Langsung ke konten utama

Postingan

REUNI

“Ah, paling yang datang orang-orang itu aja. Paling cuma yang dulu OSIS. Paling cuma ini.. cuma itu..” Hei.. hei.. pesimis banget. Mungkin nyatanya besok begitu (duh.. semoga jangan) tapi seenggaknya enggak usah bilang “paling yang dateng cuma” dong. Hargailah panitia yang susah-payah ngadain reuni. Enggak gampang mengumpulkan pecahan yang terserak. Bisa ngumpul lagi kayak dulu, utuh, agak susah. Kesibukan sekarang beda-beda, tapi bukan berarti mustahil buat ngumpul lagi. Asal mau mengagendakan jauh-jauh hari. Biasanya reuni direncanain emang dari kapan tau ‘ kan ? Apalagi reuni akbar. Enggak mungkin diadain dadakan macam tahu bulat yang digoreng dadakan. Aku excited banget dateng reuni. Entah itu sesama angkatan atau lintas angkatan, begitu ada waktu buat nostalgia, ya dimanfaatin dong. Jangan disia-siain. Kangen-kangenan sama teman dari masa lalu, memutar kembali momen yang dulu pernah dilakuin bareng. Dulu masih anak ingusan, sekarang jadi orang. Rasanya sedikit enggak percaya ...

TIGA "SEKAWAN"

Dulu ada seorang teman yang bilang, “Logika tanpa logistik is nothing .” Kalo kamu lapar, enggak bisa berpikir dengan jernih. Gimana mau diajak berpikir yang lain kalo yang mendominasi justru rasa lapar? Salah satu bagian dari nafsu adalah makan. Nafsu harus kita kendalikan. Bukan nafsu yang mengendalikan kita. Ada tiga nafsu  yang harus kita kendalikan. Pertama, nafsu di hati, segala muara perbuatan yang kita lakukan. Pengen ini, pengen itu, pengen lagi, pengen terus . Nafsu di hati ini mendominasi dua nafsu selanjutnya. Nafsu di perut dan nafsu di bawah perut. Ketiga nafsu ini punya kerjasama yang baik dengan otak. Kalo enggak ada sinkronisasi antara nafsu dan otak, enggak bakal ada keinginan, rasa lapar, dan hasrat seksual. Nafsu di perut bisa dibilang memengaruhi suasana hati. Ada pepatah, “Perut kenyang, senanglah hati.” Pernah merasa, lapar bikin hati senang? Adanya uring-uringan, bad mood , enggak ada rasa senang sama sekali. Semua nafsu bisa dikendalikan kok, termasuk na...

BERBAUR

Bisa berbaur, bisa gabung dengan orang dari luar kelompok, bisa menyesuaikan diri di mana pun. Merasa bersyukur, sekarang aku bisa berbaur dengan orang yang ada di luar kelompok. Aku memang tipikal yang enggak terlalu menutup diri, walau aku sendiri paling anti menceritakan sesuatu dari diri-sendiri, kecuali sesuatu yang memang aku oke untuk mengatakannya. Bukti yang aku rasakan adalah bisa berbaur dengan teman-teman (ya, mereka adalah temanku) yang secara usia beda denganku. Mereka menganggapku sangat senior karena masa-masaku waktu itu, mereka belum ada di tempatku. Aku enggak mau dianggap terlalu senior, seperti mendewakan atau terlalu menghormati. Ya, sewajarnya saja. Aku juga enggak mau mereka meremehkanku. Siapa yang mau diremehkan, coba? Sikap berbaur ini perlu enggak buat interaksi sosial? Menurutku perlu. Kita hidup enggak sendiri. Pasti masih ingat ‘ kan istilah “manusia adalah makhluk sosial”? Karena kita enggak bisa hidup sendiri, sikap berbaur juga perlu. Sewajarnya sa...

JALAN KAKI

Coba sesekali enggak usah mobilitas pake kendaraan pribadi. Coba jalan kaki. Ya.. asal enggak ngorbanin waktu yang lain. Jadi telat masuk kerja, misal. Ya.. enggak begitu juga. Gini deh, waktu enggak ada banyak kegiatan, coba buat menikmati waktu dengan berjalan kaki. Pasti kamu akan menemukan sesuatu yang biasanya enggak kamu lihat waktu naik kendaraan. Aku pernah nyoba jalan kaki dari XXI Jalan Sudirman ke UPT Malioboro. What? Beneran? Bukan mau gaya-gayaan, cuma waktu itu karena enggak bawa motor, merasa nanggung naik Gojek, apalagi naik Trans Jogja, aku memutuskan jalan kaki. Ah, deket, pikirku waktu itu. Emang enggak terlalu jauh, tapi kalo setiap hari jalan kaki begini, maap-maap ye ... makasih. Bukan karena capek, tapi karena... yah... gimana ya ? Masa jalan kaki ke mana-mana setiap hari? Sesekali bolehlah. Tepat seperti yang aku bilang di atas, aku menemukan sesuatu yang biasanya enggak aku temui waktu naik kendaraan pribadi. Aku baru ‘ ngeh ’ kantor redaksi Tribun Jogja...

JUJUR

Orang Jawa bilang, “Jujur ajur .” “Jujur hancur.” Iya, buat maling, jujur bakal hancur. Enggak jujur juga sama hancur. Ngaku, hancur. Enggak ngaku (karena udah dicurigai) juga bakal hancur. Oke, bukan ngebahas tentang maling kok. KPK bilang, “Berani jujur itu hebat.” Sepakat! Aku termasuk #TeamJujur. Yah.. enggak dipungkiri juga aku pernah enggak jujur, tapi buat sesuatu yang positif, misal ujian semester, aku termasuk #TeamJujur. Jujur itu apa sih? Kue jujur? Itu kue cucur ! Menurut KBBI, jujur adalah lurus hati, tidak berbohong (misalnya dengan berkata apa adanya), tidak curang (misalnya dalam permainan, dengan mengikuti aturan yang berlaku), tulus, ikhlas. Seribu kebohongan akan hancur dengan satu kejujuran. Sebaliknya seribu kejujuran akan hancur dengan satu kebohongan. Ibarat narkoba, berbohong itu bisa bikin adiktif. Sekali berbohong, yang selanjutnya juga pasti berbohong. Rangkaian kebohongan. Kejujuran people  zaman  now  gimana? Oke? Apa justru memprihatink...

OJEK (ONLINE)

Sebelum ada ojek online, kayaknya enggak kepikiran pake ojek buat ke mana-mana. Biasanya naik ojek karena baru pergi jauh, dari luar kota, misal baru sampai stasiun, terminal, bandara. Bukan transportasi yang jadi alternatif buat sehari-hari. Mungkin ada yang mobilitasnya pake ojek, tapi kayaknya enggak sebanyak sekarang, eranya ojek online. Lebih tepatnya eranya semua-semua dapat dikabulkan dengan kantong ajaib (baca: online). Sekarang banyak banget driver transportasi kekinian satu ini di beberapa kota besar. Kekinian? Yah.. bisa dibilang seperti itu.  Awal kemunculan ojek online dulu cuma di Jakarta, tapi sekarang udah bisa dinikmati di mana-mana. Jenisnya juga banyak, mulai dari Gojek, Grab, Uber, dan lain-lain, dan entah apa lagi. Sebelum ada ojek online, transportasi umum yang bisa order via online kayaknya udah ada. Taksi online? Bisa dipesan lewat telepon? Eh, beda ding. Ini ‘kan pesan lewat telepon, bukan pesan lewat aplikasi. Bukan pake koneksi internet, tapi pake puls...

KERJA

"Mas, hari ini kamu kerja jam berapa?" Pevita yang sedang memulas bibirnya dengan pelembab sekilas melirik ke arahku. "Siaran. Aku siaran jam 3 sore, Sayang." "Jangan lupa ya, nanti jemput aku jam setengah delapan. Oke, Masku Sayang?" "Siap, Nyonya Besar!" Pevita yang sudah rapi dan siap ke kantor, duduk di belakangku dan memelukku. Erat dan hangat. "Duluan, Mas," kataku kepada Keenan yang sedang sibuk mengutak-atik motor besarnya. "Yo.." Kata kakak laki-laki Pevita itu tanpa mengalihkan pandangan. Saatnya berangkat. [] Aku enggak merasa nyaman dengan istilah "kerja". Aku siaran. Okelah siaran ini termasuk "kerja", tapi aku enggak merasa siaran ini sebagai pekerjaan. Aku menyebutnya siaran. Iya, siaran. Bukan kerja. Rasanya aneh bilang siaran adalah kerja. Dulu sebelum aku jadi penyiar radio, aku enggak pernah menganggap aku sedang mencari kerja sambilan di tengah aktivitas kuliah. Aku ...