Senin, 10 Juli 2017

AKU PULANG

Halo...
Assalamu'alaikum...
Ohayou...

Lama enggak 'pulang' ke rumah virtual. Terakhir, awal tahun ini. (jangan kaget) Enggak sadar udah selama itu aku enggak 'pulang'. (tapi tenang, rekor enggak pulang-pulang masih tetap dipegang Bang Toyib kok) Beberapa waktu kemarin sempat pengen bikin web berbayar. Setelah nanya teman, disaranin kalo cuma buat jurnal harian (kayak gini ini) mending yang gratisan.

Rada mikir...

Iya juga ya. Web gratisan ini aja jarang dirawat, apalagi kalo web berbayar mengalami nasib yang sama. Tidaaak! Eits, ada tapi-nya nih. Kalo web berbayar, 'kan punya motivasi buat merawat rumah virtual. Secara, bayar gitu. Sayang 'kan kalo dianggurin kayak web gratisan?

Alasan ngilangin 'blogspot'? Ya biar menjual. Yap! bagusadisatya.com lebih menjual 'kan? Bisa bener-bener jadi blogger nih. :) Satu yang jadi masalah: kontinuitas. Konten, enggak terlalu membebani. Banyak konten yang bisa di-explore, tapi kontinyu-nya itu yang... PR banget. Waktu itu pernah kontinyu 'pulang' ke rumah virtual gegara ada project 30 Hari Menulis Cinta. Sayangnya, masuk hari ke-20, (apa 17 ya?) macet! Enggak ngerti lagi musti 'pulang' bawa apa. Akhirnya justru merasa 'muter-muter'. Enggak jelas arah konten mau dibawa ke mana.

Sekarang baru 'ngeh' kenapa waktu itu macet dan merasa kehabisan konten. Padahal konten bisa digali dari berbagai sudut loh. Tema. Ini yang bikin konten kehilangan arah. Enggak ada tema, random nulis, akhirnya justru kebingungan. Tema besar sebenarnya ada. Cerita tentang kehidupan (bahasa kekiniannya curhat), tapi kalo sekedar 'cerita tentang kehidupan' tanpa makna dan tujuan yang jelas, akhirnya berasa 'muter-muter'.

Raditya Dika bisa kontinyu di rumah virtualnya karena jelas mau ngasih konten apaan. Sama-sama cerita tentang kehidupan tapi arahnya jelas. Paham?

Sekarang mau memulai lagi dari awal? Pengen.

Kapan dimulai?

Jogja, 10.07.2017

Senin, 02 Januari 2017

2017: BE NICE TO ME

Rasanya biasa aja tuh 2017. Malam pergantian tahun juga enggak ke mana-mana. Males juga. Macet di jalan, Bro. Pagi pertama di 2017, ya kayak pagi sebelum-sebelumnya. Siaran, tetep siaran. Kuliah, hmm.. skripsi, juga (akan) jalan. Apalagi ya? Nge-gym, jalan juga. Pola hidup sehat, masih tetep. Terus apa yang baru? Apa yang beda?

Nambah tahun justru bikin takut. 2016 kemarin benar-benar ada di zona nyaman. Tahun ini saatnya mengakhiri zona nyaman dan berjuang. Sempat kepikiran juga enggak pengen waktu berganti karena pengen menikmati zona nyaman ini lebih lama.

Oke, karena enggak mau jadi orang yang merugi, 2017 ini ada yang baru kok. Ada... tapi enggak disadari. Pokoknya ada. Sama kayak yang lain, 2017 ini juga pengen lebih baik. Semuanya. Be nice to me! Lancar semuanya, oke semua, baik semua. Skripsi selesai 2017, peluang-peluang baru berdatangan, dan banyak kejutan baik yang nunggu di 2017.

Selain skripsi yang jadi prioritas (semangat!) di 2017, siapa tau tahun ini bakal nikah? Hmm.. Allah SWT selalu punya kejutan baik.[]

Jogja, 2.1.2017

Selasa, 25 Oktober 2016

HATI-HATI BERKATA-KATA


Awas loh, bisa-bisa jatuh karena enggak hati-hati. Kayak gini tuh memang perlu banget diterapin dalam berbagai hal. Menjaga bukannya lebih baik? Berhati-hati artinya menjaga. Satu yang perlu diingat adalah hati-hati dengan setiap kata yang sudah keluar dari mulut. Sekali keluar, enggak bisa ditangkap lagi. Perlu ada filter diri-sendiri sebelum berkata-kata.

Apapun dan di mana pun. Enggak sedikit yang begitu bebasnya berkata di sosial media dengan alasan kebebasan berpendapat. Baiklah memang boleh bebas berpendapat, bebas berkata, tapi kata-katanya harus bisa dipertanggungjawabkan. Siap?

Seorang teman pernah bilang, apapun kata-kata yang keluar dari mulut kita, harus siap resikonya. Mau komentar apapun silakan, asal siap dengan konsekuensinya. Kata-kata yang baik pasti akan ngasih efek yang sama baik. Begitu juga sebaliknya.

Buat yang suka asal berkata (nyinyir dsb, dkk), salah satunya lewat sosial media, sebaiknya memang belajar mengendalikan setiap kata-kata. Jangan sampai justru jadi boomerang buat diri-sendiri. Ada kok yang mengalami shock therapy karena kata-kata yang enggak dijaga. Paling sering terjadi adalah hukuman sosial. Hukuman pidana, bisa juga loh. Ngeri ‘kan? Makanya hati-hati berkata-kata.[]
Jogja, 25.10.2016
© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis