Sabtu, 30 September 2017

HARI KE-30

Wah.. enggak berasa sekarang hari ke-30. Sebulan penuh berpuasa eh ngeblog. Bangga juga walau masih merasa banyak kekurangan sana-sini. Belum jadi profesional blogger yang ngasih konten berkualitas didukung data dan fakta di lapangan. Bisa rutin sehari sekali ngeblog saja, rasanya bersyukur banget. Akhirnya blogku bisa hidup setelah sekian lama mati suri.
Sedikit flashback awal mula aku memutuskan serius ngeblog ya. Waktu itu beberapa hari sebelum ulangtahunku. Enggak ada alasan khusus, cuma waktu baca-baca postingan sendiri di blog (postingan yang so last year itu), aku langsung punya semangat buat mengaktifkan blog (lagi). Sayang kalau aktifnya cuma berkala, kala-kala posting, kala-kala enggak. Dulu pernah jadi duta shampo lain, eh maksudnya dulu pernah rutin ngeblog. Challenge sih. 30 Hari Menulis Cinta, project dari FLP Jogja. Sayangnya di hari ke-20 apa 25, eh.. apa hari ke-17 ya? Belum 30 hari, aku sudah merasa kehabisan "bahan bakar". Akhirnya macet dan yah.. ditinggalkan begitu saja. Dicampakkan. :(
Bisa dibilang aktif ngeblog dengan serius ini adalah kado ulangtahunku yang ke-24. Kado terindah. Semoga bisa istiqomah. :)
Sekarang, aku sudah merasakan nikmatnya menjadi seorang blogger, salah satu hobi yang punya "nilai" plus. Yeah.. bukan sok pura-pura enggak tahu, hobi ngeblog memang dipandang sebagai hobi intelek. Mungkin ini cuma istilah dariku, tapi enggak semua orang punya hobi ngeblog. Bahkan ada juga yang enggak ngerti "blog". Oh My... Masa sih enggak ngerti "blog"?
Nikmat ngeblog yang aku rasakan memang masih receh. Belum jadi sekeren Raditya Dika, aMrazing, Trinity, dan blogger kece lain, tapi aku akan terus berproses. Mereka menjadi keren juga bukan dalam sehari, dua hari, sebulan. Apalagi aku yang masih baru banget aktif ngeblog dan dengan bangga bilang I'm a Blogger. Bukannya sombong, tapi aku hanya menyemangati diri-sendiri sekaligus memotivasi buat terus aktif ngeblog. Aku sudah dengan bangga melabeli diri-sendiri dengan sebutan "blogger". Aku harus bertanggungjawab. Bukan sekedar gaya-gayaan. Wow! Blogger! Keren ya. Bukan, aku bukan mencari pencitraan. Aku mencari pembuktian diri. Kalau ada yang bilang keren, alhamdulillah.
Seseorang yang menikmati proses, pasti akan menikmati manisnya nanti. Enggak bisa dipastikan sebulan, setahun, dua tahun, atau bahkan ada juga yang bertahun-tahun, tapi terus menikmati proses karena manisnya itu bisa jadi dirasakan di tengah proses yang sedang dijalani.
Termasuk menikmati proses menjadi atletis yang selama ini sangat aku inginkan. Semangat~ Yo~
Jogja, 30.09.2017

Jumat, 29 September 2017

NAMA

Apalah arti sebuah nama. Hei, nama itu penting loh. Nama adalah doa. Enggak bisa sembarangan memberi nama. Pastinya arti yang positif, sepanjang apapun nama yang diberikan. Dulu, era orangtua kita baru lahir, orangtuanya Generasi 90-an khususnya, pemilihan nama cukup simpel dan tetap punya makna yang positif juga. Kebanyakan satu kata, Suharjo, Sukaesih, Suherman, Sutinah...
Let's see nama-nama generasi sekarang, eh.. tunggu.. nama-nama untuk Generasi 90-an juga beda loh. Enggak jauh beda dengan nama-nama generasi sekarang. Mana ada yang namanya cuma satu kata berawalan "-su". Paling enggak, dua suku kata. Mentok, tiga suku kata. Bagus Adisatya, Raisa Andriana, see?
Nama-nama yang diberikan untuk generasi sekarang lebih ribet. Pernah baca satu artikel, tren nama untuk sekarang memang seperti itu. Nama dengan sentuhan Arab, bukan yang semacam Hasanah, Maulana, Fatimah, Ahmad, tapi sedikit lebih ribet. Misal nama "Amira". Bukan ditulis "A-M-I-R-A" tapi "Ameera". Nama "Ahmad" bahkan ada yang ditulis "Ahmed". Beberapa ada yang ribet pelafalan, ada yang ribet penulisan.
Ada juga nama yang dikombinasikan dengan sentuhan Barat. Misal nama "Fareeha Angela Noor Firmansyah", nama paling belakang biasanya nama ayah. Bukan cuma orang Batak yang punya nama keluarga, sekarang semua orang juga punya nama keluarga. Entah di desa, kota, kombinasi nama ini tetap bertebaran. Tren nama yang sekarang memang happening.
Nama-nama yang memang wajar, ada banyak. Sangat biasa. Justru nama-nama yang unik banyak dipakai generasi sekarang. Anakku Lanang Prakasa, Biru Jingga Pelangi, dan bla.. bla.. bla.. Orangtua dari Generasi 90-an, khususnya, pasti geleng-geleng heran dengan nama yang bagi mereka ajaib ini.
Anakku besok namanya siapa ya?
Jogja, 29.09.2017

Kamis, 28 September 2017

LIBURAN

Libur 'tlah tiba.. Libur tlah tiba.. Hatiku gembira.. Hayooo... ada yang baca sambil nyanyi ya? Oke, kita seumuran.
Siapapun pasti semangat banget liburan. Enggak ada yang nolak kesempatan satu ini. Mau liburan ke mana? Maldives? Seoul? Tokyo? Bali? Gunungkidul? Beruntunglah buat yang setiap minggu bisa liburan. Apa? Setiap minggu? Setiap akhir pekan? Really? Iya, setiap akhir pekan. Keren 'kan?
Liburan itu perlu biar enggak panik. Biar enggak sedikit-sedikit sensitif. Liburan itu perlu untuk memperbaiki mood. Apalagi buat cewek yang lagi PMS, perlu banget li-bu-ran. Ayo berlibur! Kerja mulu. Nanti nyesel loh.
Manfaat liburan ada segudang, Bro, Sist. Bisa menyegarkan pikiran, ketemu orang baru, kenalan baru, pengalaman baru, semangat baru, semuanya serba refresh. Ibarat komputer, perlu dong shutdown dulu biar enggak hank. Kita juga musti shutdown dulu, musti refresh dulu. Bukan shutdown ding. Mati dong?
Destinasi liburan impianmu ke mana? Aku pengen kayak Trinity yang bisa keliling dunia dan menuangkan pengalaman liburan berharganya dalam bentuk buku. Sepertinya menyenangkan bisa berkunjung ke berbagai tempat, bertemu dengan berbagai orang, menikmati berbagai suasana. Kalau benar-benar menjadi the next Trinity, memang harus berani berkorban, sangat besar. Harus berani melepaskan pekerjaan atau ikatan apapun itu (kecuali pernikahan ya, atau pacaran menuju menikahlah) dan bersiaplah untuk keliling dunia.
Menjadi travel blogger pasti sangat mengasyikkan. Jalan-jalan bukan lagi saat waktu luang, tapi menjadi keharusan. Kerja rasa liburan, bukan liburan rasa kerja. Pernah dong merasa hectic banget saat liburan karena pekerjaan belum kelar? Kerja rasa liburan yang lebih seru. Kayaknya enggak bakalan stres tuh, kecuali belum menyelesaikan tulisan karena terlalu sibuk menikmati liburan, lupa sama kewajiban. Penthol korek!
Ayo agendakan liburan. Walau bukan setiap weekend, paling enggak setiap satu bulan atau beberapa bulan sekali menyempatkan untuk jalan-jalan, liburan, enjoy your day. Seorang teman ada yang mengagendakan, minimal setahun sekali, liburan. Memang harus berani berkorban. Cuma dalam rentang waktu tertentu loh, bukan full time travel blogger.
Liburan cuma setahun sekali. Sangat kurang sebenarnya, tapi kalau bisa liburan walau sekali dalam setahun, sangat-sangat disyukuri. Enggak semua orang bisa memanfaatkan kesempatan ini. Sebenarnya semua bisa menggunakan kesempatan untuk liburan, benar-benar liburan, enggak memikirkan kerjaan apalagi memikirkan mantan, benar-benar enjoy your day.
Aku ingin jalan-jalan ke Surabaya. Enggak ada alasan khusus, tapi sepertinya menyenangkan bisa jalan-jalan ke Jawa bagian timur ini. Yah.. sekalian icip-icip Surabaya Patata. Bukan.. bukan ini alasan utama ingin jalan-jalan ke sana. Bandung 'kan sudah pernah. Surabaya belum. Sendiri atau bareng teman (atau pacar?) sama-sama oke. Aku membayangkan jalan-jalan sendiri ke Surabaya dan benar-benar explore by my self. Wohooo.. pasti emejing sekali.
Ingin jalan-jalan ke Bandung lagi. Bandung bikin kangen! Ingin juga jalan-jalan keliling Indonesia, menikmati keberagaman, menikmati bermacam keindahan.
Can't wait!
Jogja, 28.09.2017

Rabu, 27 September 2017

BUNCIT

Ada yang bilang, cowok yang sudah menikah akan bertambah berat badannya. Sebelum menikah kurus-kering, setelah menikah berubah menjadi cerah-berisi. Enggak sedikit juga cowok yang sudah menikah pelan-pelan menyaingi perut ibu hamil. Akhirnya sebutan “bapak-bapak identik dengan perut buncit” menjadi sangat umum. Apa benar begitu? Apa ada hubungannya? Let’s check!
Cowok yang sudah menikah akan berubah posturnya, bisa jadi iya. Pasti ada kemungkinan. Istri jago masak, selalu memanjakan suami dengan cita rasa yang menggoyang lidah. Bisa jadi juga karena kurang memperhatikan penampilan. Mentang-mentang sudah menikah, enggak perlu menjaga penampilan? Enggak semua cowok yang sudah menikah lama-lama akan memiliki perut buncit tapi kalau pola hidup enggak dijaga, ada kemungkinan si perut rata perlahan menjadi semakin di depan. Sehebat apapun istri di ranjang eh di dapur dan suami tetap menjaga pola hidup sehat, bukan enggak mungkin buncit tergantikan dengan atletis.
Menjaga penampilan bukan berarti “kecentilan” datang ke salon, perawatan kulit, dan bla bla bla. Hei, cowok enggak begitu. Oke, memang ada “cowok salon”, tapi hanya satu banding sepuluh. Rajin olahraga, menjaga pola makan, dan mengatur jam istirahat bisa jadi cara menjaga penampilan. Percayalah, pola hidup sehat pasti akan sangat memengaruhi penampilan. Semakin bertambah usia, semakin banyak peluang penyakit datang ‘kan? Penyakit yang banyak dibilang sebagai “penyakit orang tua”. Enggak mau ‘kan usia masih 30-an tapi pegal-linu-encok menyerang? Apalagi penyakit yang berpotensi berakhir pada kematian.
Aku enggak ingin jadi “bapak-bapak buncit”. Walau sekarang aku masih belum memiliki perut atletis, tapi nanti setelah menikah, aku enggak akan menyaingi istri yang lagi hamil. Menyenangkan istri dengan menjaga penampilan, bukan sesuatu yang salah ‘kan? Jangan diartikan menjaga penampilan untuk memudahkan perselingkuhan. Na’udzubillah. Menjaga penampilan dengan pola hidup sehat berarti memperpanjang usia, memperpanjang masa menikmati indahnya berkeluarga. Melihat anak yang menjadi sarjana, doktor, profesor, menyaksikan anak menikah, menimang cucu. Ah, panjang sekali imajinasimu, Gus. Ini harapan. Usaha dimulai dari sekarang.
“Dulu saya punya perut kotak empat, tapi setelah menikah, perut saya jadi buncit begini,” kata seorang abang di suatu malam.
“Kok bisa?” Aku penasaran.
“Setelah menikah saya jarang olahraga. Sama ini...” Si Abang menunjuk rokok yang masih mengepul di tangan kanannya.
See? Pola hidup yang enggak terjaga, terciptalah “bapak-bapak buncit”. Bukan mendewakan cowok berperut atletis, tapi poin pentingnya bukan sekedar “menjaga penampilan”. Perut atletis jadi salah satu “bonus” pola hidup sehat. Enggak mungkin ‘kan perut atletis bisa didapatkan tanpa menjalani pola hidup sehat? Atletis artinya sehat. Sehat memang belum tentu atletis. Hanya yang berusaha lebih keras dari orang lain yang bisa punya perut atletis.
Istri mempercantik diri untuk suami. Kalau suami menjaga penampilan untuk istri, bagaimana? Ada yang keberatan? Menjadi "bapak-bapak atletis" ibarat badak bercula satu. Langka. Dan pasti harus "dilindungi", menganjurkan bapak-bapak untuk menjalani pola hidup sehat untuk memperpanjang masa hidup. Bukan berarti ingin hidup selamanya, tapi menjaga kesehatan dan bisa menikmatinya sampai akhir hayat, setiap orang pasti menginginkannya.
Iya 'kan?
Jogja, 27.09.2017

Selasa, 26 September 2017

PLASTIK

Setiap orang pasti punya masalah. This is life. Nonsense banget kalau enggak ada masalah. Indonesia punya masalah apa? You know... beberapa masalah bikin pelik dan kesannya drama banget. Enggak usah disebutin apa saja masalah Indonesia. Sebut salah satu saja deh: sampah. Masalah satu ini di Indonesia sudah ada solusi? Beberapa daerah memang sudah punya solusi buat permasalahan ini, tapi di daerah yang lain justru belum ada. Padahal sampah setiap hari bertambah. Semakin menumpuk, menumpuk, akhirnya menggunung. Pernah melihat gunungan sampah? Dan enggak sedikit dari sampah itu adalah plastik. Butuh waktu berapa lama plastik bisa terurai sempurna?
Butuh waktu 10-12 tahun agar sampah plastik bisa terurai sempurna. Sampah kertas akan benar-benar terurai dua sampai enam bulan. Sampah organik a.k.a sampah dari bahan alami seperti kulit buah, sayur, bisa terurai beberapa hari atau beberapa minggu. Paling lama sebulan. Berapa banyak sampah yang kita hasilkan hari ini? Apalagi sampah plastik. Beli ini, bungkus plastik. Beli itu, bungkus plastik. Bahkan aku pernah lihat ada seseorang yang beli air mineral dan snack, minta dibungkus plastik, yang langsung dinikmati saat itu juga. Buang-buang percuma. Walau plastik ini ada tulisan, “plastik ramah lingkungan, plastik gampang terurai, dan bla bla bla..” tetap saja namanya pemborosan. Plastik ramah lingkungan? Butuh waktu berapa lama plastik ramah lingkungan ini terurai sempurna? Seramah apapun jenis plastiknya, kalau memang bisa enggak pakai kantong plastik, kenapa harus minta?
Belum lagi saat makan di warung sebelah. Minumnya apa? Pakai sedotan? Plastik lagi.. plastik lagi.. Kalau bisa daur ulang, mengurangi sampah plastik dan bermanfaat, tapi kalau cuma dibuang? Menumpuk di tempat sampah? Bertahun-tahun bentuknya tetap sama sebelum akhirnya hilang. Belum lagi kalau ditambah dengan sampah plastik lain yang terus ada setiap hari.
Penggunaan plastik di Indonesia memang pernah dikurangi. Entah memang waktu itu sedang boom atau aku yang kudet alias kurang update, tapi waktu itu banyak minimarket dan supermarket memberikan harga sendiri untuk satu kantong plastik. Ada supermarket yang menyediakan tas kain sebagai pengganti kantong plastik. Tas kain ini tentu bisa digunakan berulang-ulang. Aku sempat beli satu tas kain ini.
Sekarang aturan itu enggak ada. Mungkin di salah satu supermarket masih diterapin aturan ini tapi enggak boom seperti waktu itu. Aku lebih memilih enggak menggunakan kantong plastik. Sebisa mungkin menghindari. Kalau masih bisa dibawa tanpa kantong plastik, enggak bakal minta. Dipikir, sayang juga kantong plastik cuma sekali pakai kemudian dibuang. Berakhir di tempat sampah. Begitu saja.
Kalau bisa memanfaatkan kantong plastik untuk sesuatu yang lain, good job! Kalau enggak bisa tanpa kantong plastik dan merasa ribet bawa tas belanja sendiri yang bisa digunakan berulang, harus mau menyimpan kantong plastik itu dan dimanfaatkan buat sesuatu yang lain.
Seorang teman pernah bilang, setiap kantong plastik hasil belanja selalu dikumpulkan. Bahkan sampai menumpuk banyak banget dan akhirnya memang jadi sampah. Cara ini bisa digunakan daripada membiarkan kantong plastik hanya berakhir di tempat sampah dan menunggu bertahun-tahun untuk bisa lenyap.
Sebaiknya memang harus benar-benar mengurangi penggunaan kantong plastik dari sekarang. Bawa kantong belanja sendiri yang bisa digunakan berulang, jangan pakai sedotan kalau memang bisa, minum susu kemasan tentu harus pakai sedotan, mengurangi sesedikit mungkin penggunaan kantong plastik.
Sempurna menghindari masih susah, karena bukan cuma kantong belanjaan yang terbuat dari plastik, tapi bungkus makanan yang dibeli juga dari plastik. Iya, mengurangi penggunaan kantong plastik, tapi beli snack, bungkusnya juga plastik.
Ya.. seenggaknya bisa mengurangi penggunaan walau belum bisa benar-benar menghindari.
Mungkinkah benar-benar bisa menghindari?
Jogja, 26.09.2017

Senin, 25 September 2017

POSTUR

Apa kabar atletis? Du du du~ Masih tetap seksi kok. Masih enak dipeluk. Sini.. sini.. Setiap orang punya bentuk tubuh yang berbeda-beda. Ada yang kurus, biasa, gemuk, atletis. Kamu pilih mana? Aku pilih atletis. Mau lihat "roti sobek" di perutku? Bukan roti sobek, tapi roti kasur. Entah aku terdoktrin sejak kapan, bagiku bentuk tubuh ideal yang sangat pas dan tentunya sangat menggoda adalah atletis. Lengan yang padat, bukan bergelambir karena lemak, dada bidang yang padat, perut yang atletis dengan gurat-gurat "roti sobek", entah perut seperti ini keras atau seperti apa, belum pernah pegang. Apalagi kalau ada v-line, mantap, Bro! Cewek normal manapun pasti enggak bisa nolak cowok berbody seperti ini.
Atletis yang menarik itu bagiku yang enggak sekering binaraga. Otot-otot yang terlalu bertonjolan bukan lagi suatu keindahan. Maksudnya nilai estetika berkurang. Atletis yang berestetika, atletis yang pasnya segini, mengutip tagline L-Men. Cewek juga ada yang enggak nyaman dengan cowok ala Hulk. Atletisnya binaraga yang ototnya bertonjolan ke mana-mana. Beberapa bahkan ada yang takut. Takut patah tulang waktu dipeluk.
Aku terobsesi bentuk tubuh atletis. Bukan terlalu terobsesi atau apa, tapi aku sangat menginginkan bentuk tubuh ideal seperti ini. Pernah baca sekilas, Rasulullah punya tubuh yang atletis. Enggak gemuk, enggak kurus. Ideal. Ada juga orang yang pengen banget gemuk. Mungkin maksudnya padat-berisi. Percayalah, kalau memang benar-benar ingin gemuk, dia pasti akan menyesal. Gemuk itu enggak enak. Enak itu padat-berisi, bukan berisi banyak lemak. Gemuk bisa bikin cepat capek. Sedikit-sedikit ngos-ngosan. Nafasnya pendek-pendek. Mager. Maunya makan terus. Enggak produktif. Belum lagi bahaya kesehatan yang mengintai. Semua orang punya potensi terserang penyakit-penyakit yang menjadi momok buat kesehatan ini, cuma postur tubuh gemuk menjadi yang lebih rentan terserang.
Gemuk atau kurus sama-sama punya potensi, yang membedakan adalah pola hidup. Menjalani pola hidup yang sehat tentu bisa mengurangi bahkan menghindari serangan penyakit-penyakit ini. Tentunya pola hidup ini membuat seseorang enggak kegemukan, enggak juga terlalu kurus. Lebih bagus lagi, pola hidup sehat diimbangi dengan latihan, workout, semacam latihan atletik begitu kali ya. Selamat tinggal gemuk dan kurus! Selamat datang atletis!
Aku sering bilang begini, "Aku enggak ingin kurus." Aku hanya ingin postur yang ideal dan atletis. Healthy life for a better future. Sekarang aku memang belum seperti selebgram berbadan kotak-kotak itu. Latihan setiap hari, enggak pernah kasih kendor. Bukan setiap hari, tapi rutin. Enggak kayak aku yang masih bolong-bolong. Seenggaknya aku menjaga pola makan. Sangat berbeda pola makanku sekarang dengan dulu awal-awal kuliah.
Kenapa dia makan banyak tapi enggak gemuk? Sementara yang lain ada yang sekali makan banyak, langsung menambah persediaan simpanan lemak tubuh. Kenapa bisa seperti ini? Google, please.
Kenapa dia makan banyak tapi enggak gemuk? Karena metabolisme tubuhnya bekerja sangat cepat. Kalori cepat terbakar dan enggak membiarkan lemak tersimpan di tempat yang enggak tepat. Kuli bangunan walau makannya banyak, lihat saja nasi yang menggunung, gorengan, dan makanan-makanan yang berpotensi menjadi gemuk, tetap punya postur yang proporsional. Enggak sedikit yang otot lengannya terbentuk sempurna, bahkan gurat kotak-kotak juga tercetak di perutnya. Makanan-makanan itu berubah menjadi tenaga. Sebanyak apapun.
Kalau enggak seaktif kuli bangunan, lebih sering diam dalam ruangan, bukan yang mengandalkan kekuatan fisik, makan ala kuli bangunan tentu sangat berpotensi menjadi gemuk. Enggak seimbang antara asupan untuk tubuh dan energi yang dikeluarkan.
Hampir setiap orang bermimpi atau terobsesi memiliki postur tubuh ideal. Atletis, berotot, perut "roti sobek", dan buat cewek pengen payudaranya lebih kencang, bokongnya kencang, dan bla bla bla.
Kata JKT48, "Usaha kerasa tidak akan mengkhianati."
Jogja, 25.09.2017

Minggu, 24 September 2017

SEMBUNYI

Debat di media sosial bukan jadi sesuatu yang baru. Setiap hari selalu saja ada yang saling merasa benar, saling serang di media sosial. Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain, dan sebagainya. Rasanya jengah dengan komentar-komentar warganet yang enggak sedikit enggak punya etika sama sekali. Kasar, merendahkan pihak lain, fitnah, bebas-sebebasnya. Saking luasnya dunia media sosial membuat siapapun merasa nyaman dan sah-sah saja melakukan apapun, termasuk hate speech, memecah-belah, entah ada tujuan terselubung apa dibalik itu semua.
Apa mungkin mereka orang-orang enggak ada kerjaan? Terlalu santai membuat mereka mencari perhatian dengan ujaran kebencian? Entah apa yang di pikiran warganet satu ini. Bikin geleng-geleng kepala lagi, enggak sedikit dari warganet tipe seperti ini yang menggunakan identitas anonim. Menyembunyikan identitas yang sebenarnya. Mereka pengecut. Hanya berani melempar batu, kemudian sembunyi tangan.
Beberapa kali aku sengaja kepo akun yang memakai ujaran kebencian itu. Akun anonim. Entah pakai ava siapa, nama akun yang entahlah. Identitas anonim ini yang membuat si "pelaku" begitu mudahnya berkomentar, enggak peduli bisa menyakiti orang lain atau bahkan menjadi provokasi yang mengarah kepada perpecahan.
Kok bisa ya ada akun khusus buat begini? Komentar nyinyir, mengkritisi segalanya secara serampangan. Ada yang terprovokasi dengan anonim-anonim ini, tapi ada juga yang cuek. Anjing menggonggong, kafilah berlalu.
Tipikal warganet seperti ini memang enggak usah direspon. Bisa jadi respon yang diberikan membuat mereka tertawa-tawa bahagia. Sengaja memperkeruh.
Warganet yang bersembunyi saat mengeluarkan ujaran kebencian sejatinya seorang yang pengecut. Berani berkomentar sesuka hati tapi enggak berani memunculkan identitas diri. Jelas, warganet tipe ini adalah perusak. Bukan mengkritisi. Sok mengkritisi lebih tepatnya. Kalau memang ingin kritis, harus siap dengan semua resiko, termasuk enggak menutup-nutupi identitas pribadi. Demi apa? Keamanan? Dari apa?
Masih heran dengan warganet seperti ini. Kenapa mereka ada? Kenapa mereka enggak berpikir apa yang dikatakan terkadang bukan sesuatu yang pantas? Apa mereka benar-benar enggak paham etika?
Sopan-santun berpendapat itu harus, sekalipun di media sosial.
Jogja, 24.09.2017

Sabtu, 23 September 2017

SAKIT

Rasa sakit apa yang pernah kamu rasakan? Rasa yang paling sakit. Waktu sunat. Diputusin tanpa alasan yang jelas. Digantungin. Friendzone. Ditikung sahabat sendiri. Jadi itu rasa sakit yang paling sakit? Usaha enggak sukses-sukses, banyak hutang pula. Gimana enggak sakit? Sakit, Bro. Sakitnya tuh, sakitnya tuh di sini.
Semua rasa sakit itu, rasa sakit yang kamu bilang, masih belum seberapa dibanding rasa sakit seorang perempuan saat melahirkan kehidupan. Melahirkan aku, kamu, mereka, artis, presiden, semua. Seperti apa sakitnya? Seperti seluruh urat dalam tubuh putus dan tercerabut dengan paksa. Bisa dibayangkan seperti apa sakitnya? Sakit yang paling sakit di dunia ini. Perempuan mampu menahan sakit itu. Melewati fase antara hidup dan mati demi bayi mungil yang dinantikan. Perempuan, seorang ibu, yang meninggal karena berjuang melahirkan kehidupan, hanya Surga yang abadi penggantinya. Tanpa hisab, sudah tersedia satu istana di Surga-Nya. Mati syahid. Sungguh mulia seorang perempuan, seorang ibu. Rasulullah berkata, "Hormatilah ibumu, ibumu, ibumu, kemudian bapakmu." Kasih Ibu sepanjang masa tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali.
Memang merinding disko mengingat perjuangan perempuan saat melahirkan. Aku, kamu, mereka, dilahirkan dengan cara yang sama. Aku, kamu, mereka, dilahirkan dengan rasa sakit yang enggak ada bandingannya. Suatu kebanggaan yang luar biasa buat seorang perempuan bisa melahirkan normal, tanpa operasi. Melewatinya dengan rasa sakit yang akan tergantikan dengan sebuah istana di Surga nanti.
Seorang teman pernah bercerita tentang perjuangannya saat melahirkan. Enggak segampang adegan dalam film. Kelihatannya mengejan sekali, sudah, selesai. Lahirlah si jabang bayi. Butuh waktu berjam-jam, merasakan sakit yang timbul-tenggelam sampai akhirnya tibalah saatnya si mungil dalam rahim merangsek ingin keluar. Terpanggil oleh lika-liku dunia yang sudah menantinya.
Aku memang belum menjadi ayah. Aku belum pernah melihat sendiri seperti apa perjuangan seorang perempuan saat melahirkan. Mendengar cerita dari teman yang sudah melahirkan buah cinta, benar-benar membuatku merinding. Sakit yang teramat sakit dan hebatnya semua itu berhasil terlewati. Seperti sakit saat disunat? Ah, sepertinya lebih sakit dari itu. Sakit level yang paling tinggi.
Kalau semua orang mengingat betul perjuangan sang ibu saat melahirkan, pasti enggak ada yang cuek, terlalu sibuk dengan dunia sendiri, dan melupakan sang ibu. Apa kita sudah lupa perjuangan melawan sakit, atau lebih tepatnya menikmati sakit, saat seorang ibu melahirkan kita? Waktu itu memang kita enggak mungkin mengingatnya, tapi mengetahui, betapa sakitnya proses persalinan itu, masihkan kita cuek, sibuk dengan dunia sendiri, dan melupakan sang ibu?
Ada satu alat yang bisa memberikan sensasi sakit yang sama seperti saat melahirkan. Laki-laki harus mencobanya. Waktu aku melihat video itu, laki-laki setangguh apapun, seperkasa apapun, akan langsung kelojotan menerima rasa sakitnya. Sakit yang enggak ada bandingannya.
Setiap ibu pasti mencintai anak-anaknya. Setiap ibu enggak mungkin menyia-nyiakan anak yang dengan penuh perjuangan berhasil dilahirkan. Kalau ada ibu yang membuang bayinya, ibu yang enggak menginginkan kehadiran bayi mungilnya, tetap saja ada sebentuk cinta di dalam hatinya, walau tertutupi oleh gumpalan hitam yang menghalangi cahaya cinta itu.
Apa setiap anak mencintai ibunya sebesar dia mencintai pasangan hidupnya? Adakah hubungan seorang anak dengan ibunya seromantis romansa cinta merah jambu? Bukan, bukan tentang cinta yang berujung nafsu, tapi cinta yang memberikan rasa manis di hati. Adakah? Pasti ada.
Kamu 'kan?
Jogja, 23.09.2017

Jumat, 22 September 2017

APA INI?

Oke. Sepertinya aku mulai lelah. Waktu terus berjalan dan belum update blog? Apa komitmen yang dibangun waktu itu sudah mulai runtuh? Konsistensiku sudah bagus. Sudah lebih dari 25 hari. Ya, sebanyak itu dan aku akan mengakhirinya begitu saja? Katanya mau jadi blogger? Bahkan aku sudah menuliskan “I’m a blogger” di semua bio media sosialku. Dan sekarang aku mengakhirinya? Selesai? Enggak ada lagi komitmen yang waktu itu yang kokoh tak tertandingi? Semen kali.
Aku yang terlalu malas. Kenapa enggak update blog sejak tadi pagi? Terlalu banyak menunda. Seharusnya rencana update blog bukan seperti ini. Sudah di luar rencana. Sedikit berantakan. Semakin berantakan dengan feeling yang menjadi kenyataan. Ya, sebelum aku siaran, aku sempat punya feeling, internet di studio mati. Bagaimana kalau benar seperti itu? Ah, enggak mungkin. Ternyata benar! Internet di studio mati. Update blog harus tertunda sampai menjelang tengah malam. Beberapa jam sebelum berganti hari dan konsistensi satu hari satu update akan sia-sia. Bolong sehari! Oh, jangan! Jangan sampai bolong!
Akhirnya tulisan ini yang terbit. Semacam keluh-kesah dan menyalahkan diri-sendiri. Ya, aku memang salah. Terlalu malas, terlalu banyak menunda. Apa aku harus blak-blakan di sini? Aku terlalu banyak o… Berhenti! Jangan teruskan. Aku lapar. Aku ingin makan tapi makan apa jam segini? Aku ingin atletis. Makan jam segini “diharamkan”. Bagaimana aku akan mendapatkan perut kotak-kotak kencang sempurna kalau selarut ini makan? Aku lapar. Mood-ku berubah jelek. Akhirnya justru menjadi tulisan seperti ini. Sangat di luar rencana. Apa ini? Aku mengeluh? Apa menariknya keluhanku ini? Aku mempromosikan setiap update blog di Twitter dan mendapatkan retweet dari sebuah akun promosi blog. Apa tulisanku kali ini layak dipromosikan? Tulisan macam apa ini? Cuma keluh-kesah karena diri-sendiri yang terlalu malas.
Demi update ini, harus datang ke Perpustakaan Kota. Wifi gratis. Iya, wifi memang gratis, tapi wifi di salah satu café, tepat di sebelah internet café, wifi harus ditebus dengan nominal Rp 10 ribu. Kalau memang ada yang benar-benar gratis, kenapa pilih yang bayar?
Setelah sibuk berpikir sendiri, akhirnya aku memilih update blog di warnet cafe. Jelas cepat dan PC enggak lemot. Kalau wifi di Perpustakaan Kota, sebentar lagi tutup. Waktuku enggak banyak. Pasti enggak sempat, apalagi PC-ku sungguh terlalu lemotnya.
Apa tulisan ini berhak untuk dipromosikan? Rasanya sangat enggak penting. Ingin marah, ingin teriak, semua ini gara-gara aku sendiri. Jangan mencari kambing hitam. Aku memang salah! Aku terlalu malas. Semuanya jadi berantakan. Bagaimana rasanya? Apa besok aku akan seperti ini lagi? Mengulang kesalahan yang sama? Sungguh sangat merugi seseorang yang menjalani hari besok sama dengan hari ini. Enggak ada perubahan menjadi lebih baik. Apa aku mau seperti itu?
Oke, ini adalah luapan kekecewaan. Luapan kemarahan. Akhirnya jadi satu tulisan ‘kan? Iya, tapi…
Ah, sudahlah. Sepertinya aku memang butuh makan sekarang untuk mengembalikan mood positif.
Jogja, 22.09.2017

Kamis, 21 September 2017

HIJRIYAH

Selamat Tahun Baru Islam 1439 H. Semoga di tahun yang baru ini semakin dimudahkan semuanya. Tentu dimudahkan untuk kebaikan dong. Kok enggak ada euforianya? Bedalah dengan Tahun Masehi. Makna Tahun Islam a.k.a Tahun Hijriyah itu apa sih? Penjelasannya panjang. Aku belum terlalu paham juga. Loh, kok gitu? Miris ya?
Bukan beralibi atau semacamnya, tapi yang sama belum paham tentang makna Tahun Hijriyah, bukan cuma aku kok. Ini bukan alibi loh tapi memang faktanya begitu. Jangankan Tahun Islam, bulan-bulan hijriyah saja masih banyak yang enggak paham urutannya bagaimana, sekarang bulan apa, dan lain-lain, dan kawan-kawan. Paling paham pasti bulan Ramadhan, yakin deh mulai dari balita sampai bangkotan pasti sangat paham dengan bulan yang satu ini.
Tahun Hijriyah dihitung berdasarkan masa hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah. Berbeda dengan Tahun Masehi yang berdasarkan perputaran matahari, Tahun Hijriyah berdasarkan perputaran bulan. Pergantian hari Tahun Hijriyah bukan dimulai jam 12 malam, tapi saat matahari terbenam. Sedikit info saja ya. Mohon koreksi kalau ada kesalahan. :)
Kalau Tahun Baru Hijriyah ini enggak jadi hari libur nasional, mungkin banyak yang enggak 'ngeh'. Kenapa Indonesia menggunakan Tahun Masehi? Kenapa bukan Tahun Hijriyah? Tanya kenapa?
Setiap Muslim pasti tahu Tahun Hijriyah. Walau enggak atau belum paham maknanya tapi seenggaknya tahulah. Kenapa Indonesia bukan memakai Tahun Hijriyah? Kenapa menggunakan Tahun Masehi? Berdasarkan kepo, penggunaan Tahun Masehi karena bisa diterima pemeluk agama apapun. Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan lain-lain, dan kawan-kawan, dan masih banyak lagi agama dan kepercayaan di dunia ini. Saudi Arabia pakai Tahun Masehi juga enggak ya? Ya iyalah. Cuma, mungkin di Arab juga familiar dengan Tahun Hijriyah. Sama familiarnya dengan Tahun Masehi.
Pergantian Tahun Hijriyah ini memang enggak seheboh pergantian Tahun Masehi. Apa perlu pergantian tahun harus ditandai dengan euforia yang luar biasa? Banyak cara yang dilakukan dalam menerima pergantian. Bukan cuma pergantian tahun loh ya. Cara "memeriahkan" pergantian Tahun Baru Hijriyah bukan dengan terompet dan kembang api, tapi dengan doa. Ada doa penutup tahun dan amalan yang bisa dilakukan saat pergantian Tahun Hijriyah.
Angka tahun '1439 H' mengingatkanku dengan Ramadhan. Tahun ini memasuki 1439 H. Masih tersisa berapa tahun lagi? Only God to know.
Jogja, 21.09.2017

Rabu, 20 September 2017

GENERASI 90

Tazoz. Tamagochi. Keluarga Cemara. Lupus Milenium. Saras 008. Wiro Sableng. Sailormoon. Power Rangers Mighty Morphin. Kalau disebutin satu-satu bakal panjang banget. Iya ‘kan Generasi 90-an? Hei, apakabar? Lagi sibuk kerja ya? Kuliah? Membina rumah tangga? Begitulah Generasi 90-an sekarang. Generasi fase awal banyak yang sudah menikah dan punya anak. Generasi fase tengah lagi sibuk berkarir. Generasi fase bungsu lagi kuliah. Begitu cepat waktu berlalu. Banyak yang kita rindukan dari waktu itu.
Ada sesuatu yang membuat Generasi 90-an baper mengingat kembali masa-masa itu. Pasti enggak sedikit Generasi 90-an yang tetap mengenang apapun dari masa itu. Ada satu kesamaan yang menyatukan walau berbeda usia. Kita generasi yang sama. Bersatu karena kesamaan pengelompokkan yang banyak orang bilang sebagai "generasi".
Tiga fase yang sekarang sedang dirasakan Generasi 90-an memang ada benarnya. Aku yang berada di fase tengah merasakan betul. Teman-teman seusiaku sekarang lagi sibuk berkarir. Sudah masanya Generasi 90-an fase tengah ini mengisi posisi di berbagai bidang. Pegawai bank, petugas pencatatan SIM, dan lain-lain, dan kawan-kawan. Ada juga yang sibuk menyelesaikan tesis, bahkan disertasi, skripsi juga ada sih, tapi fase tengah ini menjadi semacam gerbang menuju dunia nyata yang sebenarnya.
Lima atau enam tahun lalu, fase tengah sedang merasakan dunia baru menjadi mahasiswa. Katanya gerbang kedewasaan mulai terbuka karena memasuki dunia kuliah tanggung jawabnya enggak si simpel anak sekolah. Waktu itu Generasi 90-an fase awal sedang merasakan apa yang aku rasakan sekarang.
Lima tahun ke depan, fase tengah juga akan merasakan yang sekarang sedang dirasakan Generasi 90-an fase awal. Waktu enggak terasa akan cepat berputar.
Masa-masa produktif “yang masih hangat” memang baru dirasakan si fase tengah ini. Fase bungsu, bersiaplah.
Fase awal, fase tengah, fase bungsu, apa sih?
Oh iya, lupa menjelaskan. Fase awal, Generai 90-an awal, mereka yang lahir 1990-1992. Fase tengah, mereka yang lahir 1993-1995. Fase bungsu a.k.a terakhir, sisanya, ya kali makanan pakai ada sisa segala, mereka yang lahir 1996-1999. Ada yang bilang Generasi 90-an adalah mereka yang lahir rentang 1980-an sampai 1999. Aku menyebut Generasi 90-an untuk mereka yang memang lahir di era 90-an, 1990 – 1999. Mana yang benar? Google, please.
Setiap orang pasti akan merasakan “tanggung jawab” fase masing-masing. Selagi masih bisa menikmati fase yang sekarang, nikmatilah.
Jogja, 20.09.2017

Selasa, 19 September 2017

BLAK-BLAKAN

Kalau manusia punya kemampuan membaca pikiran dan isi hati seseorang, enggak masalah kalau enggak blak-blakan. Apa yang ada di pikiran kita belum tentu sama dengan isi pikiran orang lain. Satu-satunya cara menyatukan pikiranku dengan pikiranmu agar menjadi pikiran kita, ya dengan blak-blakan. Jangan cuma saling diam dan yakin realita akan sama dengan yang ada di pikiran masing-masing. Apa susahnya ngomong? Bukan sesuatu yang negatif 'kan?
Blak-blakan ini juga ada hubungannya dengan sikap saling mengingatkan. Orang bijak bilang, manusia adalah tempatnya lupa. Saling mengingatkan demi mengurangi lupa-lupa itu. Sayangnya ada yang punya prinsip, "Seharusnya dia sudah tahu apa yang menjadi tugasnya." Setiap orang memang memiliki prinsip yang berbeda, tapi masa iya hanya sekedar "saling mengingatkan", enggak mau sama sekali? Pada akhirnya justru berantakan kalau hanya diam dan tetap berprinsip "ah, seharusnya dia sudah tahu".
Blak-blakan kesannya tanpa tedeng aling-aling ya? Langsung jedhaaar enggak pakai basa-basi. Jadi gini... Blak-blakan artinya katakan apa yang seharusnya dikatakan. Tanyakan apa yang masih menimbulkan pertanyaan. Jangan berprinsip, "Ah, pasti dia sudah tahu." Halo? Kita enggak dianugerahi kemampuan membaca pikiran dan isi hati orang lain, remember?
Beda dengan peka yang akhirnya justru langsung bertanya. Kalau masih berprinsip "ah, pasti dia sudah tahu", sampai Raisa punya cucu juga enggak akan blak-blakan. Orang Jawa bilang, "Mung dibatin."
Kalau memang harus mengingatkan, ayo katakan. Kalau memang harus dipertanyakan, tanyakan. Jangan cuma berputar-putar dengan pikiran sendiri dan berharap orang lain bisa memahaminya. Kecuali kalau kita bicara dengan Jean Grey a.k.a Phoenix dari X-Men.
Kalau nanti ada error, ya wajar kalau masih mung dibatin itu, tapi jangan selalu "diwajarkan" sampai menjadi kebiasaan. Sesuatu yang buruk kok dibiasakan?
Jogja, 19.09.2017

Senin, 18 September 2017

TETAP SATU

Berbeda-beda tapi tetap satu jua. Pasti enggak asing sama slogan satu ini. Kita berbeda, tapi jangan sampai terpecah-belah. Rasanya merinding disko saat semua perbedaan bersatu dan saling mendukung, bukan saling menikung.
Sekarang banyak permasalahan yang terjadi di antara kita. Isu tentang ini, tentang itu, yang membuat "berbeda-beda tapi tetap satu jua" hanya menjadi sebuah slogan tanpa makna. Sebelum benar-benar pecah berantakan (jangan sampai ini terjadi), ayo satukan lagi. Jangan mudah terprovokasi oknum yang mengatasnamakan apalah itu. Memang enggak semudah membalik telapak tangan, tapi setiap usaha menuju kebaikan, pasti Tuhan berikan jalan.
Bagaimana caranya? Pertandingan olahraga. Sadar atau enggak, pertandingan satu ini bisa menyatukan kita tanpa melihat perbedaan. Satu tujuan memberikan dukungan yang sama. Khususnya untuk pertandingan olahraga antar negara. Kalau pertandingan olahraga antar kelurahan, ngng..
Sepakbola, voli, tinju, golf, baseball, dan lain-lain, dan kawan-kawan (dua terakhir enggak biasa ada di Indonesia sih). Lihat saja saat pertandingan olahraga antara Indonesia melawan Malaysia misal. Benar-benar bhineka tunggal ika. Sangat terasa. Merinding disko. Seandainya kita tetap bersatu-padu seperti ini dan seterusnya. Pasti kita akan menjadi kuat dan enggak gampang diaduk-aduk oknum enggak bertanggungjawab.
Kita enggak hidup sendiri. Wajar kalau ada perbedaan. Warna menjadi terlihat menarik karena ada banyak perbedaan 'kan? Ada merah, kuning, hijau, di langit yang biru. Kenapa harus mempermasalahkan perbedaan? Selama masih positif, kenapa yang berbeda harus dipaksa menjadi sama? Ingat loh berbeda-beda tapi tetap satu jua.
Memang pernah ada kasus perpecahan karena pertandingan olahraga. Ini sih mentalnya saja yang kerupuk kadaluarsa. Namanya juga pertandingan, pasti ada si pemenang dan ada yang terkalahkan. Menang, harus bersyukur. Kalah, enggak boleh tawur. Please! Jangan bar-bar. Kita hidup bukan di zaman Dinosaurus.
Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi eh bercerai kita runtuh. Slogan klasik tapi lagi-lagi berlaku sepanjang masa.
Jogja, 18.09.2017

Minggu, 17 September 2017

MERINDU RASA

Dulu membaca buku jadi kegiatan semanis cokelat. Sangat menyenangkan. Masih ingat banget waktu SD sangat antusias saat perpustakaan buka. Apalagi dulu perpustakaan SD-ku enggak setiap hari buka. Waktu SD juga, toko buku adalah "surga yang sangat dirindukan". Masa itu toko buku sekelas Gramedia memang enggak ada di daerahku, atau aku yang enggak tahu? Ingat juga waktu study club SMA ke Jogja dan pertama kali melihat toko buku Gramedia, wow.. I'm so excited! Rasanya pengen mampir, pengen beli buku, walaupun waktu itu enggak mampir sama sekali.
Apa sekarang kegiatan membaca masih senikmat dulu? Enggak. Apa karena gadget? Iya. Blak-blakan saja, gadget memang sangat memengaruhi kebiasaan membaca buku. Menghilangkan rasa semanis cokelat yang dulu pernah ada. Ah, rasa yang sekarang dirindukan.
Dulu membaca buku enggak bergantung penulisnya siapa, rekomendasi siapa, viral atau enggak. Merasa buku itu menarik, langsung dibaca dan tenggelam di dalamnya. Sekarang sangat berubah. Seperti waktu yang terus berputar dan berubah, rasa nikmat membaca sekarang juga berubah. Membaca buku dari penulis yang enggak dikenal, buku yang enggak viral, kok rasanya enggak ada greget sama sekali? Hambar.
Korban gadget? Ya. Setiap hari selalu gadget.. gadget.. gadget.. Sekarang buku enggak selalu dibawa ke mana-mana. Baru membaca beberapa halaman, tanpa sadar kantuk datang. Entah bukunya membosankan atau memang kenikmatan membaca buku sudah menguap? Bukunya memang membosankan sih.
Sehari berapa lembar membaca buku? Apa bisa membiasakan lagi kenikmatan itu? Tiap ada waktu luang bukan lagi dimanfaatkan untuk membaca buku, tapi membuka gadget, sibuk scroll layar empat inchi yang sebenarnya enggak penting. Sedih, tapi begitulah kenyataannya.
Kamu berubah, Gus. Kamu berubah.
Kegelisahan yang sama juga dirasakan beberapa teman. Kenikmatan yang dulu pernah ada, sekarang menghilang. Hanya menyisakan sedikit memori yang bisa sedikit mengingatkan, bukan menyalakan kembali rasa semanis cokelat saat membaca buku.
Ingin sekali kembali menjadikan book is my life. Saat menunggu, bukan lagi asyik dengan gadget, tapi dengan buku. Menyelami dunia di dalamnya seolah dunia itu benar-benar ada di depan mata.
Jangan bandingkan minat membaca buku kita dengan minat membaca buku negara seberang. Percayalah, setelah itu ada sedikit penyesalan karena sudah tahu satu fakta ini.
Bagaimana caranya membiasakan (lagi) membaca buku? Mulai (lagi) dengan buku-buku yang kita suka. Usahakan setiap hari harus ada aktivitas membaca buku, bukan membaca layar empat inchi. Cinta itu hadir karena terbiasa 'kan?
Jangan terlalu bergantung dengan gadget. Luang sebentar, buka gadget. Nunggu ojek online, buka gadget. Without gadget is no day. Sadar atau enggak, gadget justru menjadikan kita sebagai budak. Pelan-pelan gadget mengubah beberapa kebiasaan dan bahkan menghilangkannya.
Membaca buku adalah cara melatih theater of mind, melatih daya imajinasi. Pasti ada sepotong adegan yang berbeda saat satu orang dengan yang lain membaca satu buku yang persis sama.
Buku digital memang membanjir, tapi percayalah kenikmatan membaca buku fisik enggak akan terganti. Mungkin ada yang bilang kuno, tapi koran, majalah, buku (yang secara fisik memang ada) akan selalu menempati posisi pertama (yah.. sejujurnya hanya buat sebagian orang, bukan semuanya).
Aku lebih suka membaca buku fisik daripada membaca buku digital. Ada satu kenikmatan yang berbeda.
Sekarang, membaca buku fisik bukan lagi jadi sesuatu yang diprioritaskan. Bukan juga karena kesibukan yang rapat, tapi karena...
Ya, karena itu.
Jogja, 17.09.2017

Sabtu, 16 September 2017

UANG

Persahabatan bisa hancur karena uang. Pernikahan bisa hancur karena uang. Apalagi yang bisa hancur karena uang? Dunia ini bahkan bisa dikuasai satu orang cuma dengan uang. Gampang sekali bilang ‘cuma’. Uang memang racun tapi tanpa uang apa bisa? Sekarang semua serba uang. Makan, butuh uang. Belanja, butuh uang. Pup juga butuh uang... kalau di toilet umum.
Sekarang memang bukan zaman barter. Sangat dimudahkan dengan adanya alat tukar bernama uang. Semua orang bisa menerimanya. Bisa dibayangkan riweuh-nya kalau sekarang masih zaman barter. Jadi ingat kelas Ekonomi di SMA.
Uang memang punya dua sisi. Familiar 'kan dengan istilah 'bagai dua sisi mata uang yang saling berdampingan'? Kebaikan dan keburukan. Positifnya bisa digunakan untuk membantu yang membutuhkan. Uang kalau digunakan untuk kebaikan, pasti bermanfaat. Negatifnya ada yang gelap mata karena uang. Menghancurkan apa yang sudah terbangun hanya demi uang. Berkaca pada ‘drama’ antara dua Youtuber Indonesia, akar permasalahan sebenarnya karena uang.
Sebelumnya, dua Youtuber ini bersahabat. Sekarang justru hubungan mereka memanas karena salah satu merasa dicurangi. Penyebabnya adalah uang. Enggak sesuai kesepakatan tentang pembagian sesuatu yang berhubungan dengan uang, membuat satu Youtuber ini berang. Mungkin ini ujian persahabatan mereka.
Uang juga bisa menjinakkan ‘singa’ seperti kucing Angora yang siap bermanja-manjaan di pangkuanmu. Yes! Uang itu seperti mantra. Mungkin mantra terkuat. Semuanya bisa berjalan lancar asal ada uang. Asal punya uang.
Iyakah?
Enggak selamanya uang bisa menjadi jaminan happily ever after. Ada masa, uang justru menjadi lubang buaya. Setelah terjebak di dalamnya, hanya ada penyesalan berkepanjangan. Bagaimana caranya enggak diperbudak uang? Bagaimana caranya enggak bergantung dengan nilai bernama uang? Kita kerja untuk mendapatkan uang. Kerja keras untuk mendapatkan uang. Kebahagiaan bisa diantarkan kalau ada uang. Apa bisa enggak bergantung dengan uang?
Bisa.
Bergantung di sini maksudnya enggak men’dewa’kan uang. Enggak menempatkan uang di posisi paling atas. Uang itu fana. Datang sesaat kemudian pergi. Untuk memanggilnya kembali harus menunggu berhari-hari. Seperti fatamorgana yang terlihat menggoda tapi setelah didekati justru hilang dan menguap. Kalau standar kebahagiaan adalah uang, diukur berdasarkan nilai, enggak ada yang merasakan kebahagiaan. Uang bisa membantumu mendapatkan keinginan, tapi setelah uang pergi, apa keinginan itu juga akan pergi?
Ortodok sekali kalau berselisih karena uang.
Nyatanya memang ada sih.
Jogja, 16.09.2017

Jumat, 15 September 2017

TUJUAN

Kalimat ‘makan untuk hidup’ dan ‘hidup untuk makan’ mengingatkanku dengan lirik lagu ‘Ku Bahagia’ yang dinyanyikan Sherina dalam film Laskar Pelangi. Walau makan susah, walau hidup susah, walau tuk senang pun susah..’ Kenapa ‘makan’ dulu baru ‘hidup’? Izinkan aku bertanya dan silakan kamu menjawab. ‘Apa yang kamu pilih, makan untuk hidup’ atau ‘hidup untuk makan?’ Pilihan yang bisa menjebak. Sekilas seperti enggak ada beda. Kita hidup untuk makan. Kita makan untuk hidup. Eits! Kamu terjebak!
Kita bukan hidup untuk makan, tapi makan untuk hidup. Masa iya seumur hidup hanya memikirkan isi perut? Hidup bukan cuma tentang makan, tapi makan jelas untuk bisa tetap hidup. Kelihatan sih buat yang jeli, seseorang yang tujuan hidupnya ‘makan’. Bukan arti secara harfiah, tapi arti yang lebih luas lagi.
Makan itu nafsu. Nafsu itu ada makan, seksual (apa termasuk keinginan beli ini dan itu, memiliki itu dan ini juga?). Kalau tujuan hidup hanya makan (baca: nafsu), sampai musim semi ada di Pluto, enggak bakal ada habisnya. Selalu ingin lagi, lagi, lagi. Terus... terus.. ya terus... ‘Makan’ memang salah satu tujuan hidup, bukan hidup yang bertujuan hanya untuk ‘makan’. Masing-masing punya cara memperjuangkan hidup. Beberapa memang ada yang sama, tapi enggak bisa disamakan. Walau berbeda, kita harus bhineka tunggal ika.
Cara yang sama dalam memperjuangkan hidup? Ya, misal sama-sama jadi penyiar radio.
Rasanya kok sempit sekali ya kalau tujuan hidup hanya untuk ‘makan’? Padahal banyak sekali pencapaian di hidup ini yang menunggu untuk dijemput. Sayang sekali kalau hanya bertujuan untuk sesuatu yang fana. ‘Makan’ itu fana. Sekali dinikmati, habis, sudah, selesai. Hasil akhirnya nanti juga bakal dibuang. ‘Makan’ dalam arti sebenarnya atau ‘makan’ dalam kurung nafsu, akhirnya juga punya kisah yang sama. Berakhir di pembuangan.
Tujuan hidup itu banyak, so jangan mau diperbudak cuma satu tujuan. ‘Makan’. Masih ada tujuan hidup yang lebih haqiqi (yes pakai ‘q’) dan harus diperjuangkan. ‘Makan’ (masih dalam arti yang lebih luas ya) itu memang harus, karena memang bagian dari hidup. Kalau menghilangkannya, justru bisa mengancam hidup itu sendiri. Harus dilakukan tapi bukan mutlak hanya itu saja yang dikerjakan.
Apa tujuan hidupmu? Yakin memperjuangkan yang haqiqi itu? Atau hanya sekedar ‘ikut arus’ demi enggak diberi label ‘memberontak’? Apapun tujuan hidup kita, memang harus diperjuangkan, bahkan ‘makan’ sekali pun.
Kalau enggak ada usaha, masih berharap Yang Kuasa memberikan pintu yang terbuka?

Jogja, 15.09.2017

Kamis, 14 September 2017

BAHAGIA

Kunci hidup bahagia adalah berbagi. Enggak percaya? Coba lakukan, sekecil apapun, pasti ada rasa yang menyenangkan. Hmm.. apa ya? Rasa yang.. Bukan rasa yang bikin nyesek kayak lihat gebetan jalan sama yang lain misal, tapi rasa yang baik. Ya menyenangkan, menenangkan, apalagi bisa bikin orang lain tersenyum karena sedikit berbagi yang kita lakukan. Ajib bener dah rasanya.

Ada tipikal orang yang loyal banget khususnya ke orang-orang terdekat. Orang tipe ini enggak bakal mikir panjang-lebar buat bikin orang terdekatnya bahagia. Cara yang dipikirkan si tipe loyal ini adalah dengan membelikan sesuatu, bisa makanan atau benda, tapi enggak sampai dibelikan surat tanah juga sih.

Membahagiakan orang lain enggak cuma dengan materi, tapi siap-sedia saat ada yang butuh bantuan, juga termasuk cara membahagiakan orang lain.

Ada juga tipikal gampang tersentuh hatinya. Enggak tegaan begitulah. Melihat orang lain bisa tersenyum walau pun 'bantuan' yang diberikan enggak seberapa, tetap bisa menimbulkan perasaan bahagia, damai, karena bisa membantu.

Kalau nanti dimanfaatkan orang enggak baik gimana dong?

Berbuat baik, ya tetaplah berbuat baik. Kalau ada oknum yang memanfaatkan kebaikan seseorang untuk kelicikan, biarkan Tuhan yang berkuasa. Seenggaknya kalau benar-benar membutuhkan bantuan, sudah ada yang membantu.

Pernah baca, orang yang suka membantu orang yang sedang kesusahan bisa punya usia hidup yang lebih panjang. Let's see...

Orang yang sedang berbahagia, pasti tersenyum. Sepelit apapun senyum seseorang, tetap saja saat bahagia, ujung bibirnya tertarik, mungkin cuma nol koma sekian senti (lebay amat lu). Perasaan bahagia pasti bisa memberikan efek yang sama untuk semua bagian tubuh. Jantung sehat, paru-paru oke, lambung aman, ya.. karena bahagia itu mempengaruhi mindset.

Enggak ada lagi yang berpikir negatif, sugesti pun jadi positif, dan terciptalah sugesti kesehatan. Ah, mungkin sugesti juga ikut berperan. Sangat jarang melihat orang yang selalu bahagia dengan berbagi, terlihat sakit (secara fisik). Kalau memang sakit, aura kebahagiaannya tetap terpancar dan enggak terlihat lagi sakit.

Pernah baca juga, seorang dokter yang sangat mendedikasikan ilmunya buat mengobati orang sakit tanpa mengharapkan bayaran. Benar-benar padamu negeri. Kalau ada pasiennya yang membayar, itu juga bukan dengan patokan harga yang ditentukan, tapi bisa dengan makanan, sebagai bentuk terimakasih. Saat dokter keren ini jatuh sakit, enggak terlihat sama sekali seperti 'orang sakit'. Tetap tersenyum dan terlihat bahagia.

Membahagiakan diri-sendiri bisa juga dengan membahagiakan orang lain. Berbagi kebahagiaan. Sederhana.

Jogja, 14.09.2017

Rabu, 13 September 2017

RINDU

Rindu yang enggak terkatakan. Ini masih tentang rindu, tapi bukan saat hujan. Salah satu media pengantar rindu ini memang hujan, tapi fokusnya bukan tentang itu. Rindu yang enggak terucap tapi nyata dirasakan. Siapa pemilik rindu ini? Orangtua. Ibu. Ayah. Mungkin Ibu yang paling memendam rindu karena biasanya seorang ibu memiliki ikatan batin yang kuat dengan sang anak. Ayah juga sama menyimpan rindu untuk anaknya, hanya saja sosok lelaki panutan dalam keluarga ini enggak terlalu menunjukkannya. Sama-sama rindu yang enggak terkatakan.

Kapan terakhir kali berkabar kepada orangtua? Kemarin? Kemarinnya lagi? Lewat angin yang berhembus di jendela, rindu itu terbang untuk anak-anaknya. Rindu yang benar-benar enggak dirasakan. Dibalik diam, ada kerinduan di sana. Enggak semua ibu dan ayah bisa dengan bebas menyampaikan rindunya. Terkadang hanya lewat obrolan yang justru enggak disadari. Melihat anaknya bertumbuh dan mempunyai kehidupannya sendiri, tentu jadi sesuatu yang membanggakan, tapi pasti ada rasa ‘ditinggalkan’ saat sang anak benar-benar mempunyai ruangnya sendiri.

Seperti apa ya rasanya melepas sesuatu yang sudah bertahun-tahun dimiliki? Semua anak pasti akan mempunyai hidupnya sendiri. Semua anak juga pasti akan menjadi orangtua. Sepertinya ada rasa yang teriris melihat sang anak bukan lagi anak kecil seperti dulu. Bukan lagi yang selalu dekat lengkap dengan tingkah-polahnya. Akhirnya pasti merelakan. Cepat atau lambat pasti akan seperti itu.

Pernah baca satu postingan di Line tentang anak dan ibunya. Pertemuan di suatu malam, semacam hangout with Mom, yang membuka kerinduan-kerinduan yang mungkin selalu terpendam. Si anak ini adalah mahasiswa kedokteran yang sibuk koas. Sangat jarang ada waktu santai, bahkan sekedar untuk berkumpul bersama keluarga. Sang ibu bercerita tentang masa-masa dulu yang begitu mudahnya bertemu dengan si anak. Enggak perlu jauh-jauh keluar kota. Ada rindu yang terpancar di sana.

Setiap orangtua punya cara yang berbeda dalam menunjukkan kerinduan. Kelihatannya jarang menanyakan kabar si anak, tapi tahukah bahwa dibalik itu semua ada doa yang selalu mengalir? Doa yang dikirim diam-diam tanpa mengharapkan balasan. Doa yang paling tulus. Aku memang belum menjadi orangtua. Aku memang belum menjadi ayah. Aku belum merasakan seperti apa rasanya 'ditinggalkan' buah hati yang bertahun-tahun dijaga sepenuh hati.

Jarak yang memisahkan bukan berarti lepas penjagaan. Orangtua mana pun pasti akan selalu menjaga anak-anaknya, dengan cara yang berbeda. Tentunya enggak sama menjaga si anak yang masih anak-anak dengan si anak yang menjadi dewasa dan siap menghadapi problematika dunia.

Terkadang kita lupa satu rindu yang enggak terkatakan itu. Rindu seorang ibu kepada buah hatinya. Rindu seorang ayah kepada jagoan-jagoannya.

Jogja, 13.09.2017

Selasa, 12 September 2017

HUJAN

Ada yang merindukan hujan? Biasanya lama enggak ketemu bisa bikin kangen. Sayangnya, enggak setiap orang rindu hujan. Rindu dalam arti benar-benar merindukannya, bukan mengharapkan karena sudah lama enggak turun hujan. Orang yang merindu hujan pasti punya feel yang beda. Rasa yang cuma bisa dinikmati tapi enggak bisa dijelaskan pakai kata-kata. Semacam mendadak mellow.

Hujan bisa menciptakan kesan yang berbeda untuk setiap orang. Ada yang mendapatkan inspirasi, ada juga yang enggak mendapat apa-apa selain kekesalan karena 'terjebak hujan'. Dikasih hujan, protes. Enggak dikasih hujan, protes.

Hujan itu berkah. Kalau ada bencana karena hujan, ya.. salah manusia juga. Salah kita. Enggak sedikit yang justru mengeluh saat hujan turun. Aku berusaha mengubah kebiasaan enggak bersyukur itu. Pelan-pelan. Hujan bukan berarti enggak bisa ke mana-mana. Ada jas hujan, ada payung, selalu ada cara biar enggak kebasahan karena hujan.

Heran rasanya, karena hujan, satu pertemuan dibatalkan. Bukan hujan badai, apalagi hujan banjir, tapi membatalkan begitu saja pertemuan yang sudah disepakati. True story. Hujan selalu memberikan pilihan. Menikmatinya bersama keluarga dan sahabat, atau sibuk merutuk hujan yang (dirasa) datang seenaknya.

Hujan bisa bikin kumpul keluarga. Kebanyakan pasti mager ke mana-mana saat hujan. Bisa banget momen ini dijadikan kesempatan buat ngobrol-ngobrol ditemani cemilan dan minuman hangat. Kebayang suasananya 'kan?

Inspirasi juga bisa datang dari hujan. Ada karya yang lahir karena hujan. Novel dengan judul hujan ada banyak. Ini juga nih.


Kumpulan cerita saat hujan karya Pluviophile. Buku yang dicetak indie dan berharap bisa mengikuti kesuksesan buku tentang hujan lainnya.

Mau baca buku ini juga? Komen di bawah ya.

Hujan selalu membawa cerita. Ada rasa yang berbeda. Seperti memutar kenangan. Bahkan saat hujan, rasanya langsung ingat momen di rumah. Saat jauh, hujan bisa bikin satu kerinduan.

Tik.. tik.. bunyi hujan..

Jogja, 12.09.2017

Senin, 11 September 2017

PERSAINGAN

Apa rasanya hidup tanpa persaingan? Sepertinya anyep, hambar, bagai sayur tanpa cabe. Persaingan bisa bikin hidup lebih termotivasi. Kalau enggak bisa survive, siap-siap tergeser. Persaingan itu ada di semua bidang. Enggak cuma dunia kerja, tapi dunia pendidikan, dunia hiburan, kayaknya enggak ada bidang yang enggak ada persaingan sama sekali.

Persaingan di dunia kerja lebih kejam. Bukan rahasia lagi, menghalalkan segala cara bisa dilakukan di dalam persaingan dunia kerja. Enggak usah menutup mata. Realitanya ada yang licik. Demi kepentingan pribadi, cara-cara nista pun dilakukan.

Setiap tahun selalu ada sarjana baru. Bukan cuma lulusan sarjana, tapi juga mereka yang bersiap menghadapi dunia kerja. Bisa dibayangkan seperti apa persaingannya? Ada jutaan orang yang punya keinginan dan harapan yang sama. Satu diantara jutaan orang itu adalah orang yang beruntung. Lolos seleksi dari jutaan pelamar kerja bukankah jadi satu prestasi yang membanggakan?

Enggak sedikit yang berjuang mati-matian demi bisa mengalahkan ribuan pesaing itu, apalagi di arena calon pegawai negeri sipil a.k.a CPNS. Setiap ada lowongan CPNS, ribuan pelamar bersiap masuk barisan. PNS memang pekerjaan yang (masih) bergengsi di mata masyarakat. Kalau punya penghasilan lebih besar dari PNS tapi bukan kerja di kantor, bukan enggak mungkin ada pandangan yang meremehkan. Memangnya kerja apa? Ya.. misal online shop.

Ribuan pelamar, ah mungkin jutaan yang bersaing, hanya untuk kuota beberapa puluh atau mungkin beberapa ratus. Pelamar yang banyak itu enggak semuanya bisa mendapatkan posisi. Kalau semuanya lolos seleksi, persaingan jadi bullshit. Keberuntungan sangat berperan di sini. Sesuperior apapun kemampuan akademik saat di kampus, bukan jaminan bisa dimuluskan jalan sebagai pelamar CPNS.

Ada anggapan, menjadi PNS adalah cara aman menjalani hidup. Orangtua bilang, masa depan sudah pasti terjamin. Ini juga yang menjadi mimpi kebanyakan orangtua untuk anaknya. Mimpi sang anak menjadi PNS. Persiapan mulai dilakukan sejak masuk dunia kuliah. Prodi yang dipilih harus berpeluang menjadi PNS nantinya.

Mindset seperti ini bisa diubah? Bisa. Caranya? Tunjukin hasil dari 'bukan menjadi PNS'. Rasa percaya bisa muncul kalau ada bukti 'kan? Mindset kesuksesan adalah menjadi PNS itu bisa berubah kalau ada 'kesuksesan adalah menjadi penulis', 'kesuksesan adalah menjadi pengusaha', 'kesuksesan adalah menjadi...'

Brilli Agung, salah satu penulis yang sudah menerbitkan puluhan buku pernah bilang dalam satu kesempatan jumpa pembaca. Awalnya, orangtua akan sangat menentang pilihan sang anak yang dirasa madesu a.k.a masa depan suram. Inilah ujiannya. Tetap bertahan atau menyerah? Bisa jadi melepas pilihan dan menuruti keinginan orangtua terhindar dari madesu. Konsisten dengan pilihan sendiri walau ditentang orangtua, bisa juga terhindar dari madesu, bahkan jauh melampaui kesuksesan karena menuruti keinginan orangtua.

Jangan, jangan memberontak. Bukan berarti kalau punya pilihan sendiri, dihalalkan menentang orangtua yang mengarahkan ke pilihan lain. Brilli Agung menjelaskan dengan baik kepada orangtua tentang pilihannya. Sekarang terbukti. Brilli Agung bisa sukses menjadi penulis, bukan 'pegawai' yang bekerja untuk orang lain, bukan juga PNS.

Apapun pilihannya pasti ada persaingan di dalamnya. Bersiaplah. Jangan dibutakan karena persaingan demi kenikmatan sesaat.

Jogja, 11.09.2017

Minggu, 10 September 2017

MEDIA

Sekarang media benar-benar bersaing dengan sesamanya. Media cetak bersaing dengan media online. Media online bersaing dengan media online lain yang sejenis tapi enggak sama. Radio bersaing dengan TV. Persaingannya benar-benar gila-gilaan. Kalau enggak ada inovasi, something new something different, siap-siap ada di ujung tanduk. Beberapa media cetak bahkan ada yang memutuskan berhenti cetak karena salah satunya mungkin sudah enggak relevan di era millennials ini.

Media berjuang ‘hidup’ agar enggak ditinggalkan. Sayang banget ‘kan kalau media yang sudah eksis berpuluh tahun harus berakhir begitu saja? Walau ‘cuma’ berganti format, misal dari cetak menjadi online, rasanya tetap enggak rela. Perjuangan bisa seperti sekarang, media yang bertahan puluhan tahun ini, sangat-sangat panjang. Menyerah begitu saja? Media yang berganti format ini pasti punya alasan lain mengubah dirinya. Bisa jadi karena generasi sekarang enggak cocok dengan format media seperti ini. Bisa juga karena alasan-alasan lain yang enggak bisa dipublikasikan. Alasan yang terlalu sensitif atau terlalu apalah.

Masing-masing media punya peranan. Enggak ada yang lebih baik media ini, media yang lain kacangan. Banyaknya media sebenarnya untuk saling melengkapi. TV tercipta untuk melengkapi radio yang sebatas audio. Media online melengkapi media cetak dengan akses informasi yang real time. Kalau harus memiih, aku cenderung ke radio. Bukan cuma karena aku penyiar radio, tapi feel saat mendengarkan radio itu yang dalem!

Rasanya beda ‘kan mendengarkan musik favorit di smartphone dengan di radio? Lebih merinding disko yang mana? Jelas mendengarkan musik di radio. Daya tarik radio salah satunya ini. Selalu ada kejutan musik yang diputarkan. Mengutip kata-kata Santi Zaidan, penyiar Geronimo FM waktu ngisi workshop ‘Aku Penyiar Muda’ sih. Aku sepakat banget. ‘Seni’-nya mendengarkan radio ya ini. Apalagi kalau musik yang diminta diputarkan, rasanya bahagiaaa. Pernah merasakan euforia ini?

Radio tanpa penyiar itu hambar. Sejak aku menemukan passion siaran radio, aku enggak menemukan kenikmatan mendengarkan radio yang isinya hanya musik. Theater of mind berpengaruh banget. Membayangkan seperti apa sosok penyiar bersuara renyah itu. Cantik? Ganteng? Banyak ekspektasi. Ada yang bilang, mendengarkan radio salah satu cara cerdas memberikan nutrisi untuk otak. Kok bisa? Radio yang enggak punya kemampuan ngasih visualisasi tentu membuat pendengarnya akan berpikir seperti apa visual dari yang didengarkan. Theater of mind. Sama seperti membaca. Masing-masing punya visualisasi yang berbeda walau dari satu objek yang sama.

Justru TV yang menyediakan paket lengkap enggak membuat penikmatnya berpikir atau membayangkan seperti apa visualnya. Audio ada, visual ada. Seperti raja yang cukup duduk dan makan siang sudah siap dinikmati di atas meja. Apa itu artinya TV enggak lebih baik dari radio dan buku? Mereka saling melengkapi. Sekali lagi, enggak ada yang lebih superior di antara sesama mereka (baca: media). Masing-masing punya keunggulan dan kelemahan. Loh? Bukannya tadi membandingkan radio dan TV ya? Jelas banget membandingkan dan secara enggak langsung mengatakan radio lebih baik.

Tunggu dulu. Aku hanya menjelaskan keunggulan radio. Aku enggak berkesimpulan TV itu levelnya lebih rendah dari radio. Aku suka radio, aku memilih radio, makanya aku menjelaskan keunggulannya. Mendengarkan radio bahkan bisa berbarengan dengan aktivitas lain. Aku pernah mendengarkan radio sekaligus mencuci baju. Enggak begitu berasa capek mencuci karena ada yang ‘menemani’. Radio itu bisa dibilang teman yang bisa menemani dalam banyak kondisi.

Era sekarang mungkin enggak sebanyak dulu mendengarkan radio secara eksklusif di rumah. Lebih banyak yang mendengarkan radio di sela-sela kegiatan. Berangkat ke kantor, mendengarkan radio di mobil. Ngerjain tugas, radio yang mendampingi. Lagi masak, lebih seru dengan iringan musik di radio. Jarang yang all day long mendengarkan radio. Biasanya memang saat mengerjakan sesuatu. Radio jadi pihak yang 'menemani'.

Mau pilih yang mana?

Jogja, 10.09.2017


Sabtu, 09 September 2017

BEKAL

Bukan anak TK, enggak usah bawa bekal. Memangnya bekal identik dengan anak TK? Iya, di Indonesia. Beda dengan negara tetangga, Jepang, di sini bawa bekal jadi sesuatu yang "memalukan". Disamakan dengan anak TK. Aku pernah mengalaminya. Mungkin maksud hati bercanda, tapi merasa sedikit enggak nyaman diledek begitu. Hei, santai dong. Enggak usah dimasukin ke hati. Apa salahnya bawa bekal? Enggak ada. Enggak salah kok.

Bawa bekal justru bisa lebih hemat. Bisa lebih bersih juga makanannya kalau yang nyiapin bekal Ibu di rumah. Kalau makanannya beli di warung terus dimasukin ke kotak bekal? Sayangnya Indonesia enggak mencontoh Jepang untuk urusan per-bekal-an. Bukan rahasia lagi, bento a.k.a bekal dari Jepang sangat populer di negaranya. Enggak ada yang merasa malu dan diledek anak TK saat membawa bekal. Sudah jadi sesuatu yang sangat umum. Anak sekolah mulai dari playgrup sampai SMA, anak kuliah, orang kantoran, bawa bekal justru jadi semacam kewajiban.

Pernah baca, salah satu bentuk perhatian ibu-ibu di Jepang adalah menyiapkan bekal buat anak-anak dan suaminya. Bekal yang dibikin juga sangat bervariasi. Bukan tentang menunya sih, tapi tentang kebiasaan bawa bekal itu yang sangat jauh berbeda dengan di Indonesia. Ada resto cepat saji yang menjual bento, makanan dengan tampilan bento, bukan bento dalam arti bekal, yang harganya mahal. Dibanding bekal yang sebenarnya, bekal jenis ini justru bikin boros.

Memang sangat jarang anak kuliah atau orang kantoran yang membawa bekal dari rumah. Bisa jadi gengsi dan semacamnya. Aku sekarang enggak pernah bawa bekal (makanan). Bukan karena malu, tapi aku lebih memilih praktis. Kalau aku bawa bekal, harus masak nasi sendiri, terus beli lauk di warung makan terdekat. Tahun pertama jadi mahasiswa aku menyiapkan ini, tapi semakin lama merasa enggak simpel. Apalagi sekarang aku enggak masak sendiri (lagi). Gimana mau bawa bekal?

Ada beberapa pandangan (orang Indonesia) tentang per-bekal-an. Ada yang menganggap si pembawa bento lagi ngirit, si pembawa bento memang pelit, atau enggak punya cukup duit. Tergantung menunya juga. Kalau isinya salad, makanan sehat, pandangannya justru berubah dari yang meremehkan menjadi kekaguman. Wah.. gaya hidup sehat.

Kalau aku bukan anak kost, aku mau banget bawa bekal. Jelas bisa lebih hemat dan terjamin makanannya. Rasanya pasti menyenangkan kalau dunia per-bekal-an Indonesia bisa menyamai dunia per-bekal-an Jepang. Jam makan siang buka bento bareng-bareng, saling icip menu. Wah.. menyenangkan sekali.

Pandangan meremehkan (orang) Indonesia tentang bekal bukan berarti semua orang Indonesia begini ya. Pasti ada juga (orang Indonesia) yang ala-ala dunia per-bekal-an Jepang. Kalau menyamaratakan, terkesan terlalu berpandangan sempit. Aku sampai sekarang masih tetap membawa bekal kok. Bekal minum. Ke mana pun selalu bawa satu liter air minum yang bahkan kadang harus isi ulang. Satu liter? Mana cukup? Per-bekal-an air minum masih lebih baik nasibnya dibanding per-bekal-an makanan. Sangat jarang yang menganggapnya “seperti anak TK”. Bisa dibilang wajar seseorang bawa bekal air minum. Hampir semua orang membawa bekal yang satu ini.

Jenis bekal ada banyak. Bukan cuma bekal dalam bentuk makanan, minuman, tapi bekal kehidupan. Beuuuh... dalem, Bro. Sudah cukupkah bekal hidupmu? Ya.. bekal. Sesuatu yang sengaja disimpan dan disiapkan. Bekal buat tetap survive, bekal buat menikah, bekal buat menyiapkan tercerabutnya jiwa dari raga. Aduh... kelihatannya menyeramkan. Bekal-bekal ini memang enggak bisa dipandang sebelah mata. Kalau bekal makanan atau minuman dianggap seperti anak TK, bekal kehidupan enggak jarang membuat seseorang justru ketar-ketir. Cukupkah? Gimana kalau kurang? Gimana kalau nggak cukup?


Bekal yang lebih realistis. Bekal kehidupan. Masih mau nyinyirin lagi?

Jogja, 09.09.2017
© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis