Langsung ke konten utama

KENANGAN YANG SAMA

Ada banyak yang berubah tapi kenangannya tetap sama. Bertahun-tahun terlewati, aku seperti melihat rangkaian cerita yang baru terjadi kemarin. Semuanya masih sama dalam sebuah kotak bernama kenangan. Aku bertumbuh di kota kecil ini. Kebumen. Kota yang terkenal dengan Bahasa Ngapak, lanthing, dan sate ambal. Ada Tugu Lawet yang ikonik sampai... entah apalagi. Miris ya? Aku bahkan nggak benar-benar mengenal kotaku sendiri. Kota, tempat aku dibesarkan, bertumbuh, menjadi dewasa.

Nggak apa-apa. Aku hanya nggak mengenal lebih jauh. Bukan sempurna asing. Ah, pembelaan saja kamu. Ya, memang! Aku cinta dengan kotaku. Mungkin nanti aku akan mencari tahu lebih banyak lagi. Sekarang biarkan aku bercerita apa pun yang melintas di kepala. Tentang kotaku dan sekotak kenangannya.

Aku bisa melalui hari dengan hanya berkeliling ke sana dan ke sini menggunakan motor matic-ku. Nggak ada tujuan spesifik singgah di tempat tertentu. Aku hanya sekedar lewat, mengingat kembali waktu bertahun-tahun lalu, dan mendapatkan pemandangan baru saat tempat yang dulu telah berubah. Ada rasa rindu dengan suasana waktu itu. Aku yang masih 'anak kecil'. Aku dengan duniaku yang tentu saja memiliki kompleksnya sendiri. Kita dengan 'dunia' saat ini pasti memiliki jatuh-bangunnya juga, 'kan?

Kembali? Tentu saja nggak. Aku nggak ingin kembali ke waktu itu dengan membawa ingatan yang sekarang. Memang mustahil untuk memutar waktu ke belakang. Kita hanya bisa menontonnya seperti layar bioskop yang menayangkan sebuah film.

Sekian banyak kenangan dan kali ini aku tertuju pada masa SMA. Aku masih ingat sekali jalan menuju ke sana. Mas Becak yang menunggu kedatangan para murid di sekolahku. Rp2000 sekali jalan. Sebagian memilih jalan kaki dan yang lainnya menitipkan sepeda di rumah penitipan. Rp35 ribu/bulan. Aku salah satunya yang mengekostkan sepedaku. Aku merasa tambahan Rp4000 untuk berangkat-pulang nggak lebih baik. Rumah penitipan ini sudah berganti. Terakhir aku mengingatnya adalah bengkel. Mungkin karena nggak ada lagi yang menginapkan sepedanya. Mungkin juga becak yang menunggu di ujung jembatan kecil itu sudah lama hanya menjadi kenangan. Apa kabar mereka sekarang ya?(*)


Kebumen, 10 Februari 2026

...saat pulkam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PANGGILAN

Setiap keluarga pasti punya nama panggilan buat anggota keluarganya. Anak pertama dipanggil 'kakak'. Anak kedua dipanggil 'adik'. Anak ketiga dipanggil 'dedek'. Ada juga anak pertama laki-laki dipanggil 'mas'. Anak kedua laki-laki dipanggil 'kakak'. Anak terakhir dipanggil 'adik'. Panggilan ini enggak cuma berlaku buat adik ke kakaknya, tapi juga ayah dan ibu memanggil dengan panggilan ini. Ada juga yang dipanggil Guguk. Panggilan kesayangan buat anjing kesayangan. Ayah dan ibu untuk setiap keluarga juga punya panggilan yang berbeda. Ada yang memanggil 'abah', 'papa', 'bapak', 'abi', 'dad', 'rama'. Ada juga 'ummi', 'mama', 'bunda', 'mom', 'biyung'. Aku memanggil ayah dan ibuku dengan panggilan kesayangan 'bapak' dan 'mamah'. Buat rata-rata keluarga di komplek desaku, panggilan 'bapak' dan 'mamah' jarang banget, teruta...

KOBATO

Baru beberapa hari nyelesein nonton semua episode Kobato, anime karya Clamp. Anime yang diproduksi 2009 ini baru aku tonton sekarang, 2014.  Aku emang suka anime, tapi kalo nonton anime update, aku jarang. Biasanya anime yang aku tonton produksi lama. Mulai dari Sailor Moon,  Wedding Peach, Card Captor Sakura, hingga Kobato. Anime-anime itu punya kenangan bareng masa kecilku, kecuali Kobato yang baru aku tahu  sekitar 2011 atau 2012, agak lupa. Pertama kali tahu anime ini dari majalah Animonster (sekarang Animonstar). Waktu itu Kobato yang jadi cover- nya. Itu pun bukan majalah baru, tapi bekas.  Aku beli di lapak sebelah rel kereta di Timoho. Harganya kalau nggak salah Rp 8.500 (padahal harga aslinya Rp 30.000-an :P). Aku tertarik beli  karena cover-nya. Waktu itu sih aku belum tahu Kobato. Suka anime, tertarik dengan Kobato yang jadi cover, aku beli deh majalah itu. Kalau nggak  salah majalahnya edisi 2010. Nah, aku bisa punya seluruh episode Kobato...

RUMAH BARU

Nyaman sih di rumah yang lama tapi karena aturannya harus pindah maka kami pun berbesar hati meninggalkan banyak sekali cerita. Mencoba membuka lagi memori. Awal 2023 adalah chapter pertama aku dan teman-teman Radio Widoro pindah studio ke Teras Malioboro 2 Jl. Mataram. Sebelumnya kami bersiaran di Kompleks Parkir Abu Bakar Ali. Sekitar dua atau tiga tahun kami mengudara di sini dengan nano-nano rasanya. Ada manis, asem, juga asin. Parkir di lantai tiga. Naik-turun tangga. Bayar 3K, khusus weekend dan masa liburan jadi 5K. Riuhnya Parkir Abu Ali terutama weekend. Bahkan sholat maghrib pun harus antri karena saking penuhnya. Aku mengalami sakit di kaki, you knowlah ~ juga saat siaran di sini. Bayangin naik tangga menuju lantai tiga dengan kondisi kaki sakit. Kalo bukan karena passion mungkin aku nggak semenyala itu. Pindahlah kami ke studio baru. Lebih nyaman, lebih luas. Bahkan terluas di antara studio siaran yang pernah kami tempati. Bagiku, studio di Teras Malioboro 2 sisi timur i...