Langsung ke konten utama

Postingan

ORANG-ORANG DARI WAKTU YANG BERBEDA

Ada di tempat yang sama bertahun-tahun, pasti ngerasain banget perubahan orang-orangnya. Awalnya kenal si A sampai akhirnya bertahan di tempat yang sama bareng si D. Pertama kali aku siaran di Rakosa FM, orang-orang yang aku kenal jelas berbeda dibanding di masa sekarang. Masih ada yang sama, tapi banyak yang berubah dan berganti. Hari-hari awal aku siaran di Rakosa FM, ada Mas Sunu yang jadi mentorku. Mas Sunu yang bikin bingung antara bercanda dan serius. Lebih banyak memecah tawa sih. Mas Sunu bukan tipe mentor yang galak. Mungkin karena sebelumnya aku udah pernah siaran di radio kampus, Rasida FM yang bikin Mas Sunu bisa santai tapi terarah jadi mentor. Aku jadi trainee di Rakosa FM, berapa hari ya? Iya, masih hitungan hari. Mungkin seminggu. Enggak ada sebulan kayaknya. Alhamdulillah cepat kok aku dapat jadwal siaran pertamaku. Rasanya bahagia banget pertama kali dapat jadwal siaran. Momen ini udah berlalu lama banget. 2015. Sampai sekarang aku masih tetap mengingatnya. Selain Mas...

DUNIA YANG KECIL

Kalau mau menutup mata, aku bisa saja merasa damai di dunia kecilku. Tanpa beban, menjalani sesuatu yang aku suka, dan bebas. Pernah ada masanya, aku pengen cepat pulang. Pergi sebentar dari duniaku yang lain dan kembali ke rumah. Momen yang sangat menyenangkan. Bahkan untuk kembali ke duniaku yang lain itu rasanya berat sekali. Kangen juga sama masa-masa ini. Benar-benar sebahagia itu bisa pulang ke rumah dan enggak pengen pergi cepat-cepat. Dulu, saat tanggung jawab belum seperti sekarang. Bukan berarti sekarang lebih berat, tapi buatku setiap tanggung jawab di masa apapun, punya porsinya sendiri. Aku enggak bisa bilang tanggung jawab dulu lebih ringan dan tanggung jawab sekarang lebih berat. Sama-sama dinikmatilah. Sekarang aku lebih menikmati duniaku yang lain. Dunia kecilku. Dunia yang naif bisa dibilang, karena aku di sini merasa semua baik-baik saja. Pasti selalu ada hal baik, tapi enggak semuanya sempurna tanpa cela. Ada pertanyaan-pertanyaan yang membuatku sadar, dunia kecilku...

DIAM DI SUDUT RUANG

Apa kabar laptop merahku? Sejak keluar dari tempat servis, dan belum menyelesaikan masalah sama sekali, aku masih mendiamkan laptop merahku di pojokan. Entah kapan aku akan kembali ke tempat servis. Sebaiknya segera karena semakin lama diabaikan mungkin semakin parah sakitnya. Laptop merahku adalah laptop keduaku. Aku beli mungkin sekitar empat tahun lalu di sentra elektronik terbesar di Jogja. Sebelumnya aku punya notebook hitam. Pertama kali yang aku punya. Menemaniku sejak pertama menjadi mahasiswa. Setelah tiga atau empat tahun, aku melepas notebook hitamku dan menggantinya dengan laptop merah. Waktu tahu harga servis laptop merahku enggak semurah yang aku bayangin, sempat terpikirkan beli laptop baru. Harganya juga sama. Setelah aku cek, ternyata beda. Laptop baru masih lebih mahal. Biaya servis buat laptop merahku enggak sebanyak itu, tapi tetap saja butuh effort lebih. Laptop merahku masih diam di sudut ruang. Tertutup di antara lembaran kertas, map plastik, dan majalah yang bar...

KEINDAHAN DALAM SEBUAH LAYAR

Hidup enggak seindah drama Korea bisa jadi ada benarnya. Kita bisa menikmati keindahan-keindahan yang ditampilkan drama Korea, drama Thailand juga. Coba pikir, mana ada cewek yang enggak tertarik sama CEO ganteng yang diam-diam naksir dia? Diperebutkan dua cowok ideal, satu polisi, satunya lagi CEO. Terlalu indah bukan? Pilihan yang sepertinya jauh dari realita. Bukan berarti enggak ada, tapi realita emang enggak seindah drama Korea. Namanya drama, pasti ada enek-eneknya juga sama plot yang dibikin, tapi drama kehidupan lebih bikin enek lagi. Enggak melulu ngerasain yang enek-enek sih. Ada enaknya juga kok. Namanya juga hidup. Aku tadinya enggak ngikutin drama Korea. Tau yang lagi rame, tapi enggak ngikutin. Nonton drama Korea sejujurnya bikin capek ngikutin alurnya. Genre yang ringan dan manis lebih aku suka. Salah satunya, Strong Girl Do Boong-soon. Oh tidaaak... aku menyebut judul drama Korea. Apakah aku akan menjadi K-Drama Lover? Sepertinya enggak gitu juga. Strong Girl Do Boong-s...

ANGKA DELAPAN

Bulan ini bulan delapan. Angka yang bisa dibilang favoritku. Sesuatu yang menurutku penting, kalo diminta masukin angka, bakal aku masukin angka delapan, salah satunya. Bukannya fanatik sama delapan, apalagi percaya sama mitos yang bikin hoki bla bla bla. Suka angka delapan, karena aku lahir di bulan delapan. Jadi merasa spesial aja angka yang satu ini buatku. Delapan. Filosofinya sambung menyambung menjadi satu~ itulah Indonesia~ eh, maksudnya sambung menyambung tanpa putus. Apa ya istilahnya? Ada kok, tapi aku lupa. Enggak ada hubungannya juga aku suka angka delapan sama filosofi ini, tapi karena maknanya bagus, bolehlah... boleh... boleh... Momen khusus yang berhubungan sama angka delapan, enggak ada mungkin, kecuali pas aku lahir. Eh, tapi disambung-sambungin, siaranku juga berhubungan sama angka delapan. Nomor jalan, angka delapan. Eh, cuma itu doang ternyata setelah aku pikir-pikir. Siaran yang relate sama angka delapan yang lain, di luar nama jalan, apa ya? Tepat hari ini, angka...

ORANG-ORANG BILANG

Katanya ngegame mulu bisa bikin bego. Buat pelajar, nilai bisa turun, enggak konsentrasi belajar. Bisa jadi nilai turun kalo enggak diimbangi. Harus seimbang main game sama belajar. Begitu juga buat pekerja a.k.a yang bukan pelajar lagi. Harus seimbang antara game sama kerjaan. Bisa, kerja jadi berantakan kalo ngegame enggak tau aturan. Pernah aku baca lowongan kerja yang syaratnya enggak main game tertentu. Nah... kalo enggak seimbang emang bisa bikin berantakan. Game bikin bego? Enggak juga. Game juga bisa melatih kerja sama tim. Ada yang bisa diambil positifnya dari main game. Bisa melatih menerima kekalahan dengan hati yang lapang. Melatih mengatur strategi. Enggak bikin bego juga. Kalo ngegame mulu sih, bukannya jadi bego, tapi jadi berantakan, entah itu buat pelajar atau pekerja. Aku kenal game mulai dari... gimbot. Ah, ya! Buat "orang kota", mainnya gameboy, tapi waktu itu aku kenalnya gimbot, versi murahnya gameboy. Permainannya kurang lebih samalah. Ada Tetris, ada p...

RUMAH UNTUK PULANG

Sejak SMA, aku udah ngerasain betapa menyenangkannya pulang. Tiap Sabtu, aku semangat banget. Antusias karena hari itu aku pulang. Aku udah jadi anak kost sejak SMA. Makanya, pulang jadi aktivitas yang menyenangkan. Setelah enam hari enggak merasakan nyamannya rumah, begitu waktunya pulang, bahagianya bukan main. Aku pulang tiap Sabtu. Naik angkot. Masih memakai seragam Pramuka. Aku lupa-lupa ingat gimana perasaanku pas udah sampai rumah. Yang aku ingat betul, perasaan bisa pulang tiap Sabtu. Perasaan yang menyenangkan. Memasuki masa kuliah, pulang jadi sesuatu yang sangat berharga. Enggak kayak waktu SMA, bisa pulang tiap Sabtu. Jadi anak kuliah, lebih jauh dari rumah, Kebumen-Jogja cuma tiga jam sih, membuatku enggak bisa tiap akhir pekan pulang. Merasa capek di jalan, walau sebenarnya aku ingin. Sebelum aku bawa motor sendiri, aku pulang naik bus. Pernah juga naik kereta. Perjalanan pulang naik bus butuh waktu lebih lama karena aku bukan naik bus patas, tapi bus biasa yang ada waktu...