Kamis, 31 Agustus 2017

GAJI

Boros adalah teman setan.

Ngeri banget ya. Kalau selalu ingat istilah ini mungkin enggak ada lagi yang namanya boros. Gimana cara mengatasi boros? Teorinya gampang. Me-na-bung. Memangnya gampang yang namanya me-na-bung? Gampang-gampang susah. Perlu tekad yang kuat menjadikan tabungan benar-benar tabungan, simpanan, bukan sekedar cadangan yang diambil saat kehabisan uang.

Fungsi tabungan memang untuk berjaga-jaga saat menghadapi sesuatu yang enggak terduga, tapi bukan berarti tiap kehabisan uang, tabungan menjadi korban. Bukan juga “menimbun” uang. Teru saja disimpan tapi enggak pernah dipakai. Suatu saat uang tabungan juga akan dipakai, tapi nanti-nanti di masa depan, untuk sesuatu yang lebih penting. Menikah, misal. Cie.. cie.. yang sudah kepikiran me-ni-kah.

Setiap baru gajian, enggak sedikit yang menyanyikan theme song Doraemon, “Aku ingin begini.. Aku ingin begitu.. Ingin ini.. Ingin itu.. Banyak sekali..” Sayangnya realita enggak seindah dunia Nobita yang pengen ini-itu ada kantong ajaib. Pernah merasa siang gajian, sore kelabakan? Buat yang pengen mengubah masa depan menjadi lebih baik, pertama yang dipikirkan setelah gajian adalah menabung. Setelah itu bayar ini, bayar itu, buat beli ini, buat beli itu. Setiap orang berbeda kebutuhan, tapi enggak sedikit yang sama rasanya mengalami “siang gajian, sore kelabakan”. Ke mana uang gaji? Kenapa menguap secepat ini?

Boros juga menjadi salah satu yang terbayang saat menerima gaji, walau enggak sadar itu adalah boros. Teorinya, kebutuhan dan keinginan itu sangat berbeda. Harus benar-benar jeli mengelompokkan kebutuhan dan keinginan. Boros cenderung mengarah ke “keinginan”. Bukan sekali-dua kali setelah beli sesuatu merasa menyesal.

Kenapa beli ini? Sesal kemudian tiada berguna.

Hidup bukan hanya saat baru menerima gaji. Jangan berpikir ingin beli ini-itu saat pertama menerima gaji. Pikirkan apa yang menjadi kebutuhan, pikirkan untuk menabung juga, baru setelah itu memberi satu ruang untuk “keinginan”. Kalau selalu merasa enggak cukup dengan gaji yang diterima, coba dipikir lagi, buat apa saja uang gaji itu? Sudah dialokasikan dengan benar? Sesuai kebutuhan? Atau hanya memuaskan “keinginan”? Atau lebih mengerikannya lagi habis untuk menutup hutang? Gali lubang, tutup lubang. Kapan lingkaran ini akan selesai kalau setiap bulan selalu begitu?

Harus ada perubahan dan dimulai dari sekarang. Pertama, menabung. Kalau belum sempat menabung setiap menerima gaji, cobalah menyisihkan sedikit saja, ya.. sedikiiit saja, uang gaji untuk ditabung. Enggak perlu setengahnya karena harus berbagi dengan yang lain ‘kan? Keperluan ini, keperluan itu, kebutuhan ini, kebutuhan itu (yang bisa saja tersamarkan oleh “keinginan”). Menabung itu memang dibutuhkan komitmen yang kuat. Anggap saja tabungan itu enggak pernah ada. Seenggaknya dengan cara seperti ini akan menghindari “cadangan saat kehabisan uang”. Simpan uang kemudian lupakan.

Kedua, petakan apa yang benar-benar menjadi kebutuhan. Enggak boleh baper loh ya. Misal, “Aku pengen beli smartphone terbaru itu. Lagi trend sekarang.” Yakin ini kebutuhan? Padahal smartphone yang ada sudah lebih dari cukup (untuk sekedar ber-sosmed ria). Nah.. inilah peran peringatan “jangan baper”. Apa sih yang benar-benar menjadi kebutuhan? Bayar kost, bayar cicilan, bayar hutang, menyenangkan pacar...

Ketiga, setelah kebutuhan-kebutuhan itu tergambar dengan jelas, saatnya mengalokasikan uang gaji untuk kebutuhan sehari-hari, kebutuhan yang dekat. Makan, beli perlengkapan mandi, internet. Ah iya, internet! Sekarang kebutuhan sehari-hari bukan cuma makan (buat perut) tapi juga makan buat hati (hubungannya internet sama hati apa?). Ya.. maksudnya internet itu ‘kan sebagai pemuas... keinginan apa kebutuhan ya? Atau justru keharusan? Kalau enggak ada internet... ngng.. sepertinya susah. Semuanya serba internet. Blog ini bahkan untuk bisa update tiap hari harus terkoneksi internet.

Keempat, jangan boros! Percuma mengalokasikan uang gaji untuk kebutuhan yang sebenarnya (bukan cuma "keinginan) kalau justru diri-sendiri yang mencuranginya. Misal uang buat bayar kost dipakai dulu buat beli ini, beli itu. Bayar kost masih besok. Awalnya cuma pakai satu lembar, tapi besoknya lagi.. lagi.. dan habis! Welcome to the satan circle! Ngeri banget ‘kan? Boros adalah teman setan. Sahabat sejati, mungkin.

Komitmen enggak boros demi kehidupan yang lebih baik. Rasanya percuma dan sia-sia kalau setiap bulan uang gaji habis sebelum waktunya ‘kan? Berhutang di sana, berhutang di sini, bahkan memutus urat malu merepotkan orangtua yang seharusnya sekarang enggak bertanggung jawab secara finansial untukmu. Ya, kamu.

Manusia selalu punya rasa enggak puas. Ingin lebih, lebih, dan lebih. Berapapun gaji, pasti akan ada rasa "kurang". Bersyukurlah dengan gaji yang didapatkan. Berapapun itu. Gunakanlah gaji sebijak mungkin. Bukan sekedar memuaskan keinginan.

Berteori memang gampang, tapi bukan berarti mustahil dipraktekkan 'kan?

Jogja, 31.08.2017

Rabu, 30 Agustus 2017

AMBIL SAJA DULU

Sekarang status sosial seseorang enggak bisa dilihat dari tampilan. Kadang bias antara yang benar-benar status sosial atas dan bukan atas. Bukan bermaksud membeda-bedakan. Jari tengah banget buat orang yang membanding-bandingkan orang lain berdasarkan status sosial. Lagi nyatet data sensus penduduk, Pak? Sekarang semua orang memang bisa menikmati “fasilitas” yang dulu cuma bisa dinikmati status sosial atas.

Pengen apa? Rumah mewah? Mobil bonafid? Motor sport? Smartphone prestisius? Enggak perlu nunggu bertahun-tahun buat menikmati semua itu. Sekarang serba dimudahkan. Kenapa enggak dimanfaatkan? Pasti ada yang berpikiran begini ‘kan?

Hutang. Kredit. Cicilan. Angsuran. Ada bedanya? Baiklah, mari kita cari di KBBI. Ketemu? Sekarang banyak “agen” yang menawarkan sistem ini. Mau ambil angsuran berapa kali? Berapa tahun? Memang, ini sangat memudahkan. Enggak perlu nunggu karatan, fasilitas-fasilitas mentereng itu sudah bisa dinikmati semua orang, tanpa terkecuali, cuma mau apa enggak.

Kemudahan ini cuma bisa dinikmati buat mereka yang “mau”. Rela setiap bulan menyisihkan gaji demi melunasi angsuran. Ikhlas memangkas (mengerucutkan sih a.k.a ngirit) beberapa kebutuhan demi bisa survive sampai gaji berikutnya. Ada orang yang bilang, hidup tanpa “hutang” itu anyep, enggak ada rasa. Enggak ada asam-asamnya gitu. Justru dengan adanya “hutang”, bikin seseorang bisa lebih semangat kerja, semangat hidup. Kata orang loh ya.

Apa alasan seseorang sukarela berhutang demi menikmati fasilitas high ini? Salah satu alasannya karena gaya hidup. Karena kebutuhan? Oke, kebutuhan versi masing-masing. Sekarang ada kok (enggak bilang “banyak” loh ya) yang mau berhutang ini dan itu demi menaikkan level gaya hidup. Tinggal di perumahan elit, ke mana-mana naik motor sport, selalu bawa smartphone paling baru dengan layar lebar-lebar dari merk-merk kelas atas, bukankah jadi cara menaikkan level status sosial?

Seseorang dengan rumah mewahnya pasti akan “dilihat” sebagai orang kaya. Seseorang dengan motor sport pasti akan “dilihat” begini.. begitu.. bla.. bla.. bla.. Bangga berhutang, bangga berkredit, bangga mengangsur, demi gaya hidup. Kok sensi banget sama sistem cicil-mencicil ini? Bukan sensi kok. Kalau mau, silakan berkredit. Enggak ada yang melarang. Asalkan bisa membuatmu bahagia, lakukan. Toh, enggak melanggar hukum juga ‘kan? Daripada beli rumah mewah tapi hasil korupsi.

Idealnya, menikmati fasilitas wow itu langsung tunai. Lebih oke lagi ‘kan? Bukan sekedar gaya-gayaan, tapi secara finansial memang nyambung sama status sosial. Ada enggak ya horang kaya yang nyicil rumah elit?  Mungkin ada. Seseorang dengan penghasilan berjuta-juta rupiah (bahkan lebih) pasti punya kebutuhan ini dan itu. Biar bisa bagi-bagi sama kebutuhan lain (apa keinginan?), sistem kredit jadi solusi.

Karena hidup tanpa “hutang” enggak ada rasanya. Katanya.
Lebih baik enggak usah berhutang sih.

Ini pilihan.


Iya, pilihan.

Jogja, 30.08.2017

Selasa, 29 Agustus 2017

MENGENANG

Sekelompok muda-mudi tampak tertawa berderai-derai dengan seporsi makanan siap santap. Bercerita apa saja. Dua jam mungkin menjadi waktu yang mereka butuhkan. Ah, entahlah. Enggak ada satu pun dari mereka yang menghitung berapa lama waktu yang dihabiskan untuk makan bersama diselingi derai tawa. Saat senja berganti hitam, muda-mudi ini mulai merencanakan jamuan makan.

“Mau makan di mana kita?”

Semua saling pandang. Bukan hanya satu-dua kali ini terjadi. Beruntung, biasanya ada yang menjadi pencetus ide. Entah terlalu malas memikirkan satu rekomendasi tempat makan atau ide si pencetus memang sangat brilian, tanpa menunggu lama muda-mudi ini menuju satu tempat makan. Enggak lagi saling pandang mengharap jawaban.

Masing-masing memesan. Bukan tempat makan mewah dengan menu berharga fantastis. Hanya resto kaki lima yang pas untuk ukuran kantong mahasiswa. Ada yang bilang, salah satu yang bikin kangen saat menjadi mahasiswa adalah wisata kuliner setiap malam. Ya, muda-mudi ini memang wisata kuliner. Kalau hanya makan sendirian, tentu lebih memilih warung makan rumahan, dengan menu yang juga rumahan dan harga yang benar-benar sangat mahasiswa. Standarlah. Walau resto kaki lima ini enggak memasang harga selangit, tapi cukup membuat isi dompet terkuras kalau setiap hari wisata kuliner seperti ini.

Muda-mudi itu adalah aku. Salah satunya. Dulu, sebelum masing-masing menjauh karena rutinitas yang berbeda. Atau hanya aku yang menjauh? Rasanya aku kangen menikmati momen wisata kuliner itu. Dulu, ya dulu.. hampir setiap malam aku dan teman-teman Radio Rasida wisata kuliner. Annisa Chinesse Food, kedai nasi goreng dan aneka rupa menu di depan STPMD, Pulomas, dan bla.. bla.. Aku mulai lupa nama resto kaki lima yang kami pilih, hanya saja aku masih sangat ingat momen itu. Wisata kuliner setiap malam.

Waktu itu aku belum sesibuk sekarang. Sekarang jarang kumpul bersama (atau bahkan enggak pernah sama sekali?) hanya untuk sekedar hahahihi dan diakhiri dengan makan sambil berbasa-basi. Terakhir kali wisata kuliner bareng teman-teman kapan ya? Sepertinya sudah sangat lama. Terlalu lama menikmati makan sendiri (hanya di saat jam makan ya), sepertinya membuatku lupa kapan terakhir makan bersama.

Sekarang cuma bisa menikmati kenangan. Setelah berlalu sekian waktu, hanya dengan cara seperti ini yang membuatku enggak melupakan setiap kenangan. Aku rindu waktu itu. Aku kangen makan-makan bersama teman. Aku rindu. Aku kangen.

Apa aku bisa kembali ke masa itu? Masa-masa menikmati hahahihi dengan seporsi makan malam (biasanya momen kayak gini dilakukan pas makan malam) bersama teman-teman. Memang sudah terlalu lama. Sepertinya sekarang kalau ada makan bersama, rasanya canggung. Terlalu lama sibuk dengan dunia masing-masing (atau justru aku yang terlalu sibuk sendiri?) seakan menciptakan sekat bernama "kaku", "awkward moment".

Mungkin nanti akan ada masa keinginan ini terulang lagi. Mungkin. Suatu saat nanti. Entah kapan.

Jogja, 29.08.2017

Senin, 28 Agustus 2017

TERLAMBAT

Setiap orang pasti pernah terlambat, tapi jangan menyerah karena sebuah ke-terlambat-an. Terlambat datang ke suatu acara, terlambat makan, terlambat bangun, terlambat... lulus kuliah, terlambat... ah, enggak mau memikirkan terlambat-terlambat lain. Salah siapa? Kalau mau menyalahkan, salahkan diri-sendiri. Jangan mengkambinghitamkan sesuatu. Instrospeksi saja kenapa bisa ter-lam-bat.

Terlambat lulus kuliah, ada. Solusinya tergantung diri-sendiri. Kalau mau lulus kuliah, harus diraih sendiri. Iya, sendiri. By yourself. Beda dengan kelulusan SMA. Kalau dunia kuliah sama kayak dunia SMA yang lulusnya (harus) bareng dan (harus) serempak, pasti enggak ada istilah “terlambat lulus kuliah”.

Bullying, pasti dirasain banget sama seseorang yang terlambat. Apapun itu. Bisa bullying level kacang goreng sampai level Nasi Padang. Buat yang terlambat lulus kuliah, bullying bisa sekaligus dijadikan motivasi, tapi tergantung sudut pandang sih. Menerima bullying secara positif, pasti bisa jadi cambuk buat lebih usaha keras. Sebaliknya, menerima bullying secara negatif, cuma dapat sakit hati, patah arang, mutung, ngambek. Yah.. setiap orang punya pandangan yang berbeda, bahkan cara bullying tiap orang juga berbeda.

Pasti ada banyak alasan seseorang terlambat. Alibi. Membela diri-sendiri. Bagaimana dengan “terlambat” yang lain? Terlambat membayar pajak, terlambat memenuhi janji, terlambat membahagiakan diri-sendiri. Apa? Terlambat membahagiakan diri-sendiri?

Iya, terlambat membahagiakan diri-sendiri. Terlalu sibuk bekerja sampai lupa bahagia. Ah, nanti juga bisa bahagia. Sekarang kerja keras dulu, baru bahagia. Hei, bahagia itu bisa diciptakan sekarang dengan yang sederhana tanpa menunggu nanti-nanti. Bahagia itu juga bisa datang dari yang terdekat. Enggak perlu berpikir bahagia itu harus begini, harus begitu, karena bahagia itu kita yang merasakan. Kalau bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain, lebih baik.

Satu momen “terlambat” yang justru paling ditunggu, tapi hanya untuk orang tertentu. Terlambat datang bulan. Pasti ditunggu ‘kan? Tentu hanya pasangan sah yang bahagia dengan keterlambatan ini. Pasti rasanya suka-cita menikmati momen “terlambat” datang bulan. Sebentar lagi jadi ayah. Sebentar lagi jadi ibu.

Begitulah “terlambat”. Enggak melulu sesuatu yang negatif atau sesuatu yang memalukan. Ada juga “terlambat” yang justru sangat dinantikan. Buat yang masih available atau yang mengharapkan keterlambatan ini, momen bahagia "terlambat” datang bulang rasanya bikin baper ya.

Guru terlambat masuk kelas. Apa ini termasuk jenis “terlambat” yang ditunggu? Lebih ditunggu lagi justru kalau guru enggak datang ke kelas. Jam pelajaran kosong, bisa bebaaas. Ah, jadi kangen masa-masa sekolah...

Apa terlambat mencintaimu termasuk salah satu jenis “terlambat” yang buruk? Terlambat mencintaimu sampai takdir mempertemukan hati kita.

Bukan cuma “menunggu” tapi juga berusaha menggapai takdir itu. Cie.. cie.. yang terlambat mencintai. Buruan gih sebelum terlambatmu menjadi sia-sia dan enggak ada guna.

Jogja, 28.08.2017

Minggu, 27 Agustus 2017

SAMPUL

Penampilannya rapi, wangi, dan terlihat berkelas. Sekilas seperti orang-orang yang datang ke pusat perbelanjaan untuk sekedar menghibur diri. Apa yang kamu lihat, belum tentu sama dengan yang kamu pikirkan. Dia bukan seperti orang-orang itu. Dia punya maksud lain datang ke pusat perbelanjaan. Bukan sekedar "cuci mata", tapi melakukan “pekerjaan” nista. Mencuri.

Entah apa yang ada di pikirannya saat melakukan aksi pencurian itu. Kenapa di dunia ini ada manusia seperti itu? Hasil pencurian dinikmati sendiri atau untuk keluarganya? Apa keluarga tahu uang yang dihasilkan dari mencuri? Apa si pencuri enggak ada hati sama sekali memberi makan keluarganya dengan hasil curian?

Ada jahat, ada baik. Pengennya enggak ada lagi kejahatan di dunia ini, tapi realitanya enggak seindah yang dibayangkan. Kejahatan pasti akan tetap ada, entah sampai kapan. Kebaikan juga pasti akan terus ada. Dua hal yang berjalan beriringan. Kejahatan diimbangi dengan kebaikan.

Rasanya miris, nyesek, enggak percaya, penampilan rapi itu ternyata hanya kamuflase. Ada niat jahat dibalik penampilan mereka.

Aksi pencurian tas di salah satu restoran sebuah pusat perbelanjaan di Jogja bikin miris, nyesek, dan enggak percaya. Dua pria berpenampilan rapi. Satu pakai batik, satunya pakai kemeja jeans. Enggak ada yang menganggap dua pria ini pencuri. Mereka melebur di antara orang yang benar-benar datang ke pusat perbelanjaan hanya sekedar mencari hiburan.

Don’t judge book by it’s cover mungkin klise, tapi memang benar jangan melihat hanya dari penampilan. Seseorang dengan penampilan rapi, wangi, terlihat berkelas pasti jarang dapat prasangka buruk. Sebaliknya, seseorang yang terlihat berantakan dan sama sekali enggak berkelas, hanya dengan melihat sekilas, orang-orang sudah menaruh curiga.

Susah, enggak segampang membalikkan telapak tangan, memandang seseorang (terutama orang asing) bukan dari penampilannya.

Pertama kali bertemu dengan orang asing pasti yang dinilai dari yang ditangkap mata. Bukan berarti asal nge-judge loh.

Curiga dengan orang asing, wajar, tapi jangan berlebihan.
Jangan paranoid. Terlalu curiga dengan segala hal, selalu merasa was-was, membayangkan yang belum terjadi secara berlebihan.

Bukan curiga, tapi waspada.

Yah.. karena utopia dalam realita, sepertinya masih jauh.

Jogja, 27.08.2017

Sabtu, 26 Agustus 2017

NILAI

Rasanya masa SMA dulu, Rp 100 ribu buat seminggu sangat banyak. Waktu itu seminggu uang saku Rp 50 ribu sangat cukup. Sekarang sangat berbeda. Nominalnya sama, tapi nilainya berbeda. Sekarang, Rp 50 ribu cukup buat dua hari. Ngng.. dua hari apa sehari? Kenapa bisa sangat berbeda ya? Oke, tahun yang berbeda, nilai juga berubah.

Waktu SMA, harga makan satu porsi Rp 2.500. Entah karena kebaikan Bu Hasyim, pemilik warung atau karena nilainya memang sebesar itu. Nasi, sayur, satu tempe goreng. Dibanding sekarang dengan menu yang sama, cukupkah Rp 2.500? Bukan porsi nasi kucing ya, tapi porsi satu piring standar sekali makan. Belum lagi ditambah minum (air putih biasanya gratis).

Aku jadi anak kost sejak SMA. Jarak dari rumah ke sekolah enggak terlalu jauh (sebenarnya). 18 km. Naik motor 20 menit perjalanan. Aku memutuskan kost karena belum bisa naik motor sendiri. Naik angkot bisa jadi pilihan, tapi aku merasa setiap hari harus berangkat jam 05.30 (demi enggak desak-desakan di angkot), terasa berat. Kost jadi solusinya (walau seminggu sekali, di akhir pekan, aku pulang).

Uang saku seminggu Rp 50 ribu. Kadang Rp 60 ribu, tapi enggak lebih dari Rp 100 ribu. Cukup banget uang saku sebesar itu buat seminggu. Enggak merasa kekurangan. Merasa lebih juga enggak. Dulu rasanya heran, uang saku seminggu punya teman di kost sebelah, Rp 100 ribu.

Merdeka banget!

Apa dulu aku enggak jajan ya? Cuma beli makan pagi, siang, dan malam? Ngng.. di jam istirahat sekolah, aku selalu jajan kok. Kenapa (waktu itu) Rp 50 ribu bisa cukup buat seminggu?

Waktu itu (lagi-lagi "waktu itu"), memang semurah itu ‘kah? Apa dulu aku menganggapnya murah? Aku lupa rasanya. Aku enggak ingat manajemen keuanganku dulu seperti apa. Mungkinkah aku mengaturnya sedemikian rupa? Dulu aku enggak pernah merasa kesesakan dengan uang saku Rp 50 ribu seminggu. Sekarang kalau di dompet cuma ada Rp 50 ribu, rasanya sesak sekali. Besok bagaimana? Apa aku (masih) bisa makan, bla.. bla.. bla..?

Sekarang harga apapun mahal, ngng... enggak bisa dibilang mahal juga. Nilai sekarang memang standarnya segitu. Dulu, satu porsi makan Rp 2.500 plus air putih. Sekarang, sekitar Rp 6000 plus air putih (yang biasanya air putih gratis). Seporsi nasi, sayur, ayam bukan Rp 6000 ding. Rp 10 ribulah minimal.

Ah, aku pikir-pikir... seporsi makan harganya Rp 2.500 dulu itu karena kebaikan Bu Hasyim. Setengah “memberi” untuk anak-anak kost yang masih sangat remaja. Mungkin.

Dulu, dengan uang saku Rp 50 ribu seminggu, aku tetap bisa jajan. Aku lupa dulu berapa harga yang aku keluarkan untuk satu kali jajan. Sekarang minimal Rp 5 ribu. Enggak ada ketentuan harus Rp 5 ribu, cuma semacam ada keharusan minimal Rp 5 ribu. Misal beli bakso tusuk. Rp 3 ribu juga bisa, tapi kok enggak puas ya?

10.. 20 tahun yang akan datang, saat anak-anakku bertumbuh, bakal kayak apa ya? Rp 100 ribu mungkin cuma buat sehari. Apa di masa depan, semua-semua digratiskan?

Mimpi kok di siang bolong?

Siapa tahu 'kan?

Jogja, 26.08.2017

Jumat, 25 Agustus 2017

KEINGINAN

Keinginan setiap orang berbeda. Jangan merendahkan keinginan orang lain yang mungkin kamu anggap klise. Buatmu bisa saja keinginan klise itu sama sekali enggak penting, tapi buat si pemilik keinginan, bisa jadi sangat berharga dan bukan sesuatu yang remeh-temeh. Hanya satu pintanya, keinginan mewujud menjadi nyata.

Hidup mengajarkan kita untuk lebih menghargai. Apapun itu. Semakin bertambah usia, semakin nyata kehidupan di depan mata, sikap menghargai itu pasti akan muncul. Hidup yang sebenarnya itu realistis. Apapun pencapaian seseorang, belum tentu kamu bisa meraihnya juga. Hanya dengan menghargai kamu juga akan dihargai orang lain (baca: enggak memandang sebelah mata).

Apa kamu punya keinginan menjadi seseorang dengan kemeja rapi, celana bahan, dan berdasi? Sepertinya menyenangkan ya? Aku bukan tipe anti kerja kantoran, tapi bukan juga tipe yang mendewakannya. Hidup ini realistis, Bro. Selagi kamu enggak jadi “beban” dengan status doing nothing-mu, tentu enggak merasa keberatan ‘kan menjadi pekerja kantoran? Dan yang terpenting, bukan pekerjaan yang menyalahi agama dan norma.

Orang sukses adalah mereka yang berkemeja rapi, bercelana bahan, dan berdasi. Berangkat jam 7 pagi, tapi seringnya datang last minute, pulang jam 4 sore (dan jam 3 sore jadi satu waktu yang sangat enggak produktif, biasalah mendekati jam “pulang” pasti kendor semangatnya dan hanya memikirkan pu-la-ng). Mungkin ini doktrin. Ya, bisa jadi ini doktrin. Orangtua mana pun (kecuali orangtua milenials yang jelas sekarang belum jadi orangtua) melihat kesuksesan adalah mereka yang berkemeja rapi, bla to the bla.

Apa iya?

Hidup ini pilihan. Mau jadi apa kamu nantinya, pilihan ada di tanganmu. Ingin mendobrak doktrin sukses = berkemeja rapi, bla bla itu? Bisa. Sangat bisa. Berjuanglah dengan pilihan yang kamu ambil. Pertahankan dan buktikan kamu bisa sukses dengan pilihanmu sendiri. Mereka yang termakan doktrin sukses = berkemeja rapi bla bla pasti akan sadar, sukses itu bisa didapatkan dengan berbagai cara tanpa harus berkemeja rapi bla bla.

Sepertinya menyenangkan menjadi pekerja kantor. Berangkat pagi, pulang sore. Jam 12 siang datang beramai-ramai ke warung makan di depan kantor. Asyik-masyuk dengan seporsi gado-gado di piring masing-masing bersama rekan kerja. Sabtu - Minggu libur. Bisa dimanfaatkan buat liburan.

Terbersit keinginan untuk merasakan itu semua.


Setiap orang (memang) punya keinginan (yang berbeda). Hargailah setiap keinginan itu. Apa aku ingin menjadi seorang pekerja kantoran dengan gambaran yang aku bilang sebelumnya? Apa menjadi pekerja kantoran benar-benar menyenangkan?

Aku pernah mengamati seorang pekerja kantoran. Rutinitas yang itu-itu saja sepertinya membosankan. Bahkan karena terlalu sering melakukan hal yang sama, akhirnya bukan lagi bekerja karena dedikasi tapi bekerja karena "cuma" mengharapkan materi.

Yah.. enggak munafik, seseorang bekerja pasti mengharapkan materi. Ayolah.. kita bicara pekerja dari sudut pandang umum. Bisa dibedakan pekerja yang membawa dedikasi ke dalam pekerjaannya dengan pekerja yang hanya mengharapkan gaji. Bukan lagi asal pekerjaan selesai, tapi benar-benar melakukan pekerjaan itu dengan serius. Bukan asal-asalan. Pernah melihat pekerja yang seperti ini 'kan?

Mungkin karena jenuh. Terlalu sering menghadapi pekerjaan yang sama. Setiap hari, dari pagi sampai matahari hampir pergi.

(Masih) mau menjadi pekerja kantoran? Enggak ada salahnya juga 'kan menjadi seorang pekerja kantor? Asal stay on the right track ya.

Jogja, 25.08.2017
Saat "kosong-melompong" menunggu Senin...

Kamis, 24 Agustus 2017

JANJI

"Gus, kamu kok sekarang kurusan?"

Berawal dari 2016, aku berkomitmen untuk berubah. Secara serius. Bukan lagi coba-coba dan berakhir menyerah. Aku enggak bisa begini terus. Aku harus berubah dan hanya aku yang bisa mengubahnya. Aku tahu, kuasa Tuhan sangat menentukan, tapi kalau aku sama sekali enggak berusaha, apa Tuhan akan memberikan kuasa-Nya untuk mengubahku?

Enggak ada yang instan “simsalabim” langsung ada dalam sekejap. Ini bukan dunia dongeng, Bro. Harus ada usaha, harus ada proses, sebelum akhirnya bisa menikmati hasil.

Aku hanya ingin berubah menjadi seperti yang aku impikan. Aku ingin punya tubuh proporsional. Aku ingin atletis. Aku capek terus bermimpi yang enggak juga menjadi nyata. Bagaimana bisa mimpi berubah jadi nyata kalau enggak ada usaha mengubahnya?

Aku berjanji dengan diri-sendiri.

Aku ingin berubah menjadi lebih sehat dengan berat badan ideal. Aku ingin menjadikan tubuhku atletis. Sama seperti mimpi yang terus melayang-layang di anganku. Dulu, duluuu sekali, aku hanya mengagumi tubuh atletis. Sekedar mengagumi dan enggak ada ambisi mendapatkannya. Aku tetap happy dengan jalanku sendiri. Menikmati apa yang aku suka, tanpa menyadari "bom waktu" yang aku ciptakan sendiri. Menunggu untuk meledak.

Aku bersyukur kesadaran itu datang padaku sebelum semuanya terlambat dan hanya ada penyesalan. Aku mulai berkomitmen dan mengikatnya erat-erat. Aku harus berubah, dimulai dari sekarang. Bukan nanti, apalagi besok.

Hari itu, aku mulai mengubah pola hidupku.

Susah? Semuanya berjalan begitu saja.

Pertama yang aku ubah adalah pola makan. Aku harus mengaturnya. Aku mulai menjalani diet. Tanpa nasi dan menggantinya dengan karbohidrat lain: jagung rebus, singkong rebus, ubi rebus. Aku lupa rasanya waktu pertama kali enggak bergantung dengan nasi, tapi aku masih ingat masa SMA dulu pernah “mencoba” diet. Entah pola seperti apa yang aku lakukan, waktu itu diet hanya berjalan satu malam. Mati-matian aku menahan lapar. Besoknya aku kehilangan komitmen. Ah, waktu itu aku enggak berkomitmen. Aku hanya ingin diet. “Hanya ingin”. Itu saja. Tanpa komitmen apapun.

Sekarang aku tetap memegang janjiku. Tetap berkomitmen menjadikan hidupku lebih sehat demi masa depan yang lebih, lebih baik.

Aku tetap menikmati apa yang aku suka.

Dulu, waktu itu, aku enggak suka olahraga. Aku benci pelajaran olahraga. Aku hanya berpura-pura terlihat antusias saat pelajaran olahraga, sama seperti yang lain. Aku membenci pelajaran olahraga karena aku enggak atletis. Aku selalu payah mengikutinya. Lari, senam lantai, atletik, semuanya payah. Karena itulah aku membenci pelajaran olahraga. Ditambah lagi aku enggak pernah berolahraga. Sama sekali.

Memasuki masa kuliah, aku masih sangat ingat waktu itu cek kesehatan untuk persyaratan mahasiswa baru, tubuhku semakin berlemak. Leherku tenggelam. Aku seperti enggak punya leher. Waktu itu aku cuek saja. Aku tetap menikmati apa yang aku suka. Di mataku, enggak ada yang salah dengan posturku. Aku memang gemuk tapi aku merasa baik-baik saja.

Berat badanku waktu itu... 85 kg!

Tinggiku 165 cm waktu itu, ditambah berat badan yang berlebih, aku bisa dibilang obesitas, seandainya ada dokter atau ahli gizi yang mengatakannya padaku waktu itu.

Saat itukah aku shock dengan berat badanku sendiri. Aku harus diet! Aku harus diet!

Kuliah, jauh dari rumah, mengatur semuanya sendiri. Berat badanku berubah tanpa aku sadari. Sepanjang bisa mengingat, aku enggak ada kiat khusus tentang pola makan. Aku ingat, dulu pernah beli L-Men Loose Weight. Sesuai anjuran di kotaknya, aku minum dua sachet susu ini sebagai pengganti sarapan yang tetap membuatku merasa lapar, tapi aku mencoba bertahan karena aku sudah (terlanjur) membeli sekotak susu khusus dengan harga yang enggak sedikit ini.

Waktu itu aku hanya mencoba memperbaiki pola makan. Mengurangi lebih tepatnya. Belum putus dari nasi. Olahraga juga belum.

Awal 2016 itulah yang menjadi permulaan komitmenku. Aku benar-benar serius untuk berubah. Aku harus berubah. Aku bertekad kuat.

Terus berproses...

Terus berproses...

Sekarang pun tetap berproses...

Bukan berarti semuanya terasa mudah, tapi komitmen yang kuat akhirnya mulai membiasakan diri untuk menahan... menahan... dan menahan...

Menikmati apa yang aku suka bukan dengan memperburuk kualitas hidup. Aku masih bisa menikmati apa yang kusuka dengan caraku sekarang. Cara yang lebih baik walau masih banyak koyak di sana - sini.

Aku enggak ingin kurus.

Aku ingin atletis dan proporsional.

Jogja, 24.08.2017

Rabu, 23 Agustus 2017

ADIK KECIL

Waktu memang terus berjalan. Perubahan sudah pasti datang. Aku berubah, kamu berubah. Ada orang yang enggak suka perubahan seseorang. Berubah apa dulu? Kalau baik berubah jadi rese, bikin KZL. Kalau rese berubah jadi makin rese, beuuuh... KZL tingkat dewa. Kadang aku merasa enggak pengen berubah. Bukan karena takut ngadepin perubahan, cuma... ada rasa pengen terus seperti ini. Tetap seperti ini.

Sayangnya kekuatan manusia mana pun enggak akan bisa menghentikan perubahan. Terus saja terjadi tanpa bisa dicegah. Namanya juga hidup, harus ada perubahan dong. More better begitulah. Satu perubahan yang bikin aku kangen banget, masa kecil adikku. Rasanya pengen balik ke waktu itu. Adikku yang masih bocah banget. Belum kenal apa itu malam Mingguan. Belum kenal warnain rambut macam rambut jagung. Dunia yang sangat sederhana yang aku bisa bebas menjahilinya tanpa ada perlawanan. Yah.. beda usia tujuh tahun membuat adikku hanya bisa "pasrah" waktu aku jahilin.

Dulu...

Sekarang adikku yang cowok usia 17. Adikku yang cewek usia 15. Ah, remaja. Adikku yang cowok sifatnya beda banget sama aku dan adikku yang cewek. Adikku yang cowok ini lebih realistis. Misal aku pengen beliin sesuatu buat dia, bisa jadi lebih pilih "mentah"nya a.k.a kasih langsung uangnya biar nanti beli sendiri.

Adik pertamaku ini juga suka banget kaos-kaos bergambar tengkorak, ala-ala anak punk begitulah, tapi adikku bukan anak punk kok. Adikku juga suka ngikutin apa yang lagi trend di antara teman-temannya. Wajar.. Namanya juga remaja.

Sementara adikku yang cewek punya beberapa kesamaan sifat sama aku. Sama-sama introvert, suka baca, suka komik. Kalau aku beliin sesuatu buat adikku yang cewek lebih gampang karena aku tahu seleranya.

Aku dan adikku yang cewek memang sama introvert, tapi bedanya aku lebih percaya diri, sementara adikku masih malu-malu. Jadinya introvert-nya kelihatan banget. Aku penasaran kayak apa adikku yang cewek ini di lingkaran pertemanannya. Apa jadi gadis pendiam yang enggak banyak bicara? Aku pernah ngarahin adikku yang cewek buat lebih percaya diri dan enggak malu-malu, tapi kayaknya belum ada efek apa-apa sekarang.

Beliin sesuatu buat adikku yang cowok sebenarnya gampang juga karena aku sudah tahu seleranya, cuma kalau aku yang beli kaos-kaos tengkorak ala punk... hmm... mending adikku yang beli sendiri atau beli bareng sama aku (baca: aku yang antar ke tokonya langsung).

Waktu beli tas juga gitu. Belinya bareng. Adikku yang cowok pilih sendiri tasnya. Kalau aku yang beliin dan enggak ajak adikku, bisa-bisa dia enggak suka tuh sama pilihanku, walau aku sudah berusaha nyamain selera.

Memasuki masa remaja, adikku mulai punya ruangnya sendiri. Ada sesuatu yang enggak mau diceritain sama aku atau Mamah. Adikku mulai punya rahasianya sendiri. Ada perasaan semacam enggak percaya. Adikku 17 tahun sekarang! Adikku 15 tahun sekarang! Aku bahkan masih ingat banget waktu usiaku 15 dan 17. Sekarang adikku yang ada di usia itu?

Adikku mulai jatuh cinta, mulai merasa kehilangan karena cinta. Aku lihat di Facebook-nya, ada satu postingan beraroma galau. Adikku yang cewek sepertinya masih belum.

Aku enggak punya kakak. Aku cuma punya adik. Lihat sekarang adikku mulai bertumbuh, rasanya ada sesuatu yang hilang. Yah.. aku kehilangan sosok adik kecilku. Bukan lagi bocah ingusan yang antusias aku beliin es krim. Bukan lagi bocah ingusan yang antusias aku ajakin jalan-jalan ke pantai.

Sekarang, adikku lebih memilih jalan sama teman-temannya dibanding sama kakaknya apalagi sama mamahnya. Namanya juga remaja. Pasti dianggap cupu kalau masih jalan-jalan sama mamahnya.


Ah rasanya waktu begitu cepat berlalu.

Jogja, 23.08.2017
Setelah "galau" susah log in Akademik UIN buat KRS-an...

Selasa, 22 Agustus 2017

JUJUR? MODUS?

Sebungkus tahu bulat dan snack cumi, bukan takoyaki (mas yang jual bilang apa gitu namanya), jadi teman santai siang jelang sore itu. Menunggu waktu, bukan menunggu orang. Paling ampuh diam berlama-lama memang berinternet ria. Waktu enggak berasa karena asyik dengan smartphone yang terkoneksi media sosial aneka rupa.

Akhirnya yang ditunggu datang juga. Adzan ashar menggema di udara. Kayak nunggu adzan maghrib ya? Ha ha. Saat itulah seorang bapak, mungkin usia 50, datang menyapa. Bapak yang entah siapa namanya itu menanyakan asalku dan kuliahku. Pertanyaan standar berbasa-basi. Lebih baik daripada diam dan sibuk dengan dunia sendiri. Waktu aku menjawab kuliah di UIN, aku tambahin IAIN, karena dari standar basa-basi yang sudah-sudah, orang-orang seusia bapak itu enggak tahu UIN tapi paham IAIN. Nama IAIN memang lebih melekat buat generasi baby boomers.

Bapak itu juga nanya aku semester berapa dan yang jelas aku jawab “lagi skripsi” dengan senyuman dan he he he. Setelah itu si Bapak terdiam. Aku juga terdiam. Sesekali aku melihat layar smartphone. Sekian detik kemudian si bapak buka suara. Menanyakan aku punya uang Rp 15 ribu apa enggak. Hah?

Bapak itu bilang buat makan.

Apa reaksiku? Apa aku ngasih bapak itu Rp 15 ribu? Atau justru sebaliknya? Kamu kalau ada di posisiku, apa yang bakal kamu lakuin? Komen di bawah ya. Sok nge-vlogger. Ha ha ha.

Balik ke bapak itu...

Aku tanya asal si bapak. Katanya dari Kalimantan, baru tiga hari di Jogja. Pengennya kerja tapi di hari ketiga itu si bapak memutuskan pulang. Naik bus, katanya. Rp 65 ribu atau Rp 60 ribu gitu. Hah? Rp 65 ribu, pulang naik bus ke Kalimantan? Aku yang salah dengar atau si bapak halu, memang bisa uang segitu buat naik bus ke Kalimantan?

Ka-li-man-tan loh. Bukan Solo, Semarang, Magelang.

Si bapak hanya mengarang cerita atau memang betulan, semoga permasalahan bapak itu segera terselesaikan. Kalau memang benar pulang ke Kalimantan, semoga bisa segera sampai di sana.

Si bapak dari Kalimantan ini cuma salah satu contoh dari sekian banyak kejadian yang bias antara jujur atau modus. Apa bapak itu berbohong? Apa si bapak punya niat terselubung?


Sekarang susah dibedakan seseorang yang betul-betul butuh bantuan atau cuma pura-pura. Apalagi sama orang yang enggak dikenal. Ada rasa curiga, enggak percaya, dan akhirnya ragu mau ngasih bantuan.

Harus dilihat situasi dan kondisi. Misal ada korban kecelakaan di jalan, apa masih berpikir betul-betul butuh bantuan atau cuma pura-pura?

Oknum yang memanfaatkan kebaikan orang lain demi kepentingan pribadi itulah yang membuat seseorang "berat" memberikan pertolongan kepada orang asing yang tiba-tiba datang.

Jogja, 22.08.2017

Senin, 21 Agustus 2017

NETRAL

Memang susah bersikap netral, tanpa ada kebencian atau rasa sensi lain. Apalagi kalau pernah drama sama seseorang. Bakalan makin susah bersikap netral. Selalu mikir negatif tentang dia. Apapun yang dia lakukan selalu dirasa ada cacatnya dan lebih mengedepankan marah-marah. Aku lagi berusaha buat bersikap netral. Mungkin ada yang bilang ini cuma bullshit, tapi aku hanya berusaha melihat seseorang dari sisi baik, sisi positif, bukan cuma dari sisi negatifnya.

Setiap orang pasti pernah bikin kesalahan. Enggak perlu naif. Aku juga pernah. Sangat pernah. Cuma... memang susah, sempurna melupakan sisi negatif seseorang yang bikin kita ikutan drama. Enggak semua orang begini loh ya. Aku cuma yakin pasti ada orang yang susah melupakan “drama” seseorang yang bikin kita terlibat di dalamnya.

Namanya hidup enggak sendiri, pasti pernah drama sama seseorang. Efek drama ini seringnya bikin baper. Tunggu, jangan bilang alay dulu. Kenapa tiap ada orang bilang baper, dibilang alay? Manusia ‘kan punya perasaan, wajar ‘kan baper? Kalau manusia enggak bisa baper, perlu dipertanyakan tuh perasaannya. Masih ada di tempatnya apa enggak?

Beberapa kali drama sama seseorang, pasti baper. Langsung kepikiran. Merasa sangat beruntung, alhamdulillah, baper dan kepikiran tapi enggak lama. Enggak sampai 24 jam juga. Kelamaan itu. Mungkin 30 menit pertama jadi fase baper paling akut. Setelah itu mulai lupa... dan.. hilang. Bukan lupa. Cuma tenggelam sama "drama" lain (dan enggak setiap drama bikin baper ya).

Kalau diingat lagi, bapernya juga balik lagi sih.

Kata orang yang bisa baca kepribadian, aku ini tipe yang enggak gampang maafin orang. Pendendam? Bukan! Lebih tepatnya susah maafin. Apalagi sampai sempurna melupakan. Pasti ada masa aku ingat lagi sama bapernya.

Yah.. sedikit-banyak ada benarnya juga. Aku baperan, iya. Aku melankolis, iya juga. Sisi emosionalnya lebih kuat. No body is perfect. Aku bilang begini bukan berarti pengen nunjukin kelemahan, pengen nunjukin kekurangan.

Hei, ini bukan kelemahan. Setiap orang pasti punya kepribadian yang berbeda. Apapun, itulah kamu, aku, kita. Aku bilang begini justru karena berusaha mengenal diri-sendiri. Enggak sedikit loh yang masih belum mengenal dirinya sendiri. Masih bingung memahami. Padahal yang mengerti kita ya cuma diri kita sendiri (dan Sang Pencipta tentu).

Memahami diri-sendiri justru bikin kita tahu menyikapi sesuatu, termasuk sikap menetralkan yang bagiku masih terasa susah. Sama kayak kertas, sekali diremas enggak bakal bisa balik mulus lagi. Aku tipikal orang yang sedikit-banyak sama kayak kertas itu, tapi bukan berarti aku enggak bisa memaafkan. Cuma situasi tertentu (dan juga sama orang tertentu) aku susah bersikap netral, enggak bawa-bawa sisi negatifnya, tapi aku tetap berusaha enggak cuma lihat dia dari satu sudut pandang.

Hidup itu belajar dan terus belajar, termasuk belajar buat melupakan drama yang sesekali mampir.


Sempurna melupakan mungkin susah tapi seenggaknya enggak cuma melihat seseorang dari sisi negatifnya.

Setiap orang pasti punya kebaikan dalam dirinya 'kan?

Jogja, 21.08.2017

Minggu, 20 Agustus 2017

SISA

“Ayo nasinya dihabiskan. Nanti nasinya nangis loh.”

Waktu aku masih bocah, Mamah pernah bilang begitu. Makanan yang enggak dihabiskan bisa nangis. Setiap orangtua pasti ngajarin anak-anaknya enggak buang-buang makanan. Enggak baik. Pembiasaan yang jadi kebiasaanku sampai sekarang. Sepanjang bisa mengingat, aku alhamdulillah jarang buang makanan. Bukan berarti enggak pernah loh.

Rasanya sayang gitu, makanan dibuang sia-sia. Memangnya ada "dibuang tapi enggak sia-sia"? Ada. Dibuang tapi buat pakan ternak. Asal enggak cuma berakhir di tempat sampah dan setelah itu enggak dimanfaatkan sama sekali. Eh tapi.. kalau dibuang di tempat sampah, bukannya nanti juga bakal jadi manfaat buat semut, lalat, ulat, dan kawan-kawan? Berarti enggak ada istilah “dibuang sia-sia” karena yang dibuang itu ternyata ngasih manfaat bahkan di tempat pembuangan.

Enggak ada yang sia-sia, bukan berarti bebas buang-buang makanan loh. Sayang ‘kan kalau dibuang? Bayangin, di luar sana masih ada yang makannya susaaah banget. Buat makan satu kali saja harus jungkir-balik. Enggak segampang langsung ambil di dapur. Rasanya sedih lihat orang enggak menghabiskan makanannya, apalagi makanan yang diambil sendiri. Bukan sekali-dua kali lihat yang begini di warung makan. Entah karena sudah merasa kenyang apa karena enggak doyan.

Aku pernah kok enggak ngabisin makanan. Misal, beli gado-gado. Kadang pesananku enggak sesuai sama yang aku minta. Aku enggak minta ketupat, dikasih ketupat. Enggak minta gorengan, dikasih gorengan. Enggak minta kerupuk, dikasih kerupuk. Aku minta gratis, enggak dikasih. Aku sisain begitu saja di atas piring. Beberapa kali aku bikin emoticon senyum dari "sisa" makananku itu (yang sengaja enggak aku makan).

Tuh ‘kan.. ternyata diri-sendiri juga pernah buang-buang makanan. Enggak selalu buang-buang begini kok. Aku lebih sering menghabiskan makananku sendiri. Apalagi kalau disuguhin makanan, misal lagi bertamu, lagi di suatu acara, aku pasti menghabiskan suguhannya. Kamu pikir aku rakus ya? Kelaparan? Bukan, tapi ada yang bilang, kalau bertamu dan disuguhin makanan, ya harus dimakan. Jangan nyisain. Justru yang kasih suguhan bakal senang suguhannya habis.

Jangan menyisakan makanan daripada nanti dibuang. Kalau bisa dimakan dan dihabiskan, kenapa harus dibuang? Kalau memang enggak mau makan, jangan dimakan apalagi cuma dimakan setengah.

Sayangnya enggak banyak yang punya prinsip menghargai makanan. Kalau cuma dimakan setengah, sisanya buat siapa? Siapa yang makan? Kalau bukan sisa makanan ustadz, pasti akan berakhir di tempat sampah.

Bisa dibilang ini sesuatu yang sepele, tapi yang kita anggap kecil-kecil ini bisa jadi pelajaran yang berharga.

Waktu kita bertamu, pasti si empunya rumah enggak tega ‘kan enggak nyuguhin apa-apa? Paling enggak bakal dikasih minuman berwarna (baca: teh manis). Sebagai bentuk penghargaan, kita pasti menerima suguhan itu. Kalau minuman, ya diminum. Makanan, ya dimakan. Diminum loh ya. Bukan cuma dijadiin pajangan meja. Makanan yang disajikan, semisal jajanan pasar: arem-arem, lumpia, bakwan, tempe goreng, dan bla.. bla.. bla.. juga dimakan ya.

Kalau jajanan pasarnya satu piring penuh, dihabisin juga? Seenggaknya suguhan yang disajikan disentuh. Jangan dicuekin. Si empunya rumah sudah mengusahakan suguhan loh.

Rasanya KZL sama orang yang dikasih suguhan tapi enggak disentuh sama sekali, entah karena apa. Diminum kek, walau cuma satu sruputan. Dimakan kek, walau cuma satu potong.


Belajar menghargai dari sesuatu yang kecil.

Jogja, 20.08.2017

Sabtu, 19 Agustus 2017

VIRUS 48

Sekumpulan gadis manis dan cantik dengan rok mini kotak-kotak tampak tersenyum penuh pesona. Sesekali mereka tersenyum ke arahmu, entah benar untukmu atau hanya perasaanmu saja. Pujian bahkan hujatan, dua hal yang selalu ada di sekeliling gadis-gadis muda berbakat ini. Seperti dua sisi mata uang yang selalu berdampingan.

Karena pesona gadis-gadis ini, banyak yang menjadi korban delusi. Delusi? Arti delusi seram juga sih. Salah satu bentuk gangguan mental. Delusi itu sederhananya terlalu berfantasi, antara imajinasi dan kenyataan beda tipis.

Kita bisa jadi apa yang kita mau di dunia fantasi kita sendiri ‘kan? Bebas karena kita "sutradara"nya. Gadis-gadis inilah yang membuat makhluk bernama laki-laki khususnya, berdelusi. Mungkin bukan tingkatan yang parah, tapi tetap saja antara angan dan realitas tumpang-tindih.

Gadis-gadis manis ini adalah JKT48. Apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran waktu mendengar, membaca, melihat JKT48? Nabilah, Melody? Buat sebagian orang, JKT48 adalah Nabilah. JKT48 adalah Melody. Kenapa bukan JKT48 adalah Shania, JKT48 adalah Beby, JKT48 adalah ini.. adalah itu.. dan nananina? Nabilah, Melody, juga Shania, Beby adalah generasi pertama idol grup bentukan Yasushi Akimoto. Pertama kali dikenalkan tahun 2011, gadis-gadis manis dan cantik dengan seragam sekolahnya ini mulai menyebarkan virus (dan enggak ketinggalan, rok mininya).

Waktu itu idol grup di Indonesia belum sepopuler sekarang. Istilah "idol" bahkan masih terdengar asing. Hanya penikmat J-Pop yang enggak asing sama idol grup. Sebelum ada JKT48, kita pasti lebih familiar sama girlband ‘kan? Ya, kita sama, Bro.

Pertama kali lihat perform JKT48 di TV, rasanya aneh. Girlband apa ini anggotanya banyak banget? Paling mentok anggota girlband ada tujuh. Yah.. sepuluhlah. Sementara JKT48 ada.. sepuluh.. limabelas?

Wajar kalau sebagian orang bilang, JKT48 adalah Nabilah, JKT48 adalah Melody, bukan JKT48 adalah Zara, JKT48 adalah Eve, dan lain-lain, dan sebagainya. Melody dan Nabilah adalah dua nama di antara nama lain dari generasi pertama yang jungkir-balik menaikkan popularitas dan mengenalkan JKT48.

Member JKT48 jelas ada banyak, dan lebih dari 48. Kenapa ada angka 48? Google pleaseHe he. Aku bukan mau cerita JKT48 dari awal sampai akhir. Apalagi cerita tentang sejarah mereka.

JKT48 itu bisa dibilang “virus”. Entah apa rahasia Akimoto-sensei bisa bikin idol 48 se-boom sekarang. Mulai dari AKB48, menyusul sistergrup di beberapa perfektur (entah perfektur atau apa namanya): NMB48, SKE48, hingga di luar Jepang, SNH48 (dari China kalo enggak salah), JKT48 dari Indonesia, dan BNK48 dari Thailand.

Mereka adalah "virus" yang siap membuatmu berdelusi. Buat yang terlalu banyak kadar "virus"nya, pelan tapi pasti enggak baik buat diri mereka sendiri. Mungkin awal-awal masih merasa wajar. Cuma sekedar say hi buat member di Twitter, menyimak setiap kicauan, meretweet, menjadikannya favorit, bisa-bisa jadi delusi level tinggi.

Aku bukan sinis sama fans JKT48 a.k.a WOTA. Aku juga suka mengikuti JKT48. Aku menikmati lagu-lagunya. Aku suka music video-nya.

Aku mengikuti JKT48 juga baru-baru ini. Sebelumnya cuma sekedar tahu, tapi enggak lihat music video-nya, enggak secara khusus mendengarkan lagu-lagunya, enggak kepo kicauan mereka. Mengikuti JKT48 lebih ke mengamati mereka. Kenapa bisa sepopuler itu? Bukan cuma populer di dunia nyata tapi juga populer di dunia maya. Enggak salah juga, akun member-member JKT48 diverifikasi Twitter.


Melody pernah bilang di satu talkshow, JKT48 adalah idol grup dengan konsep “idol you can meet”. JKT48 punya theater sendiri. Punya pertunjukan sendiri. Masih kata Melody, member bakal tumbuh bersama fans. Enggak bagus nyanyi, bisa jadi bagus. Kaku nge-dance, jadi luwes.

Member JKT48 yang performnya parah dibanding member lain, jangan langsung dihujat dan di-bully. Ingat tagline “tumbuh bersama fans”. Nabilah, Melody, Shania, Beby, dan lain-lain terlihat banget bedanya dari pertama debut sampai sekarang. Ya, karena mereka tumbuh bersama fans. Buat yang mengikuti JKT48 sejak awal, pasti tahu metamorfosis para member ini. Aku saja yang enggak mengikuti mereka dari awal, ngelihat banget perubahan-perubahannya.

Semangat JKT48 memang perlu ditiru semua orang. Semangat berjuang dan menikmati proses. Popularitas idol grup ini enggak didapat secara instan. Ada banyak jatuh-bangun. Kelihatannya mereka cuma modal tampang, tapi pasti mereka punya kemampuan juga. Member JKT48 pasti adalah pilihan dari sekian banyak gadis muda pemilik mimpi yang sama.

Sejujurnya aku juga ragu sama kemampuan bernyanyi JKT48. Apa mereka berani nyanyi satu-satu? Beberapa kali aku lihat di satu acara TV, JKT48 menolak secara halus waktu diminta nyanyi sedikit. Bilangnya lagi sakit bla.. bla.. bla.. Kok nyinyir? Awas loh di-bully fans sejati.

Bukan bermaksud nyinyir kok. Penasaran, apa kemampuan bernyanyi mereka benar-benar qualified? Atau memang hanya menjual "tampang"?

Mereka pasti punya kemampuan bernyanyi. Enggak buta nadalah. Apalagi member JKT48 selalu latihan keras demi perform yang maksimal. Selalu latihan? Kata siapa? Salah satunya kata kicauan-kicauan mereka.

Semangat member JKT48 memang oke. Terus latihan dan latihan. Sama kayak salah satu lagu mereka, "Usaha keras tidak akan pernah mengkhianati".

Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin berhembus. Pasti ada yang enggak suka dan ujung-ujungnya nyinyir. Semoga JKT48 memang benar-benar punya kualitas, bukan sekedar punya pemandangan menyejukkan mata.

Kalian (sebenarnya) hebat.
Kalian (sebenarnya) bertalenta.

Jogja, 19.08.2017
Di sela-sela siaran siang...
© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis