Minggu, 22 Oktober 2017

SELEB(GRAM)

Setiap orang bisa jadi seleb a.k.a selebritis. Enggak harus wara-wiri di layar kaca, asal punya media sendiri yang bisa menyentuh banyak orang, jadi seleb bukan sesuatu yang mustahil. Ada selebtweet, selebgram, selebook(?). Hah? Selebook? Apaan tuh? Seleb Facebook. Ngaco! Media sosial paling banyak penggunanya apa sih? Instagram. Ada 500 juta pengguna aktif di seluruh dunia dan 22 juta diantaranya ada di Indonesia. Eh, Facebook ding yang paling banyak penggunanya. Ada 2047 miliar pengguna (aktif) Facebook di seluruh dunia. Apa? Miliar? Twitter ada 328 juta pengguna. Enggak ada ya istilah seleb Facebook? Mungkin karena dibatasi jumlah teman, sebanyak apapun, ya mentok di jumlah yang dibatasi itu. Beda lagi Instagram dan Twitter. Dua media sosial ini lebih simpel dari Facebook yang enggak mengharuskan konfirmasi pertemanan. Klik 'follow', selesai. Pengguna Facebook yang jumlah pertemanannya penuh juga pake istilah 'follow', bukan 'add' lagi. Bisa sama-sama simpel juga sebenarnya.
Facebook cocok buat dijadikan lahan bisnis, jualan online, promosi produk, tapi yang lebih worth it sekarang of course Instagram. Lihat saja artis-artis (bukan cuma sekedar selebgram) mempromosikan produk di Instagram. Followers yang bejibun, bikin pemilik produk membidik akun dengan banyak followers ini. Orang cenderung lebih suka tampilan secara visual dan Instagram jadi media yang cocok dibanding Twitter yang lebih ke tampilan secara teks.
Istilah 'selebgram' diberikan buat akun yang punya lebih dari 20 ribu followers. Sekarang banyak akun Instagram yang tadinya bukan siapa-siapa, berubah menjadi bukan sekedar "bukan siapa-siapa". Pemilik akun yang jadi selebgram harus bersiap dengan kedatangan haters, si tukang nyinyir, dan selain fans tentunya. Berdasarkan pengamatanku, ada akun Instagram yang punya banyak followers terlihat sangat drama karena ada komentar-komentar nyinyir dan sejenisnya. Artis yang punya jutaan followers terkadang meladeni komentar-komentar nyinyir, walau enggak sedikit juga yang membiarkannya. Banyak juga yang justru kolom komentar berubah menjadi arena saling serang sesama komentar-komentar nyinyir.
Selebgram juga manusia. Punya hati. Bisa merasa kesal dengan komentar-komentar yang susah dipertanggungjawabkan itu. Hebat juga buat orang yang tetap cuek dengan komentar-komentar nyinyir dan enggak berfaedah. Sebaiknya komentar-komentar begitu memang enggak usah dipedulikan. Semakin kita peduli (kita?), semakin bernafsu si komentar nyinyir. Punya media sosial dengan banyak followers harus punya prinsip "cukup tahu". Kalo enggak ada yang harus dijelaskan, diklarifikasi, sebaiknya memang enggak usah diladeni komentar-komentar nyinyir itu. Cuma bikin capek hati.
Pasti banyak yang pengen jadi selebgram. Followers bertebaran, like menjamur, tapi harus diingat, dibalik itu semua, komentar-komentar absurd yang bikin panas hati juga siap bertebaran. Harus benar-benar siap kalo mau jadi selebgram.
Cara menjadi selebgram juga bisa dibilang gampang-gampang susah. Gampang, karena kita cuma butuh satu media sosial, Instagram. Bikinnya juga enggak ribet. Enggak perlu daftar ini-itu, melampirkan identitas apalah-apalah, sangat-sangat simpel. Gratis pula. Semua orang bisa bikin akun Instagram. Susahnya itu konten yang bakal kita posting. Kalo mau jadi selebgram, harus punya ciri khas konten. Bukan sekedar posting momen keseharian, tapi harus ada sesuatu yang bikin orang tertarik buat mencet tombol 'follow'. Beauty turorial, healthy lifestyle, fashion, komedi, harus pilih salah satu biar konten jelas dan punya ciri khas. Selain itu juga harus konsisten posting. Jangan cuma posting hari ini, sebulan lagi baru posting yang baru. Keburu basi. Ada rutinitas posting begitulah. Bukan cuma berkala, kala-kala posting, kala-kala enggak.
Konten udah jelas arahnya mau dibawa ke mana, konsistensi posting juga udah oke, saatnya bilang, "Selamat datang selebgram!" Generasi sekarang yang serba media sosial, punya followers berjuta-juta tentu jadi satu kebanggaan. Ada juga yang pake cara instan menambah followers tanpa mempedulikan segmen dan konsistensi posting. Pengennya langsung punya followers banyak biar kelihatan keren. Sebenarnya kelihatan kok akun yang benar-benar punya banyak followers dengan orang yang cuma terlihat punya banyak followers. Lihat aja postingannya. Banyak like? Atau justru sepi? Besar kemungkinan followers beneran pasti bakal ngasih respon, entah itu like atau komentar. Followers sekedar hiasan, mana bisa?
Jogja, 22.10.2017

Sabtu, 21 Oktober 2017

BOSAN

Bosan tapi enggak mau meninggalkan. Bosan tapi tetap saja dijalani. Ya.. mau gimana lagi? Kalo ada yang lain, oke aja ninggalin yang udah bikin bosan. Entah aku bosan atau enggak ada mood bagus, rasanya hidupku flat banget. Agnez Mo bilang di iklan Chitato, "Life is never flat." Hidupku sekarang justru berlawanan dengan slogan keripik kentang itu. Apa iya hidupku sekarang benar flat dan membosankan? Atau aku yang kurang bersyukur dengan anugerah ini? Hidup sebenarnya adalah anugerah. Walau kadang (apa sering? ^ ^) enggak punya duit, enggak bisa ngelakuin ini, ngelakuin itu, tapi tetap saja, hidup harus disyukuri. Karena hanya dengan bersyukur, nikmatnya hidup bakal bertambah-tambah. Nah.. kamu kurang bersyukur tuh, Gus.
Iya juga kali ya. Hidupku bukannya flat, tapi aku yang kurang bisa bersyukur. Nikmat mana lagi yang aku dustakan? Harus (ingat) bersyukur. Apapun yang aku rasakan. Apapun keadaannya. Harus! Hmm.. masih susah buat selalu bersyukur di setiap keadaan. Ada aja yang bikin ngeluh dan jauh dari bersyukur.
Buat kamu yang merasa hidup gini-gini aja, coba diingat-ingat lagi, udah bersyukur belum hari ini?
Kalo mau hidup lebih berwarna lagi, cuma diri-sendiri kok yang bisa ngelakuin. Kalo tiap hari ngadepin kerjaan yang sama (lama-lama pasti bosan tuh), ambilah beberapa hari buat ngelakuin sesuatu yang berbeda. Liburan!
Nah.. ini juga yang aku butuhkan. Seorang teman selalu mengagendakan liburan setiap tahun, paling enggak setahun sekali (aku pernah bilang begini juga, sama persis, di blogku sebelumnya :D). Yah.. semacam reward buat diri-sendiri. Memanjakan diri itu perlu. Coba ambil libur beberapa hari buat melakukan sesuatu yang kamu suka. Liburan, jalan-jalan, apapun yang bisa bikin hidup lebih berwarna.
Selain liburan, coba juga buat banyak bergaul. Jangan cuma apa-apa sendiri. Iya, kamu jomblo (kamu apa kita? :|), tapi bukan berarti selalu menyendiri. Temui teman-teman, ngobrol sana-sini, seru-seruan, jangan menyendiri terus. Banyak bergaul, pasti bikin hidup lebih punya banyak warna.
Jangan lupa juga buat menikmati hidup senikmat mungkin. Jangan terlalu membebani diri dengan pencapaian ini-itu. Yakin deh, pasti hidup enggak lagi terasa nikmat 'kan kalo terbebani 'aku harus melakukan ini, aku harus melakukan itu'? Baiklah, pencapaian itu buat merangkai masa depan yang lebih baik, tapi masa sekarang juga jangan dilupakan. Justru harus jalan sama-sama. Seimbang. Masa sekarang itu enggak bisa dinikmati dua kali. Jangan sampai menyesal karena menyia-nyiakan masa sekarang.
Cara yang simpel buat dilakuin, asal beneran dilakuin, dipraktekin, bukan sekedar berteori.
Jogja, 21.10.2017

Jumat, 20 Oktober 2017

MOOD

"Jadi orang kok moody-an banget?" "Jangan nunggu mood bagus buat berkarya. Justru jemput mood bagus itu." Mood.. mood.. mood.. Ada yang lagi bermasalah sama mood? Ada yang lagi bete? Atau lagi happy-happy? Mood itu ada banyak macam. Ada mood baik (yang bikin kita merasa senang, semangat), ada juga mood jahat (apa ya istilah yang pas?). Maksudnya mood yang justru bikin suasana hati kita enggak enak (banget). Buat cewek, setiap bulan pasti mengalami mood swing, dari yang tadinya senang, berubah jadi kesel. Langsung berubah gitu aja dan saat itu juga. Normal enggak perubahan mood yang mendadak begini?
Masih wajar kok. Pasti pernah 'kan, di satu waktu kita rasanya happy (kadang juga enggak ngerti apa yang bikin kita happy), mendadak berubah jadi sebel (dengan alasan yang bisa jadi sepele atau justru alam bawah sadar yang mengingatkan otak tentang sesuatu yang enggak menyenangkan, mungkin?). Selama perubahan mood ini enggak ganggu aktivitas, enggak terjadi berhari-hari, masih aman. Enggak usah khawatir.
Harus waspada kalo justru mood swing terlalu sering. Bisa jadi kondisi mental lagi ada gangguan. Bukan gila, tapi depresi, stres, dll. Bedanya depresi, stres dan gila apa? Mereka masih "saudara". Ketiganya termasuk gangguan mental. Setiap orang pasti pernah merasakan gangguan mental dengan level yang berbeda. Kalo gangguan mental ini bisa diatasi sendiri, berarti belum masuk level yang tinggi (jangan deh!).
Mood swing bisa juga dipengaruhi aktivitas kita. Makanan juga bisa. Pernah merasa KZL banget waktu lagi laper? Jadi rese? Nah.. ini mood swing yang dipengaruhi makanan. Masih wajar kok, selama kita tetap bisa melakukan kegiatan apapun dengan normal dan biasa. Banyak tugas, tuntutan deadline, mood bisa berayun-ayun sesukanya. Ini juga masih wajar. Justru jadi gawat kalo mood swing sampai mengubah karakter kita. Mood swing yang terlalu sering dan enggak segera diatasi, bisa memperburuk kesehatan mental. Segera konsultasi ke dokter buat penanganan yang tepat.
Dalam satu kesempatan mendadak mood swing (lihat gebetan jalan berdua sama yang lain, misal), bisa aja terjadi, dengan banyak alasan. Menghindari mood swing atau mengurangi frekuensinya, bisa dilakukan dengan mudah. Pertama, tidur yang cukup, kedua; makan makanan sehat, ketiga; jangan stres berlebihan, keempat; cari cara positif buat menyalurkan kreativitas, atau bisa juga cari teman curhat (yang bisa bikin kita nyaman).
Waktu mood mulai berayun, coba diingat apa yang bikin mood berubah mendadak begitu? Karena makanan? Banyak tugas belum kelar? Ngantuk? Kalo kita tahu apa penyebabnya, cara mengatasi mood swing juga bisa segera dilakuin. Setelah makan kok mood rasanya jadi oke? Cenderung happy? Nah.. ini mood swing karena makanan.
Makan.. udah, tapi kok mood masih mood swing gitu? Ya, gimana enggak mood swing, makannya lihat mantan yang baru putus sehari kemarin, sekarang justru punya gandengan baru. Makin berayun tuh pasti rasanya.
Jogja, 20.10.2017

Kamis, 19 Oktober 2017

PEJUANG SUBUH (DAN PEJUANG EMPAT WAKTU)

Menjadi Pejuang Subuh itu berat. Enggak semua orang (Muslim tentunya) bisa melakukannya. Tantangannya banyak banget. Kalo mau dan yakin bisa, pasti bisa. Sebenarnya bukan sesuatu yang susah juga, tapi justru melawan diri-sendiri itu yang enggak jarang dibikin susah. Aku pernah menulis tentang ini sekitar sebulan yang lalu. Aku merasa waktu itu benar-benar kehilangan waktu subuh. Sering kehilangan. Gimana kalo aku dapat siaran pagi? Pasti bakal jadi masalah banget. Mindset-ku waktu itu adalah enggak ketinggalan subuh demi melatih diri biar siap kalo dapet siaran pagi. Bukan cuma karena alasan itu kok, tapi juga demi dapat subuh tepat waktu.
Akhir-akhir ini aku kembali mengulang kebiasaan buruk. Subuh selalu pergi meninggalkanku saat aku masih terlena dalam lelap. Kesal. Marah. Kenapa bisa begini? Sebenarnya masih ada sedikit kelegaan karena, walau subuh ketinggalan, tapi aku enggak ada siaran pagi.
Hari kemarin, aku kena batunya. Aku mengulang kesalahan yang sama: telat siaran saat ada narasumber datang. Kesalahan kali ini untungnya masih dimaafkan. Aku telat 15 menit. Aku masih bersyukur jarak kost dan tempat siaran, Rakosa FeMale, enggak jauh. Lima menit perjalanan. Bisa dibayangin kalo aku masih kost di Krapyak? So scary! Telat siaran (pagi) aja scary-nya berasa. Telat subuh harusnya lebih berasa scary.
Apa karena kejadian itu aku memutuskan benar-benar menjadi pejuang subuh? Ada atau enggak ada siaran pagi? Bukan semata karena itu. Kalo alasanku karena siaran pagi, terlalu bodoh. Bukan cuma demi siaran pagi, tapi demi subuh yang selalu aku biarkan pergi begitu saja. Sungguh sangat merugi orang-orang yang ketinggalan subuh. Ada atau enggak ada siaran pagi, bangun sebelum subuh wajib. Enggak ada prinsip: liburan saatnya bangun siang. Subuh ya tetap sama. Enggak bakal mundur jadi siang juga saat libur.
Ada satu meme yang sangat menohok, “Ukhti.. Stok bujang soleh telah menipis, karena shaf subuh di masjid hanya dipenuhi aki-aki, bukan akhi-akhi..” Jleb! Faktanya memang begitu. Memang ada shaf subuh yang banyak akhi, tapi enggak sedikit juga yang cuma ada aki-aki. Ke mana akhi-akhi? Terlalu malas menggunakan usia muda dan badan bugarnya untuk menjadi pejuang subuh? Sesusah apa jadi pejuang subuh? Banyak godaan. Ngantuk, enggak bangun, udah bangun tapi tepar lagi. Cuma diri-sendiri yang bisa mengalahkan godaan-godaan itu. Pahala jadi pejuang subuh juga luar biasa. Istimewa dibanding pejuang di empat waktu yang lain. Pahala pejuang subuh itu lebih utama. Bukan berarti jadi pejuang di empat waktu yang lain, enggak dapat apa-apa. Tentu ada perhitungannya, ada balasannya, nanti setelah masa di dunia ini selesai. Sekarang ditabung dulu pahala jadi pejuang lima waktu (bukan cuma saat subuh).
Godaan (atau tantangan?) jadi pejuang subuh salah satunya adalah waktu yang enggak selalu sama. Beberapa waktu kemarin, subuh hampir jam 04.30. Sekarang sebelum jam 4 pagi. Harus melawan diri-sendiri bangun lebih pagi. Bukan masalah juga melawan diri-sendiri, asal yakin, usaha keras tidak akan mengkhianati. Justru jadi masalah kalo diri-sendiri enggak mau berusaha keras melawan. Manja! Alasannya inilah.. itulah.. banyak! Alasan tetap saja alasan. Sesuatu yang sering dijadikan sebagai benteng untuk melindungi rasa malas.
Ada atau enggak ada siaran pagi, sesantai apapun waktu pagi, sebagai Muslim, subuh tetaplah subuh. Selalu datang sebelum fajar menyingsing. Satu waktu yang justru jadi musuh terberat yang harus ditaklukan. Buat yang udah berhasil berkawan dengan subuh, bukan jadi perkara sulit menghadapi kedatangan subuh. Seperti kita saat sudah berkawan (dengan orang lain) pasti bukan sesuatu yang berat atau apalah itu saat kawan datang. Kalo udah jago, jangan menganggap rendah usaha orang lain yang berusaha sejejar dengan mereka yang udah jago itu. Kasih support. Setiap orang butuh proses.
Jogja, 19.10.2017


Rabu, 18 Oktober 2017

RASA YANG SALAH

Ini satu cerita dari seseorang yang atas izinnya, aku boleh menceritakannya di sini, untuk kamu. Aku harap kamu jangan kaget karena ini cerita yang dianggap tabu dan seharusnya memang enggak ada. Aku enggak bermaksud menyakiti seseorang yang sudah mau menceritakan ini padaku dengan mengatakan cerita ini seharusnya enggak ada. Dia juga sadar, rasa yang selama ini mengakar di hatinya adalah rasa yang salah.
Apa kamu termasuk orang terbuka dengan sesuatu yang dianggap tabu? Atau justru langsung menjauhinya? Aku terbuka menerima sesuatu itu. Terbuka dalam arti secara sosial, aku tetap berinteraksi dan enggak membatasi diri. Ini adalah cerita tentang seseorang, seorang laki-laki yang mempunyai getar-getar hangat di hatinya kepada sesamanya. Ya, dia homoseksual. Dia gay.
Kamu berteman dengan gay, Gus? Aku udah bilang ‘kan untuk interaksi sosial, aku enggak masalah. Selama dia enggak aneh-aneh, ya.. berinteraksi biasa saja dan seperlunya. Aku dan dia hanya sebatas kenal, tahu nama, udah itu aja. Satu hari, kami sedang chat. Entah apa yang dibicarakan waktu itu, aku rada lupa, tapi waktu itu aku belum tau dia gay. Ngobrol ngalor-ngidul di chat, ada satu pengakuan yang bikin aku kaget. Ya, gimana enggak kaget? Gay, homoseksual, yang selama ini aku hanya melihatnya di TV, kali itu benar-benar nyata dekat denganku. Aku sedang berinteraksi dengannya.
Dia bercerita panjang lebar. Entah apa yang membuat dia percaya padaku dengan menceritakan aibnya sendiri. Dia enggak marah menyebut rasa yang salah itu adalah aib. Dia memang menyadarinya. Dia bercerita, perasaan suka sama cowok, udah dirasakan sejak lama. Sepanjang dia bisa mengingat, waktu SD udah ada kecenderungan tertarik sama cowok. Waktu itu dia bilang, enggak menganggap itu rasa yang salah. Masuk masa SMP, oke ini cerita yang benar-benar tabu, saat dia mimpi basah pertama kalinya, objek yang menjadi fantasinya adalah cowok, artis di TV, entah siapa namanya, aku lupa. Wow! Aku cuma bisa menyimak chatnya saat itu. Jujur, aku enggak bisa ngomong apa-apa lagi. Mau bawa dia kembali ke jalan yang benar? Meluruskan lagi orientasi seksualnya? Aku enggak ngerti caranya.
Aku pernah baca teenlit tentang gay, judulnya “My Cousin is Gay” karya Lia Indra Andriana. Sesuai judulnya, teenlit yang terbit tahun 2006 itu banyak kontra. Pro juga ada, tapi berdasarkan yang aku baca dari curhatan penulisnya, banyak yang bilang tema teenlit seperti itu enggak cocok, apalagi buat remaja Indonesia. Penasaran pengen baca? Ceritanya enggak sevulgar yang kamu bayangkan kok, walaupun judulnya ada kata “gay”.
Cerita tentang gay yang lain? Supernova karya Dee. Lelaki Terindah karya Andrei Aksana. Aku pernah membaca dua novel ini. Buat yang udah baca, pasti bisa menilai. Supernova enggak fokus dengan hubungan sesama jenis karakter utamanya. Lelaki Terindah justru sebaliknya, fokus roman percintaan sepasang lelaki, yang yah.. buat sebagian orang aku yakin pasti risih membacanya. Oke, ini tabu, tapi aku enggak menutup diri. Hei, ini pengetahuan, Bro, Sis. Apa salahnya tahu tentang hal-hal semacam ini? Bahkan hal-hal yang bisa dibilang tabu seperti ini. Bukan berarti ingin membiasakan sesuatu yang tabu, tapi justru dengan kita tahu, kita jadi bisa membentengi diri. Tahu gimana caranya kita enggak terjebak di sana.
Aku pernah baca, seseorang yang anti gay, sama sekali enggak mau berinteraksi dengan mereka, atau bahkan takut, katanya bisa jadi dia ada kecenderungan menjadi gay. Benarkah? Entah. Oke, kembali ke cerita tentang dia. Sewajarnya remaja, pasti udah mulai tertarik dengan lawan jenis. Waktu SMP, dia sempat suka dengan teman cewek sekelasnya. Hanya sekedar suka, enggak pernah menyatakan. Saat SMP itu juga dia mulai menyadari ada yang berbeda dengan dirinya. Kenapa dia lebih tertarik dada bidang cowok? Kenapa dia lebih berdesir hatinya melihat cowok telanjang dada? Aku (lagi-lagi) cuma bisa menyimak. Jadi begitu yang gay lihat dari cowok? Dada bidang lebih menggoda daripada dada montok? Oke, cukup! Jangan diteruskan, Gus.
Waktu SMA, saat kakak kelasnya, cowok, menginap di rumahnya, dia pernah hampir melakukan sesuatu yang yah.. mengerikan bisa dibilang. Saat itu tengah malam dan si kakak kelas lagi lelap-lelapnya dalam mimpi. Dia yang masih terjaga pelan-pelan mendekatkan tangannya ke arah... Aku enggak bisa menceritakannya di sini. Gimana ya? Ini udah sesuatu yang sangat-sangat tabu. Aku juga masih heran kenapa dia mau cerita ini ke aku. Siapa aku? Psikolog bukan. Ahli masalah begini juga bukan. Waktu itu dia bilang hampir melakukan, yang artinya belum dilakukan. Oke.
Sampai sekarang dia hanya memendam rasanya. Enggak pernah menceritakan ini kepada siapapun, kecuali ke orang-orang yang dia anggap bisa dipercaya. Aku salah satunya? Oke, baiklah. Dia belum pernah pacaran. Dia enggak ada ketertarikan dengan lawan jenis. Aku harus gimana coba? Apa saran yang bisa aku katakan buat dia? Bingung. Asli, bingung banget. Dia juga bilang, kecenderungan tertarik dengan sesaa jenis bukan karena pelecehan seksual atau kesalahan lingkungan. Katanya, rasa itu terjadi begitu saja. Mengalir seperti air, yang entah muaranya ada di mana.
“Gus, kamu blogger ‘kan? Kamu boleh kok menceritakan kisahku ini di blogmu, asal kamu jaga rahasia identitasku. Aku ingin orang-orang lebih terbuka dengan orang-orang sepertiku,” begitu katanya sebelum chat hari itu berakhir. Inilah yang membuatku enggak ragu menceritakan cerita ini di sini, untukmu. Apa setelah membaca cerita ini, kamu akan (sedikit) lebih terbuka dengan orang-orang seperti itu? Aku enggak mendoktrin, apalagi memaksa buat menerima atau apapun itu bahasanya. Aku hanya bercerita. Itu saja. Aku juga enggak ngerti gimana menyikapi dia sekarang. Maafkan aku. Bukan berarti aku anti dengannya. Kalau dia membaca tulisan ini, tolong jangan menganggap aku memandang aneh setelah tahu satu fakta itu. Aku hanya... hmm.. aku hanya berharap semoga dia bisa kembali ke fitrahnya. Fitrah seorang laki-laki yang menyukai perempuan.
Allah Maha Adil. Semua yang ada di dunia ini ada pasangannya. Laki-laki dengan perempuan. Bukan laki-laki dengan laki-laki, apalagi perempuan dengan perempuan. Kasus seperti ini bukan hanya terjadi di zaman milenial, tapi jauh sebelum itu, ada kaum yang juga menyukai sesama jenis. Pernah baca kisah Nabi Luth dengan kaumnya, Kaum Sodom?
Apa rasa yang salah seperti ini ada obatnya? Entah. Apa dia cuma tersesat dan bisa dikembalikan ke jalan yang lurus? Semoga bisa.
Fiuhh.. benar-benar ini satu pengalaman hidup yang membuatku berinteraksi dengan... sesuatu yang tabu.
Jogja, 18.10.2017

Selasa, 17 Oktober 2017

FOKUS DAN KOMITMEN (LAGI)

Sekarang fokusku bukan cuma menurunkan berat badan, tapi juga mengencangkan badan. Mereka yang berhasil membentuk tubuh, punya berat yang sekarang menjadi berat badanku. Ah, entah sekarang berat badanku naik apa stagnan. Gym dua bulan (apa tiga bulan?) off. Olahraga off juga. Jaga pola makan masih tetep, cuma enggak sekonsisten yang pernah aku posting di Instagram. Masih tetep menghindari nasi putih yang jelas. Apa aku bisa mendapatkan bentuk badan ideal yang aku inginkan?
Pernah merasa ragu sama kemampuan diri sendiri? Bisa enggak ya? Kayaknya susah. Pesimis duluan. Setiap orang pasti pernah merasakan ini. Semua orang, bahkan expert sekali pun pasti pernah begini. Aku bisa? Bisa! Usaha keras dulu karena usaha keras tidak akan mengkhianati. Jargon JKT48 banget! Serius! Kalo kita berusaha keras dan sungguh-sungguh pasti hasilnya akan kita rasakan. Hasil yang ada manis-manisnya gitu.
Membentuk badan sebenarnya enggak susah-susah banget, tapi enggak bisa dibilang gampang juga. Butuh komitmen kuat, ini yang penting. Efek (positif) membentuk tubuh juga enggak ada ruginya. Selain bisa memperindah fisik, kesehatan juga makin terjaga. Bugar terus sampai nanti-nanti. Sama kayak Kakek Agus, usianya 60 tahun, punya bentuk badan yang bagus dan oke dibanding kakek-kakek seusianya. Bisa dibilang postur yang seharusnya dimiliki cowok usia 20-an. Keren ‘kan? Banget! Menginspirasi! Kuncinya, kata Kakek Agus, harus komitmen dan lakukan sekarang juga. Jangan menunda nanti-nanti. BBC Indonesia pernah ngeliput Kakek Agus. Gokil! Usia 60 tapi badan masih sekel begitu? Kalah jauh sama aku yang masih usia 24! Tidak!
Harusnya di usiaku yang sekarang, badan sekel wajib punya. Tambah percaya diri, sehat terjaga, hidup lebih bahagia. Bukan berarti hidupku sekarang dengan bentuk tubuh yang jauh dari atletis ini enggak bahagia loh. No! Jangan salah sangka apalagi asal nge-judge. Aku bahagia kok... dengan caraku sendiri. Aku bukan tipikal orang yang gampang down karena bentuk fisik. Alhamdulillah.. aku bersyukur dianugerahi fisik sempurna. Aku punya mata, bisa melihat. Aku punya hidung, bisa membau. Aku punya telinga, bisa mendengar. Aku punya lidah, bisa mengecap. Aku punya mulut, bisa makan dengan enak (dan leluasa). Aku punya dua tangan yang berfungsi normal. Banyak banget kesempurnaan fisik yang Allah titipkan padaku. Aku sempurna! Aku harus bahagia karenanya dan (harus) mensyukurinya.
Kesempurnaan ini adalah titipan. Aku harus menjaganya. Mereka yang berhasil membentuk badan, berarti menjaga kesempurnaan titipan-Nya. Enggak ada kata terlambat. Aku (masih) bisa meraihnya. Aku bisa mendapatkan bentuk tubuh atletis yang aku impikan. Pasti bisa!
Apa kamu siap dengan resikonya? Apa? Resiko? Iya, resiko. Saat badan atletis kamu dapatkan, godaan untuk show off di media sosial pasti sangat besar. Mengaku sajalah. Siapa sih yang enggak pengen show off atletisnya setelah berjuang mati-matian? Nah.. ini yang harus diingat betul esensinya. Bukan show off yang mengarah pada pornografi tapi show off sesuai sikon. Yes!
Aku mengikuti beberapa akun Instagram yang berhasil membentuk atletis. Pasti ada foto mereka yang bertelanjang dada. Kebanyakan selfie telanjang dada. Entah itu di tempat gym, kamar mandi, kamar tidur. Semua foto yang diposting about his shirtless selfie. Ya.. I know what they feel, tapi apa aku nanti akan seperti itu?
Show off memang harus sesuai sikon. Pas lagi gym, posting foto telanjang dada, wajar. Ingat, telanjang dada. Tetap harus pake celana. Ingat juga, celana, bukan celana dalam yang ketat sampai menonjolkan si anu. Ada loh (banyak) yang posting foto begini di media sosial. Mereka sendiri yang posting. Bahkan ada juga yang naked. Sekedar telanjang dada, okelah. Cowok telanjang dada bukan sesuatu yang melanggar aturan. Bawahannya masih pake celana pendek (bukan yang super ketat), jeans, apapun itu yang bisa menutup bagian bawah tubuh (benar-benar menutup bagian bawah, dari bawah pusar sampai paling enggak betis). Jangan posting foto telanjang dada di kamar tidur, toilet, apalagi sampai telanjang beneran a.k.a full naked. Ya.. walau mungkin kamu salah satu tipe yang baru bisa tidur saat telanjang dada atau bahkan telanjang sekalian, tapi enggak sepantasnya ditampilin di media sosial. Foto menginspirasi boleh saja, tapi harus di tempat yang cocok. Gym, misal. Pencitraan? Hidup emang penuh pencitraan, Bro. (Hampir) semua akun Instagram yang punya badan sekel, pasti pernah posting telanjang dada atau bahkan lebih berani dari itu.
Istilahnya spornoseksual. Apa? Porno? Bukan! Spornoseksual. Istilah buat cowok berbadan atletis yang hobi foto telanjang dada. Tau istilah metroseksual? Sekarang istilah ini justru bergeser menjadi spornoseksual. Cowok enggak cuma harus wangi dan menjaga penampilan, tapi juga harus menjaga bentuk badan. Dada bidang, perut enam kotak, otot lengan terpahat sempurna. Pasti cowok manapun ada yang memimpikan bentuk badan seperti ini. Mungkin bukan jadi obsesi, tapi paling enggak pernah terlintas keinginan seperti ini.
Sekarang aku harus (kembali) fokus dan komitmen! Harus! Enggak cuma buat membentuk tubuh atletis, tapi semua tujuan dan keinginan harus punya fokus dan komitmen!
Betul?
Jogja, 17.10.2017


Senin, 16 Oktober 2017

PENERIMAAN; CATATAN DARI MASA LALU

Ini draft lama. Lamaaa banget. Belum sempat diposting. Entah karena apa. Rasanya dibuang sayang. Baiklah, mesin waktu siap dinyalakan!
[]
"Selesai sudah lomba penyiar di AKRB. Berkesan, berkesan banget di hatiku. Nggak sesuai rencana, tapi yang udah terjadi, biarkan berlalu. Sama seperti lomba penyiar di MMTC, kali ini aku juga ketemu teman-teman baru. Ada Chika, Dina-Dini (mereka kembar lho), Kiky (penyiar Rockin School Geronimo FM), Naela. Mereka masih SMA. Bentar lagi lulus, cuma Dina-Dini yang masih kelas X. Nggak sempat minta kontak mereka, pengen sebenarnya, tapi untuk pertemuan pertama kali, masa iya minta kontak? Nanti mereka berpikir macam-macam pula. Ha ha ha...
[]
Ini masa-masa sebelum aku jadi penyiar radio, officially. Masih belajar di Radio Rasida, radio fakultasku. Masih memimpikan jadi the real announcer. Sekarang juga masih tetap belajar kok. Never ending.
[]
Seperti khasnya aku yang selalu berusaha menjadi orang yang ceria & nggak jaim, waktu aku ketemu mereka pun, aku bersikap apa adanya. Tetap rame, walau mungkin mereka berpikir aneh, tapi it's ok. Inilah aku. Nggak mau berpura-pura cool. Hmm.. lebih tepatnya harus jaga sikap kali. Jaga sikap? Apa aku tadi nggak jaga sikap? Aku 'kan hanya menjadi diri sendiri. Nggak jaim & ramah, walau mungkin terkesan garing. Ha ha ha... *menertawakan diri sendiri
[]
Yeah.. itulah aku. Antusias ketemu orang baru. Bisa dibilang 'bocor'. Hmm.. apa ya bahasanya? Enggak bisa lama jaga image alias jaim. Enggak gimana-gimana juga, tapi setelah ada interaksi sama orang baru, aku enggak bakal ragu buat jadi diriku-sendiri tanpa harus terlihat (sok) cool.
[]
Saat cerita ini ditulis, pengumuman lomba penyiar di AKRB belum keluar. Nanti jam 15.00 baru tau siapa pemenangnya. Aku pesimis menang. Namanya juga lomba, pasti nyari yang terbaik. Aku hanya ikut berpartisipasi. Yang penting 'kan pengalamannya itu. Pengalaman yang membuat hidup semakin penuh cerita & sebagai langkah untuk maju ke depan.
[]
Aku belum pernah menang kompetisi. Dulu beberapa kali ikut kompetisi penyiar radio, tapi selalu gagal. Ikut kompetisi nulis cerpen, sama juga. Belum rezeki. Rasanya menang kompetisi gimana ya? Pasti kayak ada manis-manisnya gitu ya?
[]
Aku pesimis karena penampilanku nggak sesuai harapan. Jauh banget. Aku terlalu cepat ngomongnya, masih banyak kurang di sana-sini, aku bilang harus semangat ke pendengar, tapi suaraku nggak menggambarkan itu. Baiklah. Selamat tinggal Juara. Ambil positifnya. Nggak usah dipikirin yang nggak enaknya. Cukup jadi pembelajaran.
[]
Waktu itu aku sadar diri juga. Enggak maksimal, mana bisa menang? Kompetisi satu ini emang rasanya aku enggak maksimal. Jurinya ada Tulus Angga dari Kotaperak FM (duluuu... waktu Kotaperak FM masih jadi radio segmen anak muda), dan satu lagi mbak-mbak dari TVRI kalo enggak salah (suaranya renyah banget). Kayaknya juri cuma dua orang. Waktu itu yang ikut kompetisi ini dari Radio selain aku, ada Dinda, Arik, Faris. Sekarang mereka beneran jadi penyiar radio. Aku, siaran di Rakosa FeMale, Arik di Radio Edukasi, Faris di Retjobuntung FM, Dinda pernah siaran di Kotaperak FM (waktu masih segmen anak muda). Bener-bener waktu sudah berjalan begitu banyak.
[]
Kejadian ini nggak menyurutkan langkahku untuk jadi penyiar radio. Aku akan terus berusaha. Justru ini jadi cambuk buatku. Semangat! Aku pasti bisa! :)
Jogja, 27 April 2014"
[]
2014! Empat tahun berlalu. Sekarang aku hanya bisa mengenang masa-masa itu. Kadang ingin kembali ke masa lalu. Bukan, bukan cuma 2014 itu, tapi kadang aku ingin kembali ke masa di mana aku benar-benar menjalani hidup tanpa beban, tanpa kegalauan, tanpa tuntutan ini-itu.
Ah, sejenak aku ingin lari dan pergi...
Dan setelah itu aku kembali ke masa ini.
Jogja, 16.10.2017

Minggu, 15 Oktober 2017

CUCI TANGAN

Sebelum makan cuci tangan dulu. Masih melakukan kebiasaan ini? Bisa dipastikan sebagian besar dari kita enggak lagi melakukan kebiasaan baik itu. Kok rasanya ribet ya sebelum makan cuci tangan, setelah makan cuci tangan, selesai dari toilet cuci tangan, pakai sabun pula. Jadi ke mana-mana harus bawa sabun? ‘Kan sekarang ada hand sanitizer. Lebih praktis. Iya, tapi katanya cuci tangan pake hand sanitizer enggak seampuh cuci tangan pake sabun. Katanya, hand sanitizer cuma bikin kuman pingsan, enggak membunuhnya.
Hand sanitizer efektif juga kok membunuh kuman, cuma memang enggak seampuh pake sabun cuci tangan. Alkohol yang ada di hand sanitizer bisa bikin kuman di tangan minggat, tapi dengan catatan, tangan enggak kotor banget ya. Misal tangan belepotan tanah atau baru selesai makan Nasi Padang tanpa sendok alias langsung pake tangan. Nah.. yang begini harus cuci tangan pake air mengalir dan sabun. Kalo pake hand sanitizer, bisa dibayangin rasa enggak nyamannya? Ya, begitu rasanya.
Hari ini adalah Hari Cuci Tangan Sedunia. Momennya pas ngomongin cuci tangan. Sejujurnya aku jarang banget cuci tangan sebelum makan, setelah makan, setelah dari toilet. Ya cuma sekedar dibasuh pake air (tanpa sabun). Kayaknya setelah ini aku akan beli hand sanitizer. Buat cuci tangan yang ringan (baca: enggak belepotan lumpur, minyak, atau apalah yang sejenis), pas banget pake hand sanitizer. Praktis, enggak ribet, oles-oles, beres!
Ada tips sebelum beli dan pake hand sanitizer. Pastikan ada kandungan alkohol, karena hand sanitizer bebas alkohol enggak terlalu efektif mengusir kuman. Pemakaian hand sanitizier buat anak-anak juga harus diperhatiin banget. Jangan sampai hand sanitizer tertelan. Harus dioles ke tangan, diratakan, sampai ke sela-sela jari juga, dan harus kering. Kalo masih basah, terus main comot bakwan baru matang, don’t try this at home. Mau makan bakwan rasa hand sanitizer?
Ada yang bilang, "Aku enggak pernah (atau jarang) cuci tangan juga sehat-sehat aja." Ya.. itu karena daya tahan tubuh kuat. Kuman yang masuk berhasil dilawan. Bangga gitu enggak (atau jarang) cuci tangan? Berkat Hari Cuci Tangan Sedunia hari ini, aku semacam disadarkan buat rajin cuci tangan sebelum makan, setelah makan, setelah dari toilet, setelah ber-anu-anu. Masih banyak yang mengharuskan cuci tangan setelah melakukan sesuatu, yah.. setelah berkotor-kotoran musti cuci tanganlah. Waktu utama buat cuci tangan ada di tiga kondisi di atas. Selebihnya kondisional begitulah.
Hati-hati iritasi karena hand sanitizer. Emang bisa? Iya, bisa. Kalo setelah pake hand sanitizer kulit tangan rasanya panas, enggak nyaman, enggak enak, bahkan sakit, wah.. musti langsung dihentikan pemakaian hand sanitizer tuh. Tanda-tanda iritasi. Kok serem ya? Enggak langsung ujug-ujug iritasi kok. Tergantung sensitivitas kulit seseorang. Ada juga kulit yang lebih sensitif dibanding kulit orang lain.
Cuci tangan pake sabun juga ada aturannya. Enggak cuma asal kasih sabun, busa banyak, basuh-basuh. Seluruh tangan harus kena sabun, bahkan sampai sela-sela jari juga. Gerakan cuci tangan juga ada aturannya. Ada gerakan lima ujung jari memutar di telapak tangan, jempol yang terkena sabun dioles memutar, dan meremas-remas jari. Kurang lebih hampir semenitlah. Terakhir, tentunya membasuh tangan dengan air mengalir yang bersih. Bukan air comberan. Ya kali, Gus. Cuci tangan pake hand sanitizer hampir mirip gerakannya tapi enggak sedetail itu. Asal seluruh tangan sampai sela-sela kena hand sanitizer, amanlah. Harus sampai kering loh. Jangan masih basah terus pegang makanan.
Sabun cuci tangan 'kan banyak tuh. Ada yang warna-warni, aroma buah (mungkin ada juga aroma manis semisal cokelat?), tapi busanya enggak melimpah. Ada juga sabun cuci tangan yang warnanya putih susu, lebih kental, dan lebih banyak busa. Pilih yang mana? Ada juga sabun batangan. Nah loh? Dokter bilang, cuci tangan pake sabun cuci tangan atau sabun batangan sama-sama efektif membunuh kuman karena ada kandungan antiseptik.
Lebih baik lagi pake sabun cuci tangan (bukan batangan) karena kuman dari si pengguna sabun enggak bakal berpindah. Sabun batangan yang dipake bersama, tau sendiri 'kan? Ya.. karena dipake bersama itu.
Hari Cuci Tangan Sedunia jadi ngingetin pentingnya cuci tangan. Aku sih jadi semacam mendapat pencerahan. Ah, sa ae lu, Tol, eh.. Tong. Setelah ini beli hand sanitizer deh.
Yes! Propanda berhasil!
Propaganda kesehatan?
Jogja, 15.10.2017


Sabtu, 14 Oktober 2017

REUNI

“Ah, paling yang datang orang-orang itu aja. Paling cuma yang dulu OSIS. Paling cuma ini.. cuma itu..” Hei.. hei.. pesimis banget. Mungkin nyatanya besok begitu (duh.. semoga jangan) tapi seenggaknya enggak usah bilang “paling yang dateng cuma” dong. Hargailah panitia yang susah-payah ngadain reuni. Enggak gampang mengumpulkan pecahan yang terserak. Bisa ngumpul lagi kayak dulu, utuh, agak susah. Kesibukan sekarang beda-beda, tapi bukan berarti mustahil buat ngumpul lagi. Asal mau mengagendakan jauh-jauh hari. Biasanya reuni direncanain emang dari kapan tau ‘kan? Apalagi reuni akbar. Enggak mungkin diadain dadakan macam tahu bulat yang digoreng dadakan.
Aku excited banget dateng reuni. Entah itu sesama angkatan atau lintas angkatan, begitu ada waktu buat nostalgia, ya dimanfaatin dong. Jangan disia-siain. Kangen-kangenan sama teman dari masa lalu, memutar kembali momen yang dulu pernah dilakuin bareng. Dulu masih anak ingusan, sekarang jadi orang. Rasanya sedikit enggak percaya lihat perubahan-perubahan yang terjadi. Ada senang, ada juga rasa enggak percaya. Bukan rasa enggak suka loh. No.. no..
Setiap orang beda-beda menyikapi reuni. Seperti Indonesia yang bhineka tunggal ika, reaksi orang tentang sesuatu juga berbeda-beda (yang harapannya tetap jadi satu). Ada yang excited sama kayak aku, ada juga yang justru menganggap enggak penting. Apa? Reuni dianggap jadi sesuatu yang enggak penting? Momen ngumpul lagi dengan teman-teman dari masa lalu disia-siakan gitu aja? Duh.. sayang banget. Sedih juga sama orang yang mengganggap reuni itu sesuatu yang membuang waktu.
Reuni itu ibarat perekat yang menyatukan kembali potongan-potongan. Memutus silaturahim bukan sikap yang baik ‘kan? Bahkan dalam Islam juga dijelaskan tentang memutus silaturahim (yang pastinya enggak dianjurkan buat dilakukan). Aku bersyukur enggak punya drama yang bikin susah lupa sama teman-teman lama. Drama.. ya ada, pernahlah, tapi enggak sampai yang terlalu gimanaaa. Ya drama yang wajar. Namanya juga interaksi, pastilah sometimes ada drama. Mungkin buat orang yang pernah drama dengan teman lama dan sampai sekarang enggak bisa melupakan drama itu, reuni dianggap sesuatu yang enggak perlu. “Buat apa ketemu si A.. Buat apa ketemu si B.. bla bla bla..” Sedrama apa ya sampai mengakar begitu? Buat orang yang merasakannya sendiri, pasti bukan sesuatu yang gampang dilupakan. Perasaan manusia itu seperti kertas. Sekali kita meremasnya, enggak bakal balik lagi kayak semula.
Klise, datang reuni siapa tau ketemu jodoh. Iya, ini klise. Reuni ya ketemu teman-teman yang jauh. Kalo nanti ada yang berjodoh, ya emang seperti itu jalannya. Dipertemukan dengan jodoh di pertemuan kesekian setelah sekian lama. Intinya kangen-kangenan. Buat Generasi 90-an, reuni emang bukan cuma sekedar kangen-kangenan tapi bisa juga jadi ajang ketemuan sama yang pernah indah di masa lalu. Bisa juga jadi koneksi buat bisnis. Inilah masa-masanya pertemanan bukan sekedar pertemanan (seenggaknya pertemanan di dunia dewasa seperti itu, walau enggak semuanya begitu). 
Datang ke reuni harus siap-siap menghadapi perubahan. Teman yang dulu pecicilan, sekarang kalem. Teman yang dulu kalem, sekarang berangasan (dalam arti positif ya). Teman yang dulu kurus, sekarang gendutan. Nah.. ini. Per-ubah-an. Apa yang harus aku tampilkan saat reuni? Perut atletis dan otot-otot yang terpahat indah? Ah, halu banget. Lama enggak ketemu pasti bakal pangling, pasti bakal merasakan perubahannya. “Kamu sekarang ini ya.. Kamu sekarang itu ya..”
Aku pernah nge-skip reuni karena merasa yang datang orang-orang itu aja. Orang-orang yang dulu ada di luar lingkaranku. Dipikir sekarang, bodoh sekali sikap waktu itu. Kenapa hanya gegara itu menyia-nyiakan kesempatan ketemuan dengan teman lama yang entah kapan bisa ketemuan lagi?
Ya.. enggak bisa disalahin juga orang yang menganggap reuni itu enggak penting. Inget loh harus bhineka tunggal ika. Jangan sampai gegara hal sepele begini, perbedaan kayak gini, jadi ribut-ribut, memecah persatuan.
Persiapan sebelum reuni? Mandi, pakai outfit terbaik dan bikin kita nyaman, harus wangi, jangan bau asap dapur, dan jangan berpikir negatif duluan sebelum dijalanin. Greget juga sama orang yang enggak dateng reuni bukan karena enggak ada waktu, tapi karena merasa enggak ada yang dikenal pas reunian. Kadang reuni satu angkatan aja bisa kayak gini nasibnya, apalagi reuni lintas angkatan. Aku tetep excited datang ke reuni lintas angkatan. Bisa kenalan sama kakak-kakak dan adik-adik yang masanya berbeda. Bukan berarti langsung sok akrab. Bisa-bisa ada yang ilfeel duluan.
Kenalan, mendekat ke lintas angkatan, senatural mungkin. Wajar-wajar aja. Misal, ada momen berbaur, bisa jadi karena games, jangan pilih cuma sama orang-orang yang dikenal (karena satu angkatan) tapi cobalah sama orang lain (yang berbeda angkatan itu). Mungkin awalnya awkward, tapi kalo udah ada interaksi, awkward pelan-pelan ngilang. Buktikan sendiri. Dinding kekakuan tercipta justru karena enggak ada interaksi. Masing-masing memilih berinteraksi dengan diri-sendiri. Menerka orang ini seperti itu, menerka orang itu seperti ini. Gimana bisa runtuh dinding kekakuan kalo terus begitu? Kalo enggak ada keinginan dari diri-sendiri?
Enggak cukup dengan kita bilang Simsalabim.
Kita ini bukan hidup di negeri dongeng.
Jogja, 14.10.2017

Jumat, 13 Oktober 2017

TIGA "SEKAWAN"

Dulu ada seorang teman yang bilang, “Logika tanpa logistik is nothing.” Kalo kamu lapar, enggak bisa berpikir dengan jernih. Gimana mau diajak berpikir yang lain kalo yang mendominasi justru rasa lapar? Salah satu bagian dari nafsu adalah makan. Nafsu harus kita kendalikan. Bukan nafsu yang mengendalikan kita. Ada tiga nafsu  yang harus kita kendalikan. Pertama, nafsu di hati, segala muara perbuatan yang kita lakukan. Pengen ini, pengen itu, pengen lagi, pengen terus. Nafsu di hati ini mendominasi dua nafsu selanjutnya. Nafsu di perut dan nafsu di bawah perut. Ketiga nafsu ini punya kerjasama yang baik dengan otak. Kalo enggak ada sinkronisasi antara nafsu dan otak, enggak bakal ada keinginan, rasa lapar, dan hasrat seksual.
Nafsu di perut bisa dibilang memengaruhi suasana hati. Ada pepatah, “Perut kenyang, senanglah hati.” Pernah merasa, lapar bikin hati senang? Adanya uring-uringan, bad mood, enggak ada rasa senang sama sekali. Semua nafsu bisa dikendalikan kok, termasuk nafsu di perut ini. Apalagi jenis nafsu yang satu ini. Bisa dibilang paling gampang dikendalikan dibanding nafsu yang lain.
Nafsu di perut bisa dikendalikan kalo nafsu di hati lebih kuat. Otak pasti akan memerintahkan “jangan makan”. Presentase keberhasilannya lebih besar. Bandingkan dengan nafsu di bawah perut. Apa bisa dikendalikan dengan nafsu di perut? Justru nafsu di bawah perut ini yang paling kuat. Penyeimbang yang pas adalah nafsu di hati. Kalo lebih kuat nafsu di hati, nafsu di bawah perut, sekuat apapun, pasti bisa dikendalikan. Cuma harus ekstra hati-hati. Nafsu di hati ini bisa jadi sasaran empuk kamuflase. Sesuatu yang negatif bisa berkamuflase menjadi sesuatu yang positif.
Ketiga nafsu ini harus dipenuhi. Bukan, kita bukan diperbudak nafsu dan menuruti apapun yang nafsu inginkan, tapi kalo ketiga nafsu ini kita abaikan, aktivitas sehari-hari yang kita lakukan bisa terganggu.
Paling utama nafsu yang harus dipenuhi adalah nafsu di perut. Bukan memanjakan, tapi memenuhi kebutuhannya. Kita makan untuk hidup ‘kan? Nafsu di hati bisa dikendalikan dan dilepaskan pada saat yang tepat. Begitu juga nafsu di bawah perut. Kalo kita menginginkan sesuatu, enggak mungkin simsalabim langsung ada di depan mata. Harus ada usaha buat mewujudkan nafsu di hati a.k.a keinginan. Kita bukan hidup di dunia Nobita yang semua-semua bisa dikabulkan dengan kantong ajaib.
Nafsu di bawah perut yang harus benar-benar bisa kita kendalikan. Paling prioritas! Sama seperti nafsu di hati yang bisa dilepaskan nanti-nanti, nafsu di bawah perut enggak semudah nanti-nanti melepaskan nafsu di hati. Dua nafsu ini punya kerjasama yang baik. Nafsu di hati bisa terprovokasi dengan nafsu di bawah perut. Sulit sekali membedakan keinginan yang harus ditahan dengan keinginan yang bisa dilepaskan saat itu juga. Cara ampuh mengendalikan nafsu di bawah perut ini adalah dengan banyak mendekatkan diri kepada Tuhan. Buat umat Islam, bisa banyak berpuasa agar bisa mengendalikan nafsu di bawah perut ini dengan lebih baik.
Nafsu di bawah perut yang meledak-ledak bisa dibilang enggak sesering nafsu di perut atau nafsu di hati. Frekuensinya enggak lebih banyak, tapi sekali muncul, bisa meruntuhkan pertahanan apapun, apalagi kalo pertahanan yang dibangun hanya sekedarnya. Kelemahan manusia memang ada di nafsu. Titik kelemahan yang harus kita bangun pertahanan sekuat mungkin. Banyak celah yang bisa bikin nafsu, terutama nafsu di bawah perut dan nafsu di hati, menjadi meledak-ledak. Nafsu di perut masih dalam tahap wajar. Manusia memang sudah seharusnya merasa lapar. Justru harus lebih waspada dengan “lapar-lapar” lain yang enggak sesederhana lapar bermuara di perut.
Jogja, 13.10.2017
© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis