Kamis, 06 November 2014

#SatuHariSatuKarya MERENGKUH KEADILAN

Lampu merah menyala. Kendaraan mulai menghentikan lajunya. Beberapa ada yang pura-pura tidak melihat dengan menerobos rambu itu. Seorang pria duduk di bawah patung garuda, tidak jauh dari lampu yang menyala merah. Ia berjalan terseok-seok dengan membawa koran using di tangan kanannya yang bengkong. Tatapannya tidak fokus. Bola mata menatap ke segala arah dengan ekspresi yang entah apa.

Pria itu menyodorkan koran di tangannya. Orang-orang pura-pura tidak peduli. Ada juga yang melihatnya sekilas, kemudian membuang muka. Pria berkulit cokelat legam dengan kaos oblong yang bolong di sana-sini dan celana pendek putih yang kekuningan itu hanya berdiri di bawah lampu merah.

Seseorang berbisik kepada temannya, “Eh siapa sih dia?”

Yang ditanya hanya mengendikkan bahu. Lampu merah masih menyala. Timer masih berjalan menuju nyala hijau. Terasa lama sekali. Siang yang panas ini membuat lampu merah yang hanya menyala selama 60 detik itu terasa begitu lama.

[]

Darmanto setiap hari bekerja dengan tekun melebihi siapapun. Walau pendengarannya tiada dan suaranya masih di Sang Pencipta, pria 35 tahun itu sangat cekatan menjahit sepatu-sepatu. Dunianya yang hening membuat ia begitu serius dengan pekerjaannya. Teman-teman seprofesi sampai heran melihat Darmanto yang begitu cepat menyelesaikan pekerjaan dengan hasil yang lebih banyak dari yang lainnya. Hasil pekerjaan Darmanto tidak asal-asalan. Selain cepat, juga memuaskan.

Darmanto punya alasan kuat mengapa begitu cekatan dengan pekerjaannya. Ia punya istri yang begitu mengerti dirinya dan anak-anak yang lucu menggemaskan. Ia ingin anak-anaknya hidup berkecukupan, tidak seperti dirinya. Ia juga ingin anak-anaknya sekolah hingga jadi sarjana. Darmanto pun bekerja lebih keras dari siapapun demi istri dan anak tercinta.

Seseorang ada yang menyentuh bahunya. Sudah waktunya istirahat. Darmanto meninggalkan pekerjaannya sejenak. Ia melangkah menuju gerbang pabrik yang mengarah ke jalan raya. Saat teman-temannya memilih makan di kantin, Darmanto memilih untuk menemui seseorang yang sudah menunggunya. Satpam yang menjaga gerbang tersenyum kepada Darmanto lalu membuka gembok yang mengunci gerbang tinggi itu. Satpam bernama Wahyu itu hafal betul dengan kebiasaan Darmanto setiap jam istirahat tiba.

Marini tersenyum melihat Darmanto muncul dari balik gerbang. Wanita itu langsung meraih tangan kanan Darmanto dan mencium punggung tangannya. Marini mengeluarkan sebuah kotak dari dalam keranjang bambunya. Makan siang untuk sang suami.

“Anak-anak bagaimana?” tanya Darmanto dengan bahasa isyarat.

“Baik, Mas. Aku titipkan ke Bu Handoyo. Nanti setelah gorengan ini terjual habis, aku segera pulang,” jawab Marini melirik tempe, tahu, pisang dan bakwan goreng di dalam keranjang bambu.

Darmanto makan dengan lahap nasi putih dengan lauk sawi itu. Terasa nikmat. Kantin yang tidak jauh dari pabrik memang menyediakan makanan yang beragam dan tentunya lebih enak. Bagi Darmanto, masakan istrinya walau jauh dari kata mewah tapi penuh dengan cinta. Marini tersenyum melihat suaminya makan dengan lahap.

Jalanan ramai dan asap kendaraan memenuhi udara. Darmanto dan Marini duduk di atas tikar, di bawah pohon berdaun lebat yang cukup untuk menaungi mereka berdua dari sengat terik matahari, yang berdiri tidak jauh dari gerbang pabrik.

Selesai makan, Darmanto segera kembali masuk ke pabrik, walau jam istirahat masih tersisa. Tujuannya adalah mushola yang tidak jauh dari pos satpam.

“Jangan lupa sholat dzuhur,” pesan Darmanto.

Istrinya mengangguk, tersenyum dan mencium punggung tangan sang suami sebelum melanjutkan berkeliling membawa gorengan di dalam keranjang.

Darmanto mengantar kepergian istrinya dengan doa, semoga dagangan Marini segera habis terjual sehingga bisa cepat pulang menemani anak-anak.

[]

Darmanto tidak pernah mengeluh dengan kehidupannya. Semuanya memang serba terbatas namun ia bahagia dengan keluarga kecilnya. Setiap malam, di sepertiga yang Kau janjikan, sajadah biru yang menjadi mas kawin pernikahan mereka, tampak basah oleh air mata. Dalam diam, Darmanto bercerita kepada Sang Penguasa Semesta. Dormanto menanjatkan doa untuk dirinya sendiri, istrinya, anak-anaknya, demi kehidupan yang lebih baik. Darmanto tidak pernah lelah meminta dengan setulus hati karena ia percaya Sang Pemberi mendengar doanya dan suatu saat, di waktu yang indah, doa-doanya akan dikabulkan.

Selesai bermunajat, Darmanto membaca ayat-ayat suci. Begitu khusyuk hingga adzan subuh terdengar. Darmanto memang tidak mendengar lantunan adzan subuh, tapi hatinya selalu mengatakan bahwa adzan telah berkumandang. Waktu sholat telah tiba. Bukan melihat jam dinding yang jarumnya terhenti karena baterainya sudah lama habis dan belum sempat diganti. Darmanto pun bergegas mengambil air wudhu.

Marini sudah menyiapkan singkong rebus, hasil dari kebun di samping rumah, dengan segelas teh panas tanpa gula. Marini juga menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya sambil menyiapkan barang dagangan.

Selesai sholat, Darmanto langsung menyantap singkong rebus sebelum berangkat kerja jam 7 pagi. Darmanto hening menyantap singkong rebusnya tanpa mengusik Marini yang tengah membuat gorengan untuk dijual secara berkeliling oleh Marini sendiri.

[]

Marini sudah siap menjajakan gorengan. Anak-anaknya pun sudah mandi. Ia akan minta tolong Bu Handoyo, wanita yang menjanda dengan anak-anak yang merantau ke luar kota, untuk kesekian kalinya. Marini sudah menganggap Bu Handoyo sebagai ibunya sendiri. Usia Bu Handoyo tidak jauh berbeda dengan usia ibunya Marini jauh di kampung. Memang Bu Handoyo sangat baik terhadap keluarga Marini.

Marini mendengar suara-suara ribut di luar. Penasaran, ia mengintip dari balik jendela. Marini kaget bukan main saat ada seseorang yang melempar batu ke arah jendela rumahnya. Kaca yang pecah berserakan di lantai. Tanpa pikir panjang, Marini berlari menuju anak-anaknya. Lemparan batu semakin banyak. Apa yang terjadi? Marini panik namun tetap berusaha melindungi anak-anaknya yang masih kecil sambil tetap menyebut asma-Mu.

Di luar, suasana semakin berisik dan tidak terkendali.

[]

Darmanto duduk di bawah patung garuda yang gagah dengan sayap membentang. Lambang Negara demokrasi ini. Panas begitu menyengat, tapi Darmanto sudah kebal dengan terik itu. Panas bola api yang setia menggantung di langit ini bukan apa-apanya dibanding kehidupannya yang keras dan penuh liku. Hanya Marini dan anak-anaknya yang menjadi penyemangat untuk tidak menyerah.

Tidak jauh dari patung garuda, lampu merah menyala. Darmanto segera beranjak dari duduknya, berjalan dengan kaki terseok-seok dan tangan kanan bengkong yang memegang koran using. Darmanto bukan ingin menjual koran itu. Lagipula siapa yang mau beli koran lama begitu?

Ia hanya ingin memberitahu orang-orang bahwa ia mencari keadilan. Marini dan anak-anaknya yang tidak tahu apa-apa harus menjadi korban dari penguasa serakah yang ingin mengambil tanahnya demi sebuah gedung tinggi berdinding kaca.

Sepuluh tahun berlalu, Darmanto tetap mencari keadilan itu. Berita naas itu terpampang dengan jelas di koran usang yang ia bawa ke mana-mana. Sejak Marini dan anak-anaknya terpanggang di rumah mereka sendiri, Darmanto mulai rapuh jiwa dan raganya. Sebuah penyakit pun bersarang di tubuhnya. Penyakit yang membuat Darmanto kesusahan untuk berjalan dan berdiri. Tangan kanannya tidak berfungsi dengan normal sehingga terlihat bengkok.

Bola mata hitamnya melihat ke segala arah. Darmanto yang hanya punya langit sebagai naungan dan tanah sebagai tempat untuk merebahkan diri, tetap berdiri di bawah lampu merah dengan koran usang yang disodor-sodorkan kepada pengguna jalan yang menanti lampu merah menjadi lampu hijau.

Darmanto hanya ingin mereka membaca berita naas itu. Namun orang-orang tidak ada yang peduli. Mereka pikir, Darmanto sudah gila.

Lampu merah berubah menjadi hijau.[]

Jogja, 21 Oktober 2014



0 komentar:

Posting Komentar

© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis