Senin, 21 April 2014

EMAS DI TIGA MENIT

Ini kali kedua aku ikut lomba penyiar. Sebelumnya aku udah pernah ikut lomba penyiar di MMTC. Kali ini yang ngadain Putra-Putri Bantul (duta wisata Bantul, kalo gak salah). Mungkin mereka punya radio namanya Paseban FM atau mungkin radionya AKRB. Lomba kali ini diadain di AKRB. Masih ada waktu seminggu buatku mempersiapkan semuanya. Teknis lomba gak jauh beda dengan lomba penyiar di MMTC.

Lomba diadain tertutup di studio. Udah ada juri yang siap menilai performa peserta sebagai penyiar. Juri kali ini ada dua. Satu cowok, Tulus Angga dari Kotaperak FM (dan juga TV, JogjaTV kalo gak salah) dan satu cewek yang aku lupa namanya. Materi siaran buat lomba, seputar Bantul. Secara yang ngadain 'kan Putra-Putri Bantul. Setiap peserta dikasih waktu maksimal tiga menit untuk opening, content, dan closing. Jika lewat tiga menit, maka akan ada, mungkin semacam peluit (wasit kali) yang akan menghentikan (paksa) peserta. Aku udah ada strategi biar waktu tiga menit itu bisa aku manfaatin dengan baik buat opening, content, closing. Sedikit-banyak belajar juga dari pengalaman lomba penyiar sebelumnya. Teknisnya gak beda jauhlah.

Aku berharap jadi juaranya. Aku tau, banyak yang bagus, kompeten, apalagi Dinda, General Manager Rasida FM juga ikut. Tapi aku gak boleh pesimis. Aku harus optimis bisa jadi juara. Namanya juga ikutan lomba, wajar 'kan punya harapan jadi juara? ;) Syukur-syukur Tulus Angga ngajakin aku gabung di Kotaperak FM. Hi hi hi... Aamiin. Kata panitia, ada kemungkinan lho bagi peserta yang bagus, bakal direkrut oleh radio tempat juri bekerja.

Lomba kali ini, aku kembali ketemu dengan teman yang juga ikutan lomba penyiar di MMTC. Aku lupa namanya, tapi wajahnya aku ingat. Pertama lihat dia kemarin (setelah pertemuan terakhir lomba penyiar di MMTC beberapa bulan lalu), aku pangling. Rambutnya sekarang pendek, yang jujur, bikin dia kelihatan lebih tua. Padahal dulu saat ikut lomba penyiar di MMTC, potongan rambutnya model bob berponi gitu yang bikin dia terlihat imut (walau dia sebenarnya gak imut). Oh ya, dia mahasiswa Sanata Dharma 2010.

Panitia lomba penyiar kali ini sama-sama mahasiswa, tapi mahasiswa kali ini beda. Panitia lomba penyiar di MMTC ya.. gak beda jauh dengan mahasiswa kebanyakan. Tapi panitia lomba penyiar kali ini, mereka layaknya seorang model (walau ada satu-dua yang sama sekali gak kayak model). Cantik dan ganteng. Pastinya mereka bertalenta. Bahkan saat TM a.k.a technical meeting lomba penyiar kemarin, mereka juga ngasih info pemilihan Putra-Putri Bantul 2014. Katanya, gak harus punya fisik layaknya model (tinggi semampai dan ganteng/ cantik) yang penting adalah ada kemauan dan yang pasti smart.

Mereka lebih mementingkan public speaking. 'Kan gak lucu kalo terpilih jadi duta, penampilannya oke (mendekati sempurna), tapi ngomongnya belepotan. Maunya pasti penampilan oke, public speaking yahud. Paseban FM yang kayaknya jadi radionya Putra-Putri Bantul, mungkin sengaja dibikin buat latihan mereka yang terpilih agar public speaking-nya top. Aku gak tertarik dengan pemilihan begitu. Bukan duniaku. Tentu kalo aku mau (dengan memperbaiki selera berpenampilanku dan lebih "memperhatikan" fisik), aku pasti bisa. Seperti kata mereka, di mana ada kemauan, pasti ada jalan. Tapi dunia seperti itu (yang dekat banget dengan dunia model) sama sekali bukan duniaku. Ada ketertarikan buat gabung. Nguji kompetensi diri dan mengukir prestasi. Tapi.. banyak tapinya. Sejak awal aku emang gak tertarik dengan pemilihan-pemilihan (pageant) seperti itu.

Persiapan seminggu buat lomba penyiar Putra-Putri Bantul terlalu lama buatku. Beda dengan persiapan lomba penyiar di MMTC. Hari ini TM, satu atau dua hari setelahnya perform. Kali ini persiapan tujuh hari, tampil menunjukkan yang terbaik cuma tiga menit maksimal. Terlalu panjang.

Jogja, 21 April 2014 (bertepatan dengan Hari Kartini)

Selamat Hari Kartini, Perempuan Indonesia. Kalian mulia, kalian istimewa, kalian hebat. :)

0 komentar:

Posting Komentar

© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis