Kamis, 06 November 2014

#SatuHariSatuKarya MIMPI SANG KAKAK

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aduuuh… berisik sekali. Bagaimana aku bisa konsetrasi belajar kalau berisik begini? Kak Rully, kakakku satu-satunya, terkadang memang menyebalkan. Nyanyi tidak kenal waktu. Memang, kakakku itu hobi nyanyi. Suaranya, yah.. cukup bagus. Tapi seharusnya Kak Rully ingat waktu. Apalagi sekarang waktunya aku belajar.
            
Aku keluar kamar dan mengetuk pintu kamar Kak Rully yang bersebelahan dengan kamarku. Kak Rully masih berdendang dengan gitarnya. Kebiasaan Kak Rully saat tengah bernyanyi, asyik dengan dirinya sendiri sampai tidak menyadari apapun yang ada di sekitarnya. Aku ketuk lagi pintu kamarnya. Kali ini lebih keras.
            
“Kak Rully... Berisiiik!” teriakku sambil menggedor pintu. Bukan hanya aku ketuk, tapi aku gedor agar Kak Rully sadar suaranya sudah mengganggu konsentrasiku.

Tiga menit kemudian, pintu terbuka. Kak Rully hanya menjulurkan kepalanya dari balik pintu. “Ada apa, Ta?”

Aku memasang tampang kesal. Rasanya ubun-ubunku berasap mendengar pertanyaan Kak Rully yang innocent itu. “Ada apa, ada apa! Kak Rully berisik, tahu!”
            
“Apa? Coba bilang sekali lagi?” Kak Rully mendekatkan telinganya padaku. Pura-pura tidak mendengar.
            
Please Kak… Nyanyinya besok pagi aja. Aku mau belajar nih. Besok ada ulangan. Kak Rully nggak belajar juga? Udah kelas XII, ingat Ujian Nasional, Kak.” Bibirku membentuk bulan sabit terbalik. Masih kesal dengan ulah Kak Rully yang berisik malam-malam. Rasanya aku ingin memasang peredam suara untuk dinding kamarku agar nyanyian Kak Rully tidak masuk ke kamarku. Biar Kak Rully nyanyi sampai puas, sampai suaranya habis. Asal tidak mengganggu waktu belajarku, tidak masalah.
            
“Justru aku nyanyi buat ngilangin capek abis belajar, Ta. Emangnya kamu, belajar terus tapi nggak pernah refreshing. Lagian suaraku ‘kan bagus, Ta. Masa bikin belajarmu jadi nggak enak? Bukannya malah semakin nyaman, belajar ditemani suaraku yang bagus dan dahsyat ini?” Kak Rully mulai membanggakan diri yang membuatku memutar bola mata sambil mencibir.
            
“Kak Rully udah sholat isya belum? Jangan-jangan keasyikan nyanyi, jadi lupa…” Aku mengalihkan topik pembicaraan.

Kak Rully tersenyum lebar. “Belum.”
            
“Tuh ‘kan Kak Rully sering gitu. Nyanyi-nyanyi sampai lupa waktu, lupa sholat. Ayo Kak, sholat isya dulu gih!”
            
“Ah, bawel kamu,” kata Kak Rully sambil menutup pintu kamarnya.

Kesalku yang tadi sempat menguap, mendadak datang lagi. Aku gedor pintu kamar Kak Rully lebih keras. “Kak.. Huh! Jangan bikin kesal dong!”
            
“Iya.. iya.. Nona.. Nanti aku sholatnya.” Suara Kak Rully terdengar dari balik pintu.
            
“Ada apa ini?”

Ups! Sepertinya keributan yang aku ciptakan membangunkan Bunda yang sepertinya sudah tertidur. Sekarang memang waktunya tidur.
            
“Bunda… Kak Rully nih.”

[]
            
Kak Rully memang mempunyai suara yang bagus. Sangat berkarakter menurutku. Aku sebagai adiknya, bangga punya kakak bersuara merdu. Wajar saja ada tawaran dari sebuah label musik yang ingin mengorbitkan Kak Rully sebagai penyanyi sesungguhnya.
            
Entah Kak Rully pengen eksis atau apa, sore itu sepulang sekolah, ia bersama teman-temannya mengadakan semacam konser mini di taman kota. Aku yang selalu berangkat dan pulang sekolah bersama Kak Rully, terpaksa harus ikut dan pasti telat pulang ke rumah. Aku pun segera memberitahu Bunda atas keterlambatan ini.
            
Selama ini memang jarang ada yang mengadakan konser atau pertunjukkan musik, apapun itu, di taman kota. Pertunjukkan tabuh-tabuhan instrumen musik di lampu merah, cukup banyak, tapi kurang bisa dinikmati karena mereka hanya unjuk kemampuan saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Banyak yang abai dengan pertunjukkan musik yang dibayar dengan koin recehan itu. Terlebih saat lampu merah menyala, tepat matahari bersinar dengan riangnya.
            
Seharusnya mereka mengadakan pertunjukkan musik itu di taman kota. Aku yakin akan banyak yang tertarik untuk menyaksikannya. Seperti yang dilakukan Kak Rully dan teman-temannya saat ini. Semoga nanti tidak ada yang memberi koin receh kepada Kak Rully. Aku tertawa kecil sendiri.
            
Saat itulah, selesai Kak Rully mempersembahkan beberapa lagu milik band-band terkenal, datang seorang pria memakai t-shirt hitam dan celana jeans. Kacamata hitamnya membuatnya terlihat mencurigakan. Aku sempat khawatir dari atas motor, saat pria itu mendekati Kak Rully.
            
Mengetahui pria itu adalah produser musik sebuah label ternama, Kak Rully girang bukan main. Ia dan teman-teman band-nya mendapat tawaran untuk go public. Sang produser yakin, Kak Rully punya potensi untuk menjadi penyanyi hebat di negeri ini.
            
Kak Rully terus berlatih di sebuah studio bersama sang produser yang “menemukan”nya. Hampir setiap hari latihan. Kak Rully pun tidak bisa lagi pulang bareng denganku karena sepulang sekolah ia harus latihan di studio yang jaraknya berlawanan dengan arah menuju rumah.
            
“Maaf Renita.. maafkan kakakmu ini. Nanti aku belikan cokelat kesukaanmu deh. Kamu naik angkot ya. Doain aku nih biar mimpiku jadi penyanyi berjalan lancar. Oke?” Kata Kak Rully saat pertama kali aku harus pulang sendiri.

Aku tidak terlalu masalah pulang naik angkot. Hanya saja Ayah sudah berpesan, agar aku dan Kak Rully berangkat dan pulang sekolah bersama dalam satu motor. Kak Rully sekaligus menjagaku, itu yang Ayah bilang. Sebelumnya, aku tidak selalu bersama Kak Rully. Saat SD dan SMP, aku naik sepeda karena jarak dari rumah tidak terlalu jauh. Saat itu aku dan Kak Rully juga beda sekolah. Barulah saat SMA ini, aku satu sekolah dengan Kak Rully. Jaraknya lumayan jauh dari rumah. Jadi Ayah berpesan kepada kami untuk berangkat dan pulang sekolah bersama. Untungnya Kak Rully tidak keberatan dan dengan senang hati memenuhi permintaan Ayah.
            
Kak Rully semakin sibuk. Hampir tidak langsung ke rumah saat pulang sekolah. Setiap hari selalu seperti itu. Latihan.. latihan.. dan latihan. Semoga kerja keras dan usaha Kakak tidak sia-sia. Aku turut mendoakan kesuksesan Kak Rully yang tengah menjalin benang mimpinya supaya menjadi utuh.
            
Aku kangen juga dengan Kak Rully. Setiap hari selalu… saja ada hal yang kami ributkan. Aku sering kesal karenanya. Perbedaan usia yang hanya empat tahun, membuatku dan Kak Rully tidak terpaut jauh. Bahkan saat ke sekolah, beberapa teman sekelasku yang melihatnya, mengira aku diantar pacar. Apa? Pacar? Aku sama sekali tidak berpikiran untuk pacaran.
            
“Kak, kok pulangnya malam terus sih?” tanyaku saat Kak Rully baru saja pulang latihan. Aku tengah menonton TV yang entah apa acaranya. Demi membunuh rasa sepi, aku menonton televisi. Ayah dan Bunda sudah masuk ke kamar untuk beristirahat. Sudah tidak khawatir lagi Kak Rully pulang malam karena kesibukannya jelas. Ayah dan Bunda memang sangat mendukung kegiatan Kak Rully sekarang ini.
            
Kak Rully yang ikut ekskul silat di sekolah, membuat Ayah dan Bunda tenang, anak lelakinya dapat menjaga diri. Sejak sering pulang malam, Kak Rully memegang kunci rumah khusus untuknya.
            
“Latihan Ta. Kerja keras demi menggapai mimpi.” Penampilan Kak Rully terlihat kusut. Wajahnya sangat lelah. Aktivitasnya saat ini memang menguras energi. Semoga kesibukan tidak merenggut kesehatan kakakku.
            
Kak Rully duduk di sampingku. Menyandarkan pungguhnya di sandaran sofa yang empuk dengan kedua tangan telentang sambil memejamkan mata. Aku menghela nafas. Aku rindu kakakku yang dulu.
            
“Kak Rully udah sholat?”
            
“Hmm..” Kak Rully menjawab sambil memejamkan mata. Entah ia mendengar pertanyaanku atau tidak.
            
“Kak Rully udah sholat belum?”
            
“Belum. Ngantuk banget nih, Ta. Asli,” kata Kak Rully sambil menggeleng-gelengkan kepala mengusir kantuk.
            
“Sholat dulu Kak, sebelum tidur. Nanti takutnya bablas sampai subuh.”
            
Bu Ustadzah ngingetin mulu nih. Aku masuk kamar dulu. Capek.” Kak Rully bangkit dari sofa dan berjalan gontai menuju kamarnya yang tidak jauh dari ruang keluarga.
            
Aku hanya menatap Kak Rully dalam diam. Semoga Kak Rully tidak berubah. Sesibuk apapun, sholat jangan dilupakan. Aku menghela nafas panjang. Semoga kesibukan duniawi yang hanya sesaat tidak menjauhkan Kak Rully dari Sang Ilahi.
            
Aku mematikan televisi dan masuk ke kamar.[]


Jogja, 24 Oktober 2014

0 komentar:

Posting Komentar

© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis