Senin, 02 Januari 2017

2017: BE NICE TO ME

Rasanya biasa aja tuh 2017. Malam pergantian tahun juga enggak ke mana-mana. Males juga. Macet di jalan, Bro. Pagi pertama di 2017, ya kayak pagi sebelum-sebelumnya. Siaran, tetep siaran. Kuliah, hmm.. skripsi, juga (akan) jalan. Apalagi ya? Nge-gym, jalan juga. Pola hidup sehat, masih tetep. Terus apa yang baru? Apa yang beda?

Nambah tahun justru bikin takut. 2016 kemarin benar-benar ada di zona nyaman. Tahun ini saatnya mengakhiri zona nyaman dan berjuang. Sempat kepikiran juga enggak pengen waktu berganti karena pengen menikmati zona nyaman ini lebih lama.

Oke, karena enggak mau jadi orang yang merugi, 2017 ini ada yang baru kok. Ada... tapi enggak disadari. Pokoknya ada. Sama kayak yang lain, 2017 ini juga pengen lebih baik. Semuanya. Be nice to me! Lancar semuanya, oke semua, baik semua. Skripsi selesai 2017, peluang-peluang baru berdatangan, dan banyak kejutan baik yang nunggu di 2017.

Selain skripsi yang jadi prioritas (semangat!) di 2017, siapa tau tahun ini bakal nikah? Hmm.. Allah SWT selalu punya kejutan baik.[]

Jogja, 2.1.2017

Selasa, 25 Oktober 2016

HATI-HATI BERKATA-KATA


Awas loh, bisa-bisa jatuh karena enggak hati-hati. Kayak gini tuh memang perlu banget diterapin dalam berbagai hal. Menjaga bukannya lebih baik? Berhati-hati artinya menjaga. Satu yang perlu diingat adalah hati-hati dengan setiap kata yang sudah keluar dari mulut. Sekali keluar, enggak bisa ditangkap lagi. Perlu ada filter diri-sendiri sebelum berkata-kata.

Apapun dan di mana pun. Enggak sedikit yang begitu bebasnya berkata di sosial media dengan alasan kebebasan berpendapat. Baiklah memang boleh bebas berpendapat, bebas berkata, tapi kata-katanya harus bisa dipertanggungjawabkan. Siap?

Seorang teman pernah bilang, apapun kata-kata yang keluar dari mulut kita, harus siap resikonya. Mau komentar apapun silakan, asal siap dengan konsekuensinya. Kata-kata yang baik pasti akan ngasih efek yang sama baik. Begitu juga sebaliknya.

Buat yang suka asal berkata (nyinyir dsb, dkk), salah satunya lewat sosial media, sebaiknya memang belajar mengendalikan setiap kata-kata. Jangan sampai justru jadi boomerang buat diri-sendiri. Ada kok yang mengalami shock therapy karena kata-kata yang enggak dijaga. Paling sering terjadi adalah hukuman sosial. Hukuman pidana, bisa juga loh. Ngeri ‘kan? Makanya hati-hati berkata-kata.[]
Jogja, 25.10.2016

Minggu, 23 Oktober 2016

SATU TITIK



Apa jadinya ya kalau manusia enggak punya nafsu? Hmm.. Berarti enggak punya keinginan, mati rasa, hambar. Apa masih bisa dibilang hidup? Membayangkan hidup tanpa keinginan, tanpa rasa, uhh.. susah. Manusia memang diciptakan dengan sesuatu bernama nafsu.

Nafsu. Keinginan? Hasrat? Mendengar kata ‘nafsu’ pasti sebagian besar berpikir tentang seks, padahal nafsu enggak cuma sebatas keinginan seks. Ada nafsu makan, nafsu harta, nafsu.. apalagi ya? Nafsu makan paling familiar.

Kelemahan manusia adalah nafsu. Inilah yang dimanfaatkan iblis untuk menyesatkan manusia. Kalau manusia enggak punya nafsu, enggak punya hasrat apapun. Nafsu memang bisa jadi boomerang buat manusia. Nafsu juga bisa menguasai manusia, tanpa kendali. Pernah mendengar istilah ‘orang nafsu-an’? Merekalah yang benar-benar sudah dikuasai nafsu.

Gimana caranya kita menguasai nafsu, bukan nafsu yang menguasai kita? Jangan lupakan akal sehat. Selalu ingat Tuhan. Jelas ini menjadi solusi mengatasi nafsu yang meledak-ledak. Hanya dengan mengingat Tuhan, menahan nafsu bakal bisa dilakukan dengan mudah (enggak bisa dibilang mudah juga sih, tetap harus usaha maksimal).

Memang susah menahan nafsu. Banyak godaan. Ada yang bertahan, ada juga yang akhirnya menyerah. 

Apa kamu termasuk salah satu yang susah menahan nafsu? Punya tips mengatasi nafsu yang mulai ‘nakal’? Yuk sharing![]

Jogja, 23.10.2016 
© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis