Jumat, 27 Maret 2015

CITA DAN CITA

"Apa cita-citamu?"
"Aku pengen jadi pilot!"

Aku masih ingat banget saat jelang TK dulu, aku jawab dengan semangat ingin jadi pilot saat ditanya cita-cita. Aku sekarang lupa kenapa dulu pengen jadi pilot. Bukan dokter, guru, insinyur atau apapun itu. Lama-lama cita-cita jadi pilot itu samar-samar lalu hilang. Aku punya cita-cita lagi. Hmm.. kapan ya tepatnya? Saat SD - SMP, kayaknya aku lupa dengan cita-cita. Saat SMA, aku punya cita-cita jadi wartawan. Berawal dari aku suka nulis, muncul keinginan jadi wartawan.

Aku memilih Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) pun karena ada Konsentrasi Jurnalistik. Tanpa ragu, aku memilih KPI ini sebagai studiku selepas SMA. Sekarang saat ditanya cita-cita, aku mikir lama. Apa ya cita-citaku? Apa cita-cita hanya pantas untuk anak kecil?

Dipikir, kayaknya iya. Jarang ada orang dewasa (seenggaknya bukan lagi anak kecil) yang menjawab dengan riang cita-citanya. Ah ya, bukan lagi istilahnya "cita-cita" tapi "keinginan". Bahasa ketika kecil dulu dengan bahasa dewasa sekarang, berbeda. Istilah "cita-cita" kok kayak identik dengan anak-anak ya? (Apa cuma perasaanku?)

Kalau aku ditanya keinginan (a.k.a cita-cita :D), aku akan jawab dengan lantang aku pengen jadi penyiar radio, penulis, dan pemilik rumah makan dengan desain interior unik, sesuai mimpiku. Tapi saat ditanya "cita-cita", aku bingung jawabnya. Mungkin karena "cita-cita" harus selalu seputar pilot, dokter, guru, insinyur dan teman-temannya.

Bisa jadi...

Jogja, 27 Maret 2015

0 komentar:

Posting Komentar

© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis