Selasa, 26 September 2017

PLASTIK

Setiap orang pasti punya masalah. This is life. Nonsense banget kalau enggak ada masalah. Indonesia punya masalah apa? You know... beberapa masalah bikin pelik dan kesannya drama banget. Enggak usah disebutin apa saja masalah Indonesia. Sebut salah satu saja deh: sampah. Masalah satu ini di Indonesia sudah ada solusi? Beberapa daerah memang sudah punya solusi buat permasalahan ini, tapi di daerah yang lain justru belum ada. Padahal sampah setiap hari bertambah. Semakin menumpuk, menumpuk, akhirnya menggunung. Pernah melihat gunungan sampah? Dan enggak sedikit dari sampah itu adalah plastik. Butuh waktu berapa lama plastik bisa terurai sempurna?
Butuh waktu 10-12 tahun agar sampah plastik bisa terurai sempurna. Sampah kertas akan benar-benar terurai dua sampai enam bulan. Sampah organik a.k.a sampah dari bahan alami seperti kulit buah, sayur, bisa terurai beberapa hari atau beberapa minggu. Paling lama sebulan. Berapa banyak sampah yang kita hasilkan hari ini? Apalagi sampah plastik. Beli ini, bungkus plastik. Beli itu, bungkus plastik. Bahkan aku pernah lihat ada seseorang yang beli air mineral dan snack, minta dibungkus plastik, yang langsung dinikmati saat itu juga. Buang-buang percuma. Walau plastik ini ada tulisan, “plastik ramah lingkungan, plastik gampang terurai, dan bla bla bla..” tetap saja namanya pemborosan. Plastik ramah lingkungan? Butuh waktu berapa lama plastik ramah lingkungan ini terurai sempurna? Seramah apapun jenis plastiknya, kalau memang bisa enggak pakai kantong plastik, kenapa harus minta?
Belum lagi saat makan di warung sebelah. Minumnya apa? Pakai sedotan? Plastik lagi.. plastik lagi.. Kalau bisa daur ulang, mengurangi sampah plastik dan bermanfaat, tapi kalau cuma dibuang? Menumpuk di tempat sampah? Bertahun-tahun bentuknya tetap sama sebelum akhirnya hilang. Belum lagi kalau ditambah dengan sampah plastik lain yang terus ada setiap hari.
Penggunaan plastik di Indonesia memang pernah dikurangi. Entah memang waktu itu sedang boom atau aku yang kudet alias kurang update, tapi waktu itu banyak minimarket dan supermarket memberikan harga sendiri untuk satu kantong plastik. Ada supermarket yang menyediakan tas kain sebagai pengganti kantong plastik. Tas kain ini tentu bisa digunakan berulang-ulang. Aku sempat beli satu tas kain ini.
Sekarang aturan itu enggak ada. Mungkin di salah satu supermarket masih diterapin aturan ini tapi enggak boom seperti waktu itu. Aku lebih memilih enggak menggunakan kantong plastik. Sebisa mungkin menghindari. Kalau masih bisa dibawa tanpa kantong plastik, enggak bakal minta. Dipikir, sayang juga kantong plastik cuma sekali pakai kemudian dibuang. Berakhir di tempat sampah. Begitu saja.
Kalau bisa memanfaatkan kantong plastik untuk sesuatu yang lain, good job! Kalau enggak bisa tanpa kantong plastik dan merasa ribet bawa tas belanja sendiri yang bisa digunakan berulang, harus mau menyimpan kantong plastik itu dan dimanfaatkan buat sesuatu yang lain.
Seorang teman pernah bilang, setiap kantong plastik hasil belanja selalu dikumpulkan. Bahkan sampai menumpuk banyak banget dan akhirnya memang jadi sampah. Cara ini bisa digunakan daripada membiarkan kantong plastik hanya berakhir di tempat sampah dan menunggu bertahun-tahun untuk bisa lenyap.
Sebaiknya memang harus benar-benar mengurangi penggunaan kantong plastik dari sekarang. Bawa kantong belanja sendiri yang bisa digunakan berulang, jangan pakai sedotan kalau memang bisa, minum susu kemasan tentu harus pakai sedotan, mengurangi sesedikit mungkin penggunaan kantong plastik.
Sempurna menghindari masih susah, karena bukan cuma kantong belanjaan yang terbuat dari plastik, tapi bungkus makanan yang dibeli juga dari plastik. Iya, mengurangi penggunaan kantong plastik, tapi beli snack, bungkusnya juga plastik.
Ya.. seenggaknya bisa mengurangi penggunaan walau belum bisa benar-benar menghindari.
Mungkinkah benar-benar bisa menghindari?
Jogja, 26.09.2017

Senin, 25 September 2017

POSTUR

Apa kabar atletis? Du du du~ Masih tetap seksi kok. Masih enak dipeluk. Sini.. sini.. Setiap orang punya bentuk tubuh yang berbeda-beda. Ada yang kurus, biasa, gemuk, atletis. Kamu pilih mana? Aku pilih atletis. Mau lihat "roti sobek" di perutku? Bukan roti sobek, tapi roti kasur. Entah aku terdoktrin sejak kapan, bagiku bentuk tubuh ideal yang sangat pas dan tentunya sangat menggoda adalah atletis. Lengan yang padat, bukan bergelambir karena lemak, dada bidang yang padat, perut yang atletis dengan gurat-gurat "roti sobek", entah perut seperti ini keras atau seperti apa, belum pernah pegang. Apalagi kalau ada v-line, mantap, Bro! Cewek normal manapun pasti enggak bisa nolak cowok berbody seperti ini.
Atletis yang menarik itu bagiku yang enggak sekering binaraga. Otot-otot yang terlalu bertonjolan bukan lagi suatu keindahan. Maksudnya nilai estetika berkurang. Atletis yang berestetika, atletis yang pasnya segini, mengutip tagline L-Men. Cewek juga ada yang enggak nyaman dengan cowok ala Hulk. Atletisnya binaraga yang ototnya bertonjolan ke mana-mana. Beberapa bahkan ada yang takut. Takut patah tulang waktu dipeluk.
Aku terobsesi bentuk tubuh atletis. Bukan terlalu terobsesi atau apa, tapi aku sangat menginginkan bentuk tubuh ideal seperti ini. Pernah baca sekilas, Rasulullah punya tubuh yang atletis. Enggak gemuk, enggak kurus. Ideal. Ada juga orang yang pengen banget gemuk. Mungkin maksudnya padat-berisi. Percayalah, kalau memang benar-benar ingin gemuk, dia pasti akan menyesal. Gemuk itu enggak enak. Enak itu padat-berisi, bukan berisi banyak lemak. Gemuk bisa bikin cepat capek. Sedikit-sedikit ngos-ngosan. Nafasnya pendek-pendek. Mager. Maunya makan terus. Enggak produktif. Belum lagi bahaya kesehatan yang mengintai. Semua orang punya potensi terserang penyakit-penyakit yang menjadi momok buat kesehatan ini, cuma postur tubuh gemuk menjadi yang lebih rentan terserang.
Gemuk atau kurus sama-sama punya potensi, yang membedakan adalah pola hidup. Menjalani pola hidup yang sehat tentu bisa mengurangi bahkan menghindari serangan penyakit-penyakit ini. Tentunya pola hidup ini membuat seseorang enggak kegemukan, enggak juga terlalu kurus. Lebih bagus lagi, pola hidup sehat diimbangi dengan latihan, workout, semacam latihan atletik begitu kali ya. Selamat tinggal gemuk dan kurus! Selamat datang atletis!
Aku sering bilang begini, "Aku enggak ingin kurus." Aku hanya ingin postur yang ideal dan atletis. Healthy life for a better future. Sekarang aku memang belum seperti selebgram berbadan kotak-kotak itu. Latihan setiap hari, enggak pernah kasih kendor. Bukan setiap hari, tapi rutin. Enggak kayak aku yang masih bolong-bolong. Seenggaknya aku menjaga pola makan. Sangat berbeda pola makanku sekarang dengan dulu awal-awal kuliah.
Kenapa dia makan banyak tapi enggak gemuk? Sementara yang lain ada yang sekali makan banyak, langsung menambah persediaan simpanan lemak tubuh. Kenapa bisa seperti ini? Google, please.
Kenapa dia makan banyak tapi enggak gemuk? Karena metabolisme tubuhnya bekerja sangat cepat. Kalori cepat terbakar dan enggak membiarkan lemak tersimpan di tempat yang enggak tepat. Kuli bangunan walau makannya banyak, lihat saja nasi yang menggunung, gorengan, dan makanan-makanan yang berpotensi menjadi gemuk, tetap punya postur yang proporsional. Enggak sedikit yang otot lengannya terbentuk sempurna, bahkan gurat kotak-kotak juga tercetak di perutnya. Makanan-makanan itu berubah menjadi tenaga. Sebanyak apapun.
Kalau enggak seaktif kuli bangunan, lebih sering diam dalam ruangan, bukan yang mengandalkan kekuatan fisik, makan ala kuli bangunan tentu sangat berpotensi menjadi gemuk. Enggak seimbang antara asupan untuk tubuh dan energi yang dikeluarkan.
Hampir setiap orang bermimpi atau terobsesi memiliki postur tubuh ideal. Atletis, berotot, perut "roti sobek", dan buat cewek pengen payudaranya lebih kencang, bokongnya kencang, dan bla bla bla.
Kata JKT48, "Usaha kerasa tidak akan mengkhianati."
Jogja, 25.09.2017

Minggu, 24 September 2017

SEMBUNYI

Debat di media sosial bukan jadi sesuatu yang baru. Setiap hari selalu saja ada yang saling merasa benar, saling serang di media sosial. Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain, dan sebagainya. Rasanya jengah dengan komentar-komentar warganet yang enggak sedikit enggak punya etika sama sekali. Kasar, merendahkan pihak lain, fitnah, bebas-sebebasnya. Saking luasnya dunia media sosial membuat siapapun merasa nyaman dan sah-sah saja melakukan apapun, termasuk hate speech, memecah-belah, entah ada tujuan terselubung apa dibalik itu semua.
Apa mungkin mereka orang-orang enggak ada kerjaan? Terlalu santai membuat mereka mencari perhatian dengan ujaran kebencian? Entah apa yang di pikiran warganet satu ini. Bikin geleng-geleng kepala lagi, enggak sedikit dari warganet tipe seperti ini yang menggunakan identitas anonim. Menyembunyikan identitas yang sebenarnya. Mereka pengecut. Hanya berani melempar batu, kemudian sembunyi tangan.
Beberapa kali aku sengaja kepo akun yang memakai ujaran kebencian itu. Akun anonim. Entah pakai ava siapa, nama akun yang entahlah. Identitas anonim ini yang membuat si "pelaku" begitu mudahnya berkomentar, enggak peduli bisa menyakiti orang lain atau bahkan menjadi provokasi yang mengarah kepada perpecahan.
Kok bisa ya ada akun khusus buat begini? Komentar nyinyir, mengkritisi segalanya secara serampangan. Ada yang terprovokasi dengan anonim-anonim ini, tapi ada juga yang cuek. Anjing menggonggong, kafilah berlalu.
Tipikal warganet seperti ini memang enggak usah direspon. Bisa jadi respon yang diberikan membuat mereka tertawa-tawa bahagia. Sengaja memperkeruh.
Warganet yang bersembunyi saat mengeluarkan ujaran kebencian sejatinya seorang yang pengecut. Berani berkomentar sesuka hati tapi enggak berani memunculkan identitas diri. Jelas, warganet tipe ini adalah perusak. Bukan mengkritisi. Sok mengkritisi lebih tepatnya. Kalau memang ingin kritis, harus siap dengan semua resiko, termasuk enggak menutup-nutupi identitas pribadi. Demi apa? Keamanan? Dari apa?
Masih heran dengan warganet seperti ini. Kenapa mereka ada? Kenapa mereka enggak berpikir apa yang dikatakan terkadang bukan sesuatu yang pantas? Apa mereka benar-benar enggak paham etika?
Sopan-santun berpendapat itu harus, sekalipun di media sosial.
Jogja, 24.09.2017

Sabtu, 23 September 2017

SAKIT

Rasa sakit apa yang pernah kamu rasakan? Rasa yang paling sakit. Waktu sunat. Diputusin tanpa alasan yang jelas. Digantungin. Friendzone. Ditikung sahabat sendiri. Jadi itu rasa sakit yang paling sakit? Usaha enggak sukses-sukses, banyak hutang pula. Gimana enggak sakit? Sakit, Bro. Sakitnya tuh, sakitnya tuh di sini.
Semua rasa sakit itu, rasa sakit yang kamu bilang, masih belum seberapa dibanding rasa sakit seorang perempuan saat melahirkan kehidupan. Melahirkan aku, kamu, mereka, artis, presiden, semua. Seperti apa sakitnya? Seperti seluruh urat dalam tubuh putus dan tercerabut dengan paksa. Bisa dibayangkan seperti apa sakitnya? Sakit yang paling sakit di dunia ini. Perempuan mampu menahan sakit itu. Melewati fase antara hidup dan mati demi bayi mungil yang dinantikan. Perempuan, seorang ibu, yang meninggal karena berjuang melahirkan kehidupan, hanya Surga yang abadi penggantinya. Tanpa hisab, sudah tersedia satu istana di Surga-Nya. Mati syahid. Sungguh mulia seorang perempuan, seorang ibu. Rasulullah berkata, "Hormatilah ibumu, ibumu, ibumu, kemudian bapakmu." Kasih Ibu sepanjang masa tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali.
Memang merinding disko mengingat perjuangan perempuan saat melahirkan. Aku, kamu, mereka, dilahirkan dengan cara yang sama. Aku, kamu, mereka, dilahirkan dengan rasa sakit yang enggak ada bandingannya. Suatu kebanggaan yang luar biasa buat seorang perempuan bisa melahirkan normal, tanpa operasi. Melewatinya dengan rasa sakit yang akan tergantikan dengan sebuah istana di Surga nanti.
Seorang teman pernah bercerita tentang perjuangannya saat melahirkan. Enggak segampang adegan dalam film. Kelihatannya mengejan sekali, sudah, selesai. Lahirlah si jabang bayi. Butuh waktu berjam-jam, merasakan sakit yang timbul-tenggelam sampai akhirnya tibalah saatnya si mungil dalam rahim merangsek ingin keluar. Terpanggil oleh lika-liku dunia yang sudah menantinya.
Aku memang belum menjadi ayah. Aku belum pernah melihat sendiri seperti apa perjuangan seorang perempuan saat melahirkan. Mendengar cerita dari teman yang sudah melahirkan buah cinta, benar-benar membuatku merinding. Sakit yang teramat sakit dan hebatnya semua itu berhasil terlewati. Seperti sakit saat disunat? Ah, sepertinya lebih sakit dari itu. Sakit level yang paling tinggi.
Kalau semua orang mengingat betul perjuangan sang ibu saat melahirkan, pasti enggak ada yang cuek, terlalu sibuk dengan dunia sendiri, dan melupakan sang ibu. Apa kita sudah lupa perjuangan melawan sakit, atau lebih tepatnya menikmati sakit, saat seorang ibu melahirkan kita? Waktu itu memang kita enggak mungkin mengingatnya, tapi mengetahui, betapa sakitnya proses persalinan itu, masihkan kita cuek, sibuk dengan dunia sendiri, dan melupakan sang ibu?
Ada satu alat yang bisa memberikan sensasi sakit yang sama seperti saat melahirkan. Laki-laki harus mencobanya. Waktu aku melihat video itu, laki-laki setangguh apapun, seperkasa apapun, akan langsung kelojotan menerima rasa sakitnya. Sakit yang enggak ada bandingannya.
Setiap ibu pasti mencintai anak-anaknya. Setiap ibu enggak mungkin menyia-nyiakan anak yang dengan penuh perjuangan berhasil dilahirkan. Kalau ada ibu yang membuang bayinya, ibu yang enggak menginginkan kehadiran bayi mungilnya, tetap saja ada sebentuk cinta di dalam hatinya, walau tertutupi oleh gumpalan hitam yang menghalangi cahaya cinta itu.
Apa setiap anak mencintai ibunya sebesar dia mencintai pasangan hidupnya? Adakah hubungan seorang anak dengan ibunya seromantis romansa cinta merah jambu? Bukan, bukan tentang cinta yang berujung nafsu, tapi cinta yang memberikan rasa manis di hati. Adakah? Pasti ada.
Kamu 'kan?
Jogja, 23.09.2017

Jumat, 22 September 2017

APA INI?

Oke. Sepertinya aku mulai lelah. Waktu terus berjalan dan belum update blog? Apa komitmen yang dibangun waktu itu sudah mulai runtuh? Konsistensiku sudah bagus. Sudah lebih dari 25 hari. Ya, sebanyak itu dan aku akan mengakhirinya begitu saja? Katanya mau jadi blogger? Bahkan aku sudah menuliskan “I’m a blogger” di semua bio media sosialku. Dan sekarang aku mengakhirinya? Selesai? Enggak ada lagi komitmen yang waktu itu yang kokoh tak tertandingi? Semen kali.
Aku yang terlalu malas. Kenapa enggak update blog sejak tadi pagi? Terlalu banyak menunda. Seharusnya rencana update blog bukan seperti ini. Sudah di luar rencana. Sedikit berantakan. Semakin berantakan dengan feeling yang menjadi kenyataan. Ya, sebelum aku siaran, aku sempat punya feeling, internet di studio mati. Bagaimana kalau benar seperti itu? Ah, enggak mungkin. Ternyata benar! Internet di studio mati. Update blog harus tertunda sampai menjelang tengah malam. Beberapa jam sebelum berganti hari dan konsistensi satu hari satu update akan sia-sia. Bolong sehari! Oh, jangan! Jangan sampai bolong!
Akhirnya tulisan ini yang terbit. Semacam keluh-kesah dan menyalahkan diri-sendiri. Ya, aku memang salah. Terlalu malas, terlalu banyak menunda. Apa aku harus blak-blakan di sini? Aku terlalu banyak o… Berhenti! Jangan teruskan. Aku lapar. Aku ingin makan tapi makan apa jam segini? Aku ingin atletis. Makan jam segini “diharamkan”. Bagaimana aku akan mendapatkan perut kotak-kotak kencang sempurna kalau selarut ini makan? Aku lapar. Mood-ku berubah jelek. Akhirnya justru menjadi tulisan seperti ini. Sangat di luar rencana. Apa ini? Aku mengeluh? Apa menariknya keluhanku ini? Aku mempromosikan setiap update blog di Twitter dan mendapatkan retweet dari sebuah akun promosi blog. Apa tulisanku kali ini layak dipromosikan? Tulisan macam apa ini? Cuma keluh-kesah karena diri-sendiri yang terlalu malas.
Demi update ini, harus datang ke Perpustakaan Kota. Wifi gratis. Iya, wifi memang gratis, tapi wifi di salah satu café, tepat di sebelah internet café, wifi harus ditebus dengan nominal Rp 10 ribu. Kalau memang ada yang benar-benar gratis, kenapa pilih yang bayar?
Setelah sibuk berpikir sendiri, akhirnya aku memilih update blog di warnet cafe. Jelas cepat dan PC enggak lemot. Kalau wifi di Perpustakaan Kota, sebentar lagi tutup. Waktuku enggak banyak. Pasti enggak sempat, apalagi PC-ku sungguh terlalu lemotnya.
Apa tulisan ini berhak untuk dipromosikan? Rasanya sangat enggak penting. Ingin marah, ingin teriak, semua ini gara-gara aku sendiri. Jangan mencari kambing hitam. Aku memang salah! Aku terlalu malas. Semuanya jadi berantakan. Bagaimana rasanya? Apa besok aku akan seperti ini lagi? Mengulang kesalahan yang sama? Sungguh sangat merugi seseorang yang menjalani hari besok sama dengan hari ini. Enggak ada perubahan menjadi lebih baik. Apa aku mau seperti itu?
Oke, ini adalah luapan kekecewaan. Luapan kemarahan. Akhirnya jadi satu tulisan ‘kan? Iya, tapi…
Ah, sudahlah. Sepertinya aku memang butuh makan sekarang untuk mengembalikan mood positif.
Jogja, 22.09.2017

Kamis, 21 September 2017

HIJRIYAH

Selamat Tahun Baru Islam 1439 H. Semoga di tahun yang baru ini semakin dimudahkan semuanya. Tentu dimudahkan untuk kebaikan dong. Kok enggak ada euforianya? Bedalah dengan Tahun Masehi. Makna Tahun Islam a.k.a Tahun Hijriyah itu apa sih? Penjelasannya panjang. Aku belum terlalu paham juga. Loh, kok gitu? Miris ya?
Bukan beralibi atau semacamnya, tapi yang sama belum paham tentang makna Tahun Hijriyah, bukan cuma aku kok. Ini bukan alibi loh tapi memang faktanya begitu. Jangankan Tahun Islam, bulan-bulan hijriyah saja masih banyak yang enggak paham urutannya bagaimana, sekarang bulan apa, dan lain-lain, dan kawan-kawan. Paling paham pasti bulan Ramadhan, yakin deh mulai dari balita sampai bangkotan pasti sangat paham dengan bulan yang satu ini.
Tahun Hijriyah dihitung berdasarkan masa hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah. Berbeda dengan Tahun Masehi yang berdasarkan perputaran matahari, Tahun Hijriyah berdasarkan perputaran bulan. Pergantian hari Tahun Hijriyah bukan dimulai jam 12 malam, tapi saat matahari terbenam. Sedikit info saja ya. Mohon koreksi kalau ada kesalahan. :)
Kalau Tahun Baru Hijriyah ini enggak jadi hari libur nasional, mungkin banyak yang enggak 'ngeh'. Kenapa Indonesia menggunakan Tahun Masehi? Kenapa bukan Tahun Hijriyah? Tanya kenapa?
Setiap Muslim pasti tahu Tahun Hijriyah. Walau enggak atau belum paham maknanya tapi seenggaknya tahulah. Kenapa Indonesia bukan memakai Tahun Hijriyah? Kenapa menggunakan Tahun Masehi? Berdasarkan kepo, penggunaan Tahun Masehi karena bisa diterima pemeluk agama apapun. Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan lain-lain, dan kawan-kawan, dan masih banyak lagi agama dan kepercayaan di dunia ini. Saudi Arabia pakai Tahun Masehi juga enggak ya? Ya iyalah. Cuma, mungkin di Arab juga familiar dengan Tahun Hijriyah. Sama familiarnya dengan Tahun Masehi.
Pergantian Tahun Hijriyah ini memang enggak seheboh pergantian Tahun Masehi. Apa perlu pergantian tahun harus ditandai dengan euforia yang luar biasa? Banyak cara yang dilakukan dalam menerima pergantian. Bukan cuma pergantian tahun loh ya. Cara "memeriahkan" pergantian Tahun Baru Hijriyah bukan dengan terompet dan kembang api, tapi dengan doa. Ada doa penutup tahun dan amalan yang bisa dilakukan saat pergantian Tahun Hijriyah.
Angka tahun '1439 H' mengingatkanku dengan Ramadhan. Tahun ini memasuki 1439 H. Masih tersisa berapa tahun lagi? Only God to know.
Jogja, 21.09.2017

Rabu, 20 September 2017

GENERASI 90

Tazoz. Tamagochi. Keluarga Cemara. Lupus Milenium. Saras 008. Wiro Sableng. Sailormoon. Power Rangers Mighty Morphin. Kalau disebutin satu-satu bakal panjang banget. Iya ‘kan Generasi 90-an? Hei, apakabar? Lagi sibuk kerja ya? Kuliah? Membina rumah tangga? Begitulah Generasi 90-an sekarang. Generasi fase awal banyak yang sudah menikah dan punya anak. Generasi fase tengah lagi sibuk berkarir. Generasi fase bungsu lagi kuliah. Begitu cepat waktu berlalu. Banyak yang kita rindukan dari waktu itu.
Ada sesuatu yang membuat Generasi 90-an baper mengingat kembali masa-masa itu. Pasti enggak sedikit Generasi 90-an yang tetap mengenang apapun dari masa itu. Ada satu kesamaan yang menyatukan walau berbeda usia. Kita generasi yang sama. Bersatu karena kesamaan pengelompokkan yang banyak orang bilang sebagai "generasi".
Tiga fase yang sekarang sedang dirasakan Generasi 90-an memang ada benarnya. Aku yang berada di fase tengah merasakan betul. Teman-teman seusiaku sekarang lagi sibuk berkarir. Sudah masanya Generasi 90-an fase tengah ini mengisi posisi di berbagai bidang. Pegawai bank, petugas pencatatan SIM, dan lain-lain, dan kawan-kawan. Ada juga yang sibuk menyelesaikan tesis, bahkan disertasi, skripsi juga ada sih, tapi fase tengah ini menjadi semacam gerbang menuju dunia nyata yang sebenarnya.
Lima atau enam tahun lalu, fase tengah sedang merasakan dunia baru menjadi mahasiswa. Katanya gerbang kedewasaan mulai terbuka karena memasuki dunia kuliah tanggung jawabnya enggak si simpel anak sekolah. Waktu itu Generasi 90-an fase awal sedang merasakan apa yang aku rasakan sekarang.
Lima tahun ke depan, fase tengah juga akan merasakan yang sekarang sedang dirasakan Generasi 90-an fase awal. Waktu enggak terasa akan cepat berputar.
Masa-masa produktif “yang masih hangat” memang baru dirasakan si fase tengah ini. Fase bungsu, bersiaplah.
Fase awal, fase tengah, fase bungsu, apa sih?
Oh iya, lupa menjelaskan. Fase awal, Generai 90-an awal, mereka yang lahir 1990-1992. Fase tengah, mereka yang lahir 1993-1995. Fase bungsu a.k.a terakhir, sisanya, ya kali makanan pakai ada sisa segala, mereka yang lahir 1996-1999. Ada yang bilang Generasi 90-an adalah mereka yang lahir rentang 1980-an sampai 1999. Aku menyebut Generasi 90-an untuk mereka yang memang lahir di era 90-an, 1990 – 1999. Mana yang benar? Google, please.
Setiap orang pasti akan merasakan “tanggung jawab” fase masing-masing. Selagi masih bisa menikmati fase yang sekarang, nikmatilah.
Jogja, 20.09.2017

Selasa, 19 September 2017

BLAK-BLAKAN

Kalau manusia punya kemampuan membaca pikiran dan isi hati seseorang, enggak masalah kalau enggak blak-blakan. Apa yang ada di pikiran kita belum tentu sama dengan isi pikiran orang lain. Satu-satunya cara menyatukan pikiranku dengan pikiranmu agar menjadi pikiran kita, ya dengan blak-blakan. Jangan cuma saling diam dan yakin realita akan sama dengan yang ada di pikiran masing-masing. Apa susahnya ngomong? Bukan sesuatu yang negatif 'kan?
Blak-blakan ini juga ada hubungannya dengan sikap saling mengingatkan. Orang bijak bilang, manusia adalah tempatnya lupa. Saling mengingatkan demi mengurangi lupa-lupa itu. Sayangnya ada yang punya prinsip, "Seharusnya dia sudah tahu apa yang menjadi tugasnya." Setiap orang memang memiliki prinsip yang berbeda, tapi masa iya hanya sekedar "saling mengingatkan", enggak mau sama sekali? Pada akhirnya justru berantakan kalau hanya diam dan tetap berprinsip "ah, seharusnya dia sudah tahu".
Blak-blakan kesannya tanpa tedeng aling-aling ya? Langsung jedhaaar enggak pakai basa-basi. Jadi gini... Blak-blakan artinya katakan apa yang seharusnya dikatakan. Tanyakan apa yang masih menimbulkan pertanyaan. Jangan berprinsip, "Ah, pasti dia sudah tahu." Halo? Kita enggak dianugerahi kemampuan membaca pikiran dan isi hati orang lain, remember?
Beda dengan peka yang akhirnya justru langsung bertanya. Kalau masih berprinsip "ah, pasti dia sudah tahu", sampai Raisa punya cucu juga enggak akan blak-blakan. Orang Jawa bilang, "Mung dibatin."
Kalau memang harus mengingatkan, ayo katakan. Kalau memang harus dipertanyakan, tanyakan. Jangan cuma berputar-putar dengan pikiran sendiri dan berharap orang lain bisa memahaminya. Kecuali kalau kita bicara dengan Jean Grey a.k.a Phoenix dari X-Men.
Kalau nanti ada error, ya wajar kalau masih mung dibatin itu, tapi jangan selalu "diwajarkan" sampai menjadi kebiasaan. Sesuatu yang buruk kok dibiasakan?
Jogja, 19.09.2017

Senin, 18 September 2017

TETAP SATU

Berbeda-beda tapi tetap satu jua. Pasti enggak asing sama slogan satu ini. Kita berbeda, tapi jangan sampai terpecah-belah. Rasanya merinding disko saat semua perbedaan bersatu dan saling mendukung, bukan saling menikung.
Sekarang banyak permasalahan yang terjadi di antara kita. Isu tentang ini, tentang itu, yang membuat "berbeda-beda tapi tetap satu jua" hanya menjadi sebuah slogan tanpa makna. Sebelum benar-benar pecah berantakan (jangan sampai ini terjadi), ayo satukan lagi. Jangan mudah terprovokasi oknum yang mengatasnamakan apalah itu. Memang enggak semudah membalik telapak tangan, tapi setiap usaha menuju kebaikan, pasti Tuhan berikan jalan.
Bagaimana caranya? Pertandingan olahraga. Sadar atau enggak, pertandingan satu ini bisa menyatukan kita tanpa melihat perbedaan. Satu tujuan memberikan dukungan yang sama. Khususnya untuk pertandingan olahraga antar negara. Kalau pertandingan olahraga antar kelurahan, ngng..
Sepakbola, voli, tinju, golf, baseball, dan lain-lain, dan kawan-kawan (dua terakhir enggak biasa ada di Indonesia sih). Lihat saja saat pertandingan olahraga antara Indonesia melawan Malaysia misal. Benar-benar bhineka tunggal ika. Sangat terasa. Merinding disko. Seandainya kita tetap bersatu-padu seperti ini dan seterusnya. Pasti kita akan menjadi kuat dan enggak gampang diaduk-aduk oknum enggak bertanggungjawab.
Kita enggak hidup sendiri. Wajar kalau ada perbedaan. Warna menjadi terlihat menarik karena ada banyak perbedaan 'kan? Ada merah, kuning, hijau, di langit yang biru. Kenapa harus mempermasalahkan perbedaan? Selama masih positif, kenapa yang berbeda harus dipaksa menjadi sama? Ingat loh berbeda-beda tapi tetap satu jua.
Memang pernah ada kasus perpecahan karena pertandingan olahraga. Ini sih mentalnya saja yang kerupuk kadaluarsa. Namanya juga pertandingan, pasti ada si pemenang dan ada yang terkalahkan. Menang, harus bersyukur. Kalah, enggak boleh tawur. Please! Jangan bar-bar. Kita hidup bukan di zaman Dinosaurus.
Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi eh bercerai kita runtuh. Slogan klasik tapi lagi-lagi berlaku sepanjang masa.
Jogja, 18.09.2017

Minggu, 17 September 2017

MERINDU RASA

Dulu membaca buku jadi kegiatan semanis cokelat. Sangat menyenangkan. Masih ingat banget waktu SD sangat antusias saat perpustakaan buka. Apalagi dulu perpustakaan SD-ku enggak setiap hari buka. Waktu SD juga, toko buku adalah "surga yang sangat dirindukan". Masa itu toko buku sekelas Gramedia memang enggak ada di daerahku, atau aku yang enggak tahu? Ingat juga waktu study club SMA ke Jogja dan pertama kali melihat toko buku Gramedia, wow.. I'm so excited! Rasanya pengen mampir, pengen beli buku, walaupun waktu itu enggak mampir sama sekali.
Apa sekarang kegiatan membaca masih senikmat dulu? Enggak. Apa karena gadget? Iya. Blak-blakan saja, gadget memang sangat memengaruhi kebiasaan membaca buku. Menghilangkan rasa semanis cokelat yang dulu pernah ada. Ah, rasa yang sekarang dirindukan.
Dulu membaca buku enggak bergantung penulisnya siapa, rekomendasi siapa, viral atau enggak. Merasa buku itu menarik, langsung dibaca dan tenggelam di dalamnya. Sekarang sangat berubah. Seperti waktu yang terus berputar dan berubah, rasa nikmat membaca sekarang juga berubah. Membaca buku dari penulis yang enggak dikenal, buku yang enggak viral, kok rasanya enggak ada greget sama sekali? Hambar.
Korban gadget? Ya. Setiap hari selalu gadget.. gadget.. gadget.. Sekarang buku enggak selalu dibawa ke mana-mana. Baru membaca beberapa halaman, tanpa sadar kantuk datang. Entah bukunya membosankan atau memang kenikmatan membaca buku sudah menguap? Bukunya memang membosankan sih.
Sehari berapa lembar membaca buku? Apa bisa membiasakan lagi kenikmatan itu? Tiap ada waktu luang bukan lagi dimanfaatkan untuk membaca buku, tapi membuka gadget, sibuk scroll layar empat inchi yang sebenarnya enggak penting. Sedih, tapi begitulah kenyataannya.
Kamu berubah, Gus. Kamu berubah.
Kegelisahan yang sama juga dirasakan beberapa teman. Kenikmatan yang dulu pernah ada, sekarang menghilang. Hanya menyisakan sedikit memori yang bisa sedikit mengingatkan, bukan menyalakan kembali rasa semanis cokelat saat membaca buku.
Ingin sekali kembali menjadikan book is my life. Saat menunggu, bukan lagi asyik dengan gadget, tapi dengan buku. Menyelami dunia di dalamnya seolah dunia itu benar-benar ada di depan mata.
Jangan bandingkan minat membaca buku kita dengan minat membaca buku negara seberang. Percayalah, setelah itu ada sedikit penyesalan karena sudah tahu satu fakta ini.
Bagaimana caranya membiasakan (lagi) membaca buku? Mulai (lagi) dengan buku-buku yang kita suka. Usahakan setiap hari harus ada aktivitas membaca buku, bukan membaca layar empat inchi. Cinta itu hadir karena terbiasa 'kan?
Jangan terlalu bergantung dengan gadget. Luang sebentar, buka gadget. Nunggu ojek online, buka gadget. Without gadget is no day. Sadar atau enggak, gadget justru menjadikan kita sebagai budak. Pelan-pelan gadget mengubah beberapa kebiasaan dan bahkan menghilangkannya.
Membaca buku adalah cara melatih theater of mind, melatih daya imajinasi. Pasti ada sepotong adegan yang berbeda saat satu orang dengan yang lain membaca satu buku yang persis sama.
Buku digital memang membanjir, tapi percayalah kenikmatan membaca buku fisik enggak akan terganti. Mungkin ada yang bilang kuno, tapi koran, majalah, buku (yang secara fisik memang ada) akan selalu menempati posisi pertama (yah.. sejujurnya hanya buat sebagian orang, bukan semuanya).
Aku lebih suka membaca buku fisik daripada membaca buku digital. Ada satu kenikmatan yang berbeda.
Sekarang, membaca buku fisik bukan lagi jadi sesuatu yang diprioritaskan. Bukan juga karena kesibukan yang rapat, tapi karena...
Ya, karena itu.
Jogja, 17.09.2017
© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis