Kemarin aku lihat adikku beli emas, mungkin sekitar 1 gram. Investasi. Bukan hal yang besar tapi bisa bikin bangga. Aku pun ikut senang. Selamat! Nggak mudah loh 'menyisihkan' gaji buat investasi. Semoga semakin bertambah investasi emasnya ya, Ham. Mungkin adik bungsuku juga melakukan hal yang sama. Selamat! Aku cukup mengucapkan selamat dan mendoakan yang terbaik.
Apa kamu nggak termotivasi karenanya? Tentu. Aku juga pengen punya investasi. Hidup bukan hanya untuk hari ini. 'Cuma'... aku sekarang masih belum melakukan langkah pertama. Keinginan dan motivasi itu masih melayang di awang-awang. Jujur... aku merasa tertampar dengan kenyataan ini, tapi... Apa? Kamu masih denial ya? Iya sih. Jujur. Yah... it's ok nggak apa-apa (kata-katanya Pricill banget neh). Seiring berjalannya waktu aku yakin akan datang masanya. Masa untukku jaya... jaya... jaya... Masa untukku bisa membanggakan Mamah, Hamdy, dan Aya.
Sejauh ini aku nggak merasakan dibanding-bandingkan. Mungkin mulai sekarang masa membandingkan itu datang. Hamdy dan Aya dengan pencapaiannya. Pastilah Mamah akan membandingkan. It's ok nggak apa-apa. Niat Mamah baik kok. Cuma belum saatnya aja aku beraksi. Mungkin karena aku terlalu nyaman di zona? Iya. Jadinya tuh buat berkembang dan mengambil satu langkah maju tuh kayak susah banget.
Aduh... tertampar fakta!
Sekarang sepertinya aku udah nggak bisa lagi kasih gift ke Hamdy/Aya. Bukan nggak bisa tapi rasanya udah nggak kayak dulu. Kalo memang waktunya tepat, aku (masih) dengan riang kok kasih gift buat adik-adikku. Buat Mamah juga.
Jogja, 9 Agustus 2026
Komentar
Posting Komentar