Kamis, 14 Desember 2017

WARNET PERTAMA


Angkat tanganmu Shaggy... yang di zaman now masih pake warnet! Hands up! Hands up, Shaggy! Kebanyakan pasti ketawa nyinyir kalo ada yang masih main di warnet. Hari gini? Kebutuhan warnet di kota besar bukan lagi akses internet di komputer-komputer berbilik, tapi lebih dari itu. Bisa akses (baca: copy-copy) film, bisa pesan macam-macam makanan, mulai dari makanan berat sampai cemilan, bisa buat nongkrong dan wifi-an pake personal computer, harus ber-air conditioner, harus pelayanan yang oke banget, mulai dari keramahtamahan operator warnet sampai pelayanan lain-lain yang mungkin dibutuhkan. Panjang ya. Warnet di desa beda lagi. Enggak perlu itu semua. Cukup komputer-komputer di balik bilik, beruntung bukan komputer tabung, akses internet yang enggak jelek-jelek amat tapi terlalu menutup mata kalo bilang aksesnya cepat, bisa pesan kopi, cemilan, tapi seadanya, enggak perlu cemilan ini-itu. Bisa buat nongkrong? Bisa... di bilik masing-masing. Bisa akses a.k.a copy film? Ngng.. maaf ya, enggak bisa. Wifi? Jangan harap.
Warnet sekarang ada di mana-mana. Kota besar, desa kecil, penyebarannya merata yang tentu fasilitas dan layanannya beda-beda. Warnet a.k.a warung internet mulai datang ke Indonesia sejak tahun 1997 - 1998. Kepo di id.wikibooks.org, warnet pertama kali ada bukan warnet namanya. Masih jadi perdebatan waktu itu, mau pake nama warin atau warnet. Sama-sama kependekan dari warung internet. Akhirnya setelah melalui konferensi meja bundar, enggak ding, bercanda, nama warnet lebih banyak dipilih pada masa itu karena dirasa lebih kece, diambil dari kata "internet", "-net", jadilah warnet. Bukan warin.
Sekarang warnet tersebar di seluruh Indonesia. Pelosok juga mungkin? Kalo sinyal hape masuk, bisa jadi ada warnet. Sebaliknya kalo susah sinyal, jangan harap bisa ngadem di bilik warnet sambil main Facebook. Dulu, masa-masa SMA-lah, main di warnet just update social media macam Facebook, iya banget. Enggak ada tuh copy-copy film. Kalo ada, cuma segelintir banget-banget. Pengguna warnet zaman now, terutama warnet di kota besar, enggak butuh buka medsos di komputer berbilik. Medsos di genggaman tangan juga gampang diakses. Butuhnya cuma copy-copy film, nonton film yang jadi koleksi warnet, ngng.. terus apa lagi ya?
Kalo ada yang hari gini masih akses medsos di warnet, siap-siap dikomentarin ini dan itu. Aku juga salah satu pengguna warnet, tapi bukan update Twitter apalagi Facebook. Just blog, yeah.. because I'm blogger. Wuiiih... blogger nih ye~ Pilih warnet karena enggak ada wifi di kost-an. Awal-awal rajin ngeblog, wifi Perpustakaan Kota Jogja jadi andalan, tapi karena PC-ku sungguh membuat kesabaranku teruji, aku lebih memilih ngeblog di warnet atau disela-sela siaran.
Pilihan kedua ini yang butuh melawan rasa ogah-ogahan. Harus bagi-bagi fokus, mulai dari nyari bahan siaran, ngeplaylist lagu, cari lagu yang enak juga, ditambah ngetweet, terus gimana ngeblognya? Ya itu tadi... perlu melawan rasa ogah-ogahan. Kalo akhirnya ngeblog di warnet, mau enggak mau rasa ogah-ogahan harus disingkirin. Kalo masih kek gini, gimana bisa update blog? 'Kan sayang.
Jogja, 14.12.2017

Rabu, 13 Desember 2017

MEDIA SOSIAL ZAMAN NOW

https://www.pexels.com/photo/apple-applications-apps-cell-phone-607812/
Media sosial di zaman now bukan lagi sesuatu yang wow. Semua orang punya akunnya. Orang cilik kek, orang berdasi kek, orang berijazah kek, pasti punya akun media sosial. Facebook, Twitter, Instagram. Tiga besar media sosial versiku sendiri. Whats App, Line, Path, Snapchat, lebih ke media sosial personal, just share for your circle. Pengguna Facebook di Indonesia ada berapa sih? Totalnya ada banyak. Tahun 2014 ada 77 juta pengguna. Sekarang? Mungkin sudah beranak-pinak. Indonesia bahkan menempati posisi ke-4 sebagai negara yang paling aktif pake Facebook.
Twitter menjadikan Indonesia masuk lima besar sebagai pengguna paling banyak. Secara global, Twitter punya 332 juta pengguna bulanan dengan 500 juta kicauan yang dikirim tiap harinya dan 200 miliar kicauan dalam setahun.
Instagram apakabar? Ada 45 juta pengguna Instagram di Indonesia dan jadi pasar terbesar di Asia. Menurutku, Instagram yang paling banyak dipake sekarang. Eh, enggak juga ding. Aku enggak punya data yang valid. Cuma sekedar berasumsi berdasarkan circle-ku sendiri. Ada yang aktif Instagram tapi enggak aktif Twitter dan Facebook. Aktif Twitter tapi enggak aktif Facebook. Kebanyakan orang pasti punya akun media sosial lebih dari satu, tapi yang aktif cuma satu.
Begitu banyak pengguna media sosial, ada begitu banyak pengguna, entah buat tujuan have fun, saling serang, ujaran kebencian, ini.. itu.. bla bla bla.. Fungsi media sosial yang sesungguhnya sekarang jadi blur. Enggak sedikit yang memanfaatkan media sosial bukan cuma sekedar bersenang-senang dengan circle-nya di dunia maya, tapi lebih dari itu, memperlebar circle entah dengan siapapun. Semakin banyak, semakin keren. Ada juga yang menjadikan media sosial sebagai pelampiasan birahi yang memuncak mirip kucing jantan di musim kawin.
Facebook, Twitter, Instagram, dan segala macam bernama media sosial, sejatinya buat apa? Share kegiatan ini dan itu di Instastory, berkicau begini dan begitu, memposting begitu dan begini. Buat apa? Aku pengguna aktif Twitter. Buat apa aku berkicau? Demi melepaskan apa yang sedang aku pikirkan. Aku lebih nyaman berkicau ria dibanding Facebook dan Instagram. Dulu, aku Facebooker. Banyak postinganku di media sosial satu ini. Sejak punya Twitter, Facebook aku tinggalkan. Aku biarkan saja tapi akun masih tetap aktif. Aku memilih satu media sosial karena demi enggak ribet harus posting ini Facebook, harus tweet ini, harus upload ini di Instagram. Intinya sama 'kan? Aku berkicau ini-itu, enggak usah posting di Facebook. Buat apa? Selo banget kalo harus posting ulang. Lagian, hidup harus memilih 'kan?
Ada yang bilang, Twitter sekarang enggak kayak dulu. Fitur dan tampilannya memang makin kece, tapi tipe pengguna Twitter sekarang yang berubah banget dibanding pengguna Twitter zaman great, memunculkan slogan "make Twitter great again". Sekarang enggak jarang bully-an, tubir, nyinyir, dan segala macam yang bikin Twitter enggak great (lagi). Facebook, Instagram, pasti juga enggak beda jauh nasibnya sama Twitter. Gimana media sosial yang lain? Bisa jadi juga enggak beda jauh. Entahlah karena aku enggak pake media sosial yang lain itu. Aku salah satu pengguna Line tapi ya gitu doang. Sekedar punya, tapi tiap ada notif baru dari Line, selalu aku buka, paling enggak aku buka inbox, kalo menarik, aku buka isi chatnya (yang biasanya chat dari akun resmi, yeah.. you know what I mean 'kan?). Kalo aku enggak tertarik, aku langsung hapus tanpa membukanya.
Media sosial mau dipake buat apa? Jangan sampai terjebak karena media sosial. Jangan sampai melanggar undang-undang karena menyalahgunakan media sosial. Jangan sampai menebar kebencian atas nama sesuatu di media sosial.
Ah, media sosial. Penjajah zaman now. Salah satunya.
Jogja, 13.12.2017

Selasa, 12 Desember 2017

TEORI HEMAT UANG

pixabay.com
Enggak perlu bingung sampai enggak nafsu makan, langsung aja Googling 'cara mengatur keuangan, cara hemat dengan gaji kecil, dan bla bla bla'. Banyak 'kan hasilnya? Pilih satu artikel, baca dan pahami, terus praktekin. Susah? Gampang? Orang bijak bilang, praktek enggak segampang teori. Memang begitulah faktanya. Enggak sedikit di antara kita yang masih terseok-seok mengatur keuangan. Apalagi di zaman now yang serba dirupiahin. Enggak ada yang gratis. Masih sangat bersyukur kita bernafas dikasih cuma-cuma.
Mengkotak-kotakkan uang sesuai keperluan (atau keinginan?), iya. Mencatat setiap pengeluaran, berapapun besarnya, juga iya. Kok masih kelabakan gini? Bagaimana ini? Manajemen keuangan perlu banget dipraktekin, entah gajinya minim atau maksimal banget. Semakin besar gaji, semakin besar juga keinginan ini dan itu. Kalo enggak dikendalikan, siap-siap say good bye sama gaji yang dinikmati belum ada satu minggu.
Sering ya (atau kadang-kadang?), kita beli sesuatu bukan karena butuh tapi karena pengen. Selesai makan siang, kok pengen jajan bakso tusuk ya? Kok pengen sosis bakar ya? Kok pengen milkshake cokelat ya? Nah 'kan... 
Kalo pake uang cuma buat kebutuhan, real kebutuhan, pasti enggak bakal beli ini dan itu di luar daftar kebutuhan. Memang perlu banget pengendalian diri-sendiri. Perlu beli ini enggak ya? Penting enggak ya? Harus berpikir ulang sebelum memutuskan beli sesuatu.
Ada yang bilang, cowok boros karena makanan dan cewek boros karena make up. Aku sendiri mengiyakan, cowok boros (salah satunya) karena makanan. Jarang cowok yang menghabiskan uangnya buat parfum, gel rambut, deodoran, dan segala macam. Barang-barang ini memang benda wajibnya cowok, cuma enggak terlalu menguras kantong juga, kecuali pilih yang merk-nya terkenal dunia-akhirat.
Masih awal bulan tapi dompet jebol karena enggak ngatur keuangan dengan baik? Harap bersabar, ini ujian (tapi dalam hati bilang, "Mampus kau! Rasain!").
Jogja, 12.12.2017

Senin, 11 Desember 2017

(FILM) SUPERHERO

Tiap selesai nonton film di bioskop, selalu ada kepuasan. Semacam bilang sama diri-sendiri, ini film worth it, enggak nyesel nonton film ini, emang ini film awesome banget, dan bla.. bla.. bla.. yang intinya puas nonton film. Kalo nonton di bioskop tapi enggak puas, halo.. itu tiket dibeli pake uang, bukan pake daun. Kali ini aku juga puas banget nonton Justice League di hari-hari terakhir penayangan. Kayaknya mendekati terakhir. Merasa beruntung akhirnya nonton film ini juga setelah kemarin-kemarin dan kemarinnya lagi enggak jadi nonton. Wonder Woman dan Thor terlanjur skip. Padahal aku suka banget film-film superhero macam ini.
Spoiler enggak ya? Udah nonton Justice League 'kan? Jadi gini ceritanya... Ups! Enggak mau spoiler. Film keren begini harus jadi koleksi. Aku jadi kepikiran beli DVD originalnya. Justice League jadi keren karena didukung visual efek yang keren. Kalo film superhero Indonesia bisa digarap secanggih ini, aku yakin bakal sama kerennya. Visual efek di Justice League emang bikin takjub. Sebenarnya enggak ada yang istimewa banget karena kecanggihan efek kayak gini di film-film yang lain juga ada.
Kalo jalan cerita Justice League digabungin sama logika dunia yang kita tinggali, agak susah ya. Hari akhir dunia ada di tangan Steppenwolf? Diceritain, Steppenwolf ini makhluk mengerikan pembawa bencana. Banyak superhero bahkan dewa-dewa yang berusaha menaklukan Steppenwolf. Sekuat itu 'kah creature satu ini? Nah 'kan susah kalo digabungin sama dunia tempat kita tinggal. Steppenwolf dan kengeriannya memang ada di universe-nya sendiri. Bukan di dunia kita. Akhir dunia nanti memang ada makhluk yang diberi kemampuan luar biasa yang bisa memperdaya manusia dan mengajak pada kesesatan. Steppenwolf bisa jadi adalah bentuk lain dari makhluk ini.
Superhero memang harus kuat. Kuat itu atletis. Body Superman dan Aquaman jadi body goals banget. Workout ala superhero bisa bikin body kayak dua superhero ini. Selain visual efek yang keren, body dua superhero ini juga keren. Oke, baiklah.
Film superhero selanjutnya semoga dari Indonesia yang bisa sekeren ini. Semoga.
Jogja, 11.12.2017

Minggu, 10 Desember 2017

BERDAMPINGAN DENGAN KEBERAGAMAN

Hidup berdampingan dengan orang lain jauh lebih indah dibanding hidup berdampingan hanya dengan sesuatu yang enggak bernyawa. Pasti indah banget kalo bisa harmonis dengan banyak orang dari berbagai suku, agama, ras, dan budaya. Seperti Indonesia, bhineka tunggal ika. Sayangnya, kenyataan enggak seindah harapan. Masih ada di belahan bumi ini, bahkan di Indonesia kita, segolongan orang yang enggak mau baik hidup berdampingan dengan orang lain yang berbeda. Bukankah dengan perbedaan akan terlihat jauh lebih indah? Sesuatu yang sama, enggak ada perbedaan sama sekali, pasti membosankan.
Perbedaan justru membuat kita lebih bisa menghargai keberagaman. Rasanya terharu kalo ada seorang Kristiani yang mengingatkan seorang Muslim untuk sholat saat adzan mengudara. Rasanya indah banget kalo seorang Muslim mengingatkan seorang Kristiani beribadah di hari Minggu. Perbedaan. Keberagaman. Bukankah semua itu justru melengkapi sebuah keindahan?

Aku sebenarnya punya pertanyaan yang mungkin akan dianggap pertanyaan enggak tau diri. Aku masih belum punya kapasitas ilmu yang cukup atau seenggaknya bisa menjawab pertanyaanku itu. Buat sebagian orang, pertanyaanku ini bisa dibilang sensitif. Aku belum siap menghadapi "serangan" karena pertanyaanku sendiri. Padahal pertanyaan yang paling bodoh adalah pertanyaan yang enggak ditanyakan. Ah, sudahlah. Kali ini aku menyimpan sendiri dulu pertanyaanku. Kalo ada kesempatan, aku akan menanyakannya langsung sama orang yang lebih mumpuni. Terlalu berputar-putar dengan pikiran sendiri enggak baik buat kesehatan.
Apa kamu sudah bisa menerima keberagaman? Aku bisa menerima perbedaan, walau ada beberapa rasa yang membuatku sedikit menjaga jarak. Perbedaan bukan cuma agama ya, tapi apapun bentuknya. Aku terbuka berteman dengan siapa saja. Aku terbuka dengan perbedaan. Aku enggak mau mengatakan orang ini pasti begitu hanya karena berasal dari daerah tertentu. Rasis! Enggak sedikit dari kita yang masih rasis. Belum memahami bhineka tunggal ika. Aku bukannya sok paham dengan slogan negara kita itu, tapi beberapa dari kita memang ada yang belum memahami, entah belum memahami atau menolak untuk paham, perbedaan 'kan? Rasis, berlaku enggak adil, berat sebelah, dan lebih parah lagi menyudutkan minoritas secara verbal dan non verbal. Mengerikan! Sikap-sikap ini bukan cuma ada di Indonesia, tapi around the world. Banyak orang dari berbagai belahan bumi yang gagal paham atau bahkan menolak keberagaman.
Indonesia yang banyak suku dan budaya punya daftar kota yang paling enggak toleran dan kota yang paling toleran. Dikutip dari voaindonesia.com, ada delapan kota paling enggak toleran di Indonesia. Pertama, Banda Aceh, Cilegon, Depok, Yogyakarta, Banjarmasin, Makassar, Padang, dan Mataram. Sementara kota paling toleran di Indonesia ada Manado, Pematangsiantar, Salatiga, Singkawang, Tual, Binaji, Kotamobagu, Palu, Tebing Tinggi, dan Surakarta.
Indonesia adalah bhineka tunggal ika tapi masih ada sekelompok orang yang menolak berdampingan dengan perbedaan. Kenapa bisa begitu? Ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan, tapi aku takut terjebak dengan pertanyaanku sendiri. Pemberitaan tentang sekelompok orang yang bersikap seenaknya dengan perbedaan, rasanya greget banget. Kenapa bisa ada orang seperti ini? Yah.. semoga orang ini disadarkan dengan keberagaman yang sejatinya indah kalo kita mau berdampingan dengannya. Semoga.
Jogja, 10.12.2017

Sabtu, 09 Desember 2017

SUKA SEKALI.. SUKA SEKALI.. SUKA SEKALI..

Demi apa menembus hujan hampir tengah malam? Demi sesuatu yang diperjuangkan. Sesuatu yang disuka. Sesuatu yang selalu diusahakan, apa pun keadaannya. Termasuk menembus hujan jelang tengah malam. Begitulah yang namanya suka 'kan? Enggak peduli hujan, panas, dingin, terik, kalo suka ya tetap diperjuangkan. Hasilnya nanti sepadan atau enggak dengan perjuangan yang udah dilakuin, jadi urusan nanti. Berjuang saja dulu. Manisnya pasti akan terasa nanti-nanti kok.
Kata KBBI, suka (su.ka) adalah keadaan senang, girang, senang hati, menaruh kasih, sayang, cinta. Punya arti yang positif banget ya. Pasti enggak bakal berpikir dua kali buat memperjuangkan sesuatu yang disuka, bisa orang/ benda, bisa juga minat/ ketertarikan.
Suka sama orang, pasti bakal merasa nyaman ada di dekat orang yang disuka. Pengennya bareng-bareng terus. Suka sama benda, pasti bakal hati-hati banget pas lagi dipake. Sesuatu kesayangan begitulah. Suka sama minat, semacam aku yang suka nge-blog. Harus terus diperjuangkan rasa sukaku sama minat ini.
Rasa suka juga bisa luntur, macam baju warna cerah yang lama-lama mulai berkurang kadar kecerahannya. Biar bajubalik lagi cerahnya, bisa dikasih deterjen yang pas (kata iklan). Cara menjemur juga harus lebih hati-hati biar warna cerahnya enggak semakin hilang. Cara mempertahankan suka biar enggak pelan-pelan ngilang bisa dengan memperbarui semangat dan motivasi yang bisa kembali menguatkan rasa suka itu. Misal, suka sama minat. Aku suka nulis. Aku suka nge-blog. Sometimes, aku mulai merasa lelah dan bosan nge-blog tiap hari. Rasanya setengah hati banget mau memulai nge-blog waktu rasa lelah dan bosan itu datang. Kalo aku enggak segera memperbarui semangat dan motivasi, aku bakal dengan gampang berhenti memperjuangkan.
Wajar kalau suatu saat rasa suka kita sama sesuatu enggak sekuat saat pertama merasakan, tapi kita harus selalu punya cara mempertahankan rasa suka itu. Mungkin saja saat kita ingin berhenti mempertahankan, kita hanya butuh jeda untuk memperbarui semangat dan motivasi, tapi jangan kelamaan ya.
Jogja, 09.12.2017

Jumat, 08 Desember 2017

JAIM? PERLU ENGGAK SIH?

Jaga image perlu juga kita lakuin, terutama buat orang/ lingkungan baru. Sebagian orang merasa jaim a.k.a jaga image itu enggak perlu. Kalo kita udah merasa nyaman di lingkungan baru, udah merasa dekat dengan orang baru, kita enggak perlu jaim. Jadilah apa adanya diri kita. Kalo masih baru kenal, apalagi sama stranger, jaga image-lah. Bukan sok pencitraan, tapi kesan pertama yang kita bikin jangan sampai menjadi aneh dan enggak sesuai sama yang kita pengen. Btw, pencitraan itu perlu loh.
Pencitraan sewajarnya dan enggak dibuat-buat. Misal, aku mencitrakan diri sebagai cowok yang peduli dengan pola hidup sehat. Real, aku memang berusaha menjaga hidupku dengan aktivitas yang menyehatkan. Orang-orang yang ada di circle-ku juga mencitrakan aku sebagai cowok yang peduli gaya hidup sehat.
Pencitraan yang dibuat-buat, mirip topeng yang dipake cuma buat keperluan pertunjukan. Bersikap begini dan begitu, tapi begitu kamera dimatikan, tipikal pencitraan dibuat-buat seperti ini pasti akan kembali lagi ke citra dirinya yang sebenarnya. Namanya juga dibuat-buat, membentuk pandangan orang-orang, tapi sayangnya enggak ada ketulusan di sana. Bisa dibedain 'kan?
Sometimes, aku merasa enggak bisa jaga image. Terlalu apa adanya waktu berhadapan sama orang/ lingkungan baru juga enggak oke. Sebaiknya kita pake topeng dulu. Rasanya pasti aneh 'kan kalo kita baru kenal seseorang, tapi sikapnya "kok gitu banget"? Sok seru, sok rame, sok dekat. Kalo kita memang aslinya begitu, untuk pertemuan pertama, kita rem dulu. Bukan munafik, tapi kita perlu main "cantik". Kita tunjukan apa adanya diri kita pelan-pelan. Enggak langsung ditumpahin semua. Bukan pencitraan yang dibuat-buat, tapi kita bikin aturan sendiri gimana cara bersikap sama orang/ lingkungan baru. Enggak sedikit yang justru stres dengan sesuatu yang baru ini. Merasa enggak bisa jadi diri-sendiri, terlalu banyak topeng, terlalu banyak jaim. Sesuatu yang berlebihan pasti enggak baik.
Ada tipikal orang yang bisa menjadi dirinya sendiri kalo udah merasa dekat dengan seseorang, merasa menyatu dengan lingkungan, dan merasa "inilah rumahku". Kita pasti bisa lebih bebas, kalo ada di rumah 'kan? Ke.de.ka.tan. Kita perlu membuat kedekatan biar jaim yang kita lakukan enggak berubah jadi topeng yang kita pake terus-terusan.
Jaim juga bisa jadi cara buat protektif sama diri-sendiri. Jaim yang dilakuin dengan porsi yang pas, enggak bakal jadi negatif kok.
Jogja, 08.12.2017

Kamis, 07 Desember 2017

INDONESIA DAN MALAYSIA

Rasanya geli sekaligus greget kalo ada war antara (yang merasa membela) Indonesia dan (yang merasa membela) Malaysia. Apalagi kalo ada pertandingan, semisal sepakbola, antara Indonesia dan Malaysia. Pasti banyak tuh yang ribut ono-ini. Belum lagi tentang pencaplokan budaya dan kawan-kawan. Enggak ada habisnya.
Mereka, yang war itu, enggak paham atau pura-pura lupa, Indonesia dan Malaysia masih satu rumpun. Ada kemiripan, wajar. Enggak usah saling merendahkan. Bangga jadi Indonesia buat orang Indonesia dan bangga jadi Malaysia buat orang Malaysia, sah-sah saja, tapi jangan merendahkan yang lain. Masing-masing punya kehebatan dan keunggulan. Kekurangan, jelas ada. Jangan jadikan kekurangan sebagai bahan war bahkan dijadikan pemicu perpecahan. Sungguh enggak bermutu. Manfaatnya apa? Merasa membela Indonesia? Merasa membela Malaysia? Memperkeruh hubungan, iya.
Indonesia dan Malaysia punya sejarah yang sama. Kata dream.co.id, dulu Malaysia banyak belajar dari Indonesia. Dulu sekali, setengah abad yang lalu. Lama banget ya? Waktu itu banyak guru dari Indonesia yang dikirim ke Malaysia. Pemuda-pemuda negeri jiran dulu juga banyak yang belajar di Indonesia. Sekarang? Malaysia maju pesat, terutama pendidikan. Indonesia masih ada di bawahnya.
Kata Cendekiawan Muslim dari Universiti Teknologi Malaysia, Wan Mohd Nor Wan Daud, (pendidikan) Malaysia bisa lebih maju dari Indonesia karena pemimpin yang peduli (pada pendidikan). Pemimpin Indonesia juga peduli (pendidikan), cuma Dewi Fortuna sekarang lagi ada di pihak Malaysia. Mengembalikan (pendidikan) Indonesia kayak dulu yang lebih unggul dari Malaysia? Bisa. Caranya? Mari kita pikirkan bersama.
Salah satu cara yang dilakukan Indonesia buat memajukan pendidikan dengan anggaran 20 persen APBN a.k.a Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara khusus buat pendidikan. Masih ingat program pemerintah "Wajib Belajar Sembilan Tahun"? Program ini juga jadi salah satu cara Indonesia buat kemajuan pendidikan. Sekarang bukan lagi "Wajib Belajar Sembilan Tahun" tapi "Wajib Belajar 12 Tahun". Bukannya merendahkan, sekarang kalo cuma lulus SMP, gimana? Paling enggak, lulusan SMA. Seharusnya sampai jadi sarjana, tapi Indonesia masih belum bisa kayak Kanada yang menggratiskan pendidikan bahkan sampai strata tiga. Kata seorang teman, pendidikan di Kanada memang terjamin, tapi pajak yang harus dibayarkan warga negaranya sangat-sangat besar dan ajaibnya (yeah.. ini ajaib) warga negara sana patuh bayar pajak. Inilah yang bikin pendidikan di Kanada more-more better dari Indonesia.
Yuk bersikap smart dengan mencintai perbedaan yang sama. Indonesia dan Malaysia memang berbeda, tapi punya kesamaan karena kita satu rumpun. Indah banget 'kan kalo Indonesia dan Malaysia, terutama orang-orang yang suka war tentang Indonesia dan Malaysia, bisa saling support dan enggak saling merendahkan?
Kalo ada pencaplokan dan lain sebagainya, kita selidiki dulu, cek dan ricek dulu. Jangan asal serang mengatasnamakan pembelaan. Bukannya solutif, justru nambah masalah. Kayak adik dan kakak. Kakak bersikap keliru, adik mengingatkan dan meluruskan (dengan cara yang baik). Begitu juga sebaliknya.
Jogja, 07.12.2017

Rabu, 06 Desember 2017

SEPATU (RATUSAN RIBU)

Dulu enggak kenal sepatu original harga ratusan ribu. Sangat jarang, justru belum pernah, dulu beli sepatu yang harganya di atas Rp 100 ribu. Paling mentok Rp 80 ribu. Rp 100 ribulah. Standar harga sepatu waktu masih zaman sekolah. Namanya juga di desa, harga segitu wajar. Justru yang harganya ratusan ribu rupiah yang enggak wajar. Mampirlah ke satu pasaraya di kota kecilku. Bukan mall, tapi pasaraya. Tempat belanja legendaris. Sangat-sangat langka kesempatan bisa belanja di tempat ini karena buat beberapa orang, datang ke pasaraya ini semacam jadi piknik gitu. Harga sepatu di sini mulai dari Rp 100 ribu. Entah sepatu original atau KW, yang jelas, bagi kebanyakan orang di desaku, harga sepatu yang dijual pasaraya ini jelas enggak masuk akal. Siapa yang mau beli sepatu semahal itu? Cuma orang kebanyakan duit yang (mau) beli.
Sekarang beda banget. Sepatu Rp 100 ribu? Bukan sepatu original. Baru pake beberapa kali, jebod. Bukan KW super pula. Harga sepatu Rp 200 ribu - Rp 300 ribu, baru bisa dapat sepatu KW super. Buat yang pengen sepatu original tapi belum ada dana, sepatu KW super ini bisa jadi pilihan. Datang saja ke toko sepatu, mulai dari pinggir jalan dengan toko sederhana sampai toko yang ber-AC dan berdinding kaca. Beli sepatu original jangan asal. Asal tempatnya bagus, ber-AC, dan berdinding kaca. Sepatu original hanya ada di mall-mall dan toko resmi dari merk yang bonafid itu. Harga paling murah Rp 500 ribu. Awalnya merasa kaget. Kenapa mahal banget? Setelah ngerasain sendiri betapa ruginya beli sepatu yang harganya mendekati Rp 300 ribu-an tapi KW, mending beli sepatu original, mahal sekalian. Lama-lama jadi biasa. Harga sepatu ratusan ribu rupiah dirasa standar. Kualitas dan merk jadi satu pertimbangan. Sepatu ber-merk, sepatu original, sepatu mahal. Ada rasa percaya diri waktu pake sepatu original yang mahal ini.
Sekarang harga barang di bawah Rp 100 ribu, bukan cuma sepatu, dirasa sangat jauh dari kualitas yang oke. Mending beli (sepatu) yang original walau mahal, tapi bisa dipegang kualitasnya sekaligus merk-nya juga terkenal.
Jogja, 6.12.2012

Selasa, 05 Desember 2017

PILIH KADO YANG MANA?

Pernah merasa bingung ngasih kado buat seseorang? Apa ya? Mau kado yang biasa-biasa atau kado yang berkesan? Kalo kado yang biasa, misal kado pernikahan, bisa pilih barang pecah-belah/ bedcover. Banyak yang memilih dua ini jadi kado pas datang ke acara nikahan. Kalo kado yang enggak biasa, pilih sesuatu yang bisa ngasih kesan tertentu, entah barangnya lucu, beda dari yang lain, atau kalo mau modal besar dan terlihat wow, kasih kado emas batangan, berlian, permata. Pernah lihat kado pernikahan, bukan mas kawin loh, seberharga ini?
Ka.do, hadiah atau pemberian (untuk yang berulangtahun, menikah, melahirkan, dan bla bla bla), kata KBBI. Sebagian orang pengen ngasih kado yang enggak biasa. Out of the box dan enggak ikut-ikutan yang lain. Tipikal orang seperti ini enggak mau asal-asalan pilih kado. Bahkan bisa jadi kado disiapkan jauh-jauh hari. Harus kado yang berkesan.
Sebagian yang lain justru sebaliknya, enggak ambil pusing mau kasih kado apa. Standar kayak orang-orang kasih kado. Nikahan dikasih kado ini, ulangtahun dikasih kado itu, ngikut aja yang udah jadi kebiasaan orang-orang. Tipikal orang yang enggak mau ribet. Entah kadonya berkesan atau enggak, yang penting "kewajiban" kasih kado udah tunai.
Sadar atau enggak, bawa kado waktu datang ke acara nikahan/ ulangtahun, kelahiran juga, jadi semacam kewajiban. Pemilik acara enggak bilang harus bawa kado, tapi karena kebiasaan datang ke satu acara bawa kado, secara enggak langsung bawa kado jadi semacam kewajiban. Makanya ada beberapa acara yang sampe ditulis di undangan "dilarang membawa kado". Tanpa diminta, datang ke satu undangan acara, ya (harus) bawa kado.
Kado yang berkesan itu enggak selalu mahal, tapi sesuatu yang berguna buat si penerima kado. Sesuatu yang bisa dipake sehari-hari dan enggak cuma jadi pajangan. Bisa pilih mug lucu dengan bentuk yang unik. Mug couple buat kado pernikahan. Kalo tau hobinya, kesukaannya, bakal lebih gampang pilih kadonya. Si ini suka baca novel, si itu suka koleksi jam tangan, bla bla bla. Kasih kado yang enggak cuma sekedar kado tapi juga sesuatu yang berkesan buat yang menerima. Aku merasa ada kepuasan kalo bisa kasih kado yang enggak biasa dan respon dari si penerima kado enggak menganggap aneh. Justru happy dan enggak nyangka. Kamu gimana?
Jogja, 05.12.2017
© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis