Langsung ke konten utama

Postingan

NILAI

Aku masih ingat waktu SD dapat uang saku study tour Rp100 ribu rasanya banyak sekali. Buat bocah usia 11 tahun waktu itu, Rp100 ribu memang banyak. Lebih dari cukup buat jajan selama study tour. Aku juga masih ingat waktu SMA, uang sakuku seminggu Rp50 ribuan. Aku hitung berdasarkan pengeluaran tiap harinya. Satu kali makan Rp2000-Rp3000 dapat seporsi nasi, sayur bening, dan tempe goreng. Free air putih. Sekarang satu kali makan Rp2000 bisa nggak sih? Bisa. Nasi kucing di angkringan. Itu pun kalo harganya Rp2000. Apa kenyang makan satu bungkus nasi kucing? Waktu aku SMA, seporsi Rp2000 kenyang. Porsi standar pakai piring pada umumnya. Nilai uang memang berubah. Sekarang Rp2000 bisa buat makan tapi nelangsa. Paling nggak tiga bungkus nasi kucing biar kenyang. Ingin sekali Rp100 ribu buat seminggu. Bisa nggak sih in this era, in this economy ? Bisa. Atur-atur aja tapi mode survival kali ya. Nasi, masak sendiri. Sayur cukup dua porsi tanpa tambahan gorengan dan sejenisnya. Mungkin sekit...
Postingan terbaru

KENANGAN YANG SAMA

Ada banyak yang berubah tapi kenangannya tetap sama. Bertahun-tahun terlewati, aku seperti melihat rangkaian cerita yang baru terjadi kemarin. Semuanya masih sama dalam sebuah kotak bernama kenangan. Aku bertumbuh di kota kecil ini. Kebumen. Kota yang terkenal dengan Bahasa Ngapak, lanthing, dan sate ambal. Ada Tugu Lawet yang ikonik sampai... entah apalagi. Miris ya? Aku bahkan nggak benar-benar mengenal kotaku sendiri. Kota, tempat aku dibesarkan, bertumbuh, menjadi dewasa. Nggak apa-apa. Aku hanya nggak mengenal lebih jauh. Bukan sempurna asing. Ah, pembelaan saja kamu. Ya, memang! Aku cinta dengan kotaku. Mungkin nanti aku akan mencari tahu lebih banyak lagi. Sekarang biarkan aku bercerita apa pun yang melintas di kepala. Tentang kotaku dan sekotak kenangannya. Aku bisa melalui hari dengan hanya berkeliling ke sana dan ke sini menggunakan motor matic-ku. Nggak ada tujuan spesifik singgah di tempat tertentu. Aku hanya sekedar lewat, mengingat kembali waktu bertahun-tahun lalu, dan m...

RUMAH BARU

Nyaman sih di rumah yang lama tapi karena aturannya harus pindah maka kami pun berbesar hati meninggalkan banyak sekali cerita. Mencoba membuka lagi memori. Awal 2023 adalah chapter pertama aku dan teman-teman Radio Widoro pindah studio ke Teras Malioboro 2 Jl. Mataram. Sebelumnya kami bersiaran di Kompleks Parkir Abu Bakar Ali. Sekitar dua atau tiga tahun kami mengudara di sini dengan nano-nano rasanya. Ada manis, asem, juga asin. Parkir di lantai tiga. Naik-turun tangga. Bayar 3K, khusus weekend dan masa liburan jadi 5K. Riuhnya Parkir Abu Ali terutama weekend. Bahkan sholat maghrib pun harus antri karena saking penuhnya. Aku mengalami sakit di kaki, you knowlah ~ juga saat siaran di sini. Bayangin naik tangga menuju lantai tiga dengan kondisi kaki sakit. Kalo bukan karena passion mungkin aku nggak semenyala itu. Pindahlah kami ke studio baru. Lebih nyaman, lebih luas. Bahkan terluas di antara studio siaran yang pernah kami tempati. Bagiku, studio di Teras Malioboro 2 sisi timur i...

DI BELAKANG (ADA) ANGKA DUA

Bisa dibilang aku mampir ke sini cuma di momen seperti hari ini. 16 Agustus. Ada momen spesial apa sih di 16 Agustus? Kata Sal Priadi, "...serta mulia, panjang umurnya." Hari lahir. Tahun ini aku melewati hari lahir ke-32. Wow! Ti-ga pu-luh du-a. Sama-sama di belakang ada angka dua tapi beda rasanya ya waktu hari lahir ke-22 dan hari ini. Waktu 22 tahun aku nggak merasa ada tekanan. Kayak berlalu gitu aja. Aku ingat hari lahir ke-22-ku terjadi setahun setelah KKN di Kulonprogo. Pengingatnya adalah waktu KKN aku pernah ditanya ulang tahun ke berapa. Aku jawab, "Bioskop." Twenty one alias 21. Apakah hari lahir kali ini aku merasa tertekan? Ada rasa yang membuatku khawatir tapi let it flow aja. Nggak mau jadi overthinking . Apa yang terjadi nantinya ya dihadapi dengan riang gembira lengkap dengan gedebak-gedebuk nya. Masa ulang tahun nggak ada apa-apa? Nggak mengharapkan juga sih. Nggak mengharuskan juga tapi kalo ada ya aku nikmati dan berterima kasih. Kode banget ni...

TEMAN DAN KENANGAN

Namanya juga pertemuan pasti akan ada perpisahan. Klise banget nggak sih? Ya iya emang begitu. Kayak lagunya JKT48, "Harta yang penting baru terlihat setelah ia pergi menghilang." Perpisahan kali ini nggak yang sedalam itu tapi aku merasa ada sisi kehilangannya juga. Teman-temanku yang dengar ini mungkin akan bilang cieee... cieee... tapi wajar sih ada rasa kehilangan karena bagaimana pun juga kami pernah melewati cerita bersama. Bukan, bukan cerita cinta. Ini adalah cerita tentang pertemanan yang mungkin nggak sespesial Indomie Goreng pakai telur di Warmindo. Kurang lebih hampir setahun kami bersiaran di tempat yang sama. Partner siaran walau cuma dua-tiga kali kami siaran bareng. Itu pun karena training. Bukan memandu program bersama. Sekarang tahu-tahu bilang 'sampai ketemu lagi'. Ini pilihan yang diambil. Aku masih tetap di sini dengan kenangan-kenangan tentangnya. Aku tahu nantinya momen berpisah ini juga akan aku rasakan dengan yang lainnya. Entah aku yang mengu...

WAKTU DAN PERJALANAN

Waktu terus berjalan. Nggak melambat atau bertambah cepat. Waktu terus berputar dan semakin jauh perjalanan yang kita lakukan. Tanpa sadar sudah berada di tahun sekian. Seolah waktu berjalan dengan begitu cepatnya. Mengingat kembali perjalanan yang lalu-lalu membuatku merasa nano-nano . Bukan karena bersedih tapi ada rasa kangen di tahun-tahun itu. Dulu dan sekarang nggak akan sama. Masing-masing punya cerita. Bagiku dulu ya dulu dengan segudang ceritanya. Sekarang ya sekarang lengkap dengan ceritanya juga. Aku nggak merasa masa ini lebih baik dibanding masa yang lain. Semua perjalanan waktu ada indah-indahnya untuk diceritakan lagi hari ini. Tahun ini aku akan... yah... pasti ada perubahan. Pasti ada cerita. Semoga be nice to me . Aku ingin cerita yang baik-baik. Semoga tetap didekatkan dengan kebaikan. Ada satu hal yang aku... entah khawatir atau apa tentang waktu yang terus berjalan maju. Perubahan. Nggak semua perubahan aku mengkhawatirkannya. Hanya saja... Apa aku siap dengan peru...

MENJADI KEPOMPONG

Nggak melihat dunia luar sekian hari. Nggak bersentuhan dengan gadget. Aku merasakannya dengan sabar iya. Ada nggak sabar-sabarnya juga tapi dikuat-kuatkan hati. Kalo cuma nggak sabar mungkin malah jadi makin lama proses yang aku jalani. Berasa kayak kepompong. Ulat menjadi kepompong untuk bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Aku menjadi "kempompong" untuk apa? Untuk jadi orang yang lebih baik lagi. Menjadi versi terbaik diriku yang aku bisa. Klise ya? Nggak. Semua ini dimulai suatu siang, sehari sebelum Lebaran. Beberapa hari sebelumnya aku udah merasa not feeling well. Buat makan bahkan minum ada rasa pahit-pahitnya. Tipis tapi aku tahu sedang nggak baik-baik saja. Siang itu aku ngerasa lemaaas... banget. Benar-benar beda banget kondisi badannya. Perpaduan demam sepertinya. Aku merasa pusing tapi bukan sakit kepala yang bikin nyut-nyutan, rasanya enek gimana, sangat-sangat nggak enak. Aku masih tetap puasa waktu itu. Nggak ada niatan ngebatalin. Sekitar jam 2 siang aku masih...