Selasa, 21 November 2017

MUDIK

Apa yang terlintas di pikiranmu kalo ingat mudik? Lebaran? Macet? Info mudik di TV? Indonesia memang punya tradisi mudik, khususnya jelang hari raya. Enggak cuma waktu Lebaran, tapi Natal, Galungan, Waisak, bagi yang merayakan pasti bakal mudik, kumpul bareng keluarga besar, menikmati sukacita hari raya. Paling rame dan paling jadi sorotan memang mudik Lebaran. Langsung ingat momen Ramadhan, suasana stasiun yang rame, dan semua pernak-perniknya.
Tradisi mudik enggak cuma ada di Indonesia. China, Korea, India, Malaysia, bahkan Amerika juga kenal sama mudik. Dikutip dari 1001inspirasiramadhan.com, tradisi mudik di China biasa dilakuin waktu Imlek. Mirip mudik Lebaran di negara kita, masyarakat di China banyak yang pulang kampung a.k.a mudik, ngumpul sama keluarga waktu Imlek. Tetangga China, Korea, biasanya mudik pas hari libur resmi atau Chuseok yang dirayain meriah dan rame banget. Chuseok atau hari panen dilakuin di bulan ke-8, hari ke-15. Sama kayak mudik Lebaran di Indonesia, orang-orang di Korea kalo ingat Chuseok pasti langsung kebayang macet parah dan mudik (selain peringatan arwah leluhur).
Beda di India, mudik biasanya dilakuin pas Deepavali atau Festival Cahaya. Biasanya perayaan ini ada di bulan Oktober/ November dan bakal dirayain lima hari berturut-turut. Ingat bunyi petasan dan nyala kembang api pas malam Lebaran? Masyarakat di India yang merayakan Deepavali juga ngelakuin hal yang sama. Banyak petasan di sepanjang jalan dan rumah-rumah bakal meriah sama dekorasi penuh cahaya.
Mudik di Malaysia, negara yang satu rumpun sama negara kita, enggak jauh beda sama Indonesia kok. Tiap Lebaran, pasti mudik atau istilahnya balik kampung. Ada juga tradisi 'salam tempel'. Tradisi mudik di Malaysia ada dua, waktu Lebaran dan Imlek. Biasanya pas Imlek, banyak orang di Malaysia yang memanfaatkan waktu libur buat balik kampung.
Nah.. Amerika juga beda lagi nih. Bukan waktu Natal, tapi tradisi mudik di Amerika biasa dilakuin waktu Thanksgiving. Dikutip dari republika.co.id, Thanksgiving atau Hari Pengucapan Syukur dijadiin hari libur resmi. Banyak yang mudik dan ngumpul sama keluarga waktu Thanksgiving. Sama kayak di Indonesia, musim mudik di Amerika ini bikin stasiun dan bandara penuh! Satu yang khas dari Thanksgiving, daging kalkun. Semacam menu wajib kayak opor ayam waktu Lebaran.
Jadi kangen mudik ya? Lebih kangen mana, mudik atau ayang? Ayang? Ayang-nya siapa? Jomblo kok. Duh, Mblo...
Jogja, 21.11.2017

Senin, 20 November 2017

PIKIRAN

Kok enggak sedikit ya orang punya pikiran jelek? Negative thinking. Kenapa enggak berpikir yang positif? Curiga ini, curiga itu, emang perlu juga biar enggak kena jebakan Batman, tapi enggak juga always mikir negatif. Kayaknya hidup enggak tenang banget kalo apa-apa curigaan. Enggak seindah akhir dongeng Disney, tapi enggak ada salahnya buat menikmati keindahan hidup yang kita bikin sendiri, salah satunya kurang-kurangin mikir negatif.
Ada tiga ciri orang yang berpikir positif, dikutip dari tulisan Sam Edy di Kompasiana, pertama, masalah adalah tantangan, kedua, menikmati hidup apapun kondisinya, ketiga, terbuka menerima kritik dan saran dari orang lain. Apa kamu termasuk orang dengan ciri-ciri ini? Kalo iya, berarti... selamat! Kamu orang yang berpikir positif. Kalo ketiganya enggak ada yang cocok, gimana dong? Ayo diubah! Pasti bisa kok.
Berubahlah pelan-pelan dan nikmati. Mulai kurangi ngeluh tiap ngadepin apapun. Kalo enggak banyak ngeluh, hidup lebih indah. Jangan mengeluh dan jangan ngomongin orang.
Dipikir, kalo tiap ada masalah kita selalu ngeluh, bukannya cari solusi, ujung-ujungnya enggak bisa menikmati hidup, dan akhirnya enggak mau nerima masukan, saran, bahkan kritik dari orang lain. Jadilah pikiran negatif. Pikiran yang enggak sehat.
Hidup sebenarnya indah kalo kita enggak melulu mikir negatif. Waspada iya, tapi jangan jadi curiga yang keterusan. Nanti jadi kebiasaan. Akhirnya berlebihan.
Jogja, 20.11.2017

Minggu, 19 November 2017

PAGI ITU

Setiap waktu adalah kenangan yang bisa jadi bakal dikenang sampai kapan pun. Entah itu momen bahagia, sedih, marah, nyesek, dan lain-lain, dan sebangsanya. Hari ini, lebih tepatnya adalah pagi ini, jadi momen yang bakal terkenang sepanjang hidupku. Jadi gini...
Once upon a time...
Tadi pagi, aku kayak biasa pergi beli sarapan. Berjalanlah kakiku menuju satu minimarket di ujung jalan. Sekalian olahraga. Jarak dekat, enggak usah pake motor. Aku enggak ada feeling apa-apa. Jogja jam 6 pagi kayak pagi-pagi biasanya. Aku jalan santai dan sesekali main smartphone (don't try this at home ya).
Aku lihat dari jauh, cowok telanjang dada, cuma pake kolor, jalan sendirian. Oh, lagi olahraga. Aku tetap jalan santai. Enggak ada firasat apapun. Enggak menyadari di depanku adalah musibah. Begitu aku dan cowok itu cukup dekat, aku lihat tatapan mata dan ekspresinya. Kok kayak bukan orang waras? Apa dia gila? Dia kelihatan bersih. Enggak dekil kayak orang gila. Bahkan tubuhnya cukup berotot. Ada gurat enam kotak di perutnya (kenapa sempat-sempatnya aku fokus sama yang satu ini?).
Dia, cowok itu, menghalangi jalanku. Aku ke kanan, dia ke kanan. Aku ke kiri, dia ikut ke kiri. Aku sempat senyum sekilas, biasalah senyum basa-basi, tapi sepertinya ada yang enggak beres. Aku merasa ada sesuatu yang enggak baik waktu itu.
Segera, tanpa komando, aku berbalik arah. Aku harus balik ke kost. Cowok itu ngikutin. Sesekali dia teriak, "Hei.. hei.." Aku enggak peduli, tapi ekor mataku sekilas melihat ke arahnya. Dia mengikutiku! Mending ikuti media sosialku aja sana! Aku harus ke tempat ramai. Enggak jauh, ada kedai bubur ayam. Aku harus ke tempat ramai. Secepatnya!
Sebelum aku benar-benar sampai di kedai bubur ayam, cowok itu langsung memepetku. Dia meracau tapi sempat bilang, "Mau ke Pogung.. Pogung.."
Aku ajak dia komunikasi, "Mau ke mana, Mas? Pogung masih lurus. Ada yang bisa aku bantu, Mas?" Dia meracau lagi dan bukkk! Satu bogem mentah mendarat di mukaku. Masih beruntung, aku enggak sendirian di lokasi. Ada orang lain, bapak-bapak di kedai bubur ayam mungkin, yang segera menarikku, mengamankanku, setelah aku bilang, "Pak.. tolong, Pak.."
Orang-orang mendekat. Bertanya ada apa, termasuk nanya ke cowok itu. Sempat ada keributan. Ada yang jatuh. Aku tau orang itu! Orang yang enggak aku tau namanya, tapi aku tau dia. Tau sosoknya. Suasana mulai ribut. Aku masih menutup wajahku yang jadi sasaran bogem mentah. Berdarah! Ada darah! Aku sempat berharap ada yang mengobati lukaku. Ngasih tisu atau apalah. Fokus semua orang tersedot ke cowok itu. Aku memilih langsung balik ke kost. Luka dan darah... Apa aku harus langsung konsultasi ke dokter?
Ada luka di bawah mata kananku. Semacam lecet. Aku merasa sangat bersyukur karena mata kananku masih selamat. Alhamdulillah... Aku butuh plester luka! Ibu Kost sigap membantuku begitu lihat luka di bawah mata kananku. Satu plester luka berhasil menutup lecet. Aku enggak berpikir macam-macam, apalagi lapor polisi. Pasti bakal sembuh beberapa hari. Bukan sesuatu yang mengkhawatirkan. Aku belum tau, nantinya lecet ini bukan sekedar lecet yang cukup ditutup dengan plester luka.
Cowok itu berhasil diamankan. Polisi datang sekian menit setelahnya, setengah jam mungkin. Aku ikut ke Polres Sleman sebagai saksi sekaligus korban. Aku (masih) enggak kepikiran lapor polisi. Cuma lecet ini. Aku dimintai keterangan, kronologi kejadian, sedetail mungkin. Aku ceritakan semuanya, tanpa dilebih-lebihkan. Aku bercerita apa adanya. Enggak juga memanfaatkan kesempatan buat apa.. gitu. Aku menceritakan real yang terjadi padaku.
Polisi bilang, kalo enggak ada laporan, cowok itu bakal dilepas, cepat atau lambat. Setelah berpikir begini dan begitu, aku setuju membuat laporan. Cowok itu harus dikasih hukuman biar jera. Meresahkan orang lain! Meresahkan hati?
Polisi butuh visum buat melengkapi laporan. Aku harus konsultasi ke dokter demi visum. Ternyata memang bukan sekedar lecet yang bisa ditutup dengan selembar plester luka. Robek. Ada dua jahitan. Hasil bogem mentah ini menciptakan luka separah ini?
Banyak yang mengaitkan kejadian ini dengan rasisme. Cowok itu memang salah, tapi tolong jangan rasis! Jangan menyamaratakan. Setelah lukaku dijahit, ditutup perban kecil, orang-orang mulai menanyakan pertanyaan yang sama. "Kenapa?" Seperti kaset yang memutarkan rekaman, aku juga menjawab pertanyaan yang sama, ke sekian kalinya.
Aku sempat berpikir, seandainya aku punya kekuatan macam Storm dari X-Men, aku bisa... Ah, sudahlah.
Selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Selalu ada kenangan yang bisa dikenang bahkan selamanya.
Jogja, 19.11.2017

Sabtu, 18 November 2017

BALADA

Kayak gimana rasanya punya kakak ya? Rasanya punya adik kayak apa sih? Pertanyaan yang pasti pernah melintas buat kamu yang enggak punya kakak atau enggak punya adik. Pengen tau rasanya gimana? Ya.. begitu rasanya. Punya kakak atau adik yang jelas bikin rumah enggak sepi. Drama, jelas ada. Biasalah kakak-adik. Pasti ada momen enggak akur. Apalagi yang jarak usianya enggak terlalu jauh. Bisa-bisa akur lima menit, berantem lima jam.
Bersyukur bisa punya adik, walau enggak punya kakak. Anak sulung harus begini nih. Bersyukur juga bisa punya kakak, wahai Anak Bungsu, walau enggak punya adik. Masing-masing punya peran. Kakak harus mengayomi adiknya. Ngasih contoh yang baik. Bahkan bisa jadi sosok ayah/ ibu kedua. Adik juga harus nurut sama kakaknya, sama kayak nurut sama ayah-ibunya, selama itu hal baik. Jangan terlalu manja walau keluarga justru memperlakukan sebaliknya (anak bungsu, apalagi~, biasanya lebih dimanja). Buktikan jadi adik juga bisa mandiri.
Kalo ada ribut-ribut, wajar, tapi jangan keterusan dan akhirnya jadi perang dingin. Enggak enak banget kalo marahan sama kakak/ adik. Diem-dieman tapi saling lirik, saling tatap, dengan rasa yang enggak ngenakin banget. Asli! Semoga bisa tetap kompak dan solid sama kakak/ adik ya, walau ada berantem-berantem juga. Pasti pernah ngerasain 'kan, lagi dekat ribut mulu, giliran jauhan jadi kangen. Begitulah brotherhood/ sisterhood. Enggak bisa benar-benar membenci walau kadang bikin kesel.
Aku punya dua adik. Sama-sama lagi memasuki masa remaja. Sedikit-banyak aku harus memahami mereka. Berasa psikolog. Terlebih, aku sebagai anak sulung, anak tertua, semacam jadi ayah buat adik-adikku. Bukan ayah, tapi figur yang bisa mengendalikan, mirip-mirip sama kuasa ayah begitulah.
Sekarang aku masih merasa belum sepenuhnya sadar sebagai anak sulung, anak tertua. Aku masih belum paham betul posisiku. Ayolah bersikap selayaknya seorang kakak. Aku justru pengen punya kakak. Kakak ketemu gede? Butuh waktu. Butuh proses. Secara logika, sepertinya aku memang enggak sadar diri sebagai kakak yang seharusnya bisa memposisikan diri. Mungkin tanpa aku sadari, sikap-sikap seorang kakak justru udah aku lakukan. Tanpa merasa terbebani ini-itu.
Kalo merasa hopeless sama kelakuan adik, padahal kamu sebagai anak sulung, sebagai kakak, harus bisa ngemong dan bisa mengendalikan (tanggung jawab yang besar, Bro, Sis), coba ingat-ingat orang lain yang punya adik lebih banyak dari kamu. Youtuber Atta Halilintar punya 10 adik. Bayangkan se-pu-luh! Jadi anak tertua, apa yang harus dilakukan buat ngadepin sepuluh adik?
Jangan merasa paling hopeless kalo adik bertingkah ini-itu. Yang lebih dan lebih dari ini, banyak.
Jogja, 18.11.2017

Jumat, 17 November 2017

KETIKA OJOL DATANG

Ojek online a.k.a ojol ada di Kebumen? Wow! Beneran, ojol ada di Kebumen? Pernah kepikiran, kalo ojek online ada di kota kecil Kebumen. Bakal kayak gimana ya? Pemandangan driver berjaket dan ber-helm hijau udah sangat biasa di kota besar, Jakarta atau Jogja, misal, tapi di kota kecil? Menarik juga.
Apa bakal efektif ojol di kota kecil? Banyak pro dan kontra tentang ojol yang mulai masuk ke Kebumen. Aku mendukung ojol ada di Kebumen, cuma... masih setengah enggak percaya, ojol bakal ada di Kebumen. Ini.. ini bukan mimpi 'kan? Semacam 'wow amazing' ojol yang biasanya sliweran di kota besar, sekarang mulai datang ke kota-kota kecil.
Menurutku perlu juga inovasi yang banyak di kota besar, diterapin juga di kota kecil. Semua berhak merasakan, termasuk kehadiran ojol di Kebumen. Nanti aku pasti coba nge-ojol di Kebumen, kota tempatku besar dan bertumbuh sampai jadi ganteng kayak sekarang.
Baca infonya di infokebumen.com yang dikutip dari sorot.co, ojol yang masuk ke Kebumen adalah Grab. Udah ada audiensi antara Perwakilan Grab Indonesia dengan Bupati Kebumen. Nantinya di Kebumen bakal ada Grab Car, Grab Taxi, dan Grab Bike. Bupati Kebumen oke-oke aja Grab masuk ke Kebumen, cuma dengan syarat harus solid sama ojek konvensional. Kalo perlu dirangkul ojek konvensional biar enggak kejadian tuh demo-demo apalagi perselisihan antara ojol dan ojek konvensional. Please jangan terjadi di Kebumenku tercinta!
Grab masuk ke Kebumen bukan tanpa alasan, tapi karena banyak permintaan dari media sosial. Kapan Grab resmi ada di Kebumen? As soon as possible. Semoga dilancarkan. Amiiin. Aku sangat-sangat mendukung ojol ada di Kebumen. Beberapa netizen ada yang pro dan kontra tentang Grab yang bakal ada di Kota Lawet. Kata @hudagaga di Twitter, "Wah belum apa2 kok pesimis, grab ada juga lebih memudahkan wisatawan buat liburan ke Kebumen kan? Masih pesimis lagikah dengan pertanyaan, pelancong ke Kebumen kan masih dikit? Gitu! 2017 hidup jangan pesimis say!" Aku sepakat sama pernyataan ini. Bakal kayak gimana ya ke depannya? Yakin nih ojol bakal bermanfaat di Kebumen? Hey, ayo dong positive thinking! Belum juga dijalanin udah mikir ono-ini.
Beda lagi kata @edisetiawan4646 di Twitter, "Kalau menurut saya sih gausah,nanti pada rame-rame jadi driver, ntar yg jadi petani siapa?" Berbeda pendapat enggak masalah, asal kita tetap satu. Bhineka Tunggal Ika, termasuk kalo ada perbedaan pendapat.
Ojol masuk Kebumen, bukti salah satu kemajuan. Pasti bakal ada kemajuan-kemajuan lain yang siap berdatangan. Bersiaplah!
Jogja, 17.11.2017

Kamis, 16 November 2017

MENGENANG

Hei, apa kamu Generasi 90-an? Masih ingat tagline "Teman Bermain dan Belajar" enggak? Mungkin enggak sedikit yang nanya balik, "Tagline apaan tuh?" Sebaliknya kalo ditanya, "Tau Majalah Bobo enggak?" Bisa jadi banyak yang bilang, "Oo.. iya, majalah yang itu..." "Wah.. jadi kangen waktu SD." Majalah Bobo jadi bagian dari masa kecilku yang menyenangkan. Aku bersyukur bisa menikmati masa kecil selayaknya anak-anak. Kegalauan cuma PR Matematika. Sore-sore main petak umpet, lari-larian, bareng teman-teman sampai teriakan, "Pulang! Mandi dulu!" membubarkan permainan.
Aku masih ingat, tiap Kamis pasti excited karena hari itu Majalah Bobo terbit. Dulu aku langganan Majalah Bobo bukan di toko buku, karena enggak ada, tapi di lapak majalah kecil yang isinya tiga-empat majalah dan tabloid, salah satunya Majalah Bobo. Sepanjang yang aku ingat, aku langganan (eceran) Majalah Bobo mulai harga Rp 5000, naik jadi Rp 7000, sekarang Rp 13.000 ribu kalo enggak salah. Terakhir beli Majalah Bobo waktu harganya masih Rp 7000.
Demi bisa beli Majalah Bobo, waktu itu aku nabung sendiri (uang dari Mamah juga). Lebih semangat lagi kalo ada bonus dari Majalah Bobo. Rasanya istimewa banget!
Kids zaman now juga masih bisa menikmati Majalah Bobo. Tetap ada dariu generasi ke generasi. Banyak hal positif yang bisa diambil dari majalah anah-anak ini. Mempelajari sesuatu dengan cara yang menyenangkan, tanpa harus merasa digurui.
Majalah Bobo enggak akan pernah terganti. Selalu ada dalam kenangan. Sampai kapan pun.
Jogja, 16.11.2017

Rabu, 15 November 2017

GEPENG

Gepeng. Gelandangan dan pengemis. Pemandangan yang biasa kita lihat, terutama di daerah perkotaan. Di tengah hiruk-pikuk gemerlap bangunan-bangunan megah dan orang-orang yang terlihat berkelas, ada satu di antara mereka yang justru terlihat sebaliknya. Satu tapi punya akar di mana-mana. Panjang dan terus bertumbuh. Kesenjangan sosial, apalagi di perkotaan, memang sangat jelas terlihat dan dirasakan. Setiap tempat makan, enggak jarang ada pengemis yang datang. Entah mereka benar-benar hopeless dan akhirnya hanya menengadahkan tangan atau karena mereka pemalas, pengemis dari berbagai penampilan banyak bersliweran di kota-kota besar, tempat makan, lampu-lampu merah.
Rasanya sedih, miris, kenapa mereka bisa begitu? Pernah baca di satu koran, ada pengemis yang memang benar-benar mengemis karena enggak punya pilihan lain. Kakinya, maaf, cacat. Merasa enggak ada pilihan yang lebih baik, sementara dia butuh makan untuk hidup, jalan jadi pengemislah yang dipilih. Enggak sedikit juga yang justru berpura-pura cacat demi belas kasihan orang-orang. Ada satu kejadian di Bandung, kalo enggak salah, pengemis cacat fisik yang ternyata ketahuan cuma modus. Miris 'kan? Pengen marah, pengen menghujat, pengen merutuk orang semacam ini.
Lebih miris lagi, pengemis yang justru secara finansial bisa dikatakan kelas menengah ke atas. Ada satu kejadian juga, sebenarnya enggak sedikit kejadian kayak gini, pengemis yang pegang uang tunai puluhan juta dari hasil mengemis. Bayangkan! Puluhan juta dari hasil meminta-minta. Mungkin, awalnya pengemis ini benar-benar hopeless. Lama-lama kelamaan menikmati dan akhirnya keterusan dan jadilah keseharian. Profesi pengemis bahkan ada yang dicantumkan di KTP. Istilahnya... duh, aku lupa, pake Bahasa Jawa, yang artinya kurang lebih "menengadahkan tangan", meminta-minta.
Pengemis yang seperti ini harus kita apakan? Apa kita seolah-olah enggak tau kedatangan mereka dengan pakaian lusuh dan wajah memelas? Simpatimu di mana? Mereka orang kecil. Ayolah dibantu. Mengikhlaskan seribu rupiah dari dompetmu enggak akan membuatmu miskin. Tunggu dulu. Kita ingin membantu mereka? Bukan begini caranya. Kita ngasih uang sama pengemis, sama kayak kita ngasih ikan sama kucing. Kalo kita bisa ngasih tau cara mendapatkan ikan, ini cara yang lebih baik. Kita enggak perlu ngasih ikan terus-terusan. Si kucing bisa berusaha sendiri.
Pengemis bukan kucing. Pengemis itu manusia, bukan hewan. Kalo kita kasih tau cara mendapatkan ikan, pengemis pasti bisa mengikuti cara yang kita arahkan. Mereka bisa berusaha, bukan hanya sekedar meminta-minta. Enggak cuma bermalas-malasan. Mungkin ini terdengar kejam ya. Simpatimu di mana? Empatimu di mana? Dasar manusia enggak punya perasaan!
Peraturan dari Pemerintah jelas tertulis, dikutip dari sosial.bantulkab.go.id, sesuai Perda Nomor 1 Tahun 2014, gepeng (gelandangan dan pengemis) perorangan akan dikenai pidana 6 minggu atau denda Rp 10 juta, pemberi uang atau barang akan dikenai pidana 10 hari atau denda Rp 1 Juta, dan gepeng berkelompok akan dikenai pidana 3 bulan atau denda Rp 50 juta. Memperalat orang lain dikenai pidanan 1 tahun dan denda Rp 50 juta, mendatangkan gepeng dipidana satu tahun atau denda Rp 50 juta dan mengkoordinir gepeng dipidana 6 bulan atau denda Rp 40 juta.
See? Cara kita menyalurkan simpati dan empati bukan dengan memberikan seribu rupiah, tapi kita harus memberikan cara agar mereka, gelandangan dan pengemis, tau cara mendapatkan seribu rupiah. Tau di mana ladang untuk menggali seribu rupiah itu. 
Mungkin mereka memang tau caranya, tapi malas berusaha. Salah siapa? Salahkan saja si kambing hitam.
Jogja, 15.11.2017

Selasa, 14 November 2017

TENTANG TRANS JOGJA

Terakhir naik Trans Jogja? Wah.. sudah sangat lama. Duluuu sekali. Setelah sekian tahun, pengen naik Trans Jogja (lagi). Semacam kangen. Eh, sebenarnya terakhir naik Trans Jogja enggak dulu banget ding. Terakhir itu beberapa bulan kemarin waktu armada Trans Jogja yang baru mulai beroperasi. Sebelum ada penambahan, kondisi fisik Trans Jogja sungguh menyedihkan. Aku ingat terakhir kali naik Trans Jogja, suasana di dalam Trans Jogja creepy banget. Beberapa lampu ada yang mati. Pintu enggak menutup sempurna. Apalagi aku naik Trans Jogja pas malam. Tambah creepy.
FYI, buat kamu yang bertanya-tanya apa itu Trans Jogja, ada sekilas penjelasannya nih. Trans Jogja itu transportasi umum yang pertama kali ada di Jogja tahun 2008. Sistemnya sama banget kayak Trans Jakarta di Jakarta dan Batik Solo Trans di Solo. Kita enggak bisa naik Trans Jogja seenak makan ayam geprek. Harus datang ke shelter dulu, bayar (harga tiketnya muraaah banget), siap-siap nunggu Trans Jogja datang.
Trans Jogja juga punya beberapa jalur. Ada 1A, 1B, 2A, 2B, 3A, 3B, dan lain-lain, dan kawan-kawan. Pertama kali aku stay di Jogja, jalur 4B kalo enggak salah, masih ada, tapi sekarang enggak. Aku enggak hafal jalur-jalur Trans Jogja (salut buat para petugas Trans Jogja yang hafal semua rute yang banyak itu) karena enggak sering pake transportasi ini. Lebih sering pake motor sendiri. Bukan karena enggak nyaman atau apa, tapi demi efisien waktu.
Tentang kenyamanan, Trans Jogja nyaman banget kok. Waktu kondisi fisik Trans Jogja mulai jelek, rasanya bikin sedih. Kok Pemerintah enggak gercep? Sekarang Trans Jogja, alhamdulillah, banyak yang baru. Enggak ada lagi kesan creepy, enggak ada lagi lampu yang mati, bahkan asap knalpot Trans Jogja enggak lagi hitam pekat. Lebih well gitu, Bro, Sis.
Trans Jogja sayangnya enggak punya jalur sendiri kayak Trans Jakarta. Enggak efisien waktu karena berbagi jalan sama kendaraan lain yang jumlahnya makin banyak. Enaknya Trans Jogja sih, karena murah dan nyaman. Full AC loh. Enggak bakal kepanasan. Kalo enggak dapat tempat duduk, ada pegangan yang menggantung. Enggak masalah juga kalo berdiri. Walau jalur Trans Jogja berputar-putar, tapi kalo punya jalur sendiri, pasti bisa sampe lebih cepat. Aku pasti bakal pilih naik Trans Jogja dibanding naik ojek online kalo lagi males bawa motor sendiri.
Aku pernah naik Trans Jogja yang seharusnya sampai di tujuan 15 menit naik motor, jadi hampir sejam. Iya, hampir sejam. Harus berangkat dua jam lebih awal kalo enggak mau telat datang ke suatu tempat. Enggak bisa tuh, kalo naik Trans Jogja, berangkatnya mepet-mepet waktu acara. Pasti bakal telat. Bisa jadi sangat telat!
Oh iya, ukuran bus Trans Jogja enggak sebesar Trans Jakarta. Ukuran bus sedang gitu. Enggak terlalu besar, enggak juga terlalu kecil. Tiket Trans Jogja juga ada dua pilihan, tiket single trip/ sekali jalan dan tiket berlangganan, biasanya pake kartu khusus gitu yang isinya saldo buat naik Trans Jogja. Kalo pake tiket berlangganan, bakal dapat diskon sekian persen, jelas lebih murah dibanding tiket single trip.
Trans Jogja bisa jadi alternatif transportasi umum yang nyaman dan murah. Sekali naik, bisa loh keliling Kota Jogja dan sekitarnya. Aku pernah nyobain. Asal belum keluar dari shelter, satu kali bayar bisa puaaas keliling kota. Murah pula.
Jogja, 14.11.2017

Senin, 13 November 2017

ANAK KOST DAN MIE INSTAN

Banyak yang bilang, anak kost identik mie instan. Murah, dapat banyak, enak (selamat datang Generasi Micin! :D). Aku anak kost, bahkan sejak SMA. Sampai sekarang, menjelang masa-masa akhir jadi mahasiswa Strata 1, aku juga masih jadi anak kost. Aku justru enggak identik mie instan. Sekere-kerenya, aku enggak kepikiran beli mie instan. Bukan, bukan karena aku horang kaya atau sok-sok gimana, tapi emang dari dulu aku enggak menjadikan mie instan sebagai prioritas makan. Apalagi sejak pola makanku berubah (demi atletis yang aku impikan), jangankan mie instan, nasi putih aja bukan lagi prioritasku.
Mie instan bagiku kayak selingan makan. Aku pernah pengen banget makan mie instan. Udah lama enggak makan mie instan, kangen juga. Aku waktu itu pengen mie goreng. Langsung deh mampir Burjo terdekat, pesan mie goreng, dua bungkus sekaligus! Saking kangennya. Begitulah mie instan. Satu bungkus, masih kurang. Dua bungkus, rasanya kekenyangan. Kentang banget 'kan? Ayo yang sepakat, anggukan kepalamu. :D
Aku lebih memilih biskuit daripada mie instan. Enggak salah kok, menjadikan mie instan sebagai makanan utama anak kost-an. Cuma, karena aku enggak begitu, rasanya enggak sreg aja sama istilah 'anak kost identik mie instan'. Iya identik, tapi enggak semua.
Kalo terus-terusan makan mie instan, jelas enggak sehat. Sama juga kalo terus-terusan makan biskuit, pasti ada efek enggak baik buat tubuh. Yuk jadi anak kost yang peduli kesehatan. Enggak harus mahal kok. Ngebayanginnya kayak mahal, tapi yang murah juga ada. Ada banget. Misal, waktu kita bikin mie instan, kasih sayuran lumayan banyak. Kasih potongan wortel juga. Sedap 'kan? Dan murah.
Sebaiknya intensitas makan mie instan jangan terlalu sering. Mie instan itu butuh waktu beberapa hari loh buat benar-benar dicerna. Butuh ekstra kerja juga nih buat sistem pencernaan. Kebayang 'kan kalo tiap hari kita makan mie instan? Apalagi kalo tiga kali makan, tiga kali juga makan mie instan. Iya sih, gampang, praktis, dan murah, tapi jangan tiap hari juga.
Anak kost 'kan enggak tiap hari kantongnya merana. Waktu kantong masih bahagia, ada baiknya kita manfaatkan buat makan-makanan yang lebih sehat. Enggak cuma sekedar mie instan. Bukan berarti juga jor-joran makan loh. Mentang-mentang tanggal muda, sarapan Nasi Opor, makan siang Gulai Kambing, makan malam Nasi Padang. Makanan-makanan ini emang bukan makanan yang mahal banget (yang lebih mahal, banyak) tapi buat anak kost, makanan kayak ini termasuk daftar menu di awal bulan.
Eh, anak kost bukan cuma mahasiswa loh. Anak kost yang finansialnya terbatas, kalo bilang mahasiswa yang finansialnya terbatas, ya.. masih wajar, tapi kalo anak kost secara umum, hmm.. berarti tergantung manajemen keuangan masing-masing.
Mahasiswa atau bukan, anak kost yang peduli kesehatan, two thumbs up! Mending nabung uang buat masa depan, daripada nabung penyakit karena kita jadi anak kost yang enggak peduli kesehatan. Amit-amit!
Jogja, 13.11.2017

Minggu, 12 November 2017

TAKMIR

Jadi takmir a.k.a marbot menurutku keren. Gimana enggak? Mereka harus rajin bersih-bersih dan enggak boleh malas. Punya tugas adzan dan iqomah di tiap waktu sholat. Bonus, sholat di awal waktu. Keren 'kan? Aku kenal istilah takmir dan belum lama kenal juga sama istilah marbot (padahal artinya sama), ya.. di Jogja ini. Teman kampusku ada yang jadi takmir. Selain dapat tempat tinggal gratis, dibayar pula. Plus-plus banget kalo jadi takmir, tapi enggak semua orang (terutama cowok, eh.. emang ada takmir cewek?) mau jadi takmir a.k.a marbot, termasuk aku. Kenapa enggak mau?
Karena aku enggak ada keinginan buat jadi takmir. Enggak kepikiran juga. Punya pilihan lain, aku memilih kost. Eh.. tapi kayaknya dulu, pertama kali tinggal di Jogja dan sibuk nyari kost-an, kalo enggak salah aku hampir jadi takmir. Teman SMA-ku ada yang jadi takmir. Pertama kali tinggal di Jogja, temanku itu langsung memilih jadi takmir. Aku enggak begitu ingat momen ini, tapi kayaknya karena enggak lama setelah dapat tawaran itu, aku dapat info kamar kost-an kosong dari teman SMA-ku yang lain. Kayaknya. Lupa-lupa ingat.
Takmir biasanya selain mengurus kebersihan masjid, juga jadi pengajar TPA a.k.a Taman Pendidikan Al-Qur'an. Lihat mas-mas dan mbak-mbak yang akrab sama anak-anak, wow sekali! Dulu pernah jadi pengajar TPA waktu KKN, tapi cuma dua bulan kurang-lebih. Itu juga karena KKN. Kalo enggak, kayaknya enggak jadi pengajar TPA juga.
Aku pernah sholat di satu masjid yang suasananya berasa suram dan sepi. Bangunannya emang enggak terlalu besar, tapi tampilannya terkesan tua, perlu renovasi, perlu make over. Mungkin itu yang bikin kesan suram dan sepi. Awalnya aku enggak 'ngeh' takmir masjidnya di mana. Waktu itu udah masuk sholat dzuhur, tapi  yang seharusnya udah adzan, belum adzan juga. Apa masjid ini enggak ada takmir? Enggak lama, kekhawatiranku enggak terbukti. Takmirnya ada kok. Masjid di lain tempat, udah adzan sekian menit lalu, tapi satu masjid ini baru adzan. Sedikit lebih lama memulai adzan dibanding masjid yang lain.
Kalo ada masjid yang kurang terawat, bahkan lebih parah, apa karena takmir? Enggak becus menjalankan tugas? Bisa jadi karena enggak ada kas buat merawat masjid. Mungkin kas terlalu pas buat kebutuhan operasional lain. Biaya perawatan, terpaksa skip. Kas masjid dari infaq, aku pikir bakal digunain buat bantu orang-orang miskin dan dhuafa. Kas masjid ini dipake buat menghidupkan masjid. Enggak cuma buat kebersihan dkk, tapi juga bikin acara buat lebih menghidupkan masjid.
Pernah dengar, pengelolaan kas masjid dibilang berhasil kalo bisa memanfaatkan semua nominal sampai bahkan enggak bersisa. Buat acara, perawatan, semakin memeriahkan masjid. Kalo kas terus dibiarkan menumpuk, padahal perawatan masjid sangat diperlukan, ada yang bilang, ini termasuk kegagalan mengelola kas masjid.
Berarti bisa jadi bukan karena takmir yang enggak becus, tapi karena kas yang emang enggak memungkinkan buat melakukan perawatan lebih. Sedih rasanya lihat masjid yang kurang terawat dan jadi berasa sepi karenanya.
Masjid yang megah bukan karena pengen berlomba dalam kemewahan tapi demi menghidupkan masjid itu sendiri. Pasti bikin nyaman 'kan? Akhirnya pasti betah berlama-lama. Masjid jadi enggak berasa sepi. Sempat kepikiran juga, buat apa masjid semakin mewah? Apa enggak menyalahi aturan? Sekarang aku enggak berpikir begitu lagi, tapi kemegahan-kemegahan masjid itu salah satunya juga buat kenyamanan jama'ah, kenyamanan kita.
Takmir di masjid yang megah dan besaaar, pasti enggak main-main. Pasti ada lebih dari satu.
Jogja, 12.11.2017
© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis