Rabu, 27 Mei 2015

MASIH SAMA

"Eh, I-Radio Jogja lagi bukaan penyiar lho," kata Mas Kamal.
Mendengarnya, mataku berbinar. Bukaan penyiar? Kesempatan.
"Aku ikut ah. Siapa tau.." tekadku penuh semangat.
Malamnya, aku dengarkan I-Radio Jogja. Selama ini aku jarang banget dengerin I-Radio Jogja. Aku ingin mempelajari gaya bersiaran ala I-Radio Jogja. Untuk memastikan info dari Mas Kamal, aku stalking Twitter I-Radio Jogja. Ternyata memang benar! Aku semakin bersemangat. Malam itu, aku rasanya nggak pengen tidur. Pengen cepat-cepat pagi biar bisa take vocal di Rasida FM.

Aku share info itu di grup BBM Rasida FM. Tanggapannya macam-macam. Aku optimis bakal lolos seleksi ini. Aku memang begitu orangnya. Sangat optimis. Saking semangatnya, malam itu aku sama sekali nggak tidur. Nggak bisa tidur lebih tepatnya, saking excited-nya.

Masih ada beberapa hari sebelum batas akhir pengumpulan berkas. Waktu yang ada justru nggak aku manfaatkan untuk take vocal. Aku terlalu banyak menunda. Aku sempat akan take vocal saat on air di RW, soalnya yang punya headset bermikrofon. Lagi-lagi.. nggak aku manfaatkan. Menunda lagi. Sebelum hari terakhir, aku sempat akan take vocal di Ruang Produksi Rasida FM, tapi karena banyak orang, nggak jadi.

Waktu sangat mepet. Aku belum juga merekam suaraku untuk dijadikan sampel berkas. Gimana ini? Aku memutuskan untuk take vocal pakai perekam di hape. Singkat, tapi berulang-ulang agar dapat rekaman yang terbaik.

Saat akan memindahkan rekamanku ke komputer, kabel datanya nggak terbaca sistem. Aku sempat panik karena waktu yang sangat terbatas.

"Take vocal yuk Gus, buat I-Radio," ajak Bima.

Aku mengiyakan. Materi take vocal-ku sama dengan materi Bima, cuma cara penyampaiannya yang berbeda. Masing-masing kami memiliki khas. Setelah take vocal beberapa kali, akhirnya aku memutuskan rekaman yang terbaik versiku untuk dikirim ke I-Radio.

Beruntung, kirimnya via email, jadi bisa langsung kirim tanpa harus mindahin file rekaman ke dalam CD. Aku sangat hati-hati ngirimnya. Takut salah alamat. Akhirnya terkirim juga dan rasanya lega. Aku lihat Bima yang tengah mengedit CV-nya. CV?

"Bim, kamu pake CV juga?"
"Iya.." jawab Bima sambil lalu.

Aku lihat lagi infonya yang sudah aku simpan di hape. Nggak pakai CV, cuma sampel suara. Mendadak aku ingat sesuatu.

"Aku lupa nyantumin nomor hapeku. Gimana I-Radio mau ngehubungin aku?"

Aku galau. Masa aku harus kirim email susulan yang isinya "cuma" nomor hapeku? Terlihat amatiran sekali. Takutnya I-Radio jadi ilfeel gara-gara aku kirim email dua kali.

Setelah lama berputar-putar dengan pikiran sendiri, akhirnya aku kirim email lagi yang isinya nomor hapeku. Selang beberapa hari, I-Radio membalas emailku, menanyakan nomor hapeku.

[]

Aku tengah asyik browsing saat samar-samar aku dengar bunyi sesuatu. Apa ya? Aku sempat memikirkannya, tapi cuek dan kembali asyik browsing. Ah, hapeku!

Benar saja, ada telepon masuk! Segera aku sentuh icon hijau di layar bersamaan dengan berakhirnya panggilan. Satu panggilang nggak dijawab. Aku lihat nomornya. Jangan-jangan I-Radio? Aduh.. how stupid I am! Pasti begini saat ada telepon masuk. Terkadang aku nggak menyadarinya.

Semoga nelpon lagi.. Semoga nelpon lagi.. Aku sangat berharap. Hapeku harus dalam keadaan on. Aku harus siap siaga menunggu telepon masuk. Aku terus menunggu.. bahkan sampai aku meluangkan waktu nggak ke mana-mana dan selalu pegang hape demi telepon susulan I-Radio Jogja.

Nihil! Nggak ada telepon masuk. Lagi-lagi aku galau.

"Harusnya dihubungi lagi kalo gitu," kata Arik.

Bima juga mendapay telepon dari I-Radio Jogja. Jadwal tesnya sudah ditentukan. Aku? Nunggu telepon susulan saja lama banget. Nggak ada sama sekali. Apa aku pasrah dan mengatakan ini bukan rezekiku? Ah, aku nggak mau menyerah. Aku harus berusaha sampai titik akhir!

Aku minta nomor I-Radio Jogja yang menghubungi Bima. Menyamakannya dengan nomor yang masuk ke hapeku waktu itu.

"Iya, nanti. Daftar panggilan masuknya di hape Bapakku. Ada juga nomor lain yang bisa digunain buat nanya-nanya info bukaan penyiar ini. Nanti aku kasih tau kamu," kata Bima.

Aku kembali menunggu. Kali ini Bima nggak juga memberitahuku. Kalau nggak lupa, pasti Bima terlalu sibuk jadi nggak sempat melakukan apa yang pernah dia katakan.

Aku sempat kesal. Sangat kesal. Aku hanya diam menyimpan kekesalanku. Tepat di hari H tes, Bima baru memberitahuku. Bima minta maaf karena lupa terus sejak kemarin. Aku kesal. Terkadang kata "maaf" nggak bisa mengubah apapun. Aku rasa.

Aku segera telepon nomor yang diberikan Bima. Nggak nyambung. Aku coba lagi. Hasilnya sama. Aku aku datang langsung ke I-Radio Jogja? Sangat disayangkan kalau aku harus menyerah. Ini kesempatan besar buatku.

Hari itu juga, selesai kelas, aku segera meluncur ke I-Radio Jogja. Ada banyak orang yang duduk berjajar. Kayaknya mereka sama denganku. Meja resepsionis di dekat pintu, kosong. Aku harus nanya ke siapa? Aku pun memutuskan untuk menanyakannya kepada salah satu cowok yang duduk berjajar itu.

"Orangnya lagi keluar," kata cowok itu.

Aku memutuskan ikut duduk. Menunggu ada orang yang menempati meja resepsionis. Cukup lama, sebelum akhirnya seorang cewek berjilbab menempati meja resepsionis itu. Wajahnya terlihat ramah. Aku segera mendekati cewek itu.

"Eee.. Mbak.." Suaraku bergetar.

Kenapa aku gugup? Aku tetap menanyakan apa yang membuatku penasaran kepada cewek itu.

"Oo.. iya, kemarin kamu ditelpon, tapi nggak diangkat," kata cewek itu sambil melihat berkas-berkas yang ada di lacinya.

"Terus gimana, Mbak?"
"Gini aja Mas. Besok datang ke sini lagi jam 9. Besok sekalian sama yang belum tes hari ini. Nggak enak juga 'kan kalo sendiri?" jelas cewek berjilbab itu.

Oke, aku sepakat. Aku sangat bersyukur masih diberi kesempatan. Aku begitu bersemangat. Aku catat agenda tes besok di hape sebagai pengingat. Rasanya aku sudah nggak sabar menunggu besok.

[]

Pagi yang menyenangkan. Aku bangun dengan semangat, shalat subuh, lalu mandi dengan semangat pula. Dinginnya air bak mandi menyegarkanku. Pagi ini aku mau tes I-Radio Jogja. Aku akan datang lebih awal.

Ternyata aku salah. Aku bukan yang paling awal. Sudah ada beberapa yang menunggu. Oke, seenggaknya aku nggak telat. Cewek berjilbab dan berwajah ramah itu muncul dan mempersilakan kami untuk masuk ke sebuah ruangan.

Soal dibagikan. Psikotest. Gambar-gambar yang nggak ngerti untuk apa. Apa ada jawaban benar dan salah di gamabr-gambar itu? Aku jawab dengan mengandalkan feeling. Waktu yang tersedia untuk menyelesaikan soal hanya 30 menit. Ada dua tahap soal. Kata pengawasnya, seorang bapak-bapak, soal tahap kedua lebih susah. Soal yang sama. Aku benar-benar nggak mengerti.

Selesai semua soal, kami harus menunggu untuk sesi wawancara. Baru jam 09.30. Sesi wawancara 30 menit lagi. Lapar rasanya karena nggak menyempatkan sarapan tadi pagi.

"Silakan kalo mau sarapan dulu," kata si cewek berjilbab.
Ah, nanggung. Bentar lagi juga mulai sesi wawancara.

Selama menunggu, aku hanya diam. Di kananku ada seorang cowok, sementara di kiriku, dibatasi sebuah meja kecil, ada tiga cewek. Mereka sesekali ngobrol. Cewek memang begitu. Selalu ada hal yang bisa diobrolkan. Mengatasi kebosanan, aku baca novel yang ada di dalam tasku. Penat baca, main game. Lama-lama bosan juga. Sudah jam 10 lewat sekian menit. Kok sesi wawancara belum mulai ya?

"Maaf ya teman-teman, yang mau mewawancara masih dalam perjalanan."
Indonesia banget. Miris mengatakannya tapi kenyataannya begitu. Nggak disiplin. Aku akhirnya memutuskan untuk ngobrol dengan cowok di kananku yang sejak tadi juga hanya diam dan asyik dengan gadgetnya.

"Kok belum ya Mas, wawancaranya?"
"Iya.." kata cowok itu sambil melirik jam tangannya.
"Mas, kuliah atau...?"

Kami pun ngobrol ringan. Namanya Daniel dari Manado. Kuliah S2 Manajemen UGM.

"Aku ngisi waktu luang aja," kata Daniel.

Sepanjang obrolan, aku yang lebih banyak memancing pertanyaan. Aku memang begitu orangnya. Akhirnya, aku merasa sudah kehabisan bahan obrolan. Kami kembali diam. Larut dengan gadget masing-masing. Untungnya, aksi diam ini nggak berlangsung lama karena sesi wawancara telah dimulai.

"Nanti setelah wawancara, bagi yang lolos sesi ini, langsung take vocal di atas," kata bapak-bapak yang menjadi pengawas ujian psikotes tadi.

Aku nomor urut 3. Deg-degan juga rasanya. Kira-kira nanti bakal gimana ya? Aku kembali meyakinkan diri. Aku pasti bisa!

Si cewek berjilbab menyerahkan dua lembar kertas padaku. Lembar jawab psikotes tadi. Aku lihat sekilas hasilnya. Banyak yang dicoret. Below. Begitu keterangannya. Rendah? Jelek ya? Tiba-tiba aku merasa feeling so bad.

Aku masuk ke ruang wawancara setelah dipersilakan si cewek berjilbab. Ada seorang ibu-ibu gemuk tapi elit penampilannya. Ada juga seorang cowok, yah... aku rasa mendekati 30 tahun yang duduk di sebelah ibu-ibu itu.

"Kok kelihatan bingung? Silakan duduk," kata si ibu mempersilakan.
Aku salah tingkah. Aduh.. kenapa jadi begini? Kesan pertama yang nggak enak.

"Pernah siaran?" si ibu mulai membuka pertanyaan. Tatapan matanya tajam dibalik polesan make up yang menurutku sedikit berlebihan. Sepertinya si ibu memakai lensa kontak.
"Sudah," jawabku singkat. Aku harus tetap ingat, jawab seperlunya saja. Jangan menjawab apa yang nggak ditanyakan. Jaga image.
"Siaran di mana?"
"Radio kampus UIN Sunan Kalijaga."
"Sering siaran dong?"

Aku tampak berpikir beberapa saat. Mencari kata-kata yang tepat.
"Sudah hampir setahun ini saya nggak siaran gara-gara pemancar radio rusak."
Si ibu ber-ooo ria.

"Coba kamu baca ini," si ibu menyerahkan lembaran berisi adlibs. Aku membacanya penuh semangat. Selesai, aku diminta membaca lagi. Lembaran kali ini berisi nama-nama. Mulai dari mobil, nama parfum, artis, nama kota, dan yang nggak aku tahu.
"Kamu tau nggak apa yang kamu baca?"

Selesai aku membaca nama-nama di lembaran itu, si ibu melirik cowok di sampingnya. Si cowok nggak banyak berkomentar. Sebelum sesi wawancara benar-benar berakhir, si cowok bertanya padaku.
"Kenapa pengen jadi penyiar radio?"
"Saat SMA, aku dikenal teman-teman sebagai orang yang banyak ngomong. Begitu kuliah, ada radio kampus, pengen jadi penyiar radio," jawabku.

Wawancara singkat. Nggak sampai 10 menit. Setelah itu, aku nggak diminta take vocal. Feeling so bad. Saat-saat sebelum aku memutuskan pulang, aku mulai berbincang-bincang dengan semua yang tengah menunggu wawancara. Suara mereka berkarakter, menurutku.

Cewek berjilbab dari Padang yang baru seminggu di Jogja bilang, "Biasanya kalo bakal dihubungi seminggu lagi, artinya ditolak... secara halus."

Jleb! Apa benar begitu? Aku nggak mau termakan omongan itu, tapi aku sudah punya firasat nggak enak.

Perbincangan kami nggak lama. Lebih tepatnya, aku yang memutuskan untuk pulang.

"Mbak, ini udah ya?" tanyaku pada cewek berjilbab di meja resepsionis.
"Iya, udah boleh pulang.."
"Nanti kalo berjodoh, akan kami hubungi seminggu lagi," kata bapak-bapak pengawas menambahkan sambil memberi penekanan pada kata "berjodoh".

Aku pulang. Selesai sudah. Aku masih menaruh harapan, hasilnya nanti akan indah.

[]

Sudah seminggu lebih I-Radio Jogja belum menghubungiku. Apa aku benar-benar ditolak? Aku tetap berusaha optimis walau bayang-bayang kegagalan sudah melambai-lambai di depan mata.

"Orchita lolos seleksi, Gus. Senin udah mulai training," kata Bima.
"Orchita lolos? Wah.. keren," kataku berusaha bersikap biasa saja.
"Masih ada tahap 8 besar & nanti akan diambil 2..."

Sudah cukup! Sangat jelas bahwa kali ini aku... ditolak![]

Jogja, 25 Mei 2015

0 komentar:

Posting Komentar

© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis