Kamis, 06 November 2014

#SatuHariSatuKarya REUNI

Saat aku tengah menunggu angkot sambil membaca Al Qur’an di smartphone-ku, ada seseorang yang menepuk pundakku. Aku spontan menoleh. Seseorang tersenyum kepadaku. Cukup familiar, tapi siapa? Sepertinya aku pernah mengenalnya.

“Hei Bro, masih ingat gue nggak?”

Aku mengernyitkan dahi. Wajahnya tidak asing. Aku memang seperti mengenalnya. Aku berusaha membuka kembali memoriku. Mencoba mencari-carinya di sudut otakku.

“Herdy?”
                     
“Ah, jangan belagak kaget lu Bro.” Lelaki bernama Herdy spontan memelukku dan menepuk punggungku. Salam darinya yang masih aku ingat.

“Apakabar kau, Her?”

“Seperti yang lu lihat. Elu nggak jauh beda ya dengan masa SMA dulu. Tetep alim,” kata Herdy melihat penampilanku dari atas ke bawah. Mungkin karena Herdy melihat baju koko-ku.

“Ngomong-ngomong lagi ngapain kau di kota ini? Bukannya lulus SMA, kau kuliah di luar kota?”

“Gue juga kangen dengan kota ini. Makanya gue sempetin main. Kuliah lu gimana? Jangan-jangan elu udah lulus ya? Diantara kita bertiga, ‘kan elu yang selalu jadi bintang kelas. Gila lu ya dulu. Juara tapi nggak ngajak gue dan Wisnu.”

Aku mendadak ingat Wisnu. Saat SMA, aku, Herdy, dan Wisnu adalah tiga sekawan yang ke mana-mana selalu bersama. Pertama kenal saat masa orientasi, persahabatan kami begitu kental. Bahkan tiga tahun kami selalu sekelas. Baru saat lulus SMA, kami berpisah. Aku melanjutkan kuliah di kota kecil ini sementara Herdy dan Wisnu kuliah di tempat yang sama di luar kota.

“Wah.. kalo lu tahu Wisnu sekarang, beuuuh… dia udah sukses, Bro. Wirausahanya jalan. Keren pokoknya.”

Wisnu berwirausaha? Baguslah. Diantara kami bertiga, Wisnu yang paling kalem. Tidak menyangka sekarang jadi wirausaha. “Usaha apa Wisnu?”
"Bisnis bareng istrinya. Butik khusus pakaian muslim dan muslimah.”

Aku terbelalak mendengar perkataan Herdy. Wisnu sudah menikah? Bagaimana mungkin aku tidak tahu?
            
“Oh iya, gue jadi ingat sesuatu. Kenapa lu nggak datang ke nikahan Wisnu, Bro? Lu udah kami tunggu-tunggu lho.”

Apa Wisnu mengundangku di acara pernikahannya? Aku tidak ingat ada undangan dari Wisnu. Memang untuk beberapa undangan pernikahan, aku sengaja tidak datang karena kesibukanku di organisasi kampus. Ah, mungkin undangan Wisnu terselip di daftar undangan yang aku abaikan. Wajar juga Wisnu tidak menghubungiku karena sejak ponselku hilang, aku ganti nomor. Nomor Wisnu dan Herdy pun ikut hilang juga.

Angkot sudah terlihat dari ujung jalan.

“Bro, lu sibuk nggak? Makan dululah. Kita ngobrol-ngobrol. Udah lama kita nggak ketemu,” kata Herdy.
Aku melihat jam di tanganku. Masih ada waktu sebelum maghrib datang. Sebenarnya aku mau langsung pulang. Terlalu sering aku pulang malam mengurus organisasi. Mumpung sekarang bisa pulang cepat, aku gunakan kesempatan ini untuk segera pulang sebelum maghrib. Tapi ajakan Herdy, sahabat yang lama tidak bersua, juga tidak mungkin aku tolak.

Aku pun mengiyakan ajakan Herdy.

[]

“Lu lagi usaha apa sekarang, Bro?” Tanya Herdy sambil menikmati Ayam Geprek 20 cabenya. Wajahnya sudah basah oleh keringat. Segelas besar air es bahkan sudah habis setengahnya.

“Aku sibuk organisasi di kampus aja.” Jawabku singkat.

“Ah, elu dari dulu sukanya main organisasi terus. Tapi gue nggak heran. Itu ‘kan jiwa elu banget.” Herdy ngos-ngosan, kepedasan, lalu meminum air es sampai habis.

Beda dengan Herdy, aku memesan capcay tanpa cabe. Aku tidak suka pedas. Jadi aku bisa makan dengan santai tanpa perlu megap-megap. Sambil menikmati makanan sore itu, kami bercerita banyak hal. Kuakui, banyak yang berubah dari Herdy. Gaya bicaranya tetap ber-elo-gue karena sejak kecil ia memang tinggal di ibukota. Barulah saat SMA pindah ke kota kecil ini. Dulu, Herdy terkenal yang paling jahil diantara kami bertiga. Dengan paras tampannya, Herdy banyak berpacaran dengan cewek, baik yang satu sekolah maupun dari sekolah tetangga. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat track record sahabatku itu.

Pernah, suatu ketika Herdy jadi mak comblang untukku. Waktu itu ia menjodohkanku dengan Riana, cewek yang jadi mayoret marching band sekolah. Siapa yang tidak kenal Riana? Selain cantik, Riana juga ramah terhadap semua orang, sepanjang yang aku tahu. Mayoret marching band sekolah memang selalu cantik. Tapi waktu itu aku menolak perjodohan. Aku pikir belum saatnya aku berurusan dengan hal seperti itu. Lagipula menurutku pacaran itu hanya punya sedikit manfaat. Lebih baik aku fokus dengan sekolah dan organisasi dulu.

Entah ini cuma perasaanku atau bukan, aku rasa Riana dulu punya rasa suka kepadaku. Setelah aku menolaknya, besok hari aku melihat Riana berboncengan dengan cowok penunggang motor gede dari SMA sebelah. Mungkin aku yang terlalu berlebihan. Sejak penolakan itu, Herdy tidak pernah sok menjodohkanku.

Herdy banyak bercerita tentang mimpinya. Dulu ia ingin punya toko yang menjual perlengkapan olahraga. Dan saat ini, keinginannya sudah terkabul. Membuatku takjub, terkejut, tidak menyangka dan beraneka rupa rasa lainnya mengetahui fakta itu. Padahal baru empat tahun kami tidak bertemu, tapi perkembangannya sudah jauh seperti itu. Jujur, aku merasa kalah olehnya.

Aku kembali melihat diriku sendiri. Apa perubahan yang terjadi denganku? Sepertinya aku merasa tidak ada perubahan yang berarti. Aku tetap sibuk di organisasi kampus dan fokus di dalamnya sejak awal semester kuliah. Mimpiku jadi penulis, ah.. sepertinya belum jadi apa-apa. Aku sepertinya melupakan mimpiku itu.

“Mana buku-bukumu Bro? Katanya mau jadi penulis?” Herdy masih ingat saja dengan mimpi yang aku ceritakan saat kelas X dulu. Aku memang suka menulis. Karangan pendek saja. Beberapa kali tulisanku muncul di majalah sekolah. Tapi sejak kelas XII, aku mulai jarang menulis. Puncaknya saat aku mulai memasuki dunia perkuliahan, aku meninggalkan sama sekali dunia kepenulisan. Aku seperti tersentak oleh pertanyaan Herdy.

“Sabarlah. Nanti kau tunggu saja bukuku. Kau harus jadi pembeli pertama ya,” kataku sambil tersenyum. Ah, jumawa sekali aku ini. Bertahun-bertahun tidak lagi menulis, kenapa kata-kataku terlihat hebat begitu? Bahkan aku sudah lupa kenikmatan menulis.

“Sibuk organisasi itu bagus Bro, tapi elu jangan lupain mimpi-mimpi elu. Masa empat tahun ini belum ada satu pun mimpi lu yang jadi nyata? Bukannya gue sombong Bro, tapi empat tahun itu terlalu lama untuk merealisasikan mimpi kita. Asalkan kita tekun, jangankan empat tahun. Satu tahun aja bisa jadi lho mimpi kita jadi nyata. Gue udah ngerasain itu.”

“Demi toko perlengkapan olahraga yang jadi mimpi gue itu, gue rela berhutang di sana-sini. Gue waktu itu berpikir masa bodoh. Yang penting mimpi gue harus bisa jadi kenyataan. Dan yang paling penting, jalan yang gue tempuh nggak melanggar hukum. Gue usaha dan gue yakin hutang-hutang itu bakalan gue lunasin kelak. Dan Alhamdulillah sekarang walau toko perlengkapan olahraga milik gue belum begitu besar, tapi hutang-hutang itu sudah mulai terlunasi.”

Aku terdiam mendengar cerita Herdy tentang perjuangannya meraih mimpi. Aku habiskan es jeruk di dalam gelasku. Sepertinya aku terlalu asyik di zona nyaman. Hidupku belakangan ini memang, sejujurnya kuakui, hanya begitu-begitu saja. Kesibukan memang menyita waktuku, tapi aku kurang merasakan greget di sana. Entah kenapa. Apa karena aku berjuang untuk sesuatu yang seharusnya tidak aku perjuangkan? Apa seharusnya aku memperjuangkan mimpiku saja?

Sudah terlalu lama aku dengan kehidupanku ini. Apa masih ada waktu? Pertanyaan bodoh. Masih ada atau tidaknya waktu, hanya Tuhan yang tahu. Sebagai manusia, manfaatkan saja waktu yang ada untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Melakukan hal untuk merealisasikan mimpi-mimpi.

Maghrib sebentar lagi datang. Capcay di piringku sudah tandas. Begitu juga dengan ayam geprek di piring Herdy. Ia masih kepedasan dengan keringat yang terus mengalir dari dahinya. Aku pun memutuskan untuk pulang. Herdy ingin menginap di rumahku, tapi sengaja aku tolak. Bukannya aku tidak ingin Herdy menginap, hanya saja malam ini aku butuh waktu sendirian untuk merenungkan banyak hal.
            
Aku masih belum melupakan mimpiku. Mungkin rasanya akan berat memulai dari awal, tapi pertemuan tidak terdugaku dengan Herdy, memang sengaja dirancang oleh Tuhan untuk menyadarkanku akan mimpiku yang nasibnya tidak jelas ini. Rasanya aku malu sendiri mengingat mimpiku itu. Mimpi yang sudah lama aku lupakan.
            
Dan di senja ini, aku sepertinya memang harus menata hati untuk kejutan-kejutan yang tidak terduga. Sebelum pamit, Herdy memberiku sebuah surat berwarna cokelat dengan sisi-sisi berwarna merah dan biru. Aku tidak mengerti dengan surat itu, tapi Herdy menyuruhku untuk membuka surat itu sekarang.
            
“Kau, menikah?” kataku tidak percaya. Herdy tersenyum sambil menaikkan sebelah alisnya. Dua minggu lagi. Ternyata dua sahabatku telah mendahuluiku menemukan pendamping hidup.
            
Langit semburat kemerahan. Aku lihat burung-burung beterbangan di ujung sana. Hatiku rasanya teraduk-aduk dengan kejutan ini. Aku menghela nafas panjang. Kuakui kekalahanku. Saatnya aku mulai lagi mimpiku. Kalah bukan berarti menyerah. Akan segera aku raih kemenangan itu agar aku bisa sejajar dengan Herdy dan Wisnu.
            
Reuni selanjutnya, entah kapan Tuhan akan mempertemukan, mungkin saat itu kami sudah membawa buah hati masing-masing. Semoga.[]


Jogja, 22 Oktober 2014

0 komentar:

Posting Komentar

© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis