Langsung ke konten utama

Postingan

BUKBER a.k.a BUKA (PUASA) BERSAMA

(cdn-images-1.medium.com) Setiap bulan Ramadan, agenda bukber alias buka (puasa) bersama pasti selalu ada. Buka puasa bareng keluarga bukan termasuk bukber. Istilah "bukber" memang hanya spesifik buat "buka puasa bareng orang lain", bisa teman, rekan, instansi, dan semacamnya yang merujuk sama "orang lain". Buat yang setiap hari buka puasa bareng keluarga, enggak merasa bukber tuh. Beda cerita kalau sama teman, rekan, instansi, dan semacamnya itu. Bukber bisa dijadikan momen buat nyambung silaturahim. Di luar waktu ini enggak sedikit yang enggak menyempatkan buat sekedar makan bareng. Cuma dengan bukber ini yang bisa benar-benar menyempatkan waktu buat kumpul, bertemu, menyambung kembali komunikasi biar semakin dekat (lagi). Tempat bukber juga identik dengan "tempat makan", we know... bukan takjilan di masjid. Agenda bukber setelah sepakat harinya adalah menentukan tempat. Bulan puasa jadi target marketing yang brilian buat pegiat ekonom...

BAIK DAN BURUK SI PONSEL CERDAS

(png.icons8.com) Smartphone a.k.a ponsel cerdas bisa dibilang penting dan enggak penting. Ada sisi baik dan buruknya. Penting, karena hampir semua komunikasi dilakukan pakai smartphone yang jelas butuh internet. Merogoh kocek Rp50 ribu, minimal, bukan jadi sesuatu yang berat kalau demi internet smartphone. Enggak penting, karena waktu bisa terbuang sia-sia "cuma" dengan geser-geser timeline Instagram, ikut-ikutan komen di tweet-nya selebtweet, bolak-balik buka WhatsApp yang isinya cuma chat grup (enggak berfaedah banget sebenarnya), nge-game yang ujung-ujungnya bosan juga. Jangan terlalu tergantung sama smartphone. Benar-benar meninggalkan, hmm... sepertinya susah ya, khususnya buat komunikasi yang berhubungan sama kerja dan yang penting lainnya. Jangan sok bisa hidup tanpa gadget, kalau justru menyusahkan orang lain yang akan menghubungi kita. Kita memang bisa hidup tanpa gadget, tanpa smartphone, salah satunya menyimpan barang elektronik satu ini waktu lagi ngumpul k...

PUASA TAHUN INI

Enggak banyak yang bisa saya ceritakan kali ini. I don't have more time (jangan tertawa kalau Bahasa Inggris saya kacau). Saya cuma punya waktu 10 menitan buat bercerita. Yah... daripada hiatus (lagi). Puasa hari ke-8 ini saya merasa enggak bermasalah. Masih bisa menahan nafsu selain makan dan minum. Tahun kemarin masih enggak lebih baik dari sekarang. Artinya ada perubahan ke arah yang lebih baik dong? Yap! Alhamdulillah... Walau pun masih belum sempurna. Justru saya merasa Ramadan tahun ini (yang berjalan delapan hari) terasa belum sempurna karena ibadah saya masih... jauh dari semangat Ramadan. Bisa dilihat 'kan setiap bulan puasa begini, banyak banget kajian dan tadarus yang dilakukan? Nah, saya merasa masih belum menikmati dua hal ini secara lebih hakiki, apalagi sekarang bulannya pas banget. Suasana sangat mendukung. Bukan karena saya enggak ada waktu, tapi karena enggak menyempatkan waktu. Sungguh sombong seorang manusia yang merasa kehabisan waktu yang berujung eng...

SALAH DAN MAAF

(kpanel.mramagazines.com) Maaf-memaafkan, apalagi di bulan Ramadan, jadi sikap yang perlu dilakukan. Pengennya skor kesalahan 0-0 memasuki bulan suci, bulan yang sangat dinanti. Dimaafkan atau enggak, hanya kita dan Tuhan yang tahu. Lisan bisa bilang maaf-memaafkan, tapi hati? Belum tentu. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Pernah menyakiti perasaan. Pernah menghancurkan silaturahim. Yah... karena hidup sangat bervariasi. Enggak melulu yang senang-senang. Ada tingkat kesalahan kecil, bisa dimaafkan dan besoknya lupa. Hubungan kembali normal dan enggak ada efek awkward. Ada juga tingkat kesalahan besar, sekali pun sudah saling maaf-memaafkan tapi situasi awkward enggak bisa dihindari. Hubungan dalam beberapa hal bisa jadi normal, tapi enggak bisa kayak dulu lagi. Lisan memaafkan, tapi hati masih menyisakan luka. Tingkat kesalahan besar ini bisa bervariasi. Banyak penyebab kesalahan yang masing-masing punya pandangan berbeda tentang seberapa besar tingkat kesalahan itu...

CUMA INI YANG PENYIAR RADIO MAU

(http://yesofcorsa.com) Kebahagiaan hakiki seorang penyiar radio adalah interaksi dari pendengar. Apalagi kalau enggak diminta gabung, tapi secara sukarela pendengar langsung memenuhi kontak SMS/ WA. Kalau enggak ada interaksi dari pendengar, sedih saya tuh. Sepi. Bikin bosan. Siaran bukan lagi sesuatu yang menyenangkan. Kayak onani, rasanya nikmat tapi lama-lama bosan juga 'kan enggak ada lawan main? Sekarang radio memang enggak sebombastis dulu. Seorang teman pernah bilang, sebelum hape menjamur, pendengar radio yang ingin request lagu harus punya form khusus yang dibeli seharga sekian rupiah. Dulu jadi bonus banget buat stasiun radio. Bisa menjadikan request lagu sebagai bahan penambah pundi-pundi ekonomi. Masa semakin berubah, form khusus kayak gini ditinggalkan dan era hape bahkan smartphone jadi yang cara termudah dan terbanyak buat request lagu. Stasiun radio enggak bisa lagi menjadikan request lagu sebagai bisnis. Radio sama kayak media massa lain, terus berkembang...

POLA TIDUR SAAT RAMADAN

(www.pexels.com) Puasa hari pertama alhamdulillah lancar. Bangun sahur dengan semangat, lanjut siaran, dan enggak ngantuk berlebihan. Kuncinya adalah tidur sebelum jam 12 malam. Beruntung, saya sekarang enggak ada siaran malam. Paling mentok jam 22.30 dan saya bisa langsung tidur setelahnya. Masih di jam sebelum 00.00. Mengatur pola tidur di bulan Ramadan memang penting. Hmm... berkaca sama Rasulullah yang sangat sedikit jam tidurnya, pentingkah kita mengatur pola tidur? Rasulullah walau enggak banyak tidur, tapi tetap ada waktu buat mengistirahatkan badan. Alasan Rasulullah tetap terjaga juga bukan karena nonton bola, nge-game, atau aktivitas yang sebenarnya enggak berfaedah, tapi karena terus bersyukur sama Allah dengan banyak beribadah, lebih banyak dari siapapun. Islam bukan agama yang memberatkan, tapi jangan juga menggampangkan. Meneladani Rasulullah tentu tujuan dan harapan setiap umat Islam, tapi kalau belum bisa sesempurna Rasulullah dalam mensyukuri nikmat Allah, ten...

BERTEMU RAMADAN

(beabettermuslim.com) Ramadan ke sekian. Alhamdulillah... Selalu ada yang bikin kangen, syahdu, berkesan, bermakna sama Ramadan. Tahun ini adalah Ramadan terakhirku sebagai mahasiswa S1 karena aku akan lulus dan resmi menjadi sarjana komunikasi dan penyiaran Islam. Yeaaay! Mungkin juga ini Ramadan terakhirku sebagai bujang? Who knows? Tuhan selalu punya kejutan. Kayak kata seorang teman yang Ramadan tahun lalu masih lajang dan kali ini resmi jadi pasangan halal orang. Ramadan, puasa, sahur, berbuka, taraweh, buka bersama, iklan sirup, suasana Ramadan di mall, pernak-pernik yang cuma bisa dirasakan 30 hari dalam setahun. Masjid kembali ramai. Shaf shalat berjama'ah kembali penuh. Lantunan ayat suci mengalun setiap malam. Sebuah kesyahduan yang hanya bisa dirasakan saat Ramadan. Bahkan kebaikan bulan Ramadan bisa dirasakan oleh semua orang, semua umat. Takjil, penganan khas berbuka puasa, manisan-manisan, es-es menyegarkan, mulai semarak di pinggir jalan. Menuju sore adalah ...