Aku masih ingat waktu SD dapat uang saku study tour Rp100 ribu rasanya banyak sekali. Buat bocah usia 11 tahun waktu itu, Rp100 ribu memang banyak. Lebih dari cukup buat jajan selama study tour. Aku juga masih ingat waktu SMA, uang sakuku seminggu Rp50 ribuan. Aku hitung berdasarkan pengeluaran tiap harinya. Satu kali makan Rp2000-Rp3000 dapat seporsi nasi, sayur bening, dan tempe goreng. Free air putih. Sekarang satu kali makan Rp2000 bisa nggak sih? Bisa. Nasi kucing di angkringan. Itu pun kalo harganya Rp2000. Apa kenyang makan satu bungkus nasi kucing?
Waktu aku SMA, seporsi Rp2000 kenyang. Porsi standar pakai piring pada umumnya. Nilai uang memang berubah. Sekarang Rp2000 bisa buat makan tapi nelangsa. Paling nggak tiga bungkus nasi kucing biar kenyang. Ingin sekali Rp100 ribu buat seminggu. Bisa nggak sih in this era, in this economy? Bisa. Atur-atur aja tapi mode survival kali ya. Nasi, masak sendiri. Sayur cukup dua porsi tanpa tambahan gorengan dan sejenisnya. Mungkin sekitar Rp7-8 ribu. Yakin mau makan kayak gini? Kenapa nggak?
Kalo nggak masak nasi sendiri, jangan harap bisa satu kali makan di bawah Rp10 ribu deh. Bisa kok. Bisa. Tergantung mindset. Makan seporsi nasi dengan oseng-oseng cukup, 'kan? Nggak perlulah goreng-gorengan. Aku nggak merokok. Nggak jajan di kafe. Nggak ngopi di coffee shop. Nah! Bisa, 'kan? Harusnya sih gitu. Nyatanya sekali makan biasanya aku ngabisin Rp15-20 ribu. Masak nasi sendiri lebih hemat. Nggak pun bisa asal nggak ada tambahan gorengan dan teman-temannya itu. Bisa nggak?
Aku kadang heran kenapa rasanya boros sekali ya? Padahal nggak bla bla bla. Cukup makan dua kali sehari. Btw sarapan itu penting tapi bagiku rasanya kena tanggung alias kentang sekali. Apalagi kalo nggak ada kegiatan pagi. Abis sarapan malah ngantuk. Kalo ada kegiatan pagi sih nggak gitu ya. Seenggaknya kalo ngantuk pun nggak bakal tidur karena ada kegiatan.
Aku pernah mencatat pengeluaran hari-hari. Apapun uang yang aku gunakan, aku catat. Terus? Nggak ada efek jadi lebih hemat, so far. Bisa menelusuri jejak, iya, tapi apakah bisa menjadikannya hemat? Nggak. Kecuali kalo berdasarkan catatan pengeluaran, aku berstrategi, atur-atur-atur, biar nggak perlu ngeluarin duit buat ini dan itu. Sayangnya aku hanya sebatas menelusuri jejaknya. Pantesan aku merasa boros sekali. Nggak, aku nggak bertanya-tanya untuk apa saja uang yang aku gunakan tapi justru aku mempertanyakan nilai rupiah sekarang sangat berbeda sekali ya? Iya sih bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban karena... ya memang nilai rupiah berubah.
Jogja, 20 Maret 2026
...malam takbiran.
Komentar
Posting Komentar