Senin, 05 Maret 2012

Seribu Bintang, dimuat Story edisi 24, 25 Juli 2011


SERIBU BINTANG
            Cinta itu memang indah ya? Aku baru kali ini merasakan sebuah cinta setelah 17 tahun aku hidup di muka bumi. Cupu ya? Alasannya klasik, Mama belum mengizinkanku menjalin cinta sebelum aku berusia 17 tahun. Kalau soal suka kepada lawan jenis sudah sering aku rasakan. Tapi menikmati indahnya sebuah pacaran baru pertama aku rasakan.
            Aku sungguh beruntung memiliki cinta bernama Steve. Dia seniorku di SMA. Cowok itu benar-benar idola di sekolah. Perwakannya yang tinggi dan atletis membuat banyak kaum hawa kepincut padanya. Tak terkecuali aku sebagai gadis normal. Aku kadang berandai-andai jadi pacar Steve. Tapi itu hanya sebuah khalayan. Aku bukanlah gadis yang populer. Bahkan menurutku Steve sama sekali nggak ada minat untuk melirikku.
            Tapi khayalan itu menjadi nyata. Steve menyatakan perasaan sukanya padaku tepat di hari lahirku yang ke-17 tahun. Bukan, bukan di pesta ulangtahunku-aku sama sekali nggak membuat perayaan-melainkan di sekolah. Hari lahir aku menyambutnya biasa saja. Tak ada perayaan, tak ada kue tart, tak ada undangan pesta. Ayah dan Bunda sudah menawarkan sebuah pesta menyambut hari lahirku ini. Bagi seorang gadis, usia 17 adalah momen yang penting. Maka harus ada pesta besar-besaran. Aku mensikapinya dengan banyak bersyukur kepada Tuhan karena hingga detik ini aku masih diberi kehidupan.
            Aku nggak menyangka Steve bakal menyatakan cinta padaku, si gadis yang sama sekali tak populer. Secara fisik aku pun biasa saja. Yang namanya cinta memang indah. Cinta nggak memandang kepada siapa ia harus menetap. Semua makhluk pasti mempunyai cinta.
            Aku bagai Cinderella yang telah bertemu dengan Pangeran Tampan dan tinggal di istananya. Aku benar-benar bahagia. Banyak pasang mata di sekolah yang iri melihatku berjalan berdampingan dengan Steve. Padahal selama ini aku adalah gadis yang tak banyak dikenal bahkan untuk dilirik banyak mata pun sangat jarang. Ya ampun kini aku merasa seperti Miss Indonesia. Semua mata tertuju padaku.
            Hari-hariku benar-benar menyenangkan. Tiap hari hidupku penuh dengan warna. Steve benar-benar cowok yang perhatian. Tiap hari SMS darinya pasti selalu menyapaku. Aku senang. Senang bukan kepalang.
            Di dunia ini semua diciptakan dengan berpasang-pasangan. Laki-laki dan perempuan. Siang dan malam. Bahagia dan menderita. Dan baru tujuh hari aku bahagia, dengan hati yang ikhlas aku harus merelakan kebahagiaan itu lenyap dariku. Steve membohongiku. Aku hanya taruhan untuknya dengan teman-temannya. Teman-teman Steve memberikan tantangan kepada cowok tampan itu untuk mengisi kekosongan hatiku yang belum pernah terisi oleh cinta selama tujuh hari. Dan tepat hari ini di hadapan seantero penghuni sekolah Steve blak-blakan bahwa ia hanya memainkan perasaanku.
            Aku sama sekali nggak kaget. Aku sudah punya dugaan seperti ini. Tak mungkin cowok sekelas Steve jatuh cinta pada gadis macam aku. Itu hanya pemikiran kecil sisi hatiku yang lain yang jauh dan dalam. Selebihnya aku menganggap bahwa cinta Steve tulus. Setulus cinta Pangeran Tampan kepada Upik Abu.
            Dunia seakan tertawa padaku. Walau aku sudah menduga bakal begini jadinya tapi hatiku sakit juga. Cowok sixpack itu hanyalah fatamorgana bagiku. Hari itu aku menangis di kamar mandi tepat saat istirahat pertama. Aku menangis dalam diam. Setelah puas menangis-tak perlu membuang air mata terlalu lama hanya karena masalah laki-laki-aku berdiri di depan cermin toilet. Mataku agak sedikit bengkak. Bodohnya aku menangis karena cinta. Tapi patah hati itu memang sakit bukan? Aku membasuh mukaku dengan air dari keran. Setelah itu aku kembali melihat ke cermin. Ya ampun dimana kepalaku? Kenapa tak terefleksi dalam cermin? Lalu tanganku? Bagian tubuhku yang lain? Kini yang terpantul dari cermin hanyalah seragamku saja. Aku kaget. Kenapa bisa seperti ini? Untunglah hal itu nggak lama. Seluruh anggota tubuhku yang tadi nggak kelihatan sekarang terlihat kembali.
            Apa aku bermimpi? Aku tampar pipiku. Aww.. sakit. Lalu yang tadi itu kenapa? Aku bingung. Aku keluar dari kamar mandi dengan perasaan nggak karuan. Akibat kejadian aneh tadi aku jadi sama sekali nggak konsen mengikuti pelajaran. Hingga pelajaran berakhir aku merasa pelajaran yang aku dapatkan hari ini nggak membekas sama sekali di otakku.
            Aku pulang ke rumah cepat-cepat. Sesampainya di rumah aku segera mengurung diri di kamar. Aku kembali bercermin. Aku memejamkan mata. Saat aku membuka mata kejadian di kamar mandi sekolah kembali terulang. Aku tak kasat mata. Aneh sekaligus membuatku bingung. Aku kembali memejamkan mata. Lalu aku membuka mata dan aku kembali terlihat. Tiba-tiba kepalaku pening. Kejadian aneh ini membuatku ingin tidur. Maka sepulang sekolah aku langsung memejamkan mata tanpa mengganti seragam sekolah dengan baju rumah terlebih dahulu.
            Saat aku terbangun senja telah datang. Kamarku menjadi remang-remang. Aku nyalakan lampu. Perutku keroncongan. Aku belum makan siang. Setelah ganti baju aku menuju dapur dan men-charge energi. Aku masih kepikiran kejadian aneh yang menimpaku hari ini. Maka hingga detik ini aku lebih banyak diam tanpa kata.
            Tiba-tiba Bunda memanggilku. Ada apa ya hampir tengah malam begini Bunda memanggilku? Aku baru saja selesai membaca novel. Bunda tau betul aku belum akan memejamkan mata sebelum lewat jam 12 malam. Entahlah kenapa aku bisa begini. Kebiasaan ini sudah lama menjadi kebiasaanku. Bunda duduk di sofa ruang keluarga bersama Ayah. Bunda menyuruhku duduk diantara Ayah dan Bunda. Dari raut wajahnya sepertinya ada hal serius yang akan dibicarakan denganku.
            “Kanaya ada yang ingin Bunda dan juga Ayah bicarakan denganmu,” kata Bunda membuka suara.
            “Apa itu Bunda? Kayaknya serius banget?” kataku penasaran.
Ayah dan Bunda saling berpandangan sebelum berbicara kepadaku. Bunda kelihatannya berat mengatakan sesuatu. Aku jadi semakin penasaran. Akhirnya Ayah yang angkat bicara, “Sebenarnya Kanaya bukan anak kandung kami.”
Jantungku hampir meloncat mendengar perkataan Ayah. Aku seperti tersambar listrik milyaran volt. Aku bukan anak kandung Ayah dan Bunda? Apalagi ini? Setelah Steve mempermainkan perasaanku sekarang giliran dua orang yang paling aku cintai dan aku sayangi yang mempermainkanku? Tiba-tiba aku merasa sangat lemas. Tenagaku tiba-tiba hilang begitu saja.
            “Tepat jam 12 malam nanti Kanaya akan kembali pulang,” kata Ayah sambil menahan tangis. Baru kali ini aku melihat Ayah mengeluarkan air mata. Sepanjang usiaku sama sekali aku belum pernah melihat butiran bening itu meluncur dari sudut mata Ayah kecuali detik ini. Bunda sudah sesenggukan.
            Aku berusaha menguatkan diri, “A.. apa maksud Ayah?”
            “Tujuhbelas tahun yang lalu Ayah dan Bunda mendapatkanmu dari seseorang bernama Sayap Putih. Itulah nama wanita cantik dengan sayap putih bersinar bak malaikat yang telah menghadirkan dirimu di tengah keluarga ini.” Ayah terdiam. Ayah menangis. Tersedu-sedu seperti Bunda. Aku segera memeluk Ayah. Lalu aku juga memeluk Bunda.
            Ayah menarik nafas sambil mengusap air matanya, “Tepat malam ini Sayap Putih akan membawamu pulang. Nanti tepat jam 12 malam. Tujuh hari setelah usiamu menjadi tujuhbelas.”
            “Tapi Kanaya nggak mau pergi. Kanaya ingin tetap disini bersama Ayah dan Bunda,” kataku sambil menangis.
            “Kami yang tak kunjung mempunyai anak membuat kami terus berdoa semoga kami diberi momongan. Nggak ada hal yang nggak mungkin bagi Tuhan. Tiba-tiba Sayap Putih datang dari Negeri Seribu Bintang. Waktu itu kami kira Sayap Putih adalah malaikat yang dikirim Tuhan kepada kami. Lalu Sayap Putih menitipkan Kanaya pada kami yang tak mempunyai buah hati,” Bunda kali ini angkat suara setelah lama terdiam karena tangis.
            “Setiap ada penghuni yang baru lahir dari Bintang Harapan di Negeri Seribu Bintang, maka bayi dari Bintang Harapan harus dirawat oleh manusia bumi. Tapi hanya selama tujuhbelas tahun. Ya hanya tujuhbelas tahun,” kata Ayah.
            Aku terdiam. Kenapa hal aneh terjadi padaku hari ini? Hal aneh yang membuatku takut. Negeri Seribu Bintang? Sayap Putih? Siapa itu? Namanya sangat asing di telingaku.
            “Kanaya telah memiliki kekuatan istimewa bukan?” tanya Bunda “Tepat seperti perkataan Sayap Putih. Saat usiamu tujuhbelas tahun maka kekuatan istimewa akan hadir di dalam dirimu,” kata Ayah.
Kekuatan istimewa? Aku yang bisa menghilang? Itu kekuatan istimewa? “Semua penghuni Negeri Seribu Bintang mempunyai kekuatan istimewa dalam dirinya. Sebelum berusia tujuhbelas tahun kekuatan istimewa itu akan tersegel. Saat kekuatan itu tersegel maka penghuni Negeri Bintang akan menjadi manusia seutuhnya. Makanya manusia bumi yang harus merawatnya,” kata Ayah lagi.
            “Itulah dua alasan Kanaya menjadi anak kami,” kata Bunda.
            Tiba-tiba ada cahaya yang menyilaukan hadir di depan rumahku. Aku melihat dari jendela. Cahaya apa itu? Dari dalam cahaya itu muncullah sesosok wanita cantik dengan gaun berwarna biru laut dan dua pasang sayap putih bersinar dari punggungnya. Mungkinkah wanita itu yang bernama Sayap Putih?
            Ayah dan Bunda berjalan keluar rumah. Aku mengikuti. Wanita itu memang sangat cantik bak bidadari dari surga. Saat wanita itu melihatku ia tampak tersenyum manis.
            “Sekarang saatnya kau harus kembali Kanaya,” kata Sayap Putih.
Begitu kalimat itu selesai diucapkan dari bibir wanita cantik itu tiba-tiba sebuah cahaya membungkusku. Lalu semua gelap. Kanaya hilang kesadaran. Kini ia telah berganti memakai pakaian seperti Sayap Putih. Warna gaunnya memang senada tapi panjangnya hanya selutut Kanaya. Tak ada sayap putih di punggung Kanaya. Karena kekuatan istimewa Kanaya adalah kekuatan melenyapkan diri dari mata manusia. Perlahan Kanaya terbang ke samping Sayap Putih. Ayah dan Bunda menangis.
            Setelah ini Kanaya tak akan ingat kehidupannya di bumi. Semua memori itu akan hilang begitu saja. Sepenuhnya Kanaya akan jadi penghuni Negeri Seribu Bintang yang akan menjaga agar bintang-bintang terus bersinar.
            “Terimakasih untuk kebaikan kalian selama ini,” kata Sayap Putih.
Setelah berkata seperti itu Sayap Putih dan Kanaya menghilang ditelan cahaya kemilau yang membawa Sayap Putih saat datang kemari. Mereka kembali ke negeri asalnya. Ayah dan Bunda berusaha kuat dan ikhlas menerima kenyataan bahwa putri kecil yang amat mereka cintai telah pergi dan entah kapan akan kembali.
-sekian-
Jogosimo, 15 Juni 2011

0 komentar:

Posting Komentar

© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis