Langsung ke konten utama

BERBAUR

Bisa berbaur, bisa gabung dengan orang dari luar kelompok, bisa menyesuaikan diri di mana pun. Merasa bersyukur, sekarang aku bisa berbaur dengan orang yang ada di luar kelompok. Aku memang tipikal yang enggak terlalu menutup diri, walau aku sendiri paling anti menceritakan sesuatu dari diri-sendiri, kecuali sesuatu yang memang aku oke untuk mengatakannya. Bukti yang aku rasakan adalah bisa berbaur dengan teman-teman (ya, mereka adalah temanku) yang secara usia beda denganku. Mereka menganggapku sangat senior karena masa-masaku waktu itu, mereka belum ada di tempatku. Aku enggak mau dianggap terlalu senior, seperti mendewakan atau terlalu menghormati. Ya, sewajarnya saja. Aku juga enggak mau mereka meremehkanku. Siapa yang mau diremehkan, coba?
Sikap berbaur ini perlu enggak buat interaksi sosial? Menurutku perlu. Kita hidup enggak sendiri. Pasti masih ingat ‘kan istilah “manusia adalah makhluk sosial”? Karena kita enggak bisa hidup sendiri, sikap berbaur juga perlu. Sewajarnya saja. Bisa berinteraksi dengan orang-orang di sekeliling, enggak meng-eksklusif-kan diri, bisa menjadi satu dengan lingkungan sekitar. Bayangkan kalau kita enggak bisa berbaur dengan orang-orang sekitar. Bakal jadi seperti apa?
Dijauhi dan akhirnya apapun yang terjadi dengan kita, orang lain enggak akan peduli. Janganlah merasa sombong dengan mengatakan, “Aku enggak butuh mereka. Semua yang aku butuhkan ada di sini.” Siapa yang pertama kali memberikan bantuan saat kita dalam kesulitan? Siapa yang akan kita datangi pertama kali saat ada dalam situasi ini? Orang-orang di sekeliling kita. Mungkin ada yang bilang, “Lapor polisi ‘kan bisa.” Bisa jadi saat dalam situasi terdesak, pikiran kita enggak sampai pada “panggil polisi” tapi “cari bantuan secepatnya”. Orang-orang di sekitar kita jawabannya.
Salah satu rockstar legendaris kita yang eksistensinya masih diperhitungkan sampai sekarang, pernah bilang dalam satu kesempatan wawancara dengan salah satu program talkshow televisi, “Rumah seharusnya didesain enggak pakai pagar yang menjulang tinggi. Justru pagar-pagar itu bisa membahayakan si pemilik rumah. Tetangga enggak akan tau apa yang terjadi di dalamnya kalo terjadi sesuatu yang berbahaya, perampokan misal. Begitu orang jahat masuk, area yang tertutup pagar serba tinggi itu menjadi kekuasaannya.” Apa yang dikatakan rockstar satu ini enggak sama persis dengan yang aku kutip, cuma kurang lebih seperti itu yang dia katakan. Aku juga sepakat.
Rumah-rumah modern sekarang enggak sedikit yang disekat pagar tebal dan tinggi. Pengennya aman dari gangguan, tapi justru bisa jadi boomerang buat diri-sendiri. Sekat itu justru bikin sikap berbaur semakin hilang. Gimana mau berbaur, masing-masing punya area sendiri yang enggak sembarangan orang bisa masuk. Rasanya sungkan kalo masuk ke area rumah yang berpagar tebal dan tinggi tanpa tujuan apapun. Kalo enggak ada pagar, kita datang just say hi dan ngobrol ini-itu enggak akan merasa canggung. Itulah fungsi tetangga, orang-orang di sekitar kita. Bukan cuma “seseorang” yang “menemani” dalam satu lingkungan, tapi juga seseorang yang sudah seharusnya kita ajak bersama dalam satu interaksi, bukan sekedar say hi selintas. Mengenal dan berbaur.
Bagaimana caranya kita bisa berbaur dengan orang lain? Pertama, hilangkan perasaan-perasaan negatif yang datang sebelum kita berbaur dengan orang lain yang berbeda, entah itu usia atau yang lainnya. Aku sendiri pernah berpikir begini, “Nanti kayaknya bakal kaku banget. Pasti suasananya enggak enak. Krik-krik.. bla bla bla..” Aku bahkan sempat kepikiran enggak jadi berbaur karena udah berpikir negatif seperti itu. Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Mengantisipasi boleh saja, tapi terlalu khawatir bisa bikin kita justru menyerah dan membatalkan apa yang akan kita lakukan.
Kedua, cobalah untuk say hi duluan. Enggak usah gengsi. Seenggaknya jangan terlalu kaku saat bersama dengan orang-orang yang berada di luar kita itu. Prinsipnya begini “kita butuh, maka kita yang mendekat”. Say hi sewajarnya juga. Jangan berlebihan, apalagi sampai kita enggak jadi diri-sendiri hanya demi ingin menghindari kekakuan situasi. Ketiga, tetap percaya diri dan jujur dengan diri-sendiri. Maksudnya kalo kita enggak tau, bilang kita enggak tau. Jangan sok tau dan jangan segan bertanya untuk sesuatu yang memang kita belum tau. Jangan cuma diam terus sampai Nobita naik kelas. Apalagi saat berbaur dengan orang-orang baru. Jangan sampai meninggalkan kesan pertama yang jelek, misal dengan terlalu banyak bertanya sesuatu yang sebenarnya enggak perlu ditanyakan. Pertanyaan-pertanyaan pribadi yang bisa jadi enggak sewajarnya ditanyakan kepada orang yang belum kita kenal dekat.
Berbaur bukan berarti kita ikut berubah menjadi sama dengan lingkungan, apapun keadaannya. Sederhananya biar kita bisa berinteraksi baik dengan orang-orang.
Hiduplah seperti ikan di lautan.
Jogja, 12.10.2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PANGGILAN

Setiap keluarga pasti punya nama panggilan buat anggota keluarganya. Anak pertama dipanggil 'kakak'. Anak kedua dipanggil 'adik'. Anak ketiga dipanggil 'dedek'. Ada juga anak pertama laki-laki dipanggil 'mas'. Anak kedua laki-laki dipanggil 'kakak'. Anak terakhir dipanggil 'adik'. Panggilan ini enggak cuma berlaku buat adik ke kakaknya, tapi juga ayah dan ibu memanggil dengan panggilan ini. Ada juga yang dipanggil Guguk. Panggilan kesayangan buat anjing kesayangan. Ayah dan ibu untuk setiap keluarga juga punya panggilan yang berbeda. Ada yang memanggil 'abah', 'papa', 'bapak', 'abi', 'dad', 'rama'. Ada juga 'ummi', 'mama', 'bunda', 'mom', 'biyung'. Aku memanggil ayah dan ibuku dengan panggilan kesayangan 'bapak' dan 'mamah'. Buat rata-rata keluarga di komplek desaku, panggilan 'bapak' dan 'mamah' jarang banget, teruta...

KOBATO

Baru beberapa hari nyelesein nonton semua episode Kobato, anime karya Clamp. Anime yang diproduksi 2009 ini baru aku tonton sekarang, 2014.  Aku emang suka anime, tapi kalo nonton anime update, aku jarang. Biasanya anime yang aku tonton produksi lama. Mulai dari Sailor Moon,  Wedding Peach, Card Captor Sakura, hingga Kobato. Anime-anime itu punya kenangan bareng masa kecilku, kecuali Kobato yang baru aku tahu  sekitar 2011 atau 2012, agak lupa. Pertama kali tahu anime ini dari majalah Animonster (sekarang Animonstar). Waktu itu Kobato yang jadi cover- nya. Itu pun bukan majalah baru, tapi bekas.  Aku beli di lapak sebelah rel kereta di Timoho. Harganya kalau nggak salah Rp 8.500 (padahal harga aslinya Rp 30.000-an :P). Aku tertarik beli  karena cover-nya. Waktu itu sih aku belum tahu Kobato. Suka anime, tertarik dengan Kobato yang jadi cover, aku beli deh majalah itu. Kalau nggak  salah majalahnya edisi 2010. Nah, aku bisa punya seluruh episode Kobato...

DI BELAKANG (ADA) ANGKA DUA

Bisa dibilang aku mampir ke sini cuma di momen seperti hari ini. 16 Agustus. Ada momen spesial apa sih di 16 Agustus? Kata Sal Priadi, "...serta mulia, panjang umurnya." Hari lahir. Tahun ini aku melewati hari lahir ke-32. Wow! Ti-ga pu-luh du-a. Sama-sama di belakang ada angka dua tapi beda rasanya ya waktu hari lahir ke-22 dan hari ini. Waktu 22 tahun aku nggak merasa ada tekanan. Kayak berlalu gitu aja. Aku ingat hari lahir ke-22-ku terjadi setahun setelah KKN di Kulonprogo. Pengingatnya adalah waktu KKN aku pernah ditanya ulang tahun ke berapa. Aku jawab, "Bioskop." Twenty one alias 21. Apakah hari lahir kali ini aku merasa tertekan? Ada rasa yang membuatku khawatir tapi let it flow aja. Nggak mau jadi overthinking . Apa yang terjadi nantinya ya dihadapi dengan riang gembira lengkap dengan gedebak-gedebuk nya. Masa ulang tahun nggak ada apa-apa? Nggak mengharapkan juga sih. Nggak mengharuskan juga tapi kalo ada ya aku nikmati dan berterima kasih. Kode banget ni...