Kamis, 22 Februari 2018

PECINTA (KATANYA)

Seseorang yang mengaku 'pecinta' pasti enggak mau asal-asalan. Harus yang terbaik, harus yang ter.. ter.. pokoknya. Pecinta kopi pasti punya taste sendiri yang bikin momen menikmati kopi enggak cuma sekedar sruput. Pecinta tas merk dengan harga fantastis, pasti enggak mau sembarangan beli tas. Harus benar-benar dipastikan tas original, bukan imitasi. Nilai rupiah bukan jadi masalah buat orang yang mengaku 'pecinta'. Buat yang merasa bukan 'pecinta' pasti enggak kaget ada yang rela mengeluarkan uang berapa pun demi sesuatu yang rasanya enggak harus diperjuangkan segitunya juga. Yah.. namanya juga 'pecinta'. Pasti harus yang terbaik.
Biasanya para 'pecinta' ujung-ujungnya 'mengoleksi'. Jadi kolektor begitulah. Jadi 'pecinta' enggak masalah, asal jangan berlebihan sampai-sampai mendewakan.
Jogja, 21.02.2018

Selasa, 20 Februari 2018

MISTERI MENGUAP

Menguap tanda mengantuk, wajar. Menguap tanda bosan, kurang ajar. Apalagi menguap waktu kita lagi ngobrol. Jadi secara enggak langsung bilang, obrolan enggak menarik gitu? Menguap selain karena mengantuk, memang bisa karena bosan. Ada percobaan yang pernah dilakukan loh. Pernah mengalami sendiri enggak, waktu lagi bosan sama sesuatu, misal penjelasan dosen di kelas, kita lebih banyak menguap dan akhirnya justru mengantuk? Berawal dari rasa bosan, berubah menjadi rasa ngantuk.
Satu hal lagi yang masih bikin penasaran. Benarkah menguap bisa menular? Apakah fakta atau mitos? Dikutip dari alodokter.com, menguap memang bisa menular karena jadi salah bentuk empati. Dokter dari Universitas Geneva, Swiss, juga bilang, menguap itu bersifat menular sebagai rasa empati sama orang lain. Sering banget menguap karena lihat orang lain menguap. Selama ini masih penasaran, apa ada hubungannya melihat orang lain menguap dengan kita yang juga ikut menguap? Ternyata ada.
Menguap juga bisa dikaitkan sama penyakit tertentu, seperti tumor, stroke, epilepsi, gagal hati, tapi tentu setelah dilakukan tes, karena yang terlalu sering menguap bisa jadi ada tanda-tanda penyakit yang na'udzubillah itu. Kebiasaan tidur juga jadi salah satu cara untuk melakukan tes menguap yang terlalu sering, berbahaya atau wajar.
Waktu lagi sibuk sama sesuatu dan menguap di waktu yang enggak tepat, memang bikin kesal. Bisa enggak, menguap datang nanti saja? Melakukan sesuatu yang menyenangkan, misal mendengarkan lagu favorit, bisa jadi cara menghindari menguap berujung ngantuk. Repot 'kan kalo pengen tidur di waktu yang enggak tepat?
Jogja, 20.02.18

Senin, 19 Februari 2018

BEROBAT

Sakit itu berobat, bukan dibiarkan hilang sendiri. Sebaiknya jangan tergerak berobat saat sakit semakin memasuki level yang lebih tinggi. Penanganan seawal mungkin bisa mengurangi keparahan dan lebih cepat menyembuhkan. Biasanya kalau dirasa masih baik, justru enggak berobat. Nanti juga sembuh sendiri, begitu yang dipikirkan. Daya tahan tubuh bekerja lebih keras memerangi penyebab sakit. Bisa jadi survive tanpa bantuan obat-obatan dokter, tapi bisa juga menyerah dan tingkat sakit mulai naik level. Saat seperti ini baru mencari pengobatan. Terlambat? Sebenarnya iya, tapi masih baik daripada enggak diobati sama sekali.
Kadang ada juga yang drama dulu. Enggak ada uang jadi alasan utama. Teorinya, kalau kita cuma bicara dan enggak mengalami sendiri, pasti kita akan bilang 'periksakan saja dulu.. bla.. bla..' Faktanya, kita enggak bisa semudah itu memeriksakan diri ke dokter saat kita enggak ada uang sama sekali. Sebelum penyesalan datang karena terlambat mengobati, langsung saja konsultasi sama dokter. Tentang biaya, itu urusan nanti. Semoga bisa bertindak seperti ini. Semoga.
Jogja, 19.02.2018

Minggu, 18 Februari 2018

KELIHATANNYA ENAK YA


Sesuatu yang terlihat enak, belum tentu benar-benar enak. Penampilan bisa menipu mata. Jangan asal menyimpulkan sesuatu kalau cuma dari 'melihat' tanpa mencari pendukung kebenaran dari yang terlihat itu. Latah. Begitulah manusia. Masih adakah manusia yang enggak terburu-buru seperti ini? Mungkin cuma bisa dihitung pakai jari.
Ada satu kejadian. Cowok duduk di dalam kereta dan di dekatnya ada ibu-ibu menggendong anak. Melihat 'pemandangan' seperti ini, bidikan kamera siap berbicara. Hanya sekali 'melihat', langsung membuat kesimpulan. Akhirnya banyak (netizen) yang menghujat cowok itu. Mereka meyakini sekali cowok dalam foto itu enggak punya hati, enggak punya etika. Kalau hanya sekedar 'melihat', cowok di dalam kereta itu memang bodoh. Apakah hatinya mati? Ada satu fakta muncul. Cowok itu bukan enggak mau memberikan tempat duduknya buat ibu-ibu yang menggendong anak. Kenapa si ibu tetap berdiri? Anaknya yang meminta. Kalau si ibu duduk, si anak rewel. Kejadian ini bukan sesuatu yang terlihat enak, tapi sebaliknya, sesuatu yang terlihat mengesalkan, belum tentu benar-benar bikin kesal.
Jadi artis  (kelihatannya) memang enak. Punya banyak uang, punya popularitas, minta apa saja (sepertinya) bukan sesuatu yang susah. Lihat saja barang-barang yang dipakai. Merk-merk ternama dengan harga fantastis. Honor untuk satu kali 'show' (entah penyanyi, pemain sinetron, selebgram, Youtuber, dkk) melebihi honor pegawai negeri sipil kelas paling tinggi. Semua yang (terlihat) enak ini harus 'dibayar' dengan kehilangan ruang pribadi. Seperti burung dalam sangkar emas. Terlihat menawan tapi enggak punya kebebasan.
Setiap sesuatu pasti punya konsekuensi. Seperti dua mata pisau yang bisa menyerang lawan dan diri-sendiri. Enggak tahan dengan konsekuensi yang diterima, pelarian atau mengakhiri menjadi pilihan. Enggak sedikit artis yang terjerat obat-obatan terlarang. Mereka punya banyak materi,  punya popularitas, punya segalanya, tapi kenapa terjerumus seperti itu? Khilaf? Pelarian?
Dia (sepertinya) enak ya, enggak pernah kehabisan uang saku. Orang tuanya 'kan kaya. Dia (sepertinya) enak ya, kerjanya santai dan enggak menguras energi. Dia (sepertinya) enak ya... Karena yang dilihat mata hanya yang enak saja.
Jogja, 18.02.2018

Sabtu, 17 Februari 2018

MUSIK DAN RASA

Musik bisa bikin bahagia, sedih, merinding, kangen, kehilangan, dan... apa lagi? Musik itu tentang rasa. Ada yang suka musik pop, jazz, rock, reggae, dangdut, melayu, R 'n B, ada banyak. Enggak jadi masalah beda selera musik. Ini tentang rasa. Enggak perlu ada rasa yang disalahkan. Nikmatilah rasa itu selama enggak bawa pengaruh buruk. Musik bisa ngasih sesuatu yang jelek? Bisa.
Musik yang membuat kita lupa segalanya, lupa tugas, lupa kewajiban. Jadi ini salah musik? Salah teman-teman musik? Kita seharusnya yang punya kendali sejauh mana musik memengaruhi hidup. Sah-sah saja bilang 'music is my life' tapi jangan berlebihan bahkan sampai menomorsatukan musik di atas segalanya. Musik yang melenakan. Bukannya ngasih hiburan tapi menciptakan lubang masalah baru.
Ada tipikal orang mendengarkan musik karena ingin hiburan. Bisa juga mengisi kekosongan atau justru karena pembiasaan. Selalu mendengarkan musik dan menjadi pecandu.. hmm.. bukan, tapi penikmat. Ngeri juga pakai istilah 'pecandu'. Enggak semua orang bisa menikmati musik random dalam playlist pribadi. Pasti paling dominan didengarkan adalah genre musik yang disuka.
Setiap kita mendengarkan musik favorit, otak bakal bikin serotonin dan dopamin yang bisa bikin kita semangat dan penuh energi, dikutip dari vemale.com. Waktu kita punya perasaan macam-macam, musik juga bisa menyuarakan apa yang kita rasakan. Mereka yang mendengarkan musik dengan hati, enggak cuma dengan telinga, perpaduan lirik dan musik bisa menghanyutkan perasaan. Biasanya waktu lagi galau, sedih, baru diputusin, cinta bertepuk sebelah tangan, musik yang didengar pakai hati. Makanya bisa sampai berasa ke hati gitu. Sebaliknya waktu lagi happy, lirik enggak ada pengaruh apapun. Masuk lewat telinga, otak memproduksi serotonin dan diartikan sebagai rasa senang. Musik buat bersenang-senang, yah.. musik yang bisa bikin joged-joged, kebanyakan tanpa lirik 'kan?
Musik memang bikin hidup lebih berwarna, tapi ingat... harus kita kendalikan ya. Bukan kita yang dikendalikan musik. Harus ada kontrol biar enggak over.
Jogja, 17.02.2018

Jumat, 16 Februari 2018

BYE JOGJA

Meninggalkan Jogja? Sekarang belum ada 'kesempatan' melakukannya. Masih menikmati lika-liku cerita di daerah istimewa ini. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar, tapi karena alasan tinggal bukan pindah bareng keluarga, waktu sebanyak ini enggak berasa. Enggak ada feel 'sebagai orang pindahan'. Pasti beda ya rasanya pindah domisili dan pindah karena menjadi mahasiswa, kerja, atau apapun yang sejenis. Apa saya benar-benar akan mengambil kesempatan meninggalkan Jogja? Yes, I will. Kalo dengan meninggalkan justru ada kesempatan lain yang lebih baik di sana, kenapa tidak? Baper, jelas. Walau dunia yang saya kenal di Jogja hanya sebatas dunia yang kecil, tapi setiap cerita adalah kenangan.
Ada dua tipe ketika seseorang harus meninggalkan. Pertama, sedih, enggak rela, enggak nyangka, 'hah? saya harus pergi?' dan semacamnya. Kedua, enggak ada kesedihan sama sekali bahkan ingin cepat-cepat meninggalkan. Yakin nih jadi tipikal yang kedua? Meninggalkan Jogja? Ya.. setiap orang berbeda merasakannya. Saya sendiri termasuk tipikal yang pertama.
Jogja itu seperti kampung halaman. Ada kenyamanan di sini. Mengenal Jogja memang sejak menjadi mahasiswa. Rasanya benar-benar enggak nyangka kalo saya harus meninggalkan Jogja. Tentu setelah semua urusan di sini selesai. Se-mu-a.
Kalo ada yang bertanya apa rasanya meninggalkan Jogja, yah.. beban sekali rasanya. Beban karena meninggalkan dan enggak lagi menjadi bagian dalam cerita.
Jogja, 16.02.2018

Kamis, 15 Februari 2018

(MERASA) CUKUP

Manusia selalu merasa kurang ini dan kurang itu sebenarnya wajar, tapi jangan dimaklumi. Sebagian besar manusia, di mana pun, pasti merasa belum puas dengan pencapaiannya. Selalu ingin lagi, lagi, dan lebih. Enggak sedikit juga yang merasa enggak cukup. Buat orang lain bisa jadi (rasanya) sangat cukup, bahkan berlebih. Masih ingat waktu SMA, ada kakak kelas yang kuliah di Semarang. Katanya setiap bulan menghabiskan uang saku Rp 1 juta. Buat anak SMA yang seminggu paling banyak dapat jatah uang saku Rp 100 ribu, jelas terkaget-kaget. Apa Rp 1 juta? Buat beli apa? Dulu enggak ada bayangan sama sekali satu bulan dapat uang saku Rp 1 juta. Sekarang, setelah merasakan sendiri balada anak kost, apa-apa serba beli dan enggak semurah waktu SMA, Rp 1 juta buat sebulan bisa dibilang standar. Bukan berlebih, bukan juga kurang. Tergantung gaya hidup juga. Pastinya tergantung rasa syukur yang ada di hati. Sudah bersyukur hari ini?
Saya punya satu kisah nyata dari seseorang. Suatu ketika, sebut saja Dilan, mendapat tugas untuk mengurus kartu kredit punya, sebut saja Rangga. Dilan kerja di satu kantor yang mengurus kartu kredit gitu, lupa namanya apa, tapi kalo enggak salah ada kata-kata ‘audit’ begitulah. Nah.. Rangga punya tagihan kartu kredit mencapai Rp 47 juta dan sebagian besar digunakan untuk kopi berlogo mermaid ekor kembar. Berdasarkan data dari Dilan, setiap hari Rangga selalu beli kopi mahal ini. Kadang Americano, kadang bisa sampai Rp 400 ribu sekali transaksi. Rangga bukan tipe sok gaya ngopi di tempat mahal. Secara finansial, Rangga bisa dibilang oke. Gaji per bulan Rp 27 juta, cuy. Sayangnya... gaji sebesar ini enggak punya tabungan sama sekali. What? Enggak punya tabungan? Sama sekali? Gajian buat apa? Just have fun? Buat yang belum pernah mendapat gaji sebesar ini bahkan lebih, pasti menggeleng-gelengkan kepala saking herannya.
Besar pendapatan memengaruhi besar keinginan memang benar. Pegang duit sekian rupiah, enggak jarang langsung kepikiran beli ini... beli itu... Jangan terbiasa dengan kata ‘enggak cukup’. Manusia selalu merasa kurang, merasa pengen lebih. Enggak ada kata ‘cukup’ buat manusia sebelum rasa syukur ada di dalam hati.
Jogja, 15.02.2018

Rabu, 14 Februari 2018

KARENA CINTA ITU...

Merayakan cinta, seperti kata orang bijak, bisa dilakukan setiap hari. Enggak perlu nunggu momen. Cinta itu sederhana. Satu perhatian kecil bisa langsung menyejukkan hati. Enggak perlu sesuatu yang mewah dan serba 'wah' karena sejatinya cinta itu enggak perlu itu semua. Cuma... karena keinginan manusia enggak sebatas cinta, kemewahan dan sesuatu yang 'wah' jadi salah satu yang mau enggak mau harus diperhatikan. Apa masih namanya cinta kalau menuntut ini-itu dari yang serba 'wah'? Cinta itu sebenarnya enggak bisa diukur seberapa besar, enggak bisa bergantung dengan nilai satu benda, karena cinta itu...
Jogja, 14.02.2018

Selasa, 13 Februari 2018

GAYA HIDUP SEHAT ATAU SEKEDAR GAYA?


(https://www.pexels.com/photo/man-in-black-tank-top-laying-on-gray-concrete-surface-near-black-bike-681294/)
Sekarang hidup sehat itu jadi bagian gaya hidup. Banyak yang mulai sadar buat menjaga kesehatan. Orang dengan gaya hidup sehat jauh terlihat lebih keren daripada orang, cowok terutama, yang jago ngisep rokok. Pikiran zaman remaja SMP, cowok juga terutama, rokok adalah simbol keren. Enggak ngerokok, enggak keren. Enggak ngerokok, cupu! Setiap orang yang mengalami masa remaja sepertinya melewati fase ini. Cuma segelintir remaja yang enggak, salah satunya... (nunjuk diri-sendiri).
Ada dua tipe orang yang menjalani hidup sehat. Pertama, cuma (sekedar) gaya a.k.a pencitraan. Kedua, benar-benar menjalani hidup sehat yang artinya enggak penting dan enggak harus orang-orang seluruh dunia tahu aktivitas hidup sehatnya. Bukan berbagi tips cara hidup sehat, tapi lebih banyak foto daripada olahraga, misal. Beda loh ya.
Salah satu cara menjalani hidup sehat adalah dengan berolahraga. Selagi masih muda, cintailah olahraga sebelum mencintai pasangan. Berbagilah cinta antara pasangan dan olahraga. Pasti dia dengan senang hati cintanya dibagi kok buat yang satu ini. Olahraga itu enggak seenak ngemil singkong keju. Olahraga itu berat, tapi manfaatnya luar biasa. Banyak yang sebenarnya tahu kebaikan dari olahraga, tapi enggak sedikit juga yang pura-pura lupa dan secara sadar malas berolahraga (ngomong sama kaca). Ada juga yang merasa enggak punya waktu untuk berolahraga. Giliran punya waktu, justru enggak bisa karena bedrest di rumah sakit.
Olahraga dan cara menjalani hidup sehat lainnya memang harus disempatkan. Enggak ada alasan ‘enggak ada waktu’, tapi yang ada sebenarnya ‘malas’. Kalau disempatkan, pasti bisa kok. Pasti ada waktu kok. Sibuk kerja 9 to 5 bahkan sampai ada ekstra jam, bukan alasan menjauhi hidup sehat. Tetap bisa olahraga sebelum berangkat kerja, misal. Bisa juga dengan bike to work, memilih lewat tangga daripada lift, memilih jalan kaki daripada naik kendaraan bermotor, dan lain-lain. Makan sehat, sangat bisa. Enggak mungkin kerja terus tanpa istirahat dan makan. Pilih makanan sehat. Sayur, buah, karbohidrat secukupnya, protein, prinsip ‘isi piringku’ a.k.a 4 sehat 5 sempurna. Istirahat, salah satunya tidur malam, juga harus benar-benar diatur. Banyak lembur? Atur waktu sebaik mungkin untuk mengistirahatkan tubuh. Satu hal ini yang sering banget diabaikan. Enggak sedikit yang memilih bedagang dan 'menyiksa diri'.
Hidup sehat itu memang kompleks. Banyak yang harus dilakukan. Harus melawan ‘malas’, mengalahkan ego, menahan diri menikmati makanan yang ‘enak-enak’, harus menjaga ini, menjaga itu, tapi memang bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.
Sepertinya sekarang justru banyak yang dengan sadar bersenang-senang dahulu, bersakit-sakit kemudian.
Jogja, 13.02.2018

Senin, 12 Februari 2018

INI ALASAN (CEWEK) BISA MULTITASKING

Katanya, cewek lebih bisa multitasking dibanding cowok. Kata ahli, multitasking itu kayak candu dan enggak semua orang punya kemampuan ini. Orang yang bisa multitasking lama-lama bakal berkurang kemampuannya ini karena pertambahan usia, dikutip dari health.detik.com. Sebenarnya, masih menurut ahli, otak enggak benar-benar bisa multitasking, tapi cuma mengalihkan konsentrasi dengan cepat antara satu tugas dengan tugas lain. Otak enggak bisa memproses lebih dari satu kegiatan dalam satu waktu. Hasilnya memang bisa lebih cepat selesai, tapi enggak mungkin sempurna. Jadinya setengah-setengah gitu.


Kenapa cewek dianggap lebih bisa multitasking dibanding cowok? Berdasarkan satu penelitian, cewek memang punya kemampuan superior melakukan berbagai hal yang membutuhkan kendali kognitif tinggi. Kemampuan multitasking cewek lebih unggul dari cowok karena didukung kebiasaan zaman baheula yang mengharuskan cewek tetap di rumah mengurus anak sambil memetik buah-buahan, memperbaiki sesuatu, dan kawan-kawannya. Sementara cowok lebih banyak di luar rumah berburu makanan. Fokusnya cuma satu. Berkat kebiasaan sejak zaman baheula ini, kemampuan cewek multitasking jadi lebih unggul.
Sebaiknya kemampuan multitasking cewek enggak selalu dilakukan. Dikutip Magforwomen dari health.liputan6.com, kerja multitasking bisa bikin kelelahan ekstra karena pekerjaan yang serba terburu-buru dan enggak fokus. Hasil enggak maksimal, membuang-buang waktu karena lompatan satu tugas ke tugas lain yang sama-sama belum selesai, dan bisa menciptakan lebih banyak masalah. Melakukan dua atau tiga pekerjaan dalam satu waktu, bisalah sesekali, tapi lebih dari ini, sebaiknya jangan. Bukannya kerjaan beres, tapi justru bikin bingung dan jadwal yang disusun jadi berantakan.
Kalau bisa dilakukan satu-satu dan fokus tanpa harus terbagi-bagi, kenapa enggak?
Jogja, 12.02.2018
© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis