Langsung ke konten utama

Postingan

GADO-GADO

Halo... Apakabar? Semoga selalu baik ya. Kali ini aku akan bercerita, hmm.. apa ya? Cerita edisi KKN, nggak jelas. Soalnya aku nggak intens berbagi cerita, jadinya aku lupa. Ya.. lupa, mau cerita apa lagi. Gado-gado banget deh cerita-ceritaku di blog ini, tapi baiklah. Walau gado-gado (aku suka Gado Gado asal nggak pedas), tapi aku akan tetap berbagi cerita kok. Tenang aja. Setiap orang pasti punya cerita dalam hidupnya. Bahkan kehidupan setelah hidup (apaan?) juga pasti ada ceritanya, cuma hanya Allah yang tahu seperti apa tepatnya. Duuuh... kok jadi seram gini ya? Nggak kok.. nggak.. Intinya setiap orang punya cerita. Sayang dong kalau cerita-cerita hidup kamu dibiarin hilang begitu saja. Mending dikenang dengan sesuatu yang bisa kamu nikmati, nggak cuma kamu putar dalam otak. Salah satu caranya, menulis. Cerita apapun, bisa kamu tuangkan dalam tulisan, tapi tetap hati-hati ya. Walau kamu punya kebebasan dalam menuliskan ceritamu, tetap... bertanggungjawab. Ini yang penting. Ngomon...

NAMANYA JUGA YANG PERTAMA...

Apa yang terlintas dalam pikiranmu saat mendengar kata "pahlawan super"? Badan berotot? Mampu mengangkat mobil dan melemparkannya ke musuh? Menembakkan sinar laser dari kedua bola matanya? Ya, selama ini deskripsi "pahlawan super" selalu dari komik Barat. Iya 'kan? Aku ngerasanya gitu. Mulai dari Superman, Batman, Spiderman, Fantastic Four, bahkan wanita juga nggak mau ketinggalan untuk ambil bagian dengan lahirnya Wonder Woman, Batgirl, Supergirl, dan maaasih banyak lagi pahlawan super dari komik Barat (DC dan Marvell menurutku yang paling hits) yang begitu familiar bagi kita. Indonesia juga punya lho pahlawan super. Buat kamu generasi 90-an, pasti masih ingat dong dengan Saras 008, Panji Manusia Milenium, hingga Wira Sableng. Komik Indonesia tentang pahlawan super juga ada. Kita nggak kalah dari komik Barat yang punya pahlawan super. Gundala, hmm.. apalagi ya? Nah.. ketahuan banget 'kan kalau aku lebih tahu pahlawan super dari komik Barat dibanding pahla...

FUN #1

Selamat malam. Apakabar di hari ke-15 bulan paling bontot ini? Kali ini, aku bakal bercerita tentang KKN. He he he... Lama ya, cerita edisi KKN nggak keluar. Edisi KKN #1, baru kenalan sama teman-teman KKN. Aku sempat menjanjikan akan bercerita tentang suka dan duka KKN. Nah, inilah saatnya aku memenuhi janji itu. Lebih baik langsung suka dan duka diceritakan atau pilih satu dulu ya? Hmm.. pilih sukanya dulu saja deh ya. Eh, btw setelah aku cek, ternyata aku sudah cerita edisi KKN #2. Hi hi hi... Saking lamanya, aku sampai lupa. Gomene minna. :$ Hal-hal menyenangkan saat KKN... hmm.. apa ya? Ada kok hal menyenangkan saat KKN yang hingga saat ini, detik ini, aku merindukannya. Saat makan bareng teman-teman KKN, berasa banget kebersamaannya. Saat makan, kami bisa bercanda, tertawa bareng, bahkan hingga nge'bully' salah satu dari kami (masih ingat Puput 'kan yang pernah aku ceritain di edisi KKN #1? :D). Kebersamaan banget saat makan itu. Masakan apapun, pasti kami melahapny...

KENANGAN

Setiap orang pasti punya kenangan, entah itu kenangan yang menyenangkan atau menyebalkan. Paling jengkel, jika kenangan yang menyebalkan justru terus terngiang-ngiang di ingatan. Kadang merasa aneh juga, kok otak merekam begitu jelas ya kejadian yang sebenarnya nggak penting? Kadang pula, hal yang penting, justru cepat menguap. Pasti ada penjelasannya, cuma aku belum tahu. Searching pasti dapat jawabannya. Pernah merasakan rasa kangen akan kenangan secara tiba-tiba? Rasanya... susah diungkapkan dengan kata-kata. Bukan begitu? Rasanya, ingiiin mengulang kembali kenangan itu, tapi dunia nyata nggak punya Doraemon, nggak ada mesin waktu. Yah.. cuma bisa senyum sendiri mengingat kenangan itu. Tapi saat sudah kangeeen... banget, nggak cuma senyum sendiri, tapi juga menghayati banget setiap potongan memori yang melintas di otak. Jika ada mesin waktu atau mesin pemutar waktu atau apapun namanya yang bisa mengembalikan kita ke waktu tertentu, sepertinya menyenangkan ya? Bisa kembali ke ma...

#SatuHariSatuKarya MIMPI SANG KAKAK

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aduuuh… berisik sekali. Bagaimana aku bisa konsetrasi belajar kalau berisik begini? Kak Rully, kakakku satu-satunya, terkadang memang menyebalkan. Nyanyi tidak kenal waktu. Memang, kakakku itu hobi nyanyi. Suaranya, yah.. cukup bagus. Tapi seharusnya Kak Rully ingat waktu. Apalagi sekarang waktunya aku belajar.              Aku keluar kamar dan mengetuk pintu kamar Kak Rully yang bersebelahan dengan kamarku. Kak Rully masih berdendang dengan gitarnya. Kebiasaan Kak Rully saat tengah bernyanyi, asyik dengan dirinya sendiri sampai tidak menyadari apapun yang ada di sekitarnya. Aku ketuk lagi pintu kamarnya. Kali ini lebih keras.              “Kak Rully... Berisiiik!” teriakku sambil menggedor pintu. Bukan hanya aku ketuk, tapi aku gedor agar Kak Rully sadar suaranya sudah mengganggu konsentrasiku. Tiga menit kemudian,...

#SatuHariSatuKarya BUDAK

Pria bersetelan rapi itu tampak ragu. Hati kecilnya mengatakan tidak, tapi kesempatan yang ada benar-benar menggiurkan. Ia menghela nafas. Jangan.. jangan lakukan . Ia memejamkan mata lalu bersandar di sandaran kursi yang empuk.              Fasilitas yang selama ini ia dapatkan sudah lebih dari cukup. Penghasilan tetap, ruang kerja nyaman dan ber-AC, dan tidak perlu berpanas-panasan di bawah terik matahari. Cukup duduk di kursinya yang empuk dengan komputer menyala yang menampilkan sederet angka. Bukan pekerjaan yang sulit. Memang cukup membuat otak lelah, tapi deretan angka-angka rupiah itu sudah menjadi makanan sehari-harinya sejak duduk di bangku kuliah.              Setumpuk berkas hari ini sudah menunggunya. Ia mengambil berkas pertama yang berada di urutan paling atas. Ia pun melupakan keragu-raguan yang sempat menyerang hatinya. [] “Mak, kenapa...

#SatuHariSatuKarya REUNI

Saat aku tengah menunggu angkot sambil membaca Al Qur’an di smartphone-ku, ada seseorang yang menepuk pundakku. Aku spontan menoleh. Seseorang tersenyum kepadaku. Cukup familiar, tapi siapa? Sepertinya aku pernah mengenalnya. “Hei Bro, masih ingat gue nggak?” Aku mengernyitkan dahi. Wajahnya tidak asing. Aku memang seperti mengenalnya. Aku berusaha membuka kembali memoriku. Mencoba mencari-carinya di sudut otakku. “Herdy?”                       “Ah, jangan belagak kaget lu Bro.” Lelaki bernama Herdy spontan memelukku dan menepuk punggungku. Salam darinya yang masih aku ingat. “Apakabar kau, Her?” “Seperti yang lu lihat. Elu nggak jauh beda ya dengan masa SMA dulu. Tetep alim,” kata Herdy melihat penampilanku dari atas ke bawah. Mungkin karena Herdy melihat baju koko-ku. “Ngomong-ngomong lagi ngapain kau di kota ini? Bukannya lulus SMA, kau kuliah di luar ...