Langsung ke konten utama

Postingan

NABUNG

Nabung di bank apa nabung di celengan ayam? Masih bingung. Katanya, orang modern kalau nabung di bank. Keuntungan nabung di bank apa? Sebenarnya hanya beda media penyimpanan. Nabung di bank tentu lebih "aman" dibanding nabung di celengan ayam. Selama bank tempat kita nabung "baik-baik" saja, tabungan kita juga bakalan baik. Kalau suatu saat terjadi hal urgent, misal bencana alam atau musibah, uang yang kita simpan di bank tetap aman karena nggak ikut jadi "korban". Ya, inilah keuntungan nabung di bank. Selain itu apa lagi? Entah. Aku bukan ahli perbankan. Aku hanya orang awam yang pengen punya tabungan. Rasanya sayang banget kalau nggak ada simpanan sama sekali. Seenggaknya berpikir untuk ke depannya, nggak cuma menikmati apa yang ada saat ini. Pilihanku BNI, tapi.. entah kenapa aku masih ragu. Aku sudah berencana membuat rekening BNI. Surat keterangan mahasiswa (karena aku nggak punya KTP Jogja) sudah aku siapkan. Saat akan didata, petugas CS meminta...

MASIH SAMA

"Eh, I-Radio Jogja lagi bukaan penyiar lho," kata Mas Kamal. Mendengarnya, mataku berbinar. Bukaan penyiar? Kesempatan. "Aku ikut ah. Siapa tau.." tekadku penuh semangat. Malamnya, aku dengarkan I-Radio Jogja. Selama ini aku jarang banget dengerin I-Radio Jogja. Aku ingin mempelajari gaya bersiaran ala I-Radio Jogja. Untuk memastikan info dari Mas Kamal, aku stalking Twitter I-Radio Jogja. Ternyata memang benar! Aku semakin bersemangat. Malam itu, aku rasanya nggak pengen tidur. Pengen cepat-cepat pagi biar bisa take vocal di Rasida FM. Aku share info itu di grup BBM Rasida FM. Tanggapannya macam-macam. Aku optimis bakal lolos seleksi ini. Aku memang begitu orangnya. Sangat optimis. Saking semangatnya, malam itu aku sama sekali nggak tidur. Nggak bisa tidur lebih tepatnya, saking excited-nya. Masih ada beberapa hari sebelum batas akhir pengumpulan berkas. Waktu yang ada justru nggak aku manfaatkan untuk take vocal. Aku terlalu banyak menunda. Aku sempat akan take v...

BUKAN SEKARANG

  Gagal lagi.. Hmm.. untuk yang kesekian kalinya aku gagal. Ya, gagal dalam meraih apa yang selama 3 tahun belakangan ini menjadi obsesiku. Aku nggak bakal menyerah. Aku akan terus berusaha. Baru sekian kali aku gagal. Masih banyak peluang yang menanti untuk aku jemput. Ya, aku sangat yakin, peluang dan kesempatan itu ada untukku. Mungkin bukan sekarang, tapi nanti. Rasanya gagal? Kecewa, iya, tapi nggak boleh berlarut-larut. Klise! So, why ? Biarlah dianggap klise, tapi faktanya memang begitu kok. Kecewa berlama-lama nggak akan mengubah apapun. Capek banget kalau harus menikmati kekecewaan terlalu lama. Cukup bilang, "aku kecewa", setelah itu lupakan dan cari hal-hal lain yang sudah menunggu untuk aku jemput. Nggak segampang menuliskan note ini memang, tapi aku selalu bisa melakukannya (walau nggak gampang juga). Seorang teman pernah berkata, "Kalau kita gagal, berarti kita memang bukan yang mereka cari." Yap, sepakat! Gagal bukan berarti kita jelek. Masi...

PERCAYA

Menjaga rasa percaya itu berat. Sekali saja berkhianat, selamanya akan luntur rasa percaya itu. Bisa dibilang, menjaga amanah, menjaga kepercayaan yang diberikan untuk memegang/ punya kuasa atas sesuatu. Banyak yang pengen dipercaya orang banyak. Berharap dipilih menjadi sesuatu, berharap dukungan banyak orang, rasa ingin dipercayanya besaaar banget. Kalau cuma pengen orang lain percaya, gampang (asal sebelumnya belum pernah mengkhianati orang itu), tapi menjaga rasa percaya itu yang susah. Nila setitik, rusak susu sebelanga. Amanah! Bukan sesuatu yang bisa dimainkan seenaknya. Contoh lain menjaga rasa percaya orang, banyak kok. Begitu dekat dalam kehidupan kita. Menjaga kepercayaan yang berhubungan sama uang (ini yang sensitif), susah-susah gampang. Godaannya Man , cukup besarrr. Uang gitu. Siapa yang hari gini nggak tertarik uang? Realistis saja. Kalau tekad menjaga kepercayaan orang kurang kuat, bisa-bisa termakan nafsu sendiri. Amanah koyak, rasa percaya orang lain jadi caca...

STATUS

Wisuda. Coba ya wisuda sarjana bisa kayak wisuda SMA yang serempak. Lihat teman seangkatan kuliah (akhirnya) wisuda, uuh.. pengen. Aku kapan? Pertanyaan klise mahasiswa semester akhir. Senang ya jadi sarjana. Apalagi yang bisa lulus tepat waktu di waktu yang tepat. Pendapat orang emang beda-beda. Lulus cepat (tepat waktu) jelas bagus & jadi teladan (musti dicontoh itu). Lulus "nggak cepat" (alibinya lulus di waktu yang tepat :D) juga bukan berarti buruk. Yah.. ada positif & negatif dari keduanya. Lulus, jadi sarjana, tapi akhirnya justru bingung mau ngapain, ini nih yang jadi masalah. Tapi sebagian yang lain, belum lulus udah kerja (biasanya mereka ini bukan tipikal mahasiswa kupu-kupu). (Mungkin) mahasiswa adalah zona nyaman. Belum dibebani beban yang terlalu membebani. Lulus itu harus! Jangan kelamaan. Apalagi kalau alasan nggak lulus itu karena diri-sendiri yang nggak giat a.k.a malas. Beuuuh... alasan macam apa itu? Kalau emang udah masanya, ya segera dikerj...

CITA DAN CITA

"Apa cita-citamu?" "Aku pengen jadi pilot!" Aku masih ingat banget saat jelang TK dulu, aku jawab dengan semangat ingin jadi pilot saat ditanya cita-cita. Aku sekarang lupa kenapa dulu pengen jadi pilot. Bukan dokter, guru, insinyur atau apapun itu. Lama-lama cita-cita jadi pilot itu samar-samar lalu hilang. Aku punya cita-cita lagi. Hmm.. kapan ya tepatnya? Saat SD - SMP, kayaknya aku lupa dengan cita-cita. Saat SMA, aku punya cita-cita jadi wartawan. Berawal dari aku suka nulis, muncul keinginan jadi wartawan. Aku memilih Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) pun karena ada Konsentrasi Jurnalistik. Tanpa ragu, aku memilih KPI ini sebagai studiku selepas SMA. Sekarang saat ditanya cita-cita, aku mikir lama. Apa ya cita-citaku? Apa cita-cita hanya pantas untuk anak kecil? Dipikir, kayaknya iya. Jarang ada orang dewasa (seenggaknya bukan lagi anak kecil) yang menjawab dengan riang cita-citanya. Ah ya, bukan lagi istilahnya "cita-cita" tapi "keing...

WAWANCARA

Deg-degan rasanya saat interview calon Penyiar Radio Q FM. Takut salah sikap, salah ini.. salah itu.. Tapi, aku nyaman kok. Not bad. Jawab seperlunya. Bilang nggak tau kalo emang nggak tau. Sebelum interview, nunggu dulu selama sekian menit. Selama menunggu itu, ada dua yang aku kenal (tau namanya). Asep dari Hubungan Internasional UMY dan Faizul dari Teknik Lingkungan Hidup UII. Lainnya, belum kenalan. Kebanyakan sibuk dengan gadget. Pengen ngajak kenalan cewek yang duduk di sebelahku, tapi bingung mau memulainya. Ya udah, akhirnya diam. Semuanya juga gitu. Aku sempat ngobrol sama Faizal (duh.. Faizal apa Faizul ya?). Obrolannya nggak jauh-jauh dari kampus. Dia juga nanya ke aku sering siaran/ nggak. Aku bilang, aku ikut rakom kampus. Bukan sering, tapi pernah. Yah.. obrolan basa-basi gitu. Ngobrolnya nggak lama. Setelah itu kembali melakukan aksi diam. Bingung juga mau ngobrolin apa. Baru aja kenal juga. Saat giliranku interview, aku merasa yakin dan percaya diri. Masuk ke ruanga...