Langsung ke konten utama

Postingan

BUKAN KELUARGA CEMARA

  Rasanya seperti nggak percaya aku ada dalam sebuah geng. Terkesan alay. Eits! Jangan ngejudge dulu, Gus. Nggak semua geng itu alay. Dan nggak semua geng itu hanya untuk remaja SMA demi eksistensi diri. Sebenarnya poin eksistensi dirinya sama sih. Aku, Mbak Iham, Mbak Dwi, Mbak Yatimah, dan Rina secara resmi, hari ini, Minggu, 4 Juni 2023 membentuk sebuah geng bernama Cemara. Berawal dari obrolan random dalam perjalanan menuju Pantai Goa Cemara, kami sempat membahas tentang Keluarga Cemara. Ada Abah, Emak, Euis, Ara, dan Agil. Apakah kami berlima merepresentasikan karakter-karakter karangan Arswendo Atmowiloto ini? Bukan. Hanya karena kami berlima dan pas lagi ngobrol tentang Keluarga Cemara, lahirlah Geng Cemara. Awalnya kami hanya janjian main. Kali pertama kami main ke Solo. Waktu itu Rina belum bergabung di klub ini. Kami hanya janjian main dan... selesai. Kami bikin grup chat dan mengalirlah rencana-rencana untuk main ke mana-mana. Kali ini kami main ke Pantai Goa Cemara. Ide...

TENTANG KESEMPATAN YANG DATANG MENYAPA

Kesempatan belum tentu datang dua kali. Rasanya susah ya buat sebagian orang menerima setiap kesempatan yang datang. Ada rasa ragu, nggak yakin, dan macam-macam pikiran lainnya. Jadi kalau ada kesempatan yang datang mau diambil apa nggak? Aku termasuk yang nggak semudah itu menerima kesempatan. Nggak bisa yang langsung bilang, "Ok, let's go!" Aku perlu mikir ini dan itu. Termasuk bisa apa nggaknya aku kalau menerima kesempatan yang datang. Buat orang yang kurang antusias sama tantangan, menerima kesempatan yang datang tidak semudah itu. Pasti iri sekali ya sama orang yang bisa hayuk pada setiap kesempatan tanpa perlu berpikir ini dan itu. Bahkan mungkin nggak perlu bingung-bingung karena bagi penyuka tantangan, setiap kesempatan tidak boleh dilewatkan. Salah nggak sih kalau nggak semudah itu menerima kesempatan? Mungkin bukan salah atau benar tapi mau atau nggak. Kesempatan apa pun, asalkan baik, nggak ada yang salah. Pilihan ada di tangan kita. Mau menerimanya atau ngga...

HIRUK-PIKUK MEDIA SOSIAL

Kontrol media sosial sepenuhnya kita yang atur. Konten apa yang mau kita nikmati ada di tangan kita. Pilih-pilih aja mau yang ini atau tinggalin yang itu. Sebagai pengguna media sosial, khususnya Twitter, pusing juga sama tweet yang berseliweran. Pusing sama instansi dan pejabat negeri ini yang bikin geleng-geleng kepala. Aku pun menilai nggak lagi objektif sekarang. Ya emang sih kita menilai sesuatu pasti subyektif tapi beda aja gitu kalo menilainya murni menilai tanpa tau sudut pandang lain. Bahkan sekarang aku jadi trust issue sama mereka. Sebentar lagi Pemilu pula. Makin-makin nih bingung mau memilih apa nggak. Selain spill instansi dan kelakuan pejabatnya, ada juga kejadian yang bikin pengen aku 'hiiih' rasanya. Ikut emosi bacanya. Sebenarnya nggak mau terlibat sih. Aku juga nggak ngikut segitunya kok. Ya udah cuma lihat sekilas tanpa ikut berkomentar. Walau ada juga sih satu-dua jempolku menari. "Ayo, netizen, kawal kasus ini!" Aku rasa soal kawal-mengawal ini...

FILM VIRGO YANG BIKIN MERINDING

Asli! Nggak pake bohong apalagi mengada-ada. Film Virgo and the Sparklings karya sutradara Ody Harahap sangat enjoyable . Awal film dibuka dengan apik, lagu-lagunya juga sangat easy listening , apalagi ada lagu dari Melly Goeslaw yang nggak perlu diragukan lagi. Scene Riani lihat warna suara dari ruang musik bikin merinding sekaligus berharap film jagoan di masa depan bisa bersaing sama film superhero. Aku sangat menikmati film dari Bumilangit Cinematic Universe ini. Film ketiga setelah Gundala (2019) dan Sri Asih (2022). Next bakal ada Tira, kalo nggak salah, yang tayang di Disney+. Terus juga bakal ada Godam, Aquanus, Merpati, waaaw... sungguh bikin merinding. Sebangga itu aku sama para jagoan. Film Virgo and the Sparklings tentu nggak sempurna. Udah bisa bersaing sama film superhero besutan Marvel? Mungkin belum. Jalan ceritanya simpel sekaligus juga masih banyak teka-teki yang bikin tidur nggak nyenyak. Luka di pinggang Riani gimana? Ganendra yang muncul di cergam Virgo and the Spa...

SEPOTONG CERITA DI RADIO

Ada rasa nggak nyangka aku bisa menjadi bagian dari cerita di Retjo Buntung FM. Beberapa kali aku lewat di depannya saat selesai siaran, aku membayangkan seperti apa jika aku bersiaran di sana. Semesta mendukung. Aku dapat kabar dari Pak Pra, Retjo Buntung sedang membutuhkan penyiar cowok. Sebenarnya sejak awal tahun sebelumnya Bella udah ngasih tau aku, Retjo Buntung lagi nyari penyiar. Cuma waktu itu aku merasa nggak yakin. Ada sepotong keragu-raguan yang membuatku enggan melakukannya. Anta bilang, terlalu nyaman di zona nyaman. Setahun kemudian, setelah Pak Pra menginfokan, aku memberanikan diri untuk mencoba. Alhamdulillah gayung bersambut. Retjo Buntung memanggilku untuk sesi interview. Sempat hopeless karena udah seminggu lebih nggak ada kabar apa pun dari Bu Asik. Yah... sudahlah, pikirku waktu itu. Belum rezekinya. Eh, ternyata, alhamdulillah, saat aku udah mulai berusaha ikhlas, Bu Asik kasih kabar baik buatku. Aku bisa lanjut di Retjo Buntung. Mulailah aku de...

CERITA DI 2023

Tahun yang baru udah berjalan tujuh hari. Gimana? Masih so fun ? Semoga tetap menyenangkan ya. Awal tahunku disibukkan sama berkas-berkas kontrak kerja a.k.a siaran. Lumayan bikin spaneng ya karena prosesnya satu-satu. Semacam mencari kepingan puzzle untuk kemudian disatukan jadi puzzle yang utuh. Alhamdulillah di hari ke-7 di 2023 ini urusan berkas-berkas kontrak siaran udah kelar. Fiuh... bisa bernapas lega juga. Mas Krishna, teman siaranku, kasih ide buat ngadain nongki bareng. Merayakan kelancaran pengurusan berkas yang menyita perhatian. Aku oke-oke aja kalo mau meet up, nongkrong bareng, makan-makan. Nggak tau sih teman-teman yay or nay. Mas Krishna bilang buat yang mau-mau aja. Sekedar ide yang muncul waktu kami lagi ngobrol. Sepertinya Mas Krishna juga nggak nge-up ide ini di grup chat. Tahun yang baru, tempat siaran juga baru. So far masih fresh ya karena emang baru banget Radio Widoro alias W pindah ke sisi timur Teras Malioboro 2. Setelah tiga tahun Radio Widoro mengudar...

DUA BENTUK CERITA

  Sejak Agustus 2022, aku kembali membiasakan kebiasaan lama: menulis diary. Sekarang aku menyebutnya buku cerita. Kesannya kalo buku diary itu terlalu alay. Ha ha. Aku aja yang ngerasa gini kok. Lagian pilihan juga 'kan mau bilang buku diary, buku cerita, jurnal, dan lain-lain. Lumayan sering aku ngobrol di buku cerita. Walau teknologi semakin canggih dan menulis pake pena kadang dianggap ketinggalan tapi aku justru menyukainya. Takkan terganti sih. Ada emosi yang aku rasain waktu nulis pake pena. Cerita di sini aku jarang banget. Dulu pernah mencoba konsisten cerita-cerita di blog tiap hari. Minimal sehari ada satu ceritalah. Sempat berjalan sampai sebulanan sampai aku memutuskan udahan. Lama-lama malah jadi terbebani. Aku enggak enjoy. Malah ada momen aku maksain buat cerita di blog. Enggak mau ada yang bolong karena udah tiap hari aku cerita. Emang sih kebiasaan baik itu perlu dipaksa biar terbiasa tapi aku enggak mau maksain diri-sendiri. Yang penting aku happy. Kecuali kalo a...