Senin, 27 Mei 2013

BEAUTY INSIDE


Alkhamdulillah. Beauty Inside, Story 45, Juni 2013


Hewan sihir sedang populer di Cloverland. Banyak anak muda yang rela menabung demi memilikinya. Kekuatan hewan sihir sangat beragam, mulai dari perisai hingga kekuatan penyembuh. Theo pun ingin memiliki hewan sihir. Namun harganya yang sangat mahal membuat ia harus menabung dan mencari pekerjaan paruh waktu lebih banyak.

“Kau yakin menginginkan hewan sihir, Theo?” Kata Loki, sahabat sejak kecil Theo.

            “Aku harus memiliki hewan sihir. Kekuatan mereka cukup mengagumkan sebagai hewan peliharaan.”

Loki menyeruput kopi susu hangatnya pelan. Senja baru saja berubah menjadi malam. Kafe yang biasa menjadi tempat nongkrong bagi Theo dan Loki masih sepi. Biasanya jika malam sudah larut, pengunjung akan berdatangan untuk sekedar ngobrol sambil menikmati secangkir kopi.


            “Sayang sekali uang yang kau kumpulkan hanya untuk membeli hewan sihir. Mereka sangat mahal.”
            “Memang mahal sih, tapi hewan sihir sekarang lagi populer, Bro.”

Loki memainkan sihir api birunya di tangan. “Mahalnya itu, Theo. Kekuatan hewan sihir juga tidak lebih baik dari sihir kita.”
Theo menyesap kopi putihnya sambil membayangkan saat ia memiliki hewan sihir.

            “Hei Theo. Kau ternyata disini. Hai juga Loki.”

            “Tara. Apa yang kau lakukan disini?” Theo sedikit tersentak dan hampir memuntahkan kopi di mulutnya.

Tara tersenyum sambil menunjukkan buku tebal yang dibawanya. Sejarah Sihir oleh Gus Xavier. Theo memperbaiki posisi duduknya. Loki kembali menyeruput minumannya. Tara duduk di depan Theo dan meletakkan buku tebal itu di atas meja. Tara mengangkat tangan kanannya dan sebuah buku menu terbang menghampirinya.

            “Kau kesini hanya untuk membaca buku?”

            “Ya, mencari suasana baru. Apa yang kau lakukan disini?”

            “Hanya sekedar ngobrol dengan Loki.”
Tara mengucapkan pesanannya dan pulpen yang melayang-layang bersama buku menu menulis pesanan gadis itu.

            “Tara, apa kau tertarik memelihara hewan sihir?” Loki angkat bicara.

            “Semua orang menginginkan hewan itu. Hampir semua teman-temanku memeliharanya, tapi aku sama sekali tidak tertarik.”

            “Kenapa? Padahal hewan itu…” Theo sedikit tidak percaya dengan pernyataan Tara.

            “Hewan-hewan itu memang mengagumkan. Ya, aku juga berpikir begitu, tapi harga hewan sihir sangat mahal. Sayang sekali uangnya.”

Pesanan Tara datang. Segelas moccachino. Sebuah mesin virtual muncul di hadapan gadis itu. Ia harus menekan beberapa angka yang menjadi kode uangnya. Setelah segelas moccahino itu terbayar, mesin virtual itu menghilang setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih.

            “Kau tahu Theo? Banyak sekali orang di luar sana yang lebih membutuhkan uang daripada untuk sekedar membeli hewan sihir.”

Theo mengangkat alis dan menyeruput kopinya. Tara sekarang serius membaca. Diam-diam Theo memerhatikan gadis itu. Sudah lama perasaan ini mengukir hatinya. Walau rumah mereka satu komplek, Theo belum pernah sekalipun datang ke rumah Tara, mengajak pergi berdua atau semacamnya. Theo hanya bisa memendam perasaannya.

            Kafe mulai ramai. Bocah kecil berpakaian lusuh dan dekil tengah mempertunjukkan sebuah atraksi sihir sederhana, permainan cahaya. Tara yang asyik membaca mengalihkan pandangan kepada Theo di depannya yang tengah melihat bocah di depan kafe itu. Tara ikut juga menyaksikan pertunjukkan sihir dari si bocah.

            Bocah itu selesai dengan atraksinya. Ia tampak menunggu sesuatu. Tara bangkit dari kursinya dan menyerahkan beberapa keping uang kepada bocah itu. Tersenyum senang, mengucapkan terimakasih dan pergi. Tara memandang bocah itu dengan mata berkaca-kaca.

            “Tara, apa kau baik-baik saja?”

            “Aku hanya… sedikit sedih melihat bocah tadi.” Tara berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah.

            “Apa kau ada masalah dengan bocah itu?”

            “Apa kau tadi tidak lihat, Theo? Lihat pakaian yang bocah itu kenakan. Aku berani bertaruh dia tidak sekolah.”

Tara menarik nafas dan menghembuskannya pelan.

            “Hidup memang terkadang tidak adil,” kata Tara pelan.

Tara menutup bukunya dan bangkit berdiri. “Mau kemana, Tara?”

            “Aku harus pulang. Aku khawatir Ibu mencariku.”

            “Ya, aku juga ingin pulang. Aku bisa sekalian mengantarmu.”

Loki kembali menyeruput kopi susu hangatnya dan bangkit berdiri. “Sepertinya aku juga harus pulang.”

            Theo dan Tara berjalan berdua. Rumah Loki tidak searah dengan rumah mereka. Sepanjang perjalanan, Theo hanya diam saja. Begitu juga dengan Tara.

            “Ah ya, Theo. Apa kau mau menemaniku pergi ke suatu tempat?”

            “Kemana?”

Tara hanya tersenyum. Langkah gadis itu sedikit lebih panjang yang membuat Theo sedikit berlari untuk menyejajarinya. Tara seperti terburu-buru.

            “Tempat ini…”

            “Rumah singgah bagi anak-anak jalanan. Aku hampir lupa sekarang adalah Hari Anak. Aku harus segera menemui mereka,” kata Tara sambil mengucapkan mantra. Tangannya bercahaya dan muncul sebuah kotak berukuran cukup besar.

            “Kotak Hadiah. Anak-anak akan suka ini,” kata Tara sambil tersenyum.

            “Kau sering datang kesini, Tara?”

Tara menjawab pertanyaan Theo dengan senyuman. “Ayo Theo, anak-anak telah menunggu kita.” Theo berdiri mematung melihat Tara yang melangkah menuju rumah singgah sambil membawa Kotak Hadiah. Aku semakin mengagumi, Tara. Kau cantik sekali, bukan hanya sekedar fisik, tapi juga hatimu. Theo tersenyum dan melangkah menyusul gadis yang disukainya itu. [] (Yogya, 6 Mei 2013)

0 komentar:

Posting Komentar

© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis