Langsung ke konten utama

Postingan

2017: BE NICE TO ME

Rasanya biasa aja tuh 2017. Malam pergantian tahun juga enggak ke mana-mana. Males juga. Macet di jalan, Bro. Pagi pertama di 2017, ya kayak pagi sebelum-sebelumnya. Siaran, tetep siaran. Kuliah, hmm.. skripsi, juga (akan) jalan. Apalagi ya? Nge-gym, jalan juga. Pola hidup sehat, masih tetep. Terus apa yang baru? Apa yang beda? Nambah tahun justru bikin takut. 2016 kemarin benar-benar ada di zona nyaman. Tahun ini saatnya mengakhiri zona nyaman dan berjuang. Sempat kepikiran juga enggak pengen waktu berganti karena pengen menikmati zona nyaman ini lebih lama. Oke, karena enggak mau jadi orang yang merugi, 2017 ini ada yang baru kok. Ada... tapi enggak disadari. Pokoknya ada. Sama kayak yang lain, 2017 ini juga pengen lebih baik. Semuanya. Be nice to me ! Lancar semuanya, oke semua, baik semua. Skripsi selesai 2017, peluang-peluang baru berdatangan, dan banyak kejutan baik yang nunggu di 2017. Selain skripsi yang jadi prioritas (semangat!) di 2017, siapa tau tahun ini bakal nikah?...

HATI-HATI BERKATA-KATA

Awas loh, bisa-bisa jatuh karena enggak hati-hati. Kayak gini tuh memang perlu banget diterapin dalam berbagai hal. Menjaga bukannya lebih baik? Berhati-hati artinya menjaga. Satu yang perlu diingat adalah hati-hati dengan setiap kata yang sudah keluar dari mulut. Sekali keluar, enggak bisa ditangkap lagi. Perlu ada filter diri-sendiri sebelum berkata-kata. Apapun dan di mana pun. Enggak sedikit yang begitu bebasnya berkata di sosial media dengan alasan kebebasan berpendapat. Baiklah memang boleh bebas berpendapat, bebas berkata, tapi kata-katanya harus bisa dipertanggungjawabkan. Siap? Seorang teman pernah bilang, apapun kata-kata yang keluar dari mulut kita, harus siap resikonya. Mau komentar apapun silakan, asal siap dengan konsekuensinya. Kata-kata yang baik pasti akan ngasih efek yang sama baik. Begitu juga sebaliknya. Buat yang suka asal berkata (nyinyir dsb, dkk), salah satunya lewat sosial media, sebaiknya memang belajar mengendalikan setiap kata-kata. Jangan samp...

SATU TITIK

Apa jadinya ya kalau manusia enggak punya nafsu? Hmm.. Berarti enggak punya keinginan, mati rasa, hambar. Apa masih bisa dibilang hidup? Membayangkan hidup tanpa keinginan, tanpa rasa, uhh.. susah. Manusia memang diciptakan dengan sesuatu bernama nafsu. Nafsu. Keinginan? Hasrat? Mendengar kata ‘nafsu’ pasti sebagian besar berpikir tentang seks, padahal nafsu enggak cuma sebatas keinginan seks. Ada nafsu makan, nafsu harta, nafsu.. apalagi ya? Nafsu makan paling familiar. Kelemahan manusia adalah nafsu. Inilah yang dimanfaatkan iblis untuk menyesatkan manusia. Kalau manusia enggak punya nafsu, enggak punya hasrat apapun. Nafsu memang bisa jadi boomerang buat manusia. Nafsu juga bisa menguasai manusia, tanpa kendali. Pernah mendengar istilah ‘orang nafsu-an’? Merekalah yang benar-benar sudah dikuasai nafsu. Gimana caranya kita menguasai nafsu, bukan nafsu yang menguasai kita? Jangan lupakan akal sehat. Selalu ingat Tuhan. Jelas ini menjadi solusi mengatasi nafsu yang mel...

SESUATU 'DI SINI'

Hai Mahasiswa! ‘Masih’ menjadi mahasiswa? Ooh.. mahasiswa pascasarjana? Apa? ‘Masih’ mahasiswa strata satu? Enggak terasa sudah masuk tahun ke-6 sebagai mahasiswa yang dimulai 2011. Telat lulus, iya. Nyesek juga sama kenyataan ini, tapi ini fakta Bro . Enggak bisa nolak. Kenapa belum lulus dan belum jadi sarjana? Banyak mengulang kelas ya? Sering bolos? Bukan! Atau aktivis ya? Biasanya aktivis ‘kan paling betah jadi mahasiswa. It’s absolutely not ! Terus, apa? Belum lulus karena belum mau lulus. Bukan takut menjalani kehidupan setelah melepas status mahasiswa (yakin deh pasti enggak sedikit yang merasa ‘takut’ begini ‘kan?), tapi karena kurang motivasi diri. Ah, bilang saja M-A-L-A-S. Kasarnya begitu sih. Kalau enggak malas, ngapain menunda-nunda? Mau sampai kapan? Skripsi itu gampang loh. Enggak seberat tesis apalagi disertasi. Gampang tapi jangan cuma dipikir. Aksi! Action ! Lakukan! Jadi, ceritera -nya lagi galau skripsi? Kok klasik? Galau skripsi, bisa jadi, ta...

INISIATIF

#Day_16 Mem ulai duluan itu jarang ada yang mau. Kebanyakan nunggu yang lain dulu baru memulai. Yah.. hanya sekedar ikut-ikutan, enggak berinisiatif duluan. Hmm.. e nggak bisa digeneralisir juga, karena masih ada kok orang yang selalu punya inisiatif . Ada juga tipikal yang seharusnya inisiatif tapi lagi-lagi enggak mau memulai dulu, tapi pakai ‘pancingan’ biar ada orang lain yang memulai, barulah tipe ini akan menunjukkan ke-inisiatif-annya. Biar orang-orang enggak melihatnya sebagai yang pertama, karena kadang jadi yang pertama itu justru dihindari. Pertama bertanya, pertama datang saat janjian, pertama masuk kelas dan memilih bangku di depan dll, dll. Pertama bertanya saat ada diskusi kelas, jarang banget ada yang serentak jadi yang pertama dan membingungkan si penerima pertanyaan karena harus memilih satu diantara yang banyak. Pertanyaan pertama keluar biasanya setelah orang-orang mulai berbisik-bisik, bilang ‘kamu dulu-kamu dulu’ yang akhirnya bikin greget . ...

PRIORITAS

#Day_15   Mana yang akan didahulukan? Sesuatu yang lebih penting, jelas. Kadang ada juga lebih menomorsatukan yang sebenarnya enggak penting. Penting dan enggak penting versi siapa? Diri-sendiri atau orang lain? Pakai logika dan hati biar lebih ‘ngeh’ penting dan enggak penting versi siapa. Versi gue? Versi teman-teman gue?   Pilihan selalu ada, enggak cuma di lembar soal ujian. Pilihan itu kadang… rasanya sulit. Harus pilih yang mana? Lebih sulit lagi kalau pilihan-pilihan itu enggak ada yang dihilangkan, tapi harus dilakukan berdasarkan tingkat kepentinngannya, mana yang pertama, kedua, ketiga… Antara prioritas dan keinginan memang berdampingan. Jelas-jelas paham mana yang pertama, tapi karena enggak sesuai keinginan akhirnya memilih yang seharusnya bisa dilakukan nanti. Beberapa hal memang bisa membuat kita terlena dan mengaburkan antara prioritas dan keinginan. Enggak ada salahnya menahan dulu keinginan dan menunaikan prioritas, daripada memilih pilihan ...