Bisa berbaur, bisa gabung dengan orang dari luar kelompok,
bisa menyesuaikan diri di mana pun. Merasa bersyukur, sekarang aku bisa berbaur
dengan orang yang ada di luar kelompok. Aku memang tipikal yang enggak terlalu
menutup diri, walau aku sendiri paling anti menceritakan sesuatu dari
diri-sendiri, kecuali sesuatu yang memang aku oke untuk mengatakannya. Bukti yang
aku rasakan adalah bisa berbaur dengan teman-teman (ya, mereka adalah temanku)
yang secara usia beda denganku. Mereka menganggapku sangat senior karena
masa-masaku waktu itu, mereka belum ada di tempatku. Aku enggak mau dianggap
terlalu senior, seperti mendewakan atau terlalu menghormati. Ya, sewajarnya
saja. Aku juga enggak mau mereka meremehkanku. Siapa yang mau diremehkan, coba?
Sikap berbaur ini perlu enggak buat interaksi sosial? Menurutku
perlu. Kita hidup enggak sendiri. Pasti masih ingat ‘kan istilah “manusia
adalah makhluk sosial”? Karena kita enggak bisa hidup sendiri, sikap berbaur
juga perlu. Sewajarnya saja. Bisa berinteraksi dengan orang-orang di
sekeliling, enggak meng-eksklusif-kan diri, bisa menjadi satu dengan lingkungan
sekitar. Bayangkan kalau kita enggak bisa berbaur dengan orang-orang sekitar. Bakal
jadi seperti apa?
Dijauhi dan akhirnya apapun yang terjadi dengan kita,
orang lain enggak akan peduli. Janganlah merasa sombong dengan mengatakan, “Aku
enggak butuh mereka. Semua yang aku butuhkan ada di sini.” Siapa yang pertama
kali memberikan bantuan saat kita dalam kesulitan? Siapa yang akan kita datangi
pertama kali saat ada dalam situasi ini? Orang-orang di sekeliling kita. Mungkin
ada yang bilang, “Lapor polisi ‘kan bisa.” Bisa jadi saat dalam situasi
terdesak, pikiran kita enggak sampai pada “panggil polisi” tapi “cari bantuan
secepatnya”. Orang-orang di sekitar kita jawabannya.
Salah satu rockstar legendaris kita yang eksistensinya
masih diperhitungkan sampai sekarang, pernah bilang dalam satu kesempatan
wawancara dengan salah satu program talkshow televisi, “Rumah seharusnya
didesain enggak pakai pagar yang menjulang tinggi. Justru pagar-pagar itu bisa
membahayakan si pemilik rumah. Tetangga enggak akan tau apa yang terjadi di
dalamnya kalo terjadi sesuatu yang berbahaya, perampokan misal. Begitu orang
jahat masuk, area yang tertutup pagar serba tinggi itu menjadi kekuasaannya.”
Apa yang dikatakan rockstar satu ini enggak sama persis dengan yang aku kutip, cuma
kurang lebih seperti itu yang dia katakan. Aku juga sepakat.
Rumah-rumah modern sekarang enggak sedikit yang disekat
pagar tebal dan tinggi. Pengennya aman dari gangguan, tapi justru bisa jadi
boomerang buat diri-sendiri. Sekat itu justru bikin sikap berbaur semakin
hilang. Gimana mau berbaur, masing-masing punya area sendiri yang enggak
sembarangan orang bisa masuk. Rasanya sungkan kalo masuk ke area rumah yang
berpagar tebal dan tinggi tanpa tujuan apapun. Kalo enggak ada pagar, kita
datang just say hi dan ngobrol ini-itu enggak akan merasa canggung. Itulah fungsi
tetangga, orang-orang di sekitar kita. Bukan cuma “seseorang” yang “menemani”
dalam satu lingkungan, tapi juga seseorang yang sudah seharusnya kita ajak
bersama dalam satu interaksi, bukan sekedar say hi selintas. Mengenal dan berbaur.
Bagaimana caranya kita bisa berbaur dengan orang lain? Pertama,
hilangkan perasaan-perasaan negatif yang datang sebelum kita berbaur dengan
orang lain yang berbeda, entah itu usia atau yang lainnya. Aku sendiri pernah
berpikir begini, “Nanti kayaknya bakal kaku banget. Pasti suasananya enggak
enak. Krik-krik.. bla bla bla..” Aku bahkan sempat kepikiran enggak jadi
berbaur karena udah berpikir negatif seperti itu. Jangan mengkhawatirkan
sesuatu yang belum terjadi. Mengantisipasi boleh saja, tapi terlalu khawatir
bisa bikin kita justru menyerah dan membatalkan apa yang akan kita
lakukan.
Kedua, cobalah untuk say hi duluan. Enggak usah gengsi. Seenggaknya
jangan terlalu kaku saat bersama dengan orang-orang yang berada di luar kita
itu. Prinsipnya begini “kita butuh, maka kita yang mendekat”. Say hi sewajarnya
juga. Jangan berlebihan, apalagi sampai kita enggak jadi diri-sendiri hanya
demi ingin menghindari kekakuan situasi. Ketiga, tetap percaya diri dan jujur
dengan diri-sendiri. Maksudnya kalo kita enggak tau, bilang kita enggak tau. Jangan
sok tau dan jangan segan bertanya untuk sesuatu yang memang kita belum tau. Jangan
cuma diam terus sampai Nobita naik kelas. Apalagi saat berbaur dengan orang-orang baru. Jangan sampai
meninggalkan kesan pertama yang jelek, misal dengan terlalu banyak bertanya
sesuatu yang sebenarnya enggak perlu ditanyakan. Pertanyaan-pertanyaan pribadi yang bisa jadi enggak sewajarnya ditanyakan kepada orang yang belum kita kenal dekat.
Berbaur bukan berarti kita ikut berubah menjadi sama
dengan lingkungan, apapun keadaannya. Sederhananya biar kita bisa berinteraksi baik dengan orang-orang.
Hiduplah seperti ikan di lautan.
Jogja, 12.10.2017
Komentar
Posting Komentar