Rabu, 28 Oktober 2015

#Cerpen PERTEMUAN


Aku sudah tidak sabar menanti pertemuan ini. Sudah sejak lama aku hanya melihatnya dari jauh. Sekarang saatnya aku melihat sosoknya secara nyata, mewujud di depan mataku.

Jam 2 siang di sebuah pusat perbelanjaan. Itulah tempat dan waktu yang dia sebutkan untuk pertemuan perdana ini. Pertemuan singkat yang membuatku tidak bisa tidur semalaman.

Aku benar-benar mempersiapkan pertemuan ini. Aku tidak boleh terlambat. Beberapa jam sebelum pertemuan kami, dia mengirim pesan padaku, meminta tolong untukku mengirimkan sesuatu. Mataku terbelalak. Apa dia serius? Apa dia tidak salah kirim pesan?

Dia serius dan setelah itu menarik kembali ucapannya. Aku sepertinya sudah dibutakan oleh pertemuan pertama yang sebentar lagi terjadi. Aku bersedia secara sadar dan senang hati memenuhi permintaannya.

Saat aku memperjelas permintaannya, aku sengaja meneleponnya, tapi tidak ada respon. Oke, kita belum saling mengenal banyak. Saat aku menanyakannya via jejaring sosial, dia menjawabnya singkat dan mengatakan, menarik kembali ucapannya dan anggap saja dia sama sekali tidak pernah meminta tolong.

Aku bilang, ini hadiah dariku. Dia pun tidak menolak. Aku justru senang bisa bermanfaat baginya. Waktu pertemuan kami semakin dekat. Aku sudah tidak sabar.

[]

Aku tidak pernah bertemu dengannya. Dia seolah hanya mimpi bagiku. Janji pertemuan itu, dia dengan mudahnya mengingkari. Janji? Ah, terlalu berlebihan kalau mengatakan ini adalah janji.

Dia sudah kembali menjauh. Jauh di seberang sana bersama dengan kehidupannya dan membuatku semakin tenggelam di matanya.[]

Jogja, 28 Oktober 2015

0 komentar:

Posting Komentar

© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis