Kamis, 06 November 2014

#SatuHariSatuKarya BUDAK

Pria bersetelan rapi itu tampak ragu. Hati kecilnya mengatakan tidak, tapi kesempatan yang ada benar-benar menggiurkan. Ia menghela nafas. Jangan.. jangan lakukan. Ia memejamkan mata lalu bersandar di sandaran kursi yang empuk.
            
Fasilitas yang selama ini ia dapatkan sudah lebih dari cukup. Penghasilan tetap, ruang kerja nyaman dan ber-AC, dan tidak perlu berpanas-panasan di bawah terik matahari. Cukup duduk di kursinya yang empuk dengan komputer menyala yang menampilkan sederet angka. Bukan pekerjaan yang sulit. Memang cukup membuat otak lelah, tapi deretan angka-angka rupiah itu sudah menjadi makanan sehari-harinya sejak duduk di bangku kuliah.
            
Setumpuk berkas hari ini sudah menunggunya. Ia mengambil berkas pertama yang berada di urutan paling atas. Ia pun melupakan keragu-raguan yang sempat menyerang hatinya.

[]

“Mak, kenapa nggak jualan di rumah saja?” Bayu duduk di samping Emak yang tengah memasukkan nasi rames dalam wadah mika ke dalam keranjang bambu.
            
“Emak masih kuat kok.”

Emak memang teguh pendirian. Bayu paham betul dengan Emak yang sudah tidak lagi muda. Setelah keliling menjajakan nasi rames, badan Emak akan sakit di sana-sini. Bayu sudah menyarankan agar Emak berjualan di rumah saja, namun Emak menolak karena berjualan keliling ini adalah keinginan Emak sendiri. Emak senang dan ikhlas melakukannya walau setelah itu badannya akan pegal-pegal.
            
“Biar Bayu yang jual nasi ramesnya, Mak.”
            
“Jangan. Kamu belajar yang rajin sampai jadi sarjana.”

Bayu, si bungsu dari lima bersaudara. Keempat kakaknya, semuanya lelaki, sudah menikah dan memiliki hidup masing-masing. Hanya Bayu yang masih sekolah dan tinggal bersama Emak. Bapak sudah lama meninggal karena kecelakaan sepeda motor. Kakak-kakak Bayu jarang datang ke rumah menemui Emak. Jangankan datang menjenguk Emak, mengirim uang pun hampir tidak pernah. Bayu mengerti kondisi kakak-kakaknya yang serba terbatas. Bayu juga tahu Emak sangat merindukan anak-anaknya yang telah memiliki kehidupan sendiri jauh di sana. Bayu sedih mengingatnya.
            
“Bayu di sekolah bisa sambil jualan, Mak.”
            
“Nggak usah. Sebaiknya kau pergi ke sekolah sekarang. Nanti telat.”

Emak memang tidak pernah lelah berkeliling menembus teriknya matahari, menjual nasi rames yang Emak racik sendiri. Saat jam makan siang adalah waktu yang sangat tepat bagi Emak untuk menjajakan nasi ramesnya. Salah satu pelanggan setianya bernama Herman. Hampir setiap siang Herman menyantap nasi rames buatan Emak.
            
Emak senang mengobrol dengan Herman. Sambil melayani pembeli, Emak sering bertanya tentang kehidupan pribadi Herman. Pria itu tidak keberatan dengan pertanyaan Emak. Wanita paruh baya itu pun juga sedikit-banyak menceritakan tentang kehidupan pribadinya.
            
“Nak Herman sudah menikah?”
            
“Alhamdulillah sudah, Mak.” Herman dan orang-orang yang membeli nasi rames kepada Emak, memang tetap memanggil “Emak” sehingga nasi rames yang Emak jual terkenal dengan nama “Nasi Rames Emak”.
            
“Wah.. syukurlah. Rezeki orang yang sudah menikah, Insya Allah dilipat gandakan oleh Allah. Tetap berusaha di jalan yang halal, rezeki pasti nggak akan ke mana-mana,” kata Emak.

Herman tersenyum sambil menyantap nasi rames yang enak itu dengan nikmat. Selesai menikmati santap siang, Herman berpamitan kepada Emak karena harus kembali bekerja. Sudah lama Herman menjadi pelanggan nasi ramesnya, Emak tidak tahu di mana Herman bekerja.
            
“Saya bekerja di bank itu, Mak,” kata Herman menunjuk sebuah gedung besar.
            
“Wah.. Kok Emak nggak pernah ketemu Nak Herman ya? Emak juga nabung di bank itu. Sedikit-sedikit uang yang Emak punya, Emak tabung buat biaya naik haji. Insya Allah.”

Hati Herman tersentuh mendengar perkataan Emak. Mulia sekali keinginannya. Ia pun teringat dengan dirinya sendiri. Pekerjaan Herman jelas mempunyai penghasilan yang lebih besar dari Emak, tapi ia sama sekali belum berpikiran untuk menunaikan ibadah haji. Ada yang mengganjal di hatinya.

[]
            
Keragu-raguan itu selalu datang. Ia sudah tidak tahan. Ia ingin menolak. Berontak. Tidak ingin melakukannya. Entah kenapa saat ia bertekad seperti itu, ia teringat dengan perempuan yang ia cintai. Alasan terbesar ia melakukan perbuatan ini. Perempuan itu teramat ia cintai. Ia takut kehilangan cintanya. Semua ini ia lakukan demi perempuannya.
            
Akhirnya ia mengalahkan keragu-raguan dalam hatinya. Bahkan teriakan-teriakan di dalam hatinya sudah tidak mempan lagi untuk mencegahnya. Ia pun mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya.
            
“Bagus suamiku. Kalau kau cinta padaku, kau pasti mau melakukan apa saja yang aku inginkan, bukan?”
Tubuh Herman bergetar. Hatinya bergolak hebat. Namun perempuan yang menjadi istrinya itu seolah menghipnotisnya. Herman tak kuasa menolak. Ia terlalu takut kehilangan. Perbuatan haram itu didorong oleh rasa cinta yang begitu besar. Ia takut jika tidak memenuhi keinginan sang istri, maka ia akan kehilangan cintanya untuk selamanya.
            
Herman terdiam. Ia tahu perbuatannya ini salah dan sangat terkutuk. Ia telah mengambil sesuatu milik orang lain. Uang nasabah, termasuk uang Emak, sudah Herman ambil untuk memenuhi keinginan sang istri yang absurd.
            
Sang istri tersenyum puas. Herman entah sampai kapan akan melepas jerat rantai yang mengikat hatinya.[]


Jogja, 23 Oktober 2014

0 komentar:

Posting Komentar

© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis