lama bekerja. Nah... buat pegawai yang bekerja satu tahun, berhak mendapatkan THR satu bulan gaji. So, double gaji gitu. Seharusnya. Sayangnya enggak sedikit perusahaan swasta (bahkan ada juga pegawai pemerintahan) yang (pura-pura) lupa dengan hak para pekerja ini. Pernah ada cerita dari seseorang yang bekerja di pabrik garmen. Katanya, THR yang diberikan sangat jauh dari satu bulan gaji. Bisa dibilang sangat kecil. Ada yang di bawah Rp50 ribu. Bayangkan! Ini namanya melanggar peraturan banget.
THR harus diberikan paling enggak tujuh hari sebelum Lebaran. Eits, enggak cuma Lebaran loh yang ada THR, tapi hari raya keagamaan lain juga ada bagiannya. THR, tunjangan hari raya. 'Kan enggak cuma Lebaran. Apapun hari raya-nya, aturan pemberian THR ya sama. Masih was-was bakal dapat THR atau enggak? Let's see.

Jogja, 07 Juni 2018

Rabu, 06 Juni 2018

ORIGINAL DAN BAJAKAN

Suka yang original apa cheese? Original dong. Cheese bikin enek. Ngng... ini ngomongin apa ya? Ayam goreng KFC? O-ri-gi-nal. Asli, enggak pake palsu-palsu. Ya iyalah namanya juga original sudah pasti asli. Selain ayam goreng, menikmati semua karya, entah sastra, film, komik, dan sebangsanya, lebih suka yang original. Bukan bajakan. Memang sih lepas 100% dari bajakan, saya belum bisa (atau belum ada kemauan?). Sistem OS laptop saya bukan original. Anime-anime yang saya tonton dari web unofficial (dari fans untuk fans). Memang sebisa mungkin mengurangi banget menikmati konten non original.
Film, saya lebih memilih nonton langsung di bioskop kalau memang ada di sana. Ngapain musti nunggu yang bajakan? Sedihnya pegiat film bajakan, khususnya buat film Hollywood kece, gercep banget. Bisa loh hari ini tayang pertama di bioskop, tapi beberapa hari kemudian atau bahkan hari besoknya pas, versi bajakannya sudah nangkring di web unofficial. Kualitasnya masih buram, jelek, dan enggak banget. Cuma buat penikmat film bajakan, kualitas memalukan kayak gini (karena bajakan) enggak jadi soal. Asal bisa nonton, udah itu aja.
Musik, sudah lama saya enggak download lagu di web entah apa, menyimpannya di smartphone, dan menjadikannya koleksi. Dulu pernah... tapi sekarang saya anti banget menikmati musik pakai cara kayak gini. Saya memilih mendengarkan musik lewat Spotify. Original, legal, dan pasti enggak melanggar hukum. Tagihan Spotify jatuh tempo dan belum diperpanjang, ya sudah. Dengerin musik (original) bisa lewat mana pun, asal bukan yang bajakan.
Youtube, saya lebih suka nonton karya kreator resmi daripada konten yang sumbernya enggak jelas dan entah siapa kreatornya. Apalagi sekarang pekerjaan jadi Youtuber benar-benar berkelas. Buku, saya jelas memilih beli di toko buku (bukan toko abal-abal) karena bisa jadi koleksi pribadi. Walau masih jadi penikmat konten enggak original (buat beberapa hal), seenggaknya tetap berusaha meminimalisir konten-konten KW yang jelas enggak menghargai kreatornya.

Jogja, 06 Juni 2018

Selasa, 05 Juni 2018

FILM "THE GIFT" DAN WARGANET

Film "The Gift" karya Hanung Bramantyo menurut saya adalah film yang "tenang". Nonton film ini enggak berasa capek ngikutin alur ceritanya, tapi justru makin penasaran. Ada sih scene yang kayaknya bakal ketebak tapi masih ragu, beneran enggak sih? Walau ternyata benar, tapi scene ini beda sama scene ketebak di film lain.
Sebelum nonton, film "The Gift" enggak masuk list "harus nonton" saya. Ada kesempatan nonton karena ada voucher, cuma bayar Rp10 ribu saja. Rezeki enggak boleh ditolak. Lagian yang bikin pengen nonton film ini, walau enggak masuk list "harus nonton" sebelumnya, karena sempat ramai di Twitter membahas film "The Gift" yang kata seorang dokter (yang juga selebtwit), prosedur donor kornea dari seseorang yang "sehat" (masih hidup dengan mata normal) adalah salah banget di dunia kedokteran. Seseorang yang normal enggak bisa dibikin cacat, apapun alasannya. Saya enggak tahu komentar dari dokter ini setelah nonton film "The Gift" atau belum, tapi setelah saya nonton filmnya, saya jadi paham.
Banyak warganet Twitter yang bilang film "The Gift" enggak riset, sutradaranya apa banget, membandingkan dengan drama Korea yang menurut mereka riset banget dan menang jauh dari film Indonesia (ya, serial dibandingin sama film). Dokter sekaligus selebtwit ini memang benar. Prosedur donor kornea dari seseorang yang masih hidup, seseorang yang punya mata normal adalah salah. Apa mungkin penonton kita yang terlalu drama? Penonton yang "cerdas" pasti paham kenapa prosedur donor kornea dari Tiana buat Harun tetap dilakukan walau salah besar dan melanggar hukum, melanggar sumpah seorang dokter. Arie, dokter yang melakukan prosedur donor kornea ini seharusnya berhenti menjadi dokter dan malu dengan gelarnya. Arie yang lebih mementingkan cinta dari karir. Penonton "cerdas" pasti paham benang merah ini.
Seperti biasa, saya bukan mereview. Penasaran jalan ceritanya? Silakan mampir ke bioskop. Masih wara-wiri tayang loh. Stop nonton yang bajakan! Sedih rasanya kalau lihat ada orang yang nonton film bajakan, sementara saya nonton film originalnya. Bukan, bukan iri karena orang itu nonton gratisan, tapi sikap enggak menghargai karya itu loh yang bikin sedih. Oke balik lagi ke Tiana dan Harun di dunia "The Gift".
Film ini bisa dibilang film yang "tenang" karena memang benar-benar "tenang". Konflik fokus sama Tiana dan Harun. Arie, Simbok, Bona, Ibu (yang diperankan Christine Hakim dan saya lupa nama karakternya) adalah bumbu yang semakin memberi kesan "tenang" dalam film berdurasi sekitar dua jam ini. Dialog-dialog di film ini adalah nilai lebih. Bukan sekedar kata-kata biasa, tapi kata penuh makna yang kalau diresapi, indahnya berasa banget. Ada scene yang bikin saya bingung karena menurut saya saking filosofisnya, tapi secara keseluruhan film "The Gift" ini saya kasih nilai 80.
Setiap film pasti punya akhir. Seepik apapun pasti harus ada akhir cerita. Film "The Gift" bukanlah tipikal ending bahagia selamanya, tapi ada kesan mendalam dari film ini yang bikin saya merasa endingnya benar-benar pas dan mengena banget. Saya puas nonton film ini. Endingnya enggak mengecewakan. Bukan tentang tipikal bahagia selamanya itu, tapi tentang pemilihan akhir cerita yang pas dan membuat saya memberikan label bagus.
Saya pun termasuk yang ikut warganet menilai film "The Gift" secara sepihak (dari dokter sekaligus selebtwit itu) padahal saya sendiri belum nonton filmnya. Hanung Bramantyo pasti tertawa-tawa baca komentar warganet ini.
Dokter (khususnya dokter mata) enggak perlu capek-capek menjelaskan tentang donor kornea yang sesuai prosedur karena penonton yang "cerdas" pasti akan sepakat dengan tulisan ini.

Ps: Saya paling suka karakter Bona di film ini.

Jogja, 5 Juni 2018

Senin, 04 Juni 2018

MOMEN KHUSUS DAN PELAKU EKONOMI

(http://don16obqbay2c.cloudfront.net)
Sama kayak hari-hari besar lain, momen Ramadan juga dimanfaatkan pelaku ekonomi mendapatkan keuntungan yang lebih dari hari biasa. Toko-toko pakaian memperbarui koleksi baju Muslim lengkap dengan diskon-diskon yang menggoda. Penjual makanan-makanan manis a.k.a takjil bertebaran setiap jelang berbuka puasa. E-commerce juga enggak mau kalah. Banyak promo yang dilakukan secara besar-besaran demi menarik perhatian.
Setiap hari raya keagamaan, Lebaran dan Natal khususnya, pelaku ekonomi memang memanfaatkannya dengan baik. Jangan sampai terlewatkan, terutama Lebaran. Kemeriahan pelaku ekonomi di hari raya keagamaan di Indonesia memang fokus sama Lebaran, Natal, Tahun Baru Imlek juga, Waisak dan Galungan? Pasti ada kemeriahan dari pelaku ekonomi juga cuma enggak semeriah Lebaran atau Natal.
Jangan lupakan parsel dan kue-kue kering. Datanglah ke swalayan dan lihat ada berapa banyak kue kering, sirop, parsel, kue-kue khas Lebaran. Sangat mendominasi. Sesuai isi ceramah setiap bulan Ramadan, 10 hari terakhir puasa adalah saat yang sangat ramai untuk menyerbu pusat perbelanjaan.
Ibu-ibu sibuk menyiapkan kue kering dan segala penganan Lebaran. Anak-anak mulai heboh dengan baju-baju baru. Enggak jarang juga ibu-ibu yang membuat sendiri kue kering khusus Lebaran. Bukan jadi pebisnis dadakan, tapi karena momen spesial, kue kering pun juga harus spesial, bikinan sendiri.
Tentu enggak salah memanfaatkan perayaan keagamaan untuk berbisnis. Bukan sesuatu yang haram dan melanggar hukum 'kan? Cuma jangan sampai gemerlap yang ditawarkan pelaku ekonomi membuat semangat beribadah jadi kendor. Rela sholat di akhir waktu, bahkan meninggalkannya demi memenuhi target pasar yang lagi rame-ramenya. Mau jadi pelaku ekonomi atau penikmat alias pembeli, enggak masalah, asal jangan kebablasan. Jadi boros banget, misal.

Jogja, 04 Juni 2018

Sabtu, 26 Mei 2018

BUKBER a.k.a BUKA (PUASA) BERSAMA

(cdn-images-1.medium.com)
Setiap bulan Ramadan, agenda bukber alias buka (puasa) bersama pasti selalu ada. Buka puasa bareng keluarga bukan termasuk bukber. Istilah "bukber" memang hanya spesifik buat "buka puasa bareng orang lain", bisa teman, rekan, instansi, dan semacamnya yang merujuk sama "orang lain". Buat yang setiap hari buka puasa bareng keluarga, enggak merasa bukber tuh. Beda cerita kalau sama teman, rekan, instansi, dan semacamnya itu.
Bukber bisa dijadikan momen buat nyambung silaturahim. Di luar waktu ini enggak sedikit yang enggak menyempatkan buat sekedar makan bareng. Cuma dengan bukber ini yang bisa benar-benar menyempatkan waktu buat kumpul, bertemu, menyambung kembali komunikasi biar semakin dekat (lagi).
Tempat bukber juga identik dengan "tempat makan", we know... bukan takjilan di masjid. Agenda bukber setelah sepakat harinya adalah menentukan tempat. Bulan puasa jadi target marketing yang brilian buat pegiat ekonomi, khususnya kuliner. Banyak hotel yang menawarkan paket berbuka puasa. Banyak tempat makan yang selalu ramai setiap sore, tentunya waktu berbuka puasa, yang bahkan list pemesanan begitu berderet-deret. Salah satu cara simpel bukber adalah booking tempat. Enggak mau 'kan repot nyari-nyari dulu dan kecewa karena hampir semuanya penuh? Ya... pe-nuh! Kalau masih ada meja, enggak mau juga 'kan terlalu lama menunggu pesanan datang?
Bukber juga bisa jadi cara buat sedikit melonggarkan tali kekang dompet. Pasti ada yang jadi "royal" waktu bukber. Pesan ini dan itu yang pasti beda banget sama buka puasa bukan momen bukber. Padahal waktu buka puasa sendiri, bisa lebih hemat. Enggak ada yang perlu disesalkan atau disalahkan. Lagian, momen ngumpul bareng teman memang enggak terlalu ambil pusing sama hemat atau enggak. Bisa jadi pas lagi kumpul sama teman, pesan ini dan itu. Selesai acara kumpul-kumpul selesai, barulah menyesal sudah se-"royal" itu.
Tiga-empat tahun lalu saya masih bukber sama teman-teman KKN. Dua tahun lalu masih ada bukber sama teman-teman alumni SMA. Tahun lalu belum ada obrolan bukber tentang menikah. Tahun ini? Ada yang mengabarkan rencana pernikahan, ada juga yang tetap sama dan hanya tempat (pastinya juga waktu) yang berubah.
Ajakan bukber setiap hari? Ada juga. Kangen sama bukber di tahun-tahun sebelumnya? Apalagi, sangat ada. Tahun ini ada bukber yang bertahan, ada juga bukber yang terlupakan, dan bukber yang menjadi kenangan.

Jogja, 26 Mei 2018

Jumat, 25 Mei 2018

BAIK DAN BURUK SI PONSEL CERDAS

(png.icons8.com)
Smartphone a.k.a ponsel cerdas bisa dibilang penting dan enggak penting. Ada sisi baik dan buruknya. Penting, karena hampir semua komunikasi dilakukan pakai smartphone yang jelas butuh internet. Merogoh kocek Rp50 ribu, minimal, bukan jadi sesuatu yang berat kalau demi internet smartphone. Enggak penting, karena waktu bisa terbuang sia-sia "cuma" dengan geser-geser timeline Instagram, ikut-ikutan komen di tweet-nya selebtweet, bolak-balik buka WhatsApp yang isinya cuma chat grup (enggak berfaedah banget sebenarnya), nge-game yang ujung-ujungnya bosan juga. Jangan terlalu tergantung sama smartphone. Benar-benar meninggalkan, hmm... sepertinya susah ya, khususnya buat komunikasi yang berhubungan sama kerja dan yang penting lainnya.
Jangan sok bisa hidup tanpa gadget, kalau justru menyusahkan orang lain yang akan menghubungi kita. Kita memang bisa hidup tanpa gadget, tanpa smartphone, salah satunya menyimpan barang elektronik satu ini waktu lagi ngumpul keluarga/ hangout sama teman-teman, tapi janganlah bikin akses komunikasi jadi ribet gegara aksi sok bisa hidup tanpa gadget. Misal, kita benar-benar mau hidup tanpa smartphone. Orang lain yang punya kepentingan sama kita, harus komunikasi lewat apa? Sekarang paling banyak komunikasi lewat WhatsApp dan aplikasi chatting sejenis. SMS? Enggak semua orang available dengan chatting kayak gini. Telepon? Iya, kalau terbiasa apa-apa komunikasi lewat telepon. Kalau enggak? Dibikin simpel dan enggak perlu ngejelimet.
Paling tepat kita mengurangi intensitas pemakaian smartphone. Mengurangi buka chat (kalau enggak ada chat personal yang masuk), mengurangi scroll timeline yang faedahnya entah apa (buang-buang waktu sih iya), enggak menjadikan smartphone sebagai one and only di atas segala-segalanya (ini lebay sih).
Saya memutuskan mengurangi intensitas chatting (hanya dibuka saat ada chat personal masuk). Saya hanya ingin menjadikan smartphone sedikit lebih berfaedah (walau ada waktu smartphone saya benar-benar enggak berfaedah), salah satunya dengan enggak selalu membuka aplikasi chatting, sekalipun ada notifikasi. Kebanyakan justru notifikasi dari grup chat yang bisa dibilang penting dan enggak penting juga. Kalau memang ada perlu dan kepentingan, chat personal bisa 'kan? Mulai sekarang (sejak cerita ini ditulis), kalau ada yang penting, chat personal saja. Kalau di grup chat, saya akan lama responnya, karena itu tadi, mengurangi intesitas buka aplikasi chatting dan hanya membukanya saat ada chat personal yang masuk. Egois? Menurut saya enggak sih. Sekarang saya hanya ingin enggak terlalu mengikuti grup chat. Nilai kepentingannya enggak terlalu "penting" juga.

Jogja, 25 Mei 2018

Kamis, 24 Mei 2018

PUASA TAHUN INI

Enggak banyak yang bisa saya ceritakan kali ini. I don't have more time (jangan tertawa kalau Bahasa Inggris saya kacau). Saya cuma punya waktu 10 menitan buat bercerita. Yah... daripada hiatus (lagi). Puasa hari ke-8 ini saya merasa enggak bermasalah. Masih bisa menahan nafsu selain makan dan minum. Tahun kemarin masih enggak lebih baik dari sekarang. Artinya ada perubahan ke arah yang lebih baik dong? Yap! Alhamdulillah... Walau pun masih belum sempurna.
Justru saya merasa Ramadan tahun ini (yang berjalan delapan hari) terasa belum sempurna karena ibadah saya masih... jauh dari semangat Ramadan. Bisa dilihat 'kan setiap bulan puasa begini, banyak banget kajian dan tadarus yang dilakukan? Nah, saya merasa masih belum menikmati dua hal ini secara lebih hakiki, apalagi sekarang bulannya pas banget. Suasana sangat mendukung.
Bukan karena saya enggak ada waktu, tapi karena enggak menyempatkan waktu. Sungguh sombong seorang manusia yang merasa kehabisan waktu yang berujung enggak meningkatkan kualitas ibadah. Tamparan dan cambukan banget buat saya.
Muhasabah diri. Koreksi diri-sendiri. Semua yang saya sebut di atas memang bagian dari proses, tapi kalau enggak dimulai sekarang, bagaimana bisa memulai untuk berproses?

Jogja, 24 Mei 2018
© BAGUS'S JOURNAL 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis