Kamis, 05 Maret 2015

SEMACAM YANG PERTAMA

Salah satu mimpiku adalah menjadi penyiar radio. Setelah mengikuti seleksi penyiar radio di sana-sini (sayangnya belum berjodoh), akhirnya.. alhamdulillah aku berjodoh dengan Radio Widoro, sebuah radio komunitas di UPT Malioboro, Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelah aku dinyatakan lolos seleksi, malamnya (atau besok malamnya, agak-agak lupa) aku diminta datang ke Radio Widoro. Siaran tandem bareng Mbak Yuni.

Rasanya deg-degaaan banget. Tetap aja ini kali pertama aku open mic sebagai penyiar radio (kerja). Waktu itu siarannya jam 19.30-22.30. Mbak Yuni banyak bercerita kepadaku. Cerita tentang kehidupannya, Radio Widoro dari tahun ke tahun, dan obrolan kami (yang didominasi oleh Mbak Yuni) sanggup bertahan dari opening siaran sampai closing di jam 22.30.

Aku pikir kedatanganku malam itu "benar-benar" tandem. Ternyata bukan. Menurutku bukan tandem. Waktu opening pertama, Mbak Yuni sama sekali nggak menyebut namaku atau merasakan "kehadiranku" di siaran malam itu. Aku pikir siaran tandem-nya bakal sama kayak di Rasida. Untungnya Mbak Yuni baiiik banget. Ramah dan cerewet. Iya, cerewet karena stok ceritanya kayak nggak habis-habis. Adaaa aja hal yang bisa dijadikan bahan obrolan sama Mbak Yuni.

Aku sempat open mic sendirian waktu itu. Mbak Yuni ngasih aku kesempatan. Baiknya lagi, saat aku akan open mic, Mbak Yuni sengaja pergi. Beli makanan di angkringan. He he he... Mbak Yuni ngertiin perasaanku banget. Masih baru, open mic yang pertama, kalo ada orang dari pihak radio di dekatku, rasanya kayak diawasi dan kemungkinan besar aku nggak bakal maksimal.

Open mic-ku yang pertama, trouble! Tombol mic di mixer kurang aku naikin, jadi suaraku nggak terdengar jelas. Kecil samar-samar gitu. Mbak Yuni yang ngasih tahu aku setelah beli makanan di angkringan. Rasanya... maluuu banget. Ya Tuhan... human error di open mic yang pertama. Tepok jidat banget. Aku udah bilang 'kan Mbak Yuni itu baik? Nah.. saat aku "salah" itu, Mbak Yuni nggak ngomel-ngomel, tapi bilang "nggak apa-apa" sambil tersenyum.

Fiuuuh.. untungnya Mbak Yuni nggak "seseram" yang aku kira setelah aku ngelakuin kesalahan itu. He he he... :D Banyak cerita malam itu. Mbak Yuni yang lebih banyak cerita. Dan aku jadi pendengar yang baik. Mbak Yuni juga bilang, kalo ada teguran dari Rekan Komunitas Malioboro (sebutan pendengar Radio Widoro) tentang siaran penyiar Radio Widoro, jangan diambil pusing. Tetap siaran aja. Walau terkesan santai, tapi nggak bisa sembarangan dengan siaran asal-asalan. Maju/ nggak, tergantung dari usaha penyiarnya. Kalo mau maju pasti akan ada progres dari hari ke hari, nggak stagnan.

Jogja, 5 Maret 2015

0 komentar:

Posting Komentar

© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis