Kemarin aku lihat adikku beli emas, mungkin sekitar 1 gram. Investasi. Bukan hal yang besar tapi bisa bikin bangga. Aku pun ikut senang. Selamat! Nggak mudah loh 'menyisihkan' gaji buat investasi. Semoga semakin bertambah investasi emasnya ya, Ham. Mungkin adik bungsuku juga melakukan hal yang sama. Selamat! Aku cukup mengucapkan selamat dan mendoakan yang terbaik. Apa kamu nggak termotivasi karenanya? Tentu. Aku juga pengen punya investasi. Hidup bukan hanya untuk hari ini. 'Cuma'... aku sekarang masih belum melakukan langkah pertama. Keinginan dan motivasi itu masih melayang di awang-awang. Jujur... aku merasa tertampar dengan kenyataan ini, tapi... Apa? Kamu masih denial ya? Iya sih. Jujur. Yah... it's ok nggak apa-apa (kata-katanya Pricill banget neh ). Seiring berjalannya waktu aku yakin akan datang masanya. Masa untukku jaya... jaya... jaya... Masa untukku bisa membanggakan Mamah, Hamdy, dan Aya. Sejauh ini aku nggak merasakan dibanding-bandingkan. Mungkin mu...
Aku masih ingat waktu SD dapat uang saku study tour Rp100 ribu rasanya banyak sekali. Buat bocah usia 11 tahun waktu itu, Rp100 ribu memang banyak. Lebih dari cukup buat jajan selama study tour. Aku juga masih ingat waktu SMA, uang sakuku seminggu Rp50 ribuan. Aku hitung berdasarkan pengeluaran tiap harinya. Satu kali makan Rp2000-Rp3000 dapat seporsi nasi, sayur bening, dan tempe goreng. Free air putih. Sekarang satu kali makan Rp2000 bisa nggak sih? Bisa. Nasi kucing di angkringan. Itu pun kalo harganya Rp2000. Apa kenyang makan satu bungkus nasi kucing? Waktu aku SMA, seporsi Rp2000 kenyang. Porsi standar pakai piring pada umumnya. Nilai uang memang berubah. Sekarang Rp2000 bisa buat makan tapi nelangsa. Paling nggak tiga bungkus nasi kucing biar kenyang. Ingin sekali Rp100 ribu buat seminggu. Bisa nggak sih in this era, in this economy ? Bisa. Atur-atur aja tapi mode survival kali ya. Nasi, masak sendiri. Sayur cukup dua porsi tanpa tambahan gorengan dan sejenisnya. Mungkin sekit...