Langsung ke konten utama

Postingan

SAAT YANG TEPAT MELEPAS PERTAHANAN

Merasa terlalu banyak menahan ini dan itu, tenanglah. Nantinya juga akan ada waktu melepas semua yang ditahan itu. Waktu yang tepat benar-benar memanjakan keinginan. Bebas. Lepas. Perlulah kita sesekali begini. Sesekali. Bukan setiap hari karena enggak baik buat kesehatan. Menahan ini dan itu dari sisi finansial, bisa. Menahan ini dan itu dari sisi hasrat, bisa juga. Menahan keinginan beli ini dan itu karena finansial yang terbatas. Suatu saat, sesuatu yang sebelumnya kita tahan-tahan itu, akhirnya bisa kita lepaskan juga. Royal, tapi tetap harus ada kontrol. Kita baru saja gajian dan di hari itu juga langsung royal sepuas hati? Gajimu berapa? Enggak terhingga sampai berani royal tanpa batas karena sebelumnya bersusah-payah menahan diri? Hari ini gajian, besok kebingungan. Jangan sampai deh. Na'udzubillah... Benar-benar merasa berhasil menahan ini dan itu kalo berhubungan sama hasrat. Susah banget. Godaannya sungguh luar biasa. Godaan menahan ini dan itu dari sisi finansi...

KITA PUNYA WAKTU YANG SAMA

Tik.. tok.. tik.. tok.. Berapa detik, menit, jam, waktu yang sudah pernah kita sia-siakan? Apa kita sudah benar-benar memanfaatkan waktu semaksimalkan mungkin? Atau justru kita melewatkannya begitu saja? Setiap orang punya waktu yang sama, 24 jam. Kita hidup di bawah langit dan planet yang sama, Guys. Jangan merasa waktu 24 jam enggak cukup. Kalo merasa kurang, sayangnya Pluto belum buka penginapan. Ada tipikal orang yang terbiasa bikin daily list detail banget. Lebih terorganisir dan mengurangi kesempatan menghambur-hamburkan waktu. Bahkan waktu santai-santai sudah tersusun dengan rapi di lembar daily list ini. Ada juga tipikal orang yang cuma bikin poin-poin penting kegiatan seharian, mingguan, atau bulanan, bisa juga lebih. Visioner sekali. Poin-poin ini dimanfaatkan biar enggak lupa. Apalagi buat kegiatan yang sifatnya bukan rutinitas. Penting juga tuh dicatat. Tipikal yang selanjutnya adalah free style, suka-suka gue, tapi tetap bisa jalan kegiatan. Tetap bisa mema...

KEBANGKITAN KOMIK INDONESIA

Komik Indonesia pernah berjaya di masanya. Memang sempat meredup, tapi beberapa tahun terakhir komik Indonesia mulai memperlihatkan pijarnya. Bisa dibilang pernah mati suri, iya juga, tapi enggak sepenuhnya begitu. Selama masa kemunduran, komik Indonesia sebenarnya tetap ada, tapi cuma beredar di kalangan terbatas, misal komunitas komik. Justru rak-rak komik toko buku seluruh Indonesia diserbu besar-besaran komik Jepang dan Amerika. Beberapa orang yang peduli dan merasakan keresahan ini menyadari betul eksistensi komik Indonesia enggak bisa dibiarkan terus tenggelam. Ini pengakuan langsung dari salah satu, ada beberapa orang sih, komikus Indonesia yang eksis di dunia komik Amerika, Chris Lie. Komik GI Joe jadi satu bukti nyata karya Chris Lie untuk komik Amerika. Sekarang Chris Lie berkiprah di rumah sendiri kok. Pulang kampung. Salah satu pemantik kebangkitan komik Indonesia berkat Chris Lie dan squad -nya dengan melahirkan majalah komik Indonesia "re: ON". Tau majalah k...

FANS IDOLA

Kamu fans K-Pop? Kamu fans Barca? Kamu fans gadis manis dari kantor sebelah? Sikap fans a.k.a penggemar ada yang bikin geleng-geleng kepala. Kok bisa sampe segitunya? Namanya juga suka. Kalo masuk level yang lebih dewa, pasti apapun bakal dilakuin. Yes, apapun. Ini yang bikin ngeri. Ada satu fans idol K-Pop yang nekad mengakhiri hidupnya karena sang idola bunuh diri. Ada satu fans yang rela mengumpulkan rupiah sampai 1 M demi single original. Yes, satu milyar rupiah! Menjadi fans sedewa apapun levelnya, masih bisa dibilang normal, selama enggak terobsesi berlebihan, sampai susah membedakan mana kenyataan, mana khayalan. Berdasarkan pengamatan pribadi, t ipikal fans juga beda-beda.Pertama, fans biasa. Memang benar-benar biasa. Hanya sekedar suka mengikuti aktivitas si idola. Paling cuma  follow media sosial idola dan menjadikan aktivitas idola semacam hiburan. Kedua, fans malu-malu kucing. Tipikal fans satu ini bisa dibilang enggak terbuka sama aktivitasnya mengagumi ido...

KURANG TIDUR

Ini bukan tentang tulisan yang tercipta karena insomnia. Bukan juga tulisan dari seseorang yang kurang tidur, katanya kurang tidur itu tanda orang kreatif. Kreatif tapi masa bodoh sama kesehatan diri-sendiri?  Ngng.. kurang tidur, iya.. tapi sejatinya aku enggak kurang tidur. Aku bukan pengidap insomnia. Jangan sampai deh! *getok-getok meja~ Jam tidurku kurang justru karena aku sendiri yang memilih. Bukan lembur karena ngebut skripsi, proyek, atau apapun, tapi karena kebodohan yang secara sadar aku lakukan. Ya, aku bilang ini kebodohan. Ada di bagian sebelum penutup tulisan ini. Menurut National Sleep Foundation, dikutip dari nationalgeographic.co.id, kita punya jam tidur yang berbeda sesuai usia. Buat usia-usia produktif, 18-64 tahun, jam tidur yang dibutuhkan antara 7 - 9 jam. Jangan sampai kurang, jangan berlebihan. Keduanya bisa menyebabkan resiko penyakit mematikan mulai dari jantung koroner sampai stroke. Na'udzubillah... Bayi dan balita punya jam tidur yang lebih panjan...

DASAR GENERASI MICIN! LOH? KENAPA MENYALAHKAN MICIN?

Seseorang yang bertindak bodoh, memalukan, dan sederet tindakan enggak banget lainnya, sering dianggap sebagai Generasi Micin. Bukan gelar terhormat, makanya banyak yang enggak rela kalo jadi bagian generasi satu ini. Kenapa Generasi Micin? Kenapa enggak Generasi Kecap? Saos? Terasi? Micin lebih terkenal, tapi juga lebih sering disalahpahami. Wait a minute... Salah paham sama micin? Dan aku salah satu yang antipati sama penyedap rasa yang punya nama lain monosodium glutamat a.k.a MSG ini. Orang Indonesia kebanyakan masak pasti ditambah micin atawa MSG. Ye 'kan? Berapa bungkus micin dalam sehari? Faktanya, micin sebenarnya enggak bikin bego, enggak bikin otak korslet, enggak bikin ini dan itu yang bikin seseorang jadi anggota Generasi Micin. Efek micin buat tubuh kita sebenarnya enggak masalah, asal jangan lebih dari 6 gram per hari. Menurut WHO, yang aku kepo dari artikel di hipwee.com, rata-rata orang Indonesia pake micin setiap hari cuma 0,65 gram. Masih aman dari batas mak...

RUMAH BARU

Rencananya, blog pertama di 2018 ada di rumah baru. Sejak memantapkan hati bilang I'm Blogger , enggak ragu lagi buat bikin rumah baru. Sebelumnya ada keinginan tapi masih ragu. Kalo nanti enggak dimanfaatkan dan justru ditinggalkan, sayang banget. Harus belajar mengelola rumah dulu pake yang enggak bayar sewa a.k.a gratisan. Sekarang aku merasa bisa mengurus rumah yang lebih bagus. Tentunya bukan yang gratisan. Sayangnya karena satu dan lain hal, rencana bikin rumah baru masih dalam bentuk rencana. Rumah tanpa embel-embel 'blogspot' terasa lebih menjual 'kan? Terasa lebih berkelas. Kalo suatu hari ada pihak yang pengen berbisnis di rumah ini, bisa langsung yes karena rumah yang bakal dijadikan sasaran bisnis udah siap. Pengurusan rumah baru enggak ribet sebenarnya. Harga juga bervariasi. Ada yang Rp 100 ribu sekian buat setahun. Ada juga yang menyentuh angka jutaan. Semakin mahal, semakin bagus. Bukan rumah ecek-eceklah. Rumah yang diperhitungkan. Sekaran...