Senin, 05 Maret 2012

In The Name of Tiara, dimuat Gaul edisi 35, 12-18 September 2011

IN THE NAME OF TIARA
            Gendut. Berkacamata. Berkawat gigi. Tiga hal itu yang paling identik sama Ken. Dulu saat SMP Ken itu kurus banget. Atas permintaan Mama –nanti dikira Mama nggak ngasih makan anaknya- Ken mulai membuat program penggemukan diri. Awalnya sih biar sedikit berisi dan nggak kayak tiang bendera lagi. Tapi program itu kebablasan hingga akhirnya membuat Ken gemuk. Sangat gemuk.
            Kelas 1 SMA ini perut Ken udah kayak beduk mushola. Lemak bertumpuk di hampir seluruh bagian tubuhnya. Ken juga nggak pernah luba bawa keripik kentang dan cokelat di tasnya.
            Saat SMP Ken belum memakai kacamata dan kawat gigi. Karena kurang pandai bergaul –teman Ken di SMP bisa dihitung dengan jari- Ken jadi lebih suka menghabiskan waktu dengan belajar dan membaca buku. Tiap jam istirahat sekolah Ken selalu baca buku. Pergi ke perpustakaan, pinjam buku, baca buku. Di rumah pun sebagian waktu Ken dihabiskan dengan membaca buku –hal ini dilakukan karena Ken nggak tahu harus ngapain buat ngisi waktu luangnya-. Makanya nggak heran kalau ia selalu meraih predikat juara umum saat ulangan semester.
            Lulus SMP Ken meraih predikat terbaik dan langsung diterima di SMA Negeri Satu yang bertaraf internasional tanpa tes.
            Itulah yang membuat Ken memakai kacamata minus dua. Ken juga termasuk cowok yang cuek dengan penampilan. Kacamata yang dikenakannya yang modelnya sama dengan yang biasa dikenakan nenek-nenek membuatnya tampak semakin cupu. Apalagi ditambah dengan kawat gigi.
            Dan behel itu sengaja dipasang biar gigi Ken rapi dan rata. Mama, kalau mau jujur, heran sama putra bungsunya itu. Kok ya penampilannya jauh beda sama kakaknya? Kenji, kakaknya Ken memilikin postur tubuh yang ideal. Tinggi badannya kayak tinggi badan pemain basket. Tubuhnya atletis. Agak sedikit mirip Kenzo, sang papa waktu masih remaja dulu. Mama masih ingat gimana suaminya saat pacaran dulu. Mama berasa pacaran sama selebritis. Soalnya Kenzo adalah orang yang paling tampan diantara semua cowok pada waktu itu. Nggak heran Kenji langsung populer di mata kaum hawa di kampusnya.
            Sementara Ken sangat jauh berbeda. Ken dengan Kenji ibarat “beauty and the best”. Atau bisa juga Ken ini “ugly duckling”. Tentu saja Mama hanya bilang begitu di dalam hati saja. Bagaimana pun juga Ken adalah anaknya. Keturunannya. Jika saja Ken mau peduli sedikit saja dengan penampilannya pasti ia nggak akan malu-maluin jika di bawa kondangan.
            Makan malam di Sabtu sore. Mama sedang menikmati santap malamnya bersama Ken. Papa masih di kantor. Mendadak ada pekerjaan baru dan harus lembur. Padahal Mama sudah merencanakan candle light dinner di sebuah restoran sambil mengenang masa-masa pacaran dulu. Kenji sedang sibuk dengan teman-temannya. Tiap malam Minggu Kenji nggak pernah makan malam di rumah. Untung Mama, Papa, dan Ken bisa ngertiin anak gaul itu.
            Mama dan Ken melahap makanan masing-masing dalam diam. Ken telah menghabiskan satu piring penuh makan malam. Dan ia sedang mengambil porsi yang kedua yang nggak kalah banyak. Mama geleng-geleng kepala. Putranya ini doyan apa rakus?
            “Ken jangan kebanyakan makan. Nggak sadar ya sama berat badan?” sindir Mama.
            “Bukannya Mama yang nyuruh Ken makan yang banyak?” kata Ken sambil menggigit ayam goreng crispy.
            “Itu dulu Ken, waktu kamu kurus banget. Sekarang lihat donk diri kamu,” kata Mama sambil merebut makanan yang ada di hadapan Ken.
            “Ma, Ken masih lapar.”
            “Cukup Ken Putra Wijaya!” kata Mama sambil membereskan meja makan.
Ken cemberut. Tapi, aha! Ken ingat punya keripik kentang dan cokelat di kamarnya. Ken segera melangkah menuju kamarnya. Bayang-bayang keripik kentang dan cokelat menari-nari di kepala Ken.
*
            “Mulai hari ini Mama akan jadi pengawas diet kamu, Ken. Ingat kamu nggak boleh makan bla.. bla.. bla..” kata Mama panjang lebar membaca list program diet untuk Ken. Sebenarnya Ken risih dengan sikap Mama. Walaupun ndut tapi Ken bahagia. Jadi buat apa Mama panik dengan postur tubuhnya? Ken yang gemuk juga nggak ada masalah.
            “Ini demi kebaikan kamu, Ken.”
Kebaikan apa? Bagi Ken ini menyiksa. Harus menahan lapar kayak orang puasa. Nggak boleh ngemil. Nggak boleh makan keripik kentang. Nggak boleh makan cokelat. Padahal dua makanan itu adalah kesukaan Ken. Harus rajin olahraga. Jujur saja Ken nggak begitu suka dengan olahraga.
            Mama juga memasukkan Ken ke tempat fitness. Ken yang masih berusia di bawah 17 tahun sebenarnya belum bisa ikut fitness. Tapi berkat Mama yang merayu pemilik pusat kebugaran itu yang kebetulan teman SD Mama, akhirnya membuat Ken bisa dengan mudah mengikuti fitness dengan pelatih pribadi yang profesional.
            Ken menjalani itu semua dengan hati setengah tiang. Daripada di cap anak durhaka dan dikutuk menjadi batu lebih baik Ken menuruti apa yang diperintahkan Mama.
            Tujuh hari pertama program diet adalah masa yang paling menyiksa bagi Ken. Perutnya sering merasa keroncongan karena porsi makan yang imut banget. Jadi ia masih kelaparan. Belum lagi rasa pegal-pegal di tubuhnya akibat fitness tiap hari. Mama memang menjadwalkan fitness untuk Ken setiap hari jam 15.00 sampai dengan jam 16.00. Ken berharap diet yang menyiksa ini akan segera berakhir. Ken rindu keripik kentang dan cokelat.
*
            Sejak pertama masuk SMA, Ken sudah naksir sama Tiara, teman sekelasnya. Ken diam-diam suka mencuri pandang pada gadis cantik itu. Kayaknya Tiara adalah gadis tercantik di SMA Negeri Satu. Sejuah ini Ken belum pernah melihat cewek lain di SMA ini yang mengalahkan kecantikan Tiara.
            Saat melihat sosok Tiara, rasa lapar karena diet langsung hilang seketika. Ajaib! Mungkin itulah yang namanya cinta. Mengubah penderitaan menjadi kenikmatan.
           Akhirnya Ken nggak tahan. Ia nggak bisa diam terus. Ken harus berterus terang sama Tiara mengenai perasaan cintanya. Tapi apa jawaban Tiara atas pernnyataan cinta dari Ken itu?
            “Kecilin dulu tuh perut.”
Sebuah jawaban yang bikin Ken bingung. Apa hubungannya cinta dengan perut?
            “Aku suka cowok atletis,” kata Tiara.
Pahamlah Ken sekarang. Jadi itu permasalahannya? Penolakan itu –bagi Ken namanya bukan penolakan namun hanya mengulur waktu saja- nggak membuat Ken patah hati, justru membuatnya bersemangat? Nah lho? Iya semangat untuk ngurusin badan, diet, biar bisa punya tubuh atletis bak model L-Men.
            Mama sempat bingung dengan sikap Ken. Biasanya Ken malas-malasan jika akan fitness, tapi kali ini mendadak semangat 45. Ken juga nggak banyak cerewet soal makanan. Perubahan yang membuat Mama senang. Usaha Mama untuk “mendekorasi” ulang postur tubuh putranya sepertinya akan berbuah manis.
*
            Pembagian raport kenaikan kelas tiba. Ken lagi-lagi mendapat posisi sebagai juara. Bukan juara umum lagi melainkan juara kelas. Secara di SMA Negeri Satu ketat banget persaingannya. Tapi Ken tetap masuk peringkat 10 besar juara umum dengan meraih posisi urutan ke-3.
            Diet Ken berhasil setelah hampir setahun ini Ken mati-matian fitness dan nahan lapar. Lemak-lemak berlebih di tubuh Ken sekarang sudah jauh berkurang. Perutnya yang onepack berubah jadi sixpack.
            Setelah kegemukkannya telah menjadi almarhum, Ken mengubah penampilannya. Lebih terlihat trendy dan gaul. Dengan postur ideal sangat mudah untuk memadu-padankan gaya berpakaian. Kacamata ala nenek-nenek yang selalu dipakai Ken telah diganti dengan kacamata minus yang terlihat lebih trendy untuk anak muda. Dengan kacamata itu Ken jadi terlihat lebih keren.
            Mama saja sampai kaget melihat metamorfosis putranya itu. The beast telah berubah menjadi the beauty. Itik buruk rupa telah berubah menjadi angsa yang cantik. Kenji saja sampai memuji penampilan Ken sekarang.
            “Aku kalah saingan nih,” kata Kenji bercanda sambil memukul pelan pundak adiknya.
Sekaranglah saatnya Ken kembali menanyakan cinta yang sudah satu tahun Ken sabar menanti. Pulang sekolah Ken akan menemui Tiara –di kelas 2 ini Ken nggak sekelas lagi sama Tiara-.
            Bel pulang berbunyi. Ken bergegas menuju kelasnya Tiara. Namun saat Ken tiba disana, Tiara sudah nggak ada di kelasnya.
            “Hai Ken…? Mau cari akyu ya?” kata si centil Katrina.
Sejak Ken berubah –bukan jadi Power Rangers lho- banyak cewek di SMA Negeri Satu yang meliriknya. Satu perubahan yang nggak di sadari oleh Ken.
            “Tiara mana Kat?”
            “Tiara? Udah pulang deh. Ngapain cari yang nggak ada? Mending sama akyu ajah. Akyu akan siap sedia buat kamuh,” kata Katrina dengan gaya mendesah ala Julia Perez tapi jatuhnya jadi kayak cacing kepanasan.
            Ken langsung berlari menuju gerbang sekolah. Ia sama sekali cuek dengan Katrina yang memanggil-manggil namanya. Biasanya Tiara sedang menunggu jemputan dari sopirnya di depan gerbang sekolah.
            Ternyata benar. Tampak Tiara sedang berdiri di depan gerbang sekolah sambil matanya sesekali melirik ke jam di pergelangan tangannya.
            Ken segera mendekati Tiara. Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba di hadapan Tiara berhenti sebuah motor sport yang keren. Ken berhenti sejenak. Tiara tampak senang dengan si pengendara motor sport itu. Seorang cowok dengan baju putih abu-abu.
            “Tiara..?” panggil Ken sesaat sebelum Tiara memakai helm yang di angsurkan oleh cowok itu.
            “Hai Ken..? Ada apa?”
            “Ada yang mau aku omongin sama kamu,” kata Ken.
            “Oh ya? Apa?”
Ken menarik nafas sejenak. Ia sedikit ragu. Jangan-jangan cowok di sebelah Tiara itu adalah pacarnya Tiara. Ken tahu bahwa Tiara nggak mempunyai seorang kakak laki-laki. Ken melirik sekilas pada cowok itu. Sedetik kemudian Ken berpikir apa urusannya denga cowok itu? Mau dia cowoknya kek, temannya kek, apa pun itu, yang terpenting ia harus bilang pada Tiara. Ia harus tahu apa jawaban Tiara setelah setahun berlalu.
            “Oh ya Ken, kenalin ini cowokku, namanya Nicko,” kata Tiara.
Benar apa yang Ken duga. Cowok itu menatap dingin pada Ken. Mereka sama sekali nggak ada niatan untuk berjabat tangan. Dari tatapan mata itu terpancar sebuah kecemburuan.
            “Ra, kamu masih ingat waktu itu kan?”
            “Ingat apa?” tanya Tiara mengernyitkan dahi.
            “Masa kamu lupa?”
            “Apa sih Ken? Hmmm.. aku pernah bikin janji sama kamu ya?”
            “Ehm!” Nicko berdehem memecah obrolan Ken dengan Tiara.
            “Udah ya Ken aku pulang dulu. Bye..”
Motor melaju meninggalkan Ken. Dalam diam Ken masih ingat pernyataan cintanya setahun yang lalu. Ia juga masih ingat apa yang dikatakan Tiara waktu itu. Ken menghela nafas. Ternyata Tiara telah melupakan peristiwa yang penting bagi Ken untuk mengetahui jawabannya.
            Dunia nggak selebar daun kelor. Sudahlah kalau Tiara memang telah melupakan peristiwa itu. Lagipula sekarang Tiara telah memiliki cowok. Jadi percuma juga kalau Ken masih menunggu cinta Tiara. Semula usaha mati-matian Ken untuk diet adalah hanya untuk Tiara. Atas nama cinta. Atas nama Tiara. Tapi cinta mati satu, tumbuh seribu. Semua ini pasti akan indah pada waktunya nanti.
-selesai-
Jogosimo, 31 Agustus 2011

0 komentar:

Posting Komentar

© B A G U S A D I S A T Y A 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis